Aminah sudah mengantar Ibu Nadine sampai ke lantai lima dan menunggu Zara di depan ruangan Raka yang terdapat sofa untuk tamu menunggu.
"Ehh.. tante.. cepet banget sampainya." Ucap Raka.
"Lohh Raka.. katanya nggak masuk kantor, kok tiba - tiba ada di sini nak.” Tanya Ibu Nadine.
“Ah.. iya tante.. urusan di rumah nggak jadi, jadi aku lebih baik masuk kantor aja.” Jawab Raka.
“Mama.. mama ada apa sih? Kok datang - datang ke kantor Zara tapi nggak bilang - bilang dulu.” Ucap zara.
“Mama kan mau kasih surprise.” Jawab Ibu Nadine sambil tersenyum.
“Idih apaan emangnya aku lagi ulang tahun apa.. mama ini ada - ada aja deh.” kata Zara.
“Tanteee. Haii..” teriak Ardya dari mejanya. Ardya tidak berdiri karena masih ada pekerjaan yang harus iya selesaikan.
“Ehh hai Nak Ardya.. Ardya kan? Tante udah benerkan?” Tanya Ibu Nadine memastikan nama Ardya.
“Haha.. iyaa bener kok tante.. santai - santai yah tante, Ardya lagi banyak kerjaan hehe.” Kata Ardya yang kembali menatap komputernya.
“Idihh.. tante Nadine juga nggak mau ketemu Lo kali.” seru Raka.
“Idihh hahah.. serah lo deh.” Balas Ardya.
Semua tertawa.
“Eh.. mba Aminah makasih yah udah nganterin mama saya.” Ucap Zara.
“Makasih yah cantik.” Kata ibu Nadine.
“Iya sama - sama Mba Zara.. tantee. Kalau gitu saya permisi yah. Permisi Pak Raka..” kata Aminah. Aminah turun kembali ke lantai satu.
“Mama mau ngapain sih ke sini? Emang di sini tempat main apa?” Tanya Zara.
“Mama tuh tadinya penasaran sama yang namanya Nabila, terus mama di kasih ini sama Raka, dan di kasih semua fasilitasnya, jadi mama mau deh datang kesini buat main, daripada mama bosen kan di rumah.” Jawab Ibu Nadine.
“Ya ampun Mama.. tapi Zara nggak bisa temenin Mama buat jalan - jalan, masih jam kerja ini. Terus orang yang mau mama liat nggak di sini. Nggak satu lantai sama aku.” Kata Zara.
“Ehmm.. Zara liat dehh.. ini sepertinya udah jam istirahat. Gimana kalau tante ikut dulu sama kami buat makan siang? Kami ada acara makan siang hari ini.” Kata Raka.
“Hah? Kok.. tapi kalau orang - orang ngeliat gimana? Nanti mereka bilang apa?” Tanya Zara yang penuh kekhawatiran.
“Kenapa sih selalu mikirin ucapan orang. Terserah mereka mau bilang apa Zara, kita juga cuma mau makan siang kok.” Kata Raka.
“Nanti mereka bilang ihh baru di umumin hari ini, mamanya udah di bawa aja ke kantor.” Kata Zara.
“Ya ampun.. sini biar mama yang urus mereka semua. Mama mau sekalian liat itu tuh yang namanya Nabila yang suka cari masalah sama kamu.” Kata Ibu Nadine dengan suaranya yang begitu pelan.
“Ish Mama.. apaan sih, kenapa jadi ikut campur urusan kantor Zara deh.” Kata Zara.
“Mama nggak ikut campur kok sayang, mama cuman pengen liat dan sekalian jalan - jalan di kantor kamu.” Kata ibu Nadine.
“Ehmm.. gimana kalau kita ngobrolnya di ruangan aku aja. Ayo tante. Zara..” kata Raka sambil membuka pintu ruangannya.
“Mama..” gumam Zara kesal.
“Kenapa sih sayang.. Mama nggak aneh - aneh kok, mama tau apa yang mama lakuin, tenang aja deh, nggak usah khawatir gitu.” Kata Ibu Nadine lalu masuk ke dalam ruangan Raka.
“Jadi gimana? Tante mau ikut makan siang bareng kita semua kan?” Tanya Raka.
“Iya ikut dong.” Jawab Ibu Nadine.
“Zara nggak apa - apa kan?” Tanya Raka yang melihat wajah Zara yang muram.
“Iyaa nggak apa - apa kok. Aku takut aja kalau Nabila ngomong yang aneh - aneh lagi pas ada Mama, aku nggak mau kalau mama denger dia ngomong.” Kata Zara.
“Udah tenang aja, mama jadi makin penasaran pengen liat deh, bagaimana orangnya.” Kata Ibu Nadine.
Trrriiinggg Triimggh trrringggg ( suara dering telepon Zara yang ada di meja kerjanya. )
“Aduh ada telepon, tunggu sebentar yah.” Kata Zara hendak berdiri dari kursinya.
“Ehh di sini aja.. sambungkan kesini dari pada kamu keluar lagi.” Seru Raka.
“Oh iyaa.. Zara pun berdiri dan mengambil pesawat telepon yang ada di meja Raka.”
Telepon yang di terima Zara adalah telepon dari lobby, yang sudah memamanggil Raka dan juga zara untuk keluar makan sesuai dengan janji Raka tadi pagi.
“Ohh iyaa bilangin tunggu sebentar lagi yah, lima menit.” Ucap zara lalu menutup sambungan Teleponnya.
“Kenapa Zara?” Tanya Raka.
“Telepon dari Lobby, katanya mereka semua udah siap di bawah untuk makan siang.” Jawab Zara.
“Ohh iyaa.. kalau gitu ayo kita berangkat sekarang.” Kata Raka lalu berdiri mengambil ponselnya.
“Aku siap - siap dulu yah Maa.. ntar. Mama tunggu di sini dulu aja.” Kata Zara.
Sebelum Zara membuka pintu, Andika datang bersama Ardya.
“Ehh tante. Tante Nadine kan? mamanya Zara?” Tanya Andika.
“Ohh hai Andika.. iya tante mamanya Zara.” Jawab Ibu Nadine.
“Ya Ampun sudah lama sekali kita nggak ketemu tante. Wahh sepertinya ada pertemuan keluarga yah.” seru Andika sambil menyalami tangan Ibu Nadine.
“Nggak ada Andika.. jangan ngarang deh, mama aku datang ke sini buat jalan - jalan doang kok.” Seru Zara lalu berjalan keluar dari ruangan Raka.
“Santai aja kali jawabnya.” Kata Raka.
“Hahah tante mau keliling - keliling kantor kallian, karena tante baru aja di kasih ini sama Raka.” Kata Ibu Nadine sambil mengangkat kartu tamu VVIP yang di berikan Raka.
“Oalahh.. kalau gitu pas banget tante. Biar aku yang temenin tante keliling - keliling di kantor ini. Hari ini lagi nggak ada tamu special, jadi karena ada tante, tante deh yang jadi tamu specialnya.” Kata Andika.
“Beneran yah? Makasih nak Andika.” Kata Ibu Nadine.
“Siap tante.” Seru Andika.
“Udah - udah.. maaf yahh tante, aku menyela sedikit soalnya orang - orang di bawah udah nungguin untuk makan siang. Udah laper katanya.” Kata Ardya.
“Oh iya nak.. nggak apa - apa.. ayo - ayo kita turun aja, tante jadi nggak enak deh. Sepertinya tante datang di saat yang tidak tepat deh.” Kata Ibu Nadine.
“Lohh nggak dong tante. Justru tante datang di saat yang paling tepat.” Kata Andika.
Setelah Zara bersiap - siap, Raka, Ibu Nadine, Andika dan juga Ardya turun ke lantai satu untuk pergi bersama dengan karyawan - karyawan lainnya untuk makan bersama di restoran yang sudah di booking Raka.
====