Chapter 97

1387 Kata
Setelah Raka dari ruangan Prilly, Raka naik ke ruangannya. Saat sampai di lantai lima, Raka berhenti dulu di meja Zara yang tepat berada di depan ruangannya. “Zara bisa kamu keruangan saya sebentar?” Tanya Raka. “Eeehhmm.. ciee ciee yang udah go public hahah.” Seru Ardya menggoda Zara dan juga Raka. “Ishh apaan sih Lo !! Nanti kedengaran sama yang lain kan jadi nggak enak.” Ucap Zara. “Hahah kan mreka udah pada tau juga.” Kata ardya. “Ya tetep aja gue nggak enak.” Kata Zara lalu berdiri dari kursinya. “Aku tunggu di dalam yah Zara.” Ucap Raka lalu masuk ke dalam ruangannya. “Ohh iyaa Pak Raka.” Kata Zara. “Aduhh kaku banget sih kalian berdua ini !!! Yang satu masih panggil nama, yang satu masih panggil pakai Pak segala. Haduhh..” ucap Ardya yang lagi - lagi menggoda Zara dan Raka. “Huusshhh bisa diem nggak Lo.” Seru Zara lalu masuk ke dalam ruangan Raka. Zarapun masuk ke dalam ruangan Raka, dengan hati yang deg - degan. Ntah apa yang membuat jantung Zara berdetak lebih cepat. “Maaf yahh.. kamu pasti kaget yah sama apa yang aku lakuin tadi?” Tanya Raka sebelum Zara duduk. “Ayo duduk dulu.” Kata Raka lagi. “Iyalah kaget.. kamu datang - datang langsung kayak gitu. Mana aku ngiranya kamu nggak masuk kantor. Kenapa sih kok jadi masuk kantor? Katanya nggak mau masuk? Kok malah nongol sih.” Kata Zara lalu duduk di sofa. “Hahah.. kamu kaget karena aku tiba - tiba datang ? Atau kamu kaget karena aku langsung ngomong ke orang - orang kalau kamu itu pacar aku?” Tanya Raka. “Dua - duanyaaa !!!” Gumam Zara. “Hahah kok marah sih.. iyaa aku minta maaf kalau aku ngagetin kamu kayak tadi. Papa sama Mama aku tiba - tiba dapat telepon dari keluarganya mama, katanya mereka baru tiba di bandung dan minta di temenin cari rumah, jadi Papa sama mama nemenin mereka dulu. Dan karena dari pada aku bosen di rumah sendirian, jadi aku masuk kantor aja. ehh nggak deh ada bibi sama Pak Atan juga hahah.” Jelas Raka. “Oohh pantesan.. ish kabarin dulu kek apa kek.” Ujar Zara. “Kan surprise.” Ucap Rama lagi. “Surprise apaan kayak gitu.” Ucap Zara. “Hahah.. terus kamu mau suprise yang seperti apa?”tanya Raka. “Yahh nggak seperti apa - apa juga sih. Eh terus tadi kenapa tiba - tiba ngomong kalau kamu itu pacaran sama kamu? Katanya Ardya yang menghasut kamu?” Tanya Zara. “Ah? Ardya ngomong kayak gitu? Dasar tuh anak emang cerewet banget.” Kata Raka. “Iyaa Ardya yang ngomong sendiri.” Jawab Zara. “Hmm.. jadi tadi tuh aku udah denger kamu sama Nabila ribut - ribut, dan pas aku mau masuk di tahan gitu sama Ardya, katanya aku harus masuk di saat yang tepat, dan aku lebih baik ngasih tau ke orang - orang kalau kita berdua ini pacaran, biar nggak ada salah paham lagi. Dan nggak ada yang percaya sama omongannya Nabila, dan setelah aku fikir - fikir apa yang di katakan Ardya ada benernya juga. Jadi aku umumin sekarang deh, aku harap kamu nggak marah yah sama aku, sama apa yang barusan aku lakuin.” Kata Raka. “Hmm.. mau marah gimana lagi kalau semua orsng udah tau.” Kata Zara. “Maaf yah.” Ucap Raka lalu memegang tangan Zara. “Hmm.. iyaa nggak apa - apa kok, sebenarnya aku juga senang karena kita nggak perlu sembunyi - sembunyi di depan orang - orang kantor. Dan aku juga makasih karena kamu udah buat pengumuman dengan cara seperti itu.” Kata Zara. “Seneng?” Tanya Raka. “Iyaa seneng.. aku bahagia punya pacar seperti kamu. Aku nggak nyangka kalau kita bisa sampai di detik ini, dulu aku fikir, perasaan aku sama kamu hanyalah sebatas cinta monyet saja, dan nggak akan pernah terbalaskan. Tapi takdir berkata lain, kita bisa bertemu lagi dan sekarang kita pacaran . Semoga aja hubungan kita bisa lebih serius lagi.” Kata Zara. “Ehh ehh tapi kamu jangan saah paham yah, aku nggak minta kamu untuk cepet - cepet nikahin aku, atau apa.. ehh aduuhh apasih , aku ngomong apa sih. Aduh lupain aja yah.” Ujar Zara yang sudah salah tingkah. “Hahaha.. lucu banget sih. Iyaa - iyaa aku mengerti kok sama apa yang kamu maksud, aku juga berharap hubungan kita bisa lama, bisa langgeng. Dan aku nggak akan pergi dari kamu.” Kata Raka. “Masa?” Tanya Zara. “Iyaa beneran.” Jawab Raka. Tok tok tok ( suara ketukan pintu ruangan Raka ) “Rakaa gue masuk yahh.” Ucap Andika pelan. “Yahh si pengganggu datang lagi.” Kata Raka ke Zara. “Hahah.. jangan gitu.” Ucap Zara. “Aduhh aduuhh masih pagi - pagi udah pacaran aja, kerja woii kerrjaaa !!!!” Seru Andika lalu duduk berhadapan dengan Zara dan Raka di sofa. “Siapa yang pacaran sih.” Balas Zara. “Yahh kalian berdualah. Tapi nggak apa - apa juga sih, tohh ini kantor Raka , jadi terserah mau ngapain hahah.” Kata Andika. “Apa sihh Lo.. ada apa Lo ke sini?” Tanya Raka ke Andika. “Nggak ada apa - apa.. cuman pengen nengokin Lo doang hahah.” Jawab Andika. “Lah nggak jelas banget.. udah sana kerjaa.” Kata Raka. “Iyaa ntar dehh.. kerjaan gue tuh sekalinya gue kerjain langsung beres. Lo tau gue kan? Gue laper nihh.. Lo punya makanan nggak?” Tanya Andika. “Kenapa nggak turun aja di restoran?” Tanya Zara. “Males guee. Di sini kan lebih dekat.” Jawab Andika. “Idihh.. ya udah dehh gue keluar duluan yah.” Kata Zara. “Lahh mau kemana?” Tanya Andika. “Kerja lahh.. emang Lo nggak kerja.” Jawab Zara. “Raka aku keluar yahh.” Kata Zara ke Raka. “Iyaa.. semangat kerjanyaaa.” Kata Raka sambil tersenyum. “Iddiiihhh oooeeeekkkkk. Gue keluar juga deh mau muntah gue liat Raka yang kayak gini.” Kata Andika meledek Raka. “Haha.. yaudah sana keluar.” Ucap Raka. “Zara tungguin guee.” Teriak Andika lalu berjalan dan merangkul Zara. Raka yang melihat Andika merangkul Zara ada terbersit di hati kecilnya perasaan tidak suka kalau melihat Andika seakrab itu dengan Zara. Tapi Raka tau kalau dirinya tidak boleh seperti itu, Andika dan Zara juga berteman dengan baik, yang penting Andika tau batasannya berteman dengan Zara harus seperti apa. Jadi Raka tidak ingin pertemanan mereka berantakan. “Lo punya makanan nggak Zara?” Tanya Andika. “Punya. Tapi punyanya Ardya. Ardya masa Andika mau makan makanan Lo sih. Nihh.” Ucap Zara sambil mengeluarkan satu paper bag dari bawah mejanya. “Eeehh jangan yahh.. sini - sini punya gue, ini tuh oleh - oleh gue tau. Lo itu dari bali tadi nggak beli cemilan - cemilan, malah minta punya orang.” Ucap Ardya lalu berdiri dan mengambil satu paper bag yang di berikan Zara. “Hahahah.. emang nih Andika.. hahah.” ZAra tertawa terbahak - bahak mendengar ocehan Ardya untuk Andika. Raka melihat dari dalam ruangannya, Zara yang sedang tertawa lepas. “Cantik banget sih.” Ucap Raka sambil memandangi Zara. “Ya Allah tolong ampuni dosa temanku ini. Masih pagi - pagi udah nyerocos ajaa. Ckckckkkk. Gue lupa tau.. bukan gue nggak beli tapi gue lupa, gue lupa di rumah. Awas Lo kalau Lo minta cemilan gue yah besok.” Ucap Andika . “Hahaha sumpah yahh kalian berdua kayak anak kecil deh, berantem gara - gara cemilan. Nih nihh nihh Lo makan aja nih cemilan gue. Udah bawa sana ke ruangan Lo.” Kata Zara lalu memberikan satu kemasan kue pie khas Bali untuk Andika. “Nahh gitu dong.. tapi Lo punya lagi kan? Nanti Lo kelaparan gara - gara gue lagi, terus gue kena omel lagi dari Raka.” Kata Andika. “Iyaa ada kok.. udah sana Lo balik deh ke ruangan Lo, gue mau kerja. Banyak nih kerjaan gue.” Ucap Zara lalu mengambil satu berkas dokumen dari dalam lacinya. “Iyaa - iyaa.. thanks yahh gue ke ruangan gue dulu.” ucap Andika. Andika pun berjalan menunu ruangannya. BRRAAAAKKKKKK (semua pie yang di bawa Andika terjatuh) Nabila tidak sengaja menabarak Andika. ====
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN