Chapter 100

1387 Kata
Saat sampai di Lobby, Raka menyampaikan kalau makan siangnya di restoran yang sudah di booking Raka. Dan semua karyawan pun menunu ke restoran tersebut. Raka, Zara dan Ibu Nadine berada dalam satu mobil. “Raka.. tante dengar kamu tinggal sendiri yah di apartemen?” Tanya Ibu Nadine. “Ah? Iyaa tante.. Raka tinggal sendiri di apartemen yang tidak jauh dari kantor.” Jawab Zara. “Rasanya sudah lama sekali yah, kamu meninggalkan rumah kamu. Apa selama kamu tinggal di apartemen kamu, kamu nggak pernah ke rumah orang tua kamu?” Tanya ibu Nadine lagi. “Maa.. kenapa sih nanya - nanya? Raka nanti nggak nyaman mama..” ujar Zara yang berada di kursi penumpang di belakang. “Ohh maaf yah Raka.. tante cuma penasaran aja dengan kehidupan kamu.” Kata Ibu Nadine. “Ehh nggak kok.. nggak apa - apa.” Seru Raka. “Raka senang kok bisa bercerita dengan tante.”Sambung Raka. “Duhh maaf yah Raka.. mama aku ini emang kepo banget orangnya.” Kata Zara. “Yee biarin aja, yang pentingkan masih dalam batas yang wajar. Iya nggak Raka?” Kata Ibu Nadine. “Haha iyaa tante.. nanti deh yah aku ceritain, soalnya kita sudah sampai.” Kata Raka sambil menunjuk restoran yang sudah ada di depan. “Ohh iyaa nak.. kita sudah sampai yahh? Aduh apa nggak apa - apa nih tante ikut makan? Hah?” Tanya Ibu Nadine lalu menoleh juga ke Zara. “Tuhh kan.. mulai nggak nyaman kan? Udah di bilangin juga tadi.” Seru Zara. “Haha.. iyaa nyali mama jadi ciut ngeliat banyak teman - teman kamu. Sedangkan mama orang asing yang mau ikut - ikutan makan. Hahah.” Seru Ibu Nadine. “Ehh nggak lah tante.. tante bukan orang asing, tenang aja biar tante ada temannya, Raka udah mendatangkan teman buat tante.” Kata Raka lalu menunjuk mobil kedua orang tuanya yang baru saja memarkir mobilnya. “Hah? Mama sama Papa kamu?” Tanya Zara. “Iyaa.. aku juga manggil mereka biar sekalian, buat ngenalin juga ke mereka orang - orang di kantor.” Jawab Raka. “Wahh Raka emang the best dehh, sampai kepikiran gini.” Ucap Ibu Nadine. Ibu Nadine menghampiri Ibu Fara yang sudah tidak jauh lagi darinya. “Raka nanti orang—“ “Heii heii heii apa lagi sih.. ssstttt.. udah yahh, nggak usah mikir yang macam - macam dan sekarang kita masuk aja.” Kata Raka lalu menggandeng tangan Zara. “Hmm.. iyaa - iyaa.” Balas Zara. Raka, Zara, Ibu Nadine, Ibu Fara dan juga Pak Gibran masuk ke dalam restoran. Semua mata tertuju ke mereka. “Hei, itu kan mama dan papanya Pak Raka?” “Iyaa.. tapi yang ibu satunya lagi siapa?” “Mamanya Mba Zara..” “Wahh ada pertemuan keluarga juga kayaknya.” “Mama dan Papanya Pak Raka serasi banget yah? Sama - sama cantik dan ganteng, nggak heran anaknya bisa seganteng itu.” “Huushh mamanya Mba Zara juga cantik banget, awet muda, mana penampilannya nggak seperti ibu - ibu pada umumnya lagi. Sosialita banget deh.” Beberapa karyawan membicarakan keluarga Raka dan juga Zara. Dan itu bisa di dengar langsung oleh Zara. Zara masih bisa menerimanya karena tidak ada yang berkata yang tidak - tidak tentang keluarganya dan juga keluarga Raka. Sedangkan Nabila yang menyaksikan kedua keluarga itu sangat dekat, hatinya lagi - lagi terbakar cemburu. Nabila tiba - tiba memukul meja, dan semua perhatian tertuju ke Nabila. “Mba Nabila kenapa?” Tanya salah seorang keryawan yang duduk di samping Nabila. “Ahh nggak.. ini ada nyamuk nih.” Jawab Nabila yang berbohong. Sementara itu , Ibu Nadine perhatiannya langsung tertuju ke Nabila. “Zara itu yang namanya Nabila?” Tanya Ibu Nadine. “Iyaa Maa.. dia yang Namanya Nabila. Gimana menurut mama?” Tanya Zara kembali. “Ahh.. dia cantik juga yah. Tapi sayang sifatnya kenapa jelek seperti yang kamu ceritakan.” Kata Ibu Nadine. “Ada apa Jeng? Kenapa dengan anak itu?” Tanya Ibu Fara. “Ahh.. itu jeng.. katanya dia suka nyari masalah sama Zara di kantor. Saya tuh tadinya ke kantornya Raka cuma mau ngeliat dia haha.” Jawab Ibu Nadine. “Maklumin mama aku yah tante Fara.” Ucap Zara. “Hahah.. emangnya kenapa sayang? Tante juga kalau jadi mama kamu pasti bakal penasaran sama orang yang sering gangguin anaknya.” Kata Ibu Fara. “Tapi kan aku udah kerja tante.. aku udah gede, ngapain sih mama sampai datang dan ngeliat segala. Yang kayak gitu tuh cuma pas sekolah aja.” Kata Zara . “Eisshh.. nggak lahh.. sampai anaknya pun udah nikah pasti orang tua itu akan tetap peduli. Kamu jangan berfikir seperti itu.” Kata Ibu Fara. “Tuhh dengerin apa kata tante Fara.. lagian mama tuh nggak datang ke sinu untuk marah - marahin dia, untuk bilanh ke dia heii kamu yah jangan berani - beraninya sama anak saya, nggak gitu sayang.. mama juga mengerti kok. Mama tuh cuma penasaran aja.” Jelas Ibu Nadine. “Iya - iyaa Mamaaa.” Balas Zara. “Ehmm tapi memangnya dia gangguin kamu gimana sayang?” Tanya Ibu Fara. “Dia suka ngomong yang nggak - nggak tante tentang aku. Dan suka buat heboh satu kantor. Gimana aku nggak kesel kalau kayak gitu.” Jawab Zara. “Kamu sih kesel - kesel doang, tapi kalau dia di pecat juga nggak mau. Gimana sih.” Ucap Ibu Nadine. “Yahh.. mau gimana lagi. Zara kan juga orangnya nggak tegaan.” Ucap Zara. “Hahaha.. lucu banget sih kamu Zara. Emang cocok banget deh sama Raka.” Kata Ibu Fara sambil memeluk Zara dari samping. Dan lagi - lagi Nabila memperhatikan itu. Hati Nabila benar - benar penuh dengan rasa kesal. Rasanya Nabila mau pulang saja dari reatoran itu. Tapi karena dia tidak mau melewatkan kesempatan untuk bertemu dengan orang tua Raka, Nabila tetap bertahan meskipun harus melihat kedekatan antara Zara dan Mamanya Raka. Tidak lama kemudian pesanan makanan dan minuman yang mereka pesan akhirnya datang. “Eeehmmm ehhemmm.. Tolong perhatiannya semua dong kesini !!!” Teriak Andika. “Andika Lo mau ngapain sih?” Bisik Raka. “Sssttt.” Andika menutup mulut Raka dengan satu jarinya. “Pufffff.. bau banget sih tangan Lo.” Seru Raka sambil membersihkan mulutnya. “Hahah.. makanya diem.” “Ehhmm eehmmm.. okee untuk teman - teman semuanya, terima kasih sudah datang di undangan makan siang Pak Raka. Akhir - akhir ini Pak Raka sudah mulai berubah menjadi lebih baik, dan itu semua mungkin karena kehadiran Mba Zara di hidupnya Pak Raka. Mungkin kalian semua di sini ada yang belum tahu kalau Pak Raka dan Mba Zara adalah tetangga, tetangga yang rumahnya tepat bersampingan—“ “Haaahhh??? Rumah Mba Zara yang itu? Yang tepat di sebelah rumah Pak Raka? Waahh itu sih besar banget, dan mewah banget. Oh my god aku nggak nyangka kalau rumah itu rumahnya Mba Zara. Tapi kenapa Mba Zara kerja sebagai sekertaris? Kenapa nggak di rumah aja? Atau bangun perusahaan sendiri aja? Ya ampun Mba Zara juga orang yang sangat kaya tertanya.” Ucap seorang office boy yang juga ikut makan siang bersama. “Hahahah.. Pak Pakk.. kalau mau tanya kenapa alasannya Zara bekerja di kantor orang, nanti Bapak bisa tanyakan sendiri saja yah ke Mba Zara..” ucap Andika yang belum menyelesaikan ucapannya. “Ahh.. iyaa Maaf yah Pak Andika saya jadi memotong pembicaraan bapak.” Ucap office boy tersebut. “Haha iyaa Pak nggak apa - apa kok. Jadi yang ingin saya yang di sini adalah dulu Pak Raka dan Mba Zara sempat terjadi masalah di antara mereka, dan mereka tidak pernah bertemu lagi, dan semoga ini bisa menjawab rasa penasaran kalian saat Pertama kali Mba Zara masuk ke kantor. Untuk Pak Raka dan Mba Zara selamat karena sudah bertemu lagi setelah kurang lebih lima tahun tidak pernah bertemu. Jadi untuk meluruskan semua kesalahpaham yang terjadi kemarin - kemarin dan rasa penasaran kalian tentang Mba Zara, semuanya sudah saya jelaskan yahh.. saya harap kalian semua tidak membuat kesalahpahaman lagi dengan Mba Zara. Sekarang kita harus memberi selamat untuk hubungan Pak Raka dan Mba Zara. Kalau masih ada yang ingin kalian tanyakan bisa langsung tanyakan ke Mba Zara nanti.” Jelas Andika. “Sekarang mari kita rayakan pertama kai kebersamaan ini.” Ucap Andika lalu mengangkat gelasnya dan mengajak semua karyawan untuk bersulang. ====
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN