Zara keluar dari ruangan Raka dengan wajah cemberut. Ardya yang melihat Zara keluar dari ruangan Raka, tertawa kecil melihat Zara.
“Ehhemm.. kenapa muka Lo kayak gitu deh?” Tanya Ardya.
Ardya sudah tau rencana Raka, Prilly sudah memberitahu semua orang tentang rencara Raka yang ingin memberikan surprise untuk Zara. Jadi Ardya juga ikut mengerjai Zara.
“Lo kenapa Zara? Kok keluar dari ruangan Raka cemberut aja. Lo laper lagi?” Tanya ardya.
“Nggak Ardyaaaa.. masa iyaa gue laper lagi. Nggak itu Raka nggak tau mau kemana. Buru - buru gitu perginya, tadi juga pas gue masuk dia kayak habis telponan gitu sama seseorang terus sambil senyum - senyum. Pas gue tanya siapa yang dia telpon dan kenapa senyum - senyum, Katanya sih mau nelpon Andika, tapi karena Andika ada di sini makanya dia senyum - senyum. Karena kebetulan ada Andika di sini.” Jelas Zara.
“Masuk akal sih jawabannya. Terus kenapa Lo marah kayak gitu?” Tanya Ardya.
“Iyaalahh siapa coba yang nggak marah kalau di tanyain juga mau kemana tapi nggak di jawab.” Jawab Zara.
“Hmm.. yaudah jangan marah - marah kali. Mungkin Raka emang lagi terburu - buru aja, terus nggak sempat buat ngomong sama Lo tadi. Semoga yahh seperti itu. Hahahah.” Seru Ardya.
“Ihhh Ardyaaaaaa !!! Lo yahh malah buat gue makin curiga tau nggak.” Seru Zara.
“Ehmm ehmm.. kenapa lagi Lo berdua berisik banget?” Tanya Andika yang baru saja memeriksa pekerjaan anak baru.
“Ini nihh.. si Zara katanya curiga sama Raka, karena Raka perginya terburu - buru gitu dan nggak sempat ngasih tau mau kemana ke Zara.” Jawab Ardya.
“Lohh.. emangnya Lo nggak di kasih tau sebelumnya? Raka itu ada janji sama anaknya temannya mamanya hari ini.” Kata Andika yang juga ikut mengerjai Zara.
“Hah? Siapa?” Tanya Zara.
“Aku sih nggak tau yahh siapanya. Yang gue tau cuman dia di suruh sama nyokapnya untuk ketemu sama anak temannya.” Kata Andika.
“Anak temannya tante cewek?” Tanya Zara lagi.
“Kayaknya cewek deh.” Jawab Andika. Tentu saja itu semua hanyalah kebohongan yang di buat - buat oleh Andika agar Zara semakin kesal dengan Raka dan surprise Raka berjalan dengan lancar.
“Kok nggak ngomong apa - apa sih sama aku, anak temannya tante Fara yang mana yah? Lo tau nggak kalau mereka ketemuan untuk urusan apa?” Tanya Zara.
“Yahh kalau di suruh ketemuan kayak gitu , pasti mau di jodohin lahh.” Seru Ardya.
“Lahh Ardya kok jujur banget sih. Jaga perasaannya Zara juga kenapa.” Kata Andika.
Ardya dan Andika melihat Zara yang sudah hampir menangis.
“Jangan sedih gitu kali Zara.. Kita kan belum tau itu benar atau nggak. Siapa tau aja ada urusan bisnis keluarga gitu. Lo sih Ardyaa.. sembarangan ngomong.. Zara jadi sedih gini, kasian.” Ucap Andika.
“Ehh kok gara - gara gue sih.. gue kan cuma menyampaikan pendapat gue. Bukan panas - panasin Zara, .. sorry yahh Zara kalau Lo jadi sedih gini. Gue nggak bermaksud apa - apa kok.” Kata Ardya.
“Tapi kalau beneran gimana? Apa tante Fara nggak suka sama aku? Makanya Tante Fara nyuruh Raka ketemuan sama anak temannya.” Kata Zara tertunduk di mejanya.
“Husshh jangan berfikir negatif dulu. Ini kan cuma pencapat kita aja, pendapat gue sama Ardya doang. Gimana sih masa gitu aja langsung ciut, dimana nih Zara yang dulu, yang kami kenal yang paling percaya diri.” Ujar Andika sambil menepuk - nepuk pundak Zara.
“Iya nihh Zara.. tenang dulu aja, kita tunggu sampai Raka kembali, terus Lo tanyain deh, dia hanis dari mana . Jangan menerka - nerka yang nggak jelas gitu.” Kata Ardya.
Ardya yang dari tadi juga sibuk memberitahukan di grup kalau dia dan Andika lagi mengerjai Zara, Ardya memberi tahu Prilly agar Prilly juga naik ke lantai lima untuk menambah sandiriwara dirinya dan juga Andika agar lebih meyakinkan Zara. Tapi Prilly masih sibuk di Lobby membantu Raka menyiapkan surprise untuk Zara. Menyusun bunga - bunga dan juga balon - balon yang terlah di pesan Raka. Jadi Prilly menyuruh Bella saja untuk ke tempat Zara dan menambah sandiwara mereka.
Bella pun ke tempat Zara berpura - pura ngos - ngosan seakan - akan dia habis berlari.
“Huufff haaa huuffff haaaa… aduuhh Zaraa.. ehh Andika ada di sini juga. Bagus deh biar gue nggak cerita dua kali. Huuufftttt.” Seru Bella yang berpura - pura ngos - ngosan.
“Kenapa sih Lo?” Tanya Andika yang sedikit lagi hampir tertawa.
“Iyaa kenapa sih Lo Bell? Habis lari maraton Lo?” Tanya Ardya.
“Aduuhh iyaa gue tuh tadi dari bawah, dari ruangan Prilly. Dan pas gue keluar gitu, gue liat Raka keluar dari kantor terburu - buru gitu. Jadi gue ikutin sampai pintu keluar, dan gue liat dia di jemput sama cewek, tapi yang bikin gue kaget itu mereka sempat berpelukan. Kira - kira cewek itu siapa yah? Lo kenal nggak Zara?” Tanya Bella.
Bella benar - benar menyusun kata - katanya dengan baik agar lebih meyakinkan Zara.
“Hah? Beneran?” Tanya Zara dengan matanya yang sudah berkaca - kaca.
“Iyaa beneran. Lo nggak tau Raka ketemuan sama siapa?” Tanya Bella.
“Nggak.. gue nggak tau dia mau ketemuan sama siapa, dia tadi langsung pergi gitu, terburu - buru. Aku tanyain dia nggak jawab.” Jawab Zara.
“Lo nggak bohong kan Bell?” Tanya Ardya.
“Ardya ! Ngapain sih gue bohong, masa iya gue bohong pakai acara ngos - ngosan segala. Gue tuh serius tauu.. tanya aja Prilly kalau Lo nggak percaya. Prilly juga tadi sempat liat kok. Malahan nih yahh Prilly sampai mau nungguin Raka balik kantor buat nanyain cewek itu siapa.” Kata Bella.
“Aduhhh Bella kenapa Lo kasih tau ke Zara sih? Kan bisa Lo tunggu di saat yang tepat, liat tuh Zara udah mulai mau nangis.” Kata Andika.
“Lahh.. Lo mau gue nutup - nutupin ini dari Lo Zara?” Tanya Bella.
“Nggakk.. gue makasih karena Lo udah kasih tau ke gue tentang hal ini.” Kata Zara.
“Tuuhh Zara aja makasih.. ini tuh bukan hal yang harus di rahasiain, kalau di rahasiain bisa - bisa gue yang bersalah sama zara karena tau hal yang seperti ini malah nggak di kasih tau ke Zara langsung.”
Kata Bella.
“Iya juga sihh.. tapi Zara makin sedih. Tuh liat matanya sudah berkaca - kaca lagi.” Kata Andika.
Sementara itu di lobby, Raka, Prilly dan karyawan yang lainnya, sibuk menata bunga - bunga di Lobby untuk Zara.
“Zara.. Lo jangan sedih dulu yahh, siapa tau aja cewek itu hanya teman lamanya Raka, atau saudara sepupunya Raka yang baru datang dari mana gitu.” Kata Bella.
“Hmm.. iyaa.. jadi aku harus bagaimana?” Tanya Zara.
“Yahh yang seperti tadi kita bilang Zara, kamu tenang aja dulu, jangan terlalu di fikirkan, kamu tunggu aja Raka kembali.” Kata Ardya yang dari tadi sudah menahan tawanya.
“Kenapa ekspresi Lo gitu deh Ardya? Jahat banget sih, ngetawain gue yah?” Tanya Zara yang wajahnya sudah kusut.
“Ehh nggak Zara.. Astaghfirullah.. gue itu mau bersin makanya muka gue kayak ini. Bukannya ngetawain Lo, ihh negatif thinking mulu dari tadi.” Kata Ardya.
“Hahah.. sabar yahh Zara..” seru Andika.
“Gue tuh nggak bisa bayangin kalau gue harus pisah sama Raka, kita baru aja pacaran, masa iya udah pisah aja. Gue tuh udah sayang baget sama Raka.
Kalian semua tau itu kan? Dan nggak gampang buat nunggu Raka suka sama gue. Gue udah lama banget suka sama Raka, dan sekarang udah jadi pacarnya gue jadi seneng banget dan berharap bisa ke jenjang yang lebih serius dengan Raka. Nggak tau gimana jadinya gue kalau berpisah sama Raka, apalagi rumah gue sama rumah dia sebelah - sebelahan gitu. Yang ada tiap hari gue bisa ngeliat dia sama pacar barunya kencan di rumahnyaa.. ahhh nggak maaauuuuu !!!!” Kata Zara yang sudah mengeluarkn air matany.
Zara mengeluarkan semua yang di rasakannya terhadap Raka. Andika, Ardya dan Bella tidak menyangka kalau Zara akan menangis.
“Lohh lohh lohh kok malah nangis sih Zara .. udah jangan nangis dong, nanti ada yang datang terus ngeliat Lo nangis gimana? Udahh yahh.. kita semua mengerti kok perasaan Lo, kita akan doain yang terbaik buat Lo dan juga Raka. Pasti nggak ada apa - apa kok. Tenang yahh.” Bella berdiri dan langsung memeluk Zara.
Andika dan Ardya memberi kode ke Bella untuk menyelesaikan sandiwara mereka. Dan waktunya sangat pas, Prilly juga sudah menghubungi Ardya untuk menyuruh Zara untuk turun. Bella yang melihat ponsel Ardya mendapatkan ide lagi untuk menyelesaikan sandiwara mereka.
“Haloo ?? Halo iya Prilly ? Kenapa?” Tanya Bella yang berpura - pura menghubungi Prilly.
“Ahh? Ohh iyaa.. udah datang yahh? Ohh iya gue sama Zara cepat - cepat turun deh. Kalau bisa Lo tahan dulu dehh yahh.”’ Ucap Bella lagi.
“Kenapa Bella? Raka yah? Raka udah datang?” Tanya Zara.
“Iyaa Zara.. katanya Raka ada di bawah sama cewek itu, mereka masih di Lobby. Ayo cepetan, sebelum cewek itu pergi.” Jawab Bella.
“Ehh guee juga ikut, gue pengen lihat.” Seru Ardya.
“Ayo cepetan Ardya !!” Kata Andika.
Zara, Bella, Andika dan juga Ardya berlari sampi ke pintu lift untuk turun di Lobby. Dan saat sampai di Lobby betapa kagetnya Zara melihat Lobby yang di penuhi banyak bunga - bunga. Dan Raka berdiri sambil memegang spanduk yang bertuliskan Zara terima kasih karena kau telah hadir di dalam hidupku, I love you Zara.
“SURPRISEEEEEEE !!!!!” Teriak semua orang yang berada di Lobby.
Saat Zara membaca tulisan itu, air mata Zara mengalir di pipinya. Zara benar - benar tidak bisa berkata apa - apa. Raka menghampiri Zara yang sedang menangis, dan langsung memeluk Zara.
Setelah beberapa satu menit Raka memeluk Zara, Zara langsung tersadar bahwa banyak orang yang menyaksikan kejadian tersebut.
“Ahh.. maaf aku terbawa suasana.” Kata Zara sambil melepaskan pelukan Raka.
“Nggak apa - apa kok.. tapi udah yah nangisnya. Jangan nangis lagi.” Kata Raka sambil menghapus air mata Zara yang mengalir di pipi mungilnya.
“Hahahahah.. Zara Zaraa.. lucu banget sih Lo.” Seru Ardya.
“Ahh kalian yahh.. kalian sengaja yah ngerjain gue, ihh dasar jahat banget sih.. gue jadi malu tau nggak, gue udah mencurahkan segala isi hati gue tentang Raka. Ahhh kalian inii.” Kata Zara sambil menutup wajahnya.
“Emang kamu bilang apa ke mereka? Kasih tau dong. Aku juga pengen denger dari kamu.” Kata Raka yang masih merangkul Zara.
“Wahh Raka.. Zara benar - benar sayang sama Lo. Sumpah dia lucu banget tadi, dia udah nangis tau nggak. Hahhah.” Kata Bella.
“Beneran? Hahah.” Tanya Prilly sambil tertawa .
“Iyaa beneran.. udah hampir sesegukan, dan Pas Lo nyuruh turun, dia semangat banget hahah.” Jawab Bella.
“Husshh jangan di omongin lagi dong Bell, gue malu. Sumpah.” Ujar Zara.
“Ehh.. tapi tunggu.. kenapa ada surprise seperti ini? Aku kan nggak ulang tahun.” Tanya Zara sambil menatap Raka.
“Emangnya harus pas ulang tahun dulu yah baru ada surprise? Nggak kan?” Kata Raka.
“Iyaa sihh.. tapi kan nggak ada hujan nggak ada apa gitu, kamu tiba - tiba ngasih kejutan romantis seperti ini.” Ujar Zara.
“Raka tuh tadi ngeliat cowok yang kagi nembak ceweknya, pakai bunga - bunga kayak gini, dan di liatin banyak orang. Dan terlintas di fikirannya kalau Dia dulu nggak nembak Lo seromantis itu, makanya sekarang dia mau ngasih ini semua ke Lo. Dia katanya mau romantis juga sama Lo Zara.” Jelas Prilly.
“Ya ampun Raka.. nggak usah kayak gini juga nggak apa - apa kok. Aku tuh suka sama kamu bukan karena hal - hal romantis kayak gini. Aku suma kamu yah karena kamu. Karena diri kamu, aku suka semua yang ada sama kamu.” Kara Zara berdiri di hadapan Raka dan memegang tangan Raka.
“Aaaahhhh kayak lagi nonton drama romantis tau nggak sih ini. So sweet banget sihh Pak Raka dan Mba Zara.”
“Iyaa nihh.. jadi iri.”
“Pengen jugaaaa !!!!”
“Ohh jadi ini yang buat kita kerja hanya sampai jam empat, katanya dalam hal pekerjaan jangan membuang - buang waktu. Kok ucapaannya nggak sama, sama apa yang di lakukan sih.” Celetuk Nabila yang baru berada di sudut Lobby.
“Mba Nabila apa - apaan sihh ??!!!!” Seru salah seorang karyawan yang berada di dekat Nabila.
Semua mata langsung tertuju ke Nabila.
“Lohh Kenapa? Saya nggak salah dong yah? Memangkan kalau pak Raka suka ngomong kayak gitu, kalau kita itu nggak boleh membuang - buang waktu. Tapi ini kok malah waktu kerja kita di potong satu jam sih. Parah banget, ini kan bukan waktu yang sedikit. Dan waktu yang di buang hanya untuk di pakai dengan hal yang menye - menye kayak gini. Dan respon orang yang di kasih kejutan malah, bilang harusnya kamu nggak usah kayak gini, nggak perlu ngelakuin ini, aduhhh kok nggak bersyukur sekali sih.” Kata Nabila dengan gaya bicaranya yang nggak santai.
====