Setelah sampai di parkiran Zara langsung masuk ke dalam mobil Raka.
“Ardya makasih yah udah bantuin gue.” Ujar Zara.
“Iya sama - sama.. nanti baca chat gue yah.” Bisik Ardya ke Zara.
“Apaan?? hahah.. iya - iyaa.. Lo baliknya hati - hati yah.” Ujar Zara.
“Sippp.. Pak Raka gue cabut pulang dulu. Anterin baik - baik tuh anak orang.” Ujar Ardya.
“Iya udah sana.” Balas Raka.
Raka pun masuk ke dalam mobilnya, keadaan mulai canggung. Di sepanjang perjalanan Raka hanya diam dan sangat serius mengendarai mobilnya. Dan tiba - tiba perut Zara berbunyi.
“Kamu lapar?” Tanya Raka.
“Engg.. iya nih Raka hahah.. duh jadi malu gue.” Jawab Zara.
“Mau singgah makan dulu nggak?” Tanya Raka.
“Sama kamu?” Tanya Balik Zara.
“Iya lah mau sama siapa lagi.”
“Ah hahaha.. nggak emang kamu nggak capek? Sapa tau aja kamu mau langsung istirahat.” Kata Zara.
“Nggak kok. Saya juga lapar, kita singgah makan dulu aja.” Ujar Raka.
“Ohh ehmn okeh deh.. ehh tapi saya nggak bisa jalan Raka. Nggak usah deh, yang ada malah ngerepotin nantin. Biar makan di rumah aja.” Ujar Zara lagi.
“Oh iya juga yahh.. aduhh, kamu sih tadi pakai lari - larian segala.” Ujar Raka.
“Namanya juga nggak sengaja hehe.” Balas Zara.
“Tapi nggak papa nih? Rumah kan masih cukup jauh.”
“Nggak papa kok. Aku masih bisa tahan rasa lapar aku.” Ujar Zara.
“Baiklahh.”
Raka dan Zara melanjutkan perjalannya. Zara masih tidak menyangka kalau dia bisa satu mobil berdua saja dengan Raka. Saat sudah hampir sampai Zara meminta di turunkan depan rumah Raka saja karena Zara ingin memastikan kalau Raka benar - benar ingin mengunjungi kedua orang tua.
“Oke - oke.. stop di sini aja.” Ujar Zara.
“Kenapa? Kan ini masih belum rumah kamu.” Kata Raka.
“Nggak papa.. rumah saya tinggal selangkah aja kan Raka, kamu masuk aja ke rumah kamu. Kamu mau sekalian mampir kan?” Tanya Zara.
“Oh iya.. saya mau mampir.. tapi apa kamu bisa jalan sendiri?” Tanya Raka.
“Bisa kok.. tenang aja.. tinggal selangkah doang.
“Ya udah kalau gitu hati - hati yah.” Ujar Raka.
“Siappp. Makasih banyaknya yah Raka, kamu sudah nganterin aku pulang.” Ujar Zara sambil membuka pintu mobil Raka.
“Iya sama - sama.”
Raka masih melihat Zara sampai masuk ke dalam rumahnya dari dalam mobilnya.
Beepp beepp beepp.. (suara klakson mobil)
Raka membuka kaca mobilnya, ternyata mobil itu mobil orang tuanya.
“Rakaa?? Masuk sini nak.” Ujar Ibu Fara sambil mengetuk pintu mobil Raka.
“Ah nggak.. aku udah mau pulang.. nanti aku datang lagi.” Kata Raka.
“Loh kenapa? Kamu baru sampaikan?” Tanya ibu Fara.
“Iya sihh tapi aku ada panggilan ini dari klien, harus pergi dulu.” Ujar Raka.
Raka langsung menancap gas mobilnya dan pergi begitu saja. Raka hanya beralasan untuk mampir di rumahnya, karena merasa tidak enak dengan Zara saat di kantor tadi.
“Eh mana Raka Maa?” Tanya Pak Gibran yang baru saja memarkir mobilnya.
“Udah pergi Pahh.. katanya ada telvon dari kliennya.” Jawab Ibu Fara yang masih berdiri di depan pagarnya.
“Hah? Anak itu bener - bener.. kok nggak masuk dulu sih.” Ujar Pak Gibran.
“Mungkin dia sibuk Pahh.. mama udah senang kok dia udah mau mampir lagi.” Kata ibu Fara sambil berjalan masuk ke dalam rumahnya.
“Hmm.. mama ini selalu saja seperti ini.” Ujar Pak Gibran.
“Nggak papa Pah. Mungkin ini yang harus kira tebus, karena dulu kita juga sering meninggalkan Raka.” Ujar Ibu Fara.
“Assalamualaikum.” Teriak Zara sambil berjalan setengah pelan - pelan.
“Walaikumsalam.. Loh kaki kamu kenapa sayang?” Tanya Ibu Fara.
“Tadi terikilir tante di kantor hehe.. biasa.. anak cewek yang nggak tau make heels.” Jawab Zara.
“Ya Ampun.. tapi udah nggak papa? terus ini apa lagi kamu bawa?” Tanya ibu Fara.
“Masih sakit tante.. ini Zara paksain jalan, ntar mau di pijit kok. Mama udah panggil tukang pijit buat mijitin kaki aku. Ehmm ini spagetti tante.. buat Raka.. Mama Zara masak banyak, jadi sekalian aja karena
Raka udah anterin Zara juga pulang tadi.” Jelas Zara.
“Eh tapi Rakanya udah pergi tuh.” Ujar Pak Gibran sambil berjalan masuk ke dalam rumahnya.
“Raka anterin kamu pulang? Sini duduk dulu.” Kata Ibu Fara.
“Iya tante.. Loh Raka udah pergi? Katanya tadi mau masuk mampir kesini. Kok udah pergi sih.” Ujar Zara.
“Udah.. katanya ada telvon dari klien, dan harus ketemu sekarang juga.” Jawab Ibu Fara.
“Yahh.. padahal tadi katanya dia laper juga.” Ujar Zara.
“Eh tapi kok kamu bisa di anter pulang sih sama Raka? Kok bisa?” Tanya Ibu Fara tersenyum. Karena sangat senang mendengar kalau Raka sampai mengantar Zara pulang.
“Hahah tante nggak nyangka kan? Sama Zara juga masih nggak percaya hahah. Jadi tadi kan kaki Zara terkilir tante, terus Zara nggak bisa berdiri. Nggak bisa bawa mobilnya Zara pulang juga. Terus kata Andika, Raka mau anterin aku pulang sekalian mau mampir kesini.” Jelas Zara.
“Ohh ya ampun hahah pasti itu kerjaannya sih Andika lagi deh. Dia pasti ngejailin Raka lagi. Tapi bagus dehh, berarti ada sedikit perubahan kalau dia sampai mau di jailin kayak gitu.” Kata Ibu Fara.
“Kayaknya sih tante heheh.. makanya tadi pas di kantor aku diem - diem aja, mau tau gimana ekspresinya.” Ujar Zara.
“Aduhh senangnya.. kamu baru satu hari bekerja di sana, Raka udah mulai ada sedikit rasa peduli terhadap orang lain.” Ujar Ibu Fara.
“Doain yahh tante.. semoga Zara bisa membuat Raka kembali seperti dulu lagi.” Ujar Zara.
“Hmm.. tapi kenapa kamu sampai masih ingin membantu Raka? Jangan bilang kamu??” Tanya Ibu Fara.
“Hahhah tante ih.. aku nggak tau yah tante, mungkin sekarang bisa ketemu sama Raka lagi adalah sesuatu yang membuat aku senang banget. Tante tau kan kalau dulu aku suka sama Raka, mungkin aja aku masih suka Raka sampai sekarang tante.” Jawab Zara.
“Ya Ampun Zara.. kamu kok bisa suka sama anak tante sih? Dia kan udah kasar sama kamu. Tante ingat banget dulu kejadiannya, tante sendiri kalau ada di posisi kamu saat itu pasti udah benci banget sama Raka.” Kata Ibu Fara.
“Aduh tante sampai lupa buatin kamu minum. Tunggu sebentar yahh.. Bii.. Bi Asnii..” teriak Ibu Fara.
“Iya bu iyaaa.. aku dataaangg.” Kata ibu Asni yang sudah membawa nampan dan dua gelas minuman di atasnya.
“Wahh bibi udah tau yah kalau ada Zara?” Tanya ibu Fara.
“Tau toh buu.. suara ibu cerita sama Mba Zara tuh kenceng amat, jadi bibi bisa dengar kan. Heheh.. jadi gimana? Mba Zara suka yah sama Mas Raka?” Kata Bi Asni menggoda Zara.
“Hahah bibi ini.. kok nguping sih.” Seru Ibu Fara.
“Piyee toh bu.. ibu sama Mba Zara yang ngomongnya kekencengan.” Ujar Bi Asni.
“Hahah makasih yah bi minumannya.” Kata Zara sambil meminum minuman yang di suguhkan bi Asni.
“Zara.. tante cuma bisa ngedukung kamu yah Nak.. tante nggak bisa berbuat lebih, dan tante sangat berterima kasih kalau kamu masih mau membantu Raka menjadi seperti dulu lagi, yang tidak bersikap dingin terhadap orang - orang di sekitarnya.” Ujar Ibu Fara.
“Iya tante.. nggak papa kok, Zara juga nggak mau memaksakan. Biar waktu yang menjawab semuanya.
====