Chapter 98

1155 Kata
Zara segera berdiri dan menghampiri Andika yang terjatuh. “Aduh maaf Andika saya nggak sengaja.” Ucap Nabila sambil membantu Andika memngambil pie nya yang terjatuh di lantai. “Hmm.. iyaa - iyaa nggak apa - apa kok. terus Mba Nabila kenapa ada di sini? Mau membuat keributan lagi?” Tanya Andika. “Andika kenapa Lo ngomong kayak gitu sih.” Kata Zara yang sudah berdiri di belakang Andika. “Saya mau ketemu Mba Zara.” Jawab Nabila. “Siapa tah aja yah kan? Mba Nabila kan kerjaannya cari masalah terus.” Kata Andika. “Ya Ampun.. lebih baik Lo kembali deh ke ruangan Lo.” Kata Zara. “Tapi kan , gue—“ “Udahh sanaa.. cepatan.” Seru Zara sambil mendorong Andika untuk berjalan cepat. “Issh iyaa - iyaa.. Ardyaa.. liat Zara yahh.” Teriak Andika lalu berjalan kembali ke ruangannya. Tapi Ardya tidak mendengar apa yang di katakan Andika. Karena Ardya sangat fokus dengan apa yang di kerjakannya pagi itu. “Kenapa Mba Nabila mencari saya?” Tanya Zara. “Hmm.. saya mau minta maaf ke Mba Zara atas kesalahan saya tadi pagi.” Kata Nabila. Nabila mengucapkan permintaan maaf, tetapi wajahnya sangat tidak tulus. “Ohh iyaa nggak apa - apa Mba Nabila.” Jawab Zara. “Tapi Mba Zara jangan senang dulu. Saya memjnta maaf ke Mba Zara bukan berarti saya mengikhlaskan Pak Raka di sisi Mba Zara, saya akan terus mencoba untuk membuat Pak Raka untuk suka sama saya.” Kata Nabila. “Hah? Mba Nabila sadar nggak sih kalau ngomong? Kan jelas - jelas Pak Raka udah pacaran sama saya Mbaa.. kenapa Mba Nabila masih ingin merebutnya dari saya?” Kata Zara. “Pacar belum tentu miliknya Mba Zara. Siapa tau aja sekarang Mba Zara yang pacaran sama Pak Raka, tapi nantinya Pak Raka menikah sama saya. Kan bisa banget tuh Mba.. jodoh nggak ada yang tau Mba Zara.” Kata Nabila dengan gayanya yang super percaya diri. “Ah? Hahah.. iyaa deh Mba Nabila.. itu terserah Mba Nabila saja, saya sebagai pacarnya Pak Raka sekarang akan mencoba untuk menjaga pak Raka dari gangguan - gangguan penggoda seperti Mba Nabila.” Ujar Zara sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya. “Apa? Mba Zara bilang apa tadi? saya penggoda?” Tanya Nabila. “Iyaa.. Mba Nabila penggoda. Apa dong Namanya kalau bukan penggoda, yang udah jelas - jelas tau kalau orang yang ingin Mba Nabila rebut itu sudah punya pacar.” Kata Zara. “Ahh sudahlah Mba Nabila, lebih baik Mba Nabila juga sekarang kembali ke lantai tiga dan kembali bekerja. Daripada Mba Nabila di lihat lagi sama Pak Raka, dan mambuat Pak Raka marah.” Sambung Zara lagi sambil menujuk pintu keluar dari lantai lima. “Okee.. baik. Saya juga cuma mau menyampaikan itu kok sama Mba Zara, dan makasih yah udah memaafkan saya.” Kata Nabila. “Iyaa.” Jawab Zara singkat. “Byyee Mbaa Zara.. sampai ketemu di jam makan siang.” Kata Nabila lalu berjalan melenggak lenggokkan pinggulnya. “Huffttt Astaghfirullah.. ya Allah sabarkan aku. Dia meminta maaf tapi caranya minta maaf kayak gitu. Haduuhh.” Gumam Zara sambil berjalan kembali ke meja kerjanya. Ardya yang melihat Zara berbicara sendirian, kehilangan fokusnya. “Kenapa Lo ngomong sendiri?” Tanya Ardya. “Ah? Haha.. nggak apa - apa kok Ardya. Biasa ada gangguan datang. Lo kerja aja yahh, nggak usah perhatiin gue yang lagi kesel ini.” Jawab Zara. “Hmm.. memangnya kenapa? Apa lagi yang mengganggu Lo?” Tanya Ardya. “Itu loh Ardyaa.. Mba Nabila tadi baru aja datang—“ “Hah? Mana? Dimana? Kok gue mggak liat?” Tanya Ardya. “Di depan tadi.. Lo terlalu fokus kali, makanya Lo nggak dengar. Padahal tadi Andika juga manggil Lo.” Kata Zara. “Hah? Masa sih? Hahah.. berarti gue benar - benar serius. Terus kenapa sama Nabila?” Tanya Ardya. “Dia datang dan meminta maaf atas kejadian tadi pagi. Dan juga katanya dia tetap mau membuat Raka suka sama dia. Aneh kan?” Kata Zara. “Hah? Haha dia ngomong gitu? Bisa - bisanya dia ngomong seperti itu di depan Pacarnya Raka. Dan dia tau kalau Lo pacarnya Raka. Haha parah banget sih.” Seru Ardya. “Itu diaa.. hah sudahlahh.. nggak usah di bahas dulu. Capek gue ngurusin dia lagi dia lagi.” Kata Zara lalu berfokus ke komputer kanfornya. Jam sudah menujukkan pukul sebelas pagi, setengah jam lagi jam istirahat kantor tiba. Trrriiingg trrriiinggg trrringggg (suara dering telepon kantor Zara) "Halo" "Halo.. Mba Zara saya Aminah dari customer service. Ini ada mamanya Mba Zara di bawah, apa saya langsung suruh ke atas atau bagaimana?" Tanya aminah. "Hah? Mama saya? Kok bisa? Terus maksudnya langsung suruh ke atas itu bagaimana maksudnya?" Tanya Zara. "Iyaa Mamanya Mba Zara ada di kantor, katanya dia mau ketemu sama Mba Zara terus sekalian jalan - jalan di kantor, Mamanya Mba Zara punya kartu tamu VVIP Mba, yang di mana kartu itu adalah kartu khusus yang diberikan langsung dari Pak Raka untuk tamunya yang kapan saja mau datang ke kantor ini Mba." Jelas Aminah. "Hah? Gimana - gimana? Aduhh gini aja deh, boleh saya minta tolong Mba Aminah untuk mengantar mama saya ke atas? bisa?" Tanya Zara lagi. "Oh iya boleh nggak Mba.. tunggu sebentar yah, saya akan mengantar Mamanya Mba Zara ke atas." Ucap Aminah. "Okeh Mba Aminah makasih banyak yahh." Kata Zara. Zara pun menutup teleponnya, lalu berdiri dan menuju ke ruangan Raka. Tok tok tok (suara ketukan pintu ruangan Raka) "Iya masuukk." Seru Raka. Zara membuka pintu. "Raka.. kamu yang kasih ke mama aku kartu tamu VVIP?" Tanya Zara. "Ohh iya tante Nadine.. iyaa aku yang kasih. kenapa? Mama kamu udah datang?" Tanya Raka kembali. "Ya ampun kenapa kamu kasih sih? Nanti dia datang terus dong ke sini." Kata Zara. "Loh memangnya kenapa? Kan nggak apa - apa.. malah bagus , jadi bisa selalu ada pengunjung." Ucap Raka. "Ihhh nanti dia malah gangguin aku kerja, kamu mau? Emang kita kekurangan pengunjung apa? Nggak kan." Tanya Zara ketus. "Loh kok marah sih haha.. tadi aku sama mama kamu cerita - cerita di rumah kamu, dan singkatnya mama kamu emang mau ke sini, katanya mau lihat yang namanya Nabila." Jelas Raka yang masih sambil menatap layar komputernya dan sesekali melihat Zara yang sedang ngambek. "Hah? Kok bisa tiba - tiba Nabila?" Tanya Zara heran. "Panjang deh ceritanya.. nanti aku ceritain, kamu temuin mama kamu dulu deh. Tuh dia udah di depan." Kata Raka lalu menunjuk pintu ruangannya. "Iiihh kamu ini, awas yah kalau kamu nggak ceritain ke aku, apa yang kamu ceritain ke mama aku." Kata Zara. "Iyaa -iyaa. Ntar aku ceritain." Kata Raka lalu berdiri dari kursinya. "Kalau gitu aku keluar dulu yah." Kata Zara. "Aku juga mau keluar kok." Kata Raka. "Ngapain? Tanya zara. "Mau ketemu mama kamu juga.” Jawab Raka lalu berjalan keluar mendahului Zara. Zara tersenyum dan menyusul Raka keluar dari ruangannya dan menemui Ibu Nadine. ====
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN