Andika melihat Raka terdiam dan raut wajahnya yang sedang berfikir.
“Wooii.. kenapa? Mau kan Lo anterin Zara pulang?” Tanya Andika.
“Hah? Gimana yahh.. ntar gue fikir - fikir dulu deh.” Jawab Raka.
“Haduuuhh.. biar yang seperti itu Lo pakai mikir juga. Bener - bener nih orang.” Kata Andika sampai menepuk jidatnya.
“Kenapa sih Lo? Emangnya gue salah kalau mau memikirkannya dulu?” Tanya Raka.
“Yahh nggak salah.. tapi itu hal yang nggak perlu untuk di fikirkan bos Raka. Ah tapi terserah Lo dehh, gue kan cuma kasih Lo saran aja. Kalau Lo nggak mau anterin dia, gue bisa kok anter dia pulang, atau nggak suruh nebeng sama anak - anak yang lain. Pasti anak - anak yang lain mau deh.” Ujar Andika.
“Ya udah terserah.. bukan gue juga kok yang butuh.” Balas Raka.
“Buset daaahhh.. udah deh, gue capek ngomong sama Lo, nggak ngerti - ngerti juga. Mana tuh berkasnya, udah selesai kan Lo tanda tangani?” Tanya Andika sembari berdiri melihat berkas yang ada di meja Raka.
“Belum.. sabar dong, gue liat dulu hasil kerja Lo bener atau nggak. Banyak nih yang mau gue tanda tanganin.” Jawab Raka.
“Hahaha iya iya.. kalau gitu gue tinggal aja yah, masih ada yang mau gue kerjain di ruangan gue.” Ujar Andika.
“Okee.. ntar gue suruh Zara deh antar ke ruangan Lo, sekalian gue kasih liat gimana caranya periksa nih laporan. Sapa tau aja gue nanti keluar kota kan.” Ujar Raka.
“Okeyy dehh.. boleh juga tuh. Kalau gitu gue tinggal yahh.” Ujar Andika.
“Iyaa.. Tolong kasih tau Zara yah, suruh masuk ke sini sekarang.” Kata Raka.
“Okeyyy Bos.”
Andika keluar dari ruangan Raka, Andika berniat mengerjai Raka dengan memberitahu Zara kalau Raka akan mengantarnya pulang hari ini.
“Zar.. Lo di panggil tuh sama Pak Raka.” Ujar Andika sambil mengetuk meja Zara.
“Ah?? Duh kaki gue masih sakit nih kalau berdiri. Gimana yah?” Tanya Zara sambil memegangi kakinya.
“Aduh iya yah.. kayaknya Raka lupa deh kalau kaki Lo lagi sakit. Tunggu bentaran deh gue tanya Raka dulu yah.” Kata Andika.
“Eh eh nggak usah. Masa iya gue di panggil bos, tapi gue nggak masuk sih. Jangan ah, nanti di kira gue manja banget.” Ujar Zara berusaha berdiri.
“Lahh nggak bisa kan? Tunggu aja deh gue masuk dulu. Atau gue anter Lo sampai ke dalam deh. Gimana?” Tanya Andika.
“Boleh deh kalau itu.” Balas Zara.
“Oh iya Zara katanya Raka mau anterin Lo balik ntar, kalau kaki Lo masih sakit.” Ujar Andika.
“Tapikan gue bawa mobil.” Kata Zara.
“Yahh simpan aja dulu mobil Lo di kantor, nggak ada yang mau nyuri mobil Lo juga kok. Hahahah.” Seru Andika.
“Hahah apaan sih Lo. Tapi beneran Raka mau anterin gue?” Tanya Zara.
“Beneran.. katanya biar dia mau sekalian mengunjungi orang tuanya. Tapi kalau Lo nggak percaya, tanya aja lagi nih kalau Lo masuk, buat mastiin lagi.” Seru Andika.
“Iya deh.. ya udah anter gue masuk kalau gitu.” Kata Zara.
“Okeyyy.” Andika mengambil tangan Zara dan membantu Zara berdiri.
Raka yang melihat dari dalam ruangannya, berjalan cepat keluar dari ruangannya. Raka lupa kalau kaki Zara masih sakit dan tidak bisa berdiri sendiri saat menyuruh Andika memanggil Zara.
“Hei heii.. nggak usah nggak usah. Biar Saya ngomong di sini aja. Maaf saya lupa kalau kaki kamu masih sakit.” Kata Raka yang masih berdiri di pintu ruangannya.
“Oh bapak akhirnya keluar juga.. kalau begitu saya permisi yah Pak Raka, silahkan berbicara dengan sekertaris bapak.” Kata Andika tersenyum licik lalu pergi dari hadapan Raka dan Zara.
“Maaf yah Pak Raka.. saya susah berdiri, kaki saya masih sakit.” Kata Zara pelan.
“Iya nggak papa kok.. saya lupa tadi kalau kaki kamu lagi sakit. Ini Laporan yang di bawa sama Andika tadi, saya mau kasih liat kamu bagaimana cara memeriksanya.” Kata Raka sambil membawa berkas dan membuka Laptopnya.
Raka memperlihatkan bagaimana cara memeriksa Laporan dari Andika, Zara memperhatikan dengan seksama apa yang di jelaskan oleh Raka.
Zara sangat kagum dengan Raka, karena Raka sangat berkarismatik dan juga sangat pintar saat menjelaskan pekerjaannya. Zara semakin menyukai Raka.
“Kalau seperti ini saya jadi tidak bisa fokus. Ini terlalu dekat, mana Raka ganteng banget lagi kalau makin dilihat gini.” Batin Zara sambil memperhatikan wajah Raka.
“Bagaimana Zara? Udah mengerti kan?” Tanya Raka.
“Eh iya Pak. Saya mengerti, makasih karena penjelasan bapak sangat mudah di mengerti.” Jawab Zara.
“Bagus deh. Ehmm besok saya ada jadwal meeting tidak?” Tanya Raka.
“Ada pak.. dengan investor yang dari Jakarta, sekitar jam satu siang.” Jawab Zara.
“Kalau begitu besok kamu ikut meeting yah, itu meeting pertama kamu. Siapkan juga materi untuk di presentasikan.” Ujar Raka.
“Oh iya baik pak.”
“Kalau begitu saya masuk dulu, kalau semuanya sudah jelas.” Ujar Raka sembari membereskan berkas dan laptopnya dari meja Zara.
“Eh Maaf Pak.. tadi kata Pak Andika, bapak mau antar saya pulang yah? Makasih banyak yah pak bapak sudah niat antar saya pulang.” Kata Zara.
“Hah? Andika ngomong kayak gitu?”
“Duh sialan tuh anak, ngejebak gue lagi.” Batin Raka.
“Oh iya.. saya sekalian mau ke rumah saya, kan kaki kamu masih sakit. Nggak bisa bawa mobil kan? Jadi biar ikut saya saja.” Jawab Raka.
“Alhamdulillah.. makasih yah Pak. Tapi mobil saya aman kan pak kalau di tinggal di sini?” Tanya Zara.
“Iya sama - sama. Aman kok, nggak papa tinggal aja di sini.” Jawab Raka.
Drrrttt drrrtttt drrrttt (ponsel Raka bergetar)
“Gimana? Jadi kan anter Zara pulang hahahahah.”
“Sialan.” Guman Raka sambil membaca Isi pesan dari Andika.
“Iya? Kenapa pak?” Tanya Zara.
“Ohh nggak.. nggak papa.. ini saya lagi baca pesan dari orang. Kalau begitu saya masuk dulu yah.” Ujar Raka lalu membuka pintu ruangannya.
“Iya Pak.”
Jam kantor sudah menunjukkan pukul setengah enam sore. Zara sudah merapikan mejanya dan bersiap untuk pulang. Zara menunggu Raka keluar dari ruangannya, karena Zara tidak enak untuk memanggil Raka keluar duluan.
“Zara Lo nggak pulang?” Tanya Ardya.
“Pulang kok.. lagi nungguin pak Raka.” Jawab Zara.
“Hah? Ngapain nunggu.. kalau mau pulang, pulang aja. Kan udah jam pulang kantor. Ayo pulang aja.” Kata Ardya yang sudah berdiri di depan meja Zara.
“Ih bukan gitu.. gue emang nungguin Pak Raka kok, karena—“
“Ayo Zara kita pulang.” Kata Raka yang baru saja keluar dari ruangannya.
“Hah? Lo pulang bareng Pak Raka?” Bisik Ardya.
“Iya Ardya, saya sekalian mau mampir ke rumah orang tua saya. Karena Zara nggak bisa bawa mobilnya pulang, kakinya sakit.” Kata Raka. Raka yang menjawab pertanyaan dari Ardya.
“Oh, eh maaf Pak.. hahah..” seru Ardya.
“Hahahah.” Zara juga ikut tertawa.
“Kalau gitu Lo bantuin gue ke parkiran yah.” Ujar Zara ke Ardya.
“Oh oke sini gue bantuin.” Kata Ardya membantu Zara berdiri.
====