Chapter 105

1092 Kata
Raka yang mendengar ucapan Nabila juga tersadar akan hal itu. Tapi Raka tidak terpancing dengan apa yang baru saja di katakan Nabila. “Ehmm.. buat semua yang sudah membantu saya membuat surprise buat Zara, tolong cek rekening kalian ntar malam yahh. Saya akan memberi bonus untuk kerja keras kalian hari ini. Terima kasih banyak karena kalian surprise ini berjalan dengan sangat lancar.” Ucap Raka tanpa memperdulikan omongan Nabila. “Waaahhh … beneran Pak Raka? Terima kasih banyak Pak Raka, emang lagi butuh banget nih buat tambah - tambah beli s**u anak saya.” Ucap salah satu office boy yang sedang merapikan bunga untuk di bawa Zara pulang. “Terima kasih banyak Pak Rakaa.” “Semoga Pak Raka dan Mba Zara langgeng yahh.” “Doa yang baik - baik untuk orang baik.” “Terima kasih Pak Rakaa.” Satu persatu karyawan yang ada di Lobby menyahut memberi ucapan terima kasih dan memberi doa yang baik untuk Raka dan juga Zara. “Ehhmm.. ehheemm.. Pak Raka boleh saya berbicara sebentar? Saya ingin meluruskan apa yang di katakan sama Mba Nabila tadi.” Tanya Prilly. “Nggak usah Prill.. orang - orang yang lain juga tau kok apa yang sebenarnya terjadi.” Jawab Raka. “Nggak apa - apa Pak Raka.. biar lebih jelas lagi. Biar dia nggak salah paham.” Kata Bella. “Iyaa bener kata Bella Raka.. boleh yah gue ngomong?” Tanya Prilly sekali lagi. “Iya dehh.. ngomong aja.” Kata Raka. “Denger yahh semuanya, mungkin di sini ada yang setuju dengan apa yang barusan di katakan oleh Mba Nabila, kalau pak Raka memang benar selalu mengatakan kalau kita tidak boleh membuang - buang waktu kita dan Pak Juga yang selalu memarahi kalian, kalau kalian membuang - buang waktu kalian untuk hal yang tidak penting dan meninggalkan pekerjaan kalian. Tapi sebelum Pak Raka memerintahkan saya untuk membuat pengumuman kalau jam kerja kita hari ini hanya sampai jam empat, Pak Raka sudah memeriksa pekerjaan - pekerjaa kalian hari ini. Dan memang pekerjaan kalian hari ini sangat sedikit kan? Iyakan?” Jelas Prilly. “Iyaa bener tuh Mba Prilly.” “Bener Mba Prillyyy.” “Nahh makanya Pak Raka memilih hari ini untuk membuat surprise untuk Mba Zara, itupun tadi Pak Raka membuat keputusan karena tadi Pak Raka membuat orang menyatakan perasaannya di depan kantor, dan kebetulan hari ini pekerjaan kalian sangat sedikit. Dan juga maksud Pak Raka untuk selalu mengingatkan kalian untuk tidak membuang - buang waktu agar kalian, tidak di kejar waktu saat akhir bulan. Dan kalau memang pekerjaan kalian pada hari itu udah selesai di waktu yang cepat sebelum jam pulang kantor kalian boleh ngapain aja kan di kantor, bahkan tidurpun boleh. Asal pekerjaan kalian semuanya sudah beres, makanya di kantor kita ini fasilitasnya lengkap, kalian mau makan tinggal makan, mau main game tinggal main game, mau tidur yah tinggal tidur. Pak Raka selama ini nggak ada ngelarang kalian untuk beristirahat kalau pekerjaan kalian sudah selesai. Yang penting kalian tidak pulang sebelum jam pulang kantor tiba. Kayaknya ini nggak perlu di jelaskan sama karyawan - karyawan lama deh, kalian semua sudah pasti taukan.” Jelas Prilly. Prilly menjelaskan semuanya dengan sangat jeas agar tidak terjadi kesalahpahaman lagi karena ucapan - ucapan yang tidak jelas dan menggiring fikiran negatif dari Nabila. “Apa Mba Nabila udah paham sampai sini?” Tanya Bella. “Apaa sihh.. saya kan cuma mengeluarkan pendapat saya saja , penilaian saya saja terhadap ketidak konsistenan Pak Raka.” seru Bella. “Hah? Ketidak konsistenan? Apa lagi yang tidak konsisten Mba Nabila? Semuanya sudah jelaskan.” Ucap Prilly. “Aduhh.. sudah - sudah tidak usah di perdebatkan lagi, saya rasa itu bukan sesuatu hal yang penting lagi. Terima kasih Yah Mba Nabila karena sudah punya niat mengingatkan saya. Maaf kalau selama ini saya terlalu tegas dengan kalian, ataupun kurang ramah dengan kalian. Saya sangat berterima kasih sama kalian yang sudah membantu saya selama ini. Dan masih bertahan dengan saya sampai detik ini.” Ucap Raka yang mulai terbata - bata. Air matanya mulai menetes di pipinya, suasana yang tadinya senang menjadi suasana haru. Zara yang berada di samping Raka, langsung memegang tangan Raka. “Udahh Raka.. jangan nangis yahh, aku juga ikutan sedih kalau kamu nangis kayak gini.” Ucap Zara mengusap - ngusap tangan Raka. “Pak Rakaa.. nggak apa - apa kok Pak, kita semua senang kok Pak bekerja di kantor Pak Raka. Kita senang karena kita bisa di terima di kantor yang sebagus ini.” “Iya Pak Raka.. kita juga mengerti situasi Pak Raka dulu.” “Pak Raka jangan merasa bersalah dengan kami.” Semua yang berada di Lobby ikut merasakan kesedihan yang Raka rasakan saat itu. Raka tidam sadar kalau iya mengeluarkan begitu banyak air matanya. Karena lagi - lagi Raka mengingat perjuangannya untuk bisa bangkit dari kesedihan yang ia lewati selama lima tahun terakhir ini. “Okeyy - okeyy sudah yahh suasana haru ini. Jangan sedih - sedih lagi. Raka Lo juga jangan sedih karena kita semua nggak ada yang merasa kalau Lo itu jahat sebagai bos kita. Hanya sedikit saja kok. Hahahaah.” Kata Andika. Andika mencoba membuat suasana kembali cair lagi dengan candaan ringannya. “Semuanya tepuk tangan untuk Pak Raka dong. Karena dia sudah menjadi atasan yang juga senantiasa memperhatikan kita walau itu perhatian yang tidak kalian lihat dengan mata kepala kalian. Di sini ada yang sadar nggak sih kalau setiap bulan itu ada yang mengirimkan kalian uang di rekening kalian, dalam jumlah yang lumayan setiap bulannya?” Tanya Ardya. “Ahh iyaa.. saya Pak.. saya baru sadar beberapa bulan ini, ahh ya ampun itu dari Pak Raka yahh pak?” Tanya salah seorang karyawan. “Ardyaaaaa !!!” Seru Raka Raka tidak ingin kalau karyawan - karyawannya tau, kalau dirinya yang mengirimkan uang di rekening karyawannya setiap bulan melalui rekening yang acak. “Wahhh Pak Raka !!!! Pak Raka benar - benar bos idaman bangeeetttt !!!” “Huussshhh punya saya ini.” Seru Zara lalu melihat Raka. “Hahahahah.. iyaa deh Mbaa Zaraaa.” “Alaaahhhh apaan sih.. lebay banget.” Celetuk Nabila tapi sambil memperhatikan ponselnya. “Lebay banget sih nih orang.” Nabila berpura - pura lagi melihat ponselnya, seakan bukan Zara yang dirinya singgung. Tidak ada yang memperdulikan Nabila lagi. Dan tidak terasa jam sudah menujukkan pukul lima sore. Raka mempersilahkan semua karyawannya untuk beres - beres pulang. Raka, Zara, Ardya, Andika dan Bella kembali ke lantai lima juga untuk beres - beres dan segera pulang. Begitu juga dengan Prilly yang segera masuk ke dalam ruangannya. ====
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN