Setelah makan siang bersama dengan kartawan - karyawan kantornya Raka merasa lebih percaya diri. Hari - hari di lalui Raka dengan lebih sering menyapa karyawan - karyawannya, dan juga lebih sering tersenyum. Zara juga semakin di perhatikan oleh karyawan - karyawan di kantor, kalau Zara butuh apa - apa pasti banyak yang ingin membantunya. Karena bagi mereka Zara lahh yang membuat Raka menjadi lebih baik seperti ini. Sampai suatu hari, Raka mulai terganggu dengan kedekatan Zara dan juga Andika. Zara dan Andika memang terlihat sangat dekat saat di kantor, bahkan hampir tidak ada jarak di antara mereka. Tapi Zara dan Andika hanya sebatas teman, tidak lebih. Raka mencoba mengerti sikap Zara dan Andika yang memang sudah sangat dekat.
Hari itu, Andika sedang ada di mini bar lantai lima dan Zara juga yang baru datang sedang membuat kopi. Zara membuatkan Andika kopi karena kebetulan bertemu di sana. Zara dan Andika bercanda gurau, Raka yang juga baru saja datang melihat Zara dan Andika, tapi Rak tidak ingin masuk ke mini bar tersebut. Raka langsung masuk ke ruangannya.
Setelah minum kopi, Zara dan juga andika kembali ke ruangannya. Saat Zara sampai di depan meja kerjanya, Zara membuka pintu ruangan Raka untk mengecek apakah Raka sudah datang atau belum.
Tok tok tok (suara ketukan pintu ruangan Raka)
Zara membuka sedikit pintu ruangan Raka, dan melihat Raka yang sudah duduk di meja kerjanya.
“Ohh kamu udah dateng? Kok aku nggak liat kamu masuk? Padahal tadi aku di mini bar lagi buat kopi.” Tanya Zara berjalan masuk ke dalam ruangan Raka.
“Gimana kamu mau ngeliat aku kalau kamunya sibuk ngobrol sama Andika.” Jawab Raka tanpa melihat Zara sedikit pun.
“Ah iya juga yahh haha.. tadi aku sama Andika obrolin kerjaan yang nggak jadi kita ambil kemarin itu loh.” Kata Zara. Zara tidak tau kalau suasana hati Raka sedang tidak bagus karena melihat dirinya bersama dengan Andika yang begitu akrab.
“Ohh iyaa.” Jawab Raka singkat.
“Kamu kenapa?” Tanya Zara lalu mendekati meja kerja Raka.
“Aku? Aku kenapa?” Tanya balik Raka.
“Loh kok nanya balik. Iyaa kamu kenapa? Kayaknya kamu lagi bad mood gitu. Kenapa? Apa ada sesuatu yang mengganggu kamu?” Tanya Zara.
“Hmm.. nggak ada kok, aku cuma ngantuk aja . Tadi terlalu cepat bangun.” Jawab Raka.
“Ooohh.. mau aku buatin kopi?” Tanya Zara.
“Nggak usah.. nggak apa - apa kok. Ada kopi dingin juga di kulkas. Tuh.” Jawab Raka lalu menunjuk kulkas kecil yang ada di samping meja kerjanya.
“Bener?” Tanya Zara lagi.
“Iyaa beneran.” Jawab Raka.
“Hmm.. yaudah kalau gitu aku keluar dulu yahh, minum kopinya biar seger.” Kata Zara sambil berjalan keluar.
“Iyaaa.”
Zara pun keluan dari ruangan Raka. Raka ingin menanyakan tentang kedekatan Zara dan juga Andika, tapi Raka belum mendapat waktu yang pas untuk berbicara dengan Zara.
Hari itu berjalan seperti biasanya, sampai jam makan siang pun tiba. Di depan ruangan Raka sudah ada Andika yang bercerita dengan Ardya dan Zara. Lagi - lagi hati Raka tidak tenang melihat keakraban Zara dan juga Andika.
Sebelum Raka membuka pintu ruangannya, Raka menarik nafasnya dalam - dalam dan mengeluarkannya pelan - pelan. Raka berusaha untuk tidak memikirkan kekhawatirannya tadi.
“Zara.. kita makan di luar yuk?” Kata Raka lalu meminta tangan Zara untuk di pegangnya.
“Hah? Ohh aku kira kita makan di restoran di bawah aja, padahal udah janji sama anak - anak yang lain. Prilly sama Bella juga udah ada di bawah.” Jawab Zara sambil memegang tangan Raka.
“Iya nih Raka.. makan di kantor dulu kali, nggak bosen apa pacaran mulu.” Seru Ardya.
“Tau nih Raka.. makan di bawah aja yuk, yuk Ardya Zara.. ayoo Rakaaa.” Andika menarik tangan Zara dan juga Raka.
“Hahah woyy tungguin gue kali.” Seru Ardya.
Raka, Zara, Andika dan juga Ardya pun turun ke restoran kantor. Raka terpaksa ikut dengan mereka, tapi Raka mencoba untuk bersikap biasa saja.
Raka menarikkan kursi untuk Zara yang tepat di sampingnya, dan seperti biasa mereka duduk di meja yang untuk berenam. Bella, Dan Prilly di samping Ardya duduk sejajar, dan Andika, Zara yang berada di tengah - tengah Andika dan juga Raka.
“Lama banget sih kalian !!! Pada ngapain coba di atas? Bella aja yang satu lantai sama kalian udah dari tadi di sini.” Ujar Prilly.
“Ya Ampun sayangg. Kamu ini kebiasaan deh, orang belum duduk udah di marahin. Emang yah kalau HRD itu emang beda haha.” Ardya sambil memegang pipi Prilly dengan sangat gemas.
“Iiihh sakit tauu.” Seru Prilly .
“Bella itu ada meeting tadi di bawah sama Karyawan - karyawan di lantai tiga makanya dia cepet ada di sini.” Kata Andika.
“Hahha emang nih Prilly nggak sabaran banget buat ketemu Ardya. Padaha tiap hari juga ketemu.” Ucap Bella.
“Hahah.. nggak yahh.. gue tuh cuma nggak suka nunggu aja gitu loh.” Ucap Prilly.
“Hahah iyaa maafin yahh Prilly, tadi kita nungguin Raka dulu, makanya lama.” Kata Zara.
“Aduh kalau karena Raka, nggak berani deh aku ngomong apa - apa lagi.” Seru Prilly.
“Masa tadi Raka udah di tunggui dia malah mau makan di luar sama Zara.” Ucap Ardya.
“Lohh emangnya kenapa? Kalau dia mau makan di luar yah suka - suka dia dong. Kenapa Lo marah hahah.” Seru Bella.
“Yaa iyaa juga yahh. Kenapa tadi kita larang, Lo nih Andika hahah.” Ujar Adrya.
“Loh kok gue.. gue juga baru sadar hahaha.” Seru Andika.
“Huussshh udah - udahh.. gue yang nggak enak sama kalian, gue kan udah bilang tadi kalau tungguin gue, gue juga mau makan di sini. Masa iya sih gue tiba - tiba mau makan di luar, gue nggak enak tau.” kata Zara.
“Ya ampun Zaraa.. nggak apa - apa kali, yang penting Lo bilang kalau Lo mau makan di luar, biar kita nggak tungguin Lo.” Ucap Prilly sambil mengaduk - aduk makanannya yang baru saja datang.
“Iyaa dehh lain kali aja hahah.” Kata Zara.
“Lo nggak marah kan Raka?” Tanya Bella.
“Nggak lahh.. kenapa juga gue mau marah.” Jawab Raka.
“Kamu mau makan apa Raka?” Sambung Zara.
“Makan yang biasa aja deh.” Jawab Raka.
“Okeyyy dehh. Aku bawa ke sana dulu yahh, sekalian mau ambil minum.” Kata Zara.
“Ehh.. nggak usah sini biar aku aja.” Kata Raka lalu berdiri dari kursinya.
“Isshh jangan.. biar aku aja, aku kan sekertaris kamu di kantor.” Kata Zara.
“Iya tapi kan—“
“Udah nggak apa - apa. Biar aku aja yah.” Kata Zara lalu menarik kursinya ke belakang untuk keluar dari meja.
“Zara.. tungguin gue, gue juga mau ambil minum deh.” Kata Andika juga lalu keluar dari meja menyusul Zara.
“Andika gue nitip yahh minumnya.” Seru Ardya.
“Iyaa !!!” Balas Andika.
Raka terus melihat Zara dan juga Andika yang berjalan.
“Kenapa Lo Raka?” Tanya Prilly.
“Ah? Nggak kok. Nggak kenapa - kenapa.” Jawab Raka kemudian mengalihkan pandangannya ke tempat lain.
“Jangan bilang Lo cemburu sama Andika?” Tanya Prilly.
“Hah? Apaan sih? Nggaklah mana mungkin gue cemburu.” Balas Raka.
“Terus kenapa ekspresi Lo murung kayak gitu?” Tanya Prilly lagi.
“Sayangg.. nggak semua hal bisa kita cari tau yah, mungkin Raka nggak bisa menceritakan apa yang mengganjal di hatinya. Jadi stop tanya - tanya Raka, okeeyy?” Ujar Ardya kemudian mengambil minuman Prilly untuk di minumnya.
“Iya nihh Prilly.. Lo simpen dulu deh bakar Lo itu yang bisa ngebaca kondisi seseorang. Kita mau makan dengan tenang.” Kata Bella.
“Ahh iyaa.. sorry yah Raka.. Sorry kalau gue membuat Lo nggak nyaman.” Kata Prilly.
“Nggak apa - apa kok Prill.. santai.” Ucap Raka.
Zara dan Andika pun kembali sambil membawa minuman untuk Raka dan juga Ardya.
“Aku ke toilet dulu yah.” Ucap Raka ke Zara.
“Ohh iyaa.”
Raka yang masih mencoba untuk bersikap biasa saja mulai kembali tidak tenang, Raka memikirkan banyak hal yang membuatnya khawatir , Raka takut kalau Zara juga nantinya meninggalkan dirinya dan lebih memilih dengan Andika. Kekhawatiran yang muncul di kepalanya benar - benar membuatnya pusing sampai tiba di depan toilet Raka hampir salah masuk toilet.
“Ehh.. Pak Raka mau ngapain di sini?” Kata Nabila yang baru saja keluar dari toilet.
“Saya mau ke toilet.” Jawab Raka tanpa melihat Nabila sedikit pun.
“Haloo .. Pak Raka lagi ada masalah yah? Apa gimana sih? Kok Pak Raka kelihatan nggak fokus gitu? Coba bapak liat deh, ini tuh toilet cewek, masa bapak mau masuk di toilet cewek sih.” Kata Nabila.
“Ohh iyaa.. ya ampun maaf yahh. Saya nggak liat.” Kata Raka.
“Nggak apa - apa Pak. Untung cuma saya yang ada di toilet, coba kalau orang lain, bisa - bisa salah paham tuh.” Kata Nabila.
“Ahh iyaa makasih yahh.. kalau gitu saya permisi dulu.” Ucap Raka lalu masuk ke dalam toilet.
Nabila yang penasaran dengan sikap Raka, akhirnya menunggu Raka di depan toilet.
“Aaaahh aku kenapa sih? Huufftt haaaa huuffttt haaa.. tenang Raka.. its okey.. semua nggak akan terulang lagi, nggak ada yang perlu kamu khawatirkan.” Gumam Raka pada dirinya sendiri yang berdiri di depan cermin besar yang ada di dalam toilet.
“Hah? Kenapa tuh Pak Raka.. tuhkan, ada yang nggak beres deh ini. Kenapa yahh.. uhh jadi penasaran banget, siapa tau aja masalah dengan Mba Zara, jadi gue bisa masuk - masuk deh.” Gumam Nabila.
Akhirnya Raka keluar dari toilet, dan saat Raka melihat Nabila, Raka kaget karena takut kalau saja Nabila mendengar apa yang baru saja dikatakan Raka.
====