Chapter 12

1236 Kata
- RUMAH ZARA - Zara berjalan setengah pincang memasuki rumahnya, setelah bercerita panjang lebar dengan Ibu Fara. “Lo tuh yah di bilangin biar gue aja yang bawa ke sebelah, liatkan Lo sampai keringatan gitu jalannya.” Ujar Julian berjalan menghampiri adiknya. “Ishh lebay banget sih Lo.. gue tuh nggak papa tau, segini doang mahh kecil.” Ujar Zara lalu menduduki sofa yang ada di ruang tamunya. “Sok kuat banget sih Lo.. dasar.” Seru Julian sambil melanjutkan game favoritnya. “Nih anak kalau ketemu aja, pasti ada aja yang di perdebatkan.” Ucap ibu Nadine yang sedang membuatkan teh hangat untuk Zara. “Ini Mahh.. Julian suka banget cari masalah sama aku.” Ujar Zara lalu menjulurkan lidahnya ke Julian. “Awas Lo yahh.” Kata Julian berdiri lalu menggelitikki adiknya. “Adduuhh aduuhh.. sakitt tauuuu.. sakit kaki guee dasaarrr kakak jahat.” Kata Zara sambil tertawa. “Hahaha makanya jangan usil. Gue tuh udah bantuin Lo masuk tadi, gue khawatir sama adik gue yang bawel ini.” Ucap Julian lalu kembali duduk melanjutkan gamenya. Zara dan Julian dua orang bersaudara yang hanya beda usia tiga tahun. Julian sangat menyayangi adiknya, meskipun ia jarang menampakkan rasa sayangnya itu. Julian menunjukkannya dengan cara menjaili adiknya Zara. “Udahh - udahh.. kalian kayak tikus sama kucing. Nihh minum dulu.” Ujar Ibu Nadine sembari memberikan satu gelas teh hangat untuk Zara dan satu gelas es teh untuk Julian. “Makasih mamaku sayanggg.” Seru Zara dan Julian. “Hahaha gitu dongg kompak kayak gini.” Ucap Ibu Nadine sambil tertawa. Ibu Nadine duduk di samping Zara, ingin menanyakan bagaimana hari pertamanya bekerja di kantor Raka. “Maa tukang pijitnya udah dimana?” Tanya Zara sambil melihat kakinya. “Oh iya.. ya ampun Mama hampir lupa. Tunggu sebentar mama ambil handphone mama dulu.” Ucap Ibu Nadine berlari masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil handphonenya. “Ohh ini Zara.. katanya udah hampir sampai, tunggu sebentar yah Nak.” Ucap Ibu Nadine sembari mengecek pesan dari tukang pijitnya. “Iya nggak papa kok Maa.” Balas Zara. “Kuat katanya Maa.” Seru Julian. “Isshh.” Gumam Zara kemudian menepuk pundak Julian. “Hahah udah ah. Oh iya Zara.. gimana hari ini nak? Gimana kerjaannya? Lancar nggak?” Tanya Ibu Nadine yang sangat penasaran. “Alhamdulillah lancar banget Maa.. semua orang - orangnya juga pada baik banget. Katanya sih mereka semua kagum sama aku, karena mereka baru pertama kali melihat ada orang yang berani marah sama Raka tepat di hadapan Raka langsung. Puuffttt.” Ucap Zara tertawa menutup sedikit mulutnya. “Beneran? Ya Ampun mereka lucu sekali. Tapi Raka sendiri bagaimana nak? Apa dia memperlakukan kamu dengan baik? Dia nggak marah - marah kan sama kamu?” Tanya ibu Nadine lagi. “Nggak kok Maa.. buktinya tadi dia anterin Zara pulang. Terus tadi dia juga minta maaf sama Zara Maa.. aduhh Zara seneng banget dehh, akhirnya bisa ketemu sama Raka lagi.” “Diihh dasar ganjen.. emangnya Raka suka ketemu sama Lo lagi? Jangan menghayal terlalu tinggi deh Lo.” Ucap Julian. “Aduh aduh kakakku sayangg.. nggak usah bawel yah, ini urusan gue. Lo nggak usah banyak komen, sirik aja Lo.” Ujar Zara. “Tapi bener sih kata Julian.. kamu jangan terlalu berharap—“ “Tuh kann.. mama aja setuju, kasian deh Lo hahahaha.” Julian sangat puas menertawai adiknya. “Emangnya kenapa Maa?” Tanya Zara mengabaikan ejekan dari Julian. “Yahh kamu tau sendirikan Raka orangnya seperti apa? Mama takut aja kalau kamu bisa kecewa nantinya.” Jawab Ibu Nadine. “Ngeyel sih Lu.” Seru Julian yang masih asyik bermain game. “Bisa diem nggak Lo.” Kata Zara ketus. Tidak lama kemudian tukang pijit yang di panggil Ibu Nadine datang, kaki Zara yang terkilir di pijit agar Zara bisa berjalan lagi, meskipun masih sedikit sakit. Setelah Zara di pijit, Zara naik ke kamarnya untuk bersih - bersih. Zara masuk ke dalam toilet dan melihat dirinya di dalam cermin. “Apa benar kata Mama? Apa benar gue nggak boleh terlalu berharap?” Gumam Zara pada dirinya yang berada di dalam cermin. “Hmmm.. biarkan waktu aja deh yang menjawabnya, gue cukup berdoa dan berusaha. Kenapa juga sih gue masih suka sama Raka? Isshh Zara - Zara.” Gumam Zara lagi. Zara pun berdiri di bawah shower dan membersihkan dirinya. Selesai mandi Zara membaringkan dirinya di tempat tidurnya yang mempunyai ukuran yang besar hanya untuk satu orang. Esoknya, sinar matahari yang menembus jendela kamar Zara membangunkan Zara dari tidurnya yang nyenyak. Zara segera bangun memasukki kamar mandinya dan segera bersiap - siap untuk berangkat ke kantor. Zara turun dari kamarnya berjalan perlahan karena kakinya masih sedikit sakit. “Pagii Maa.. Paa.. Kak Julian mana Maa?” Tanya Zara. “Udah berangkat dari tadi.. katanya ada dia ada meeting di kantor pagi ini.” Jawab Ibu Nadine. “Ohh tumben bukan Papa yang berangkat pagi.” Ucap Zara sambil memakan roti yang sudah di siapkan Ibu Nadine. “Iya nih.. Papa lagi nggak enak badan, nggak papa sekali - sekali Julian yang memimpin rapat.” Ucap Pak Ardani. Keluarga Zara juga mempunyai perusahaan sendiri, Zara sendiri tidak ingin bekerja di kantor keluarganya karena ia ingin belajar sendiri, tanpa campur tangan dari keluarganya. “Iya juga yahh.. tapi papa nggak papa kan? Nggak perlu ke dokter?” Tanya Zara. “Nggak kok sayang.. Papa cuma butuh istirahat aja, mungkin Papa kecapean.” Ujar Pak Ardani. “Udah kamu nggak usah khawatir, Papa kamu nggak papa kok. Kamu cepetan makannya, nanti telat loh.” Seru Ibu Nadine. “Eh iya juga yahh.. aku kan nggak bawa mobil.” Ucap Zara sambil menepuk pelan jidatnya. “Loh kenapa kamu nggak bawa mobil nak? Mobil kamu rusak lagi?” Tanya Pak Ardani. “Mobil aku ada di kantor Paa, nggak rusak kok.” Jawab Zara. “Terus kenapa ada di kantor?” Tanya Pak Ardani lagi. “Papa nggak liat yah tadi aku jalannya pincang - pincang?” “Hah? Kenapa? Kenapa kaki kamu? Aduh kamu kecelakaan? Tuh kan papa bilang juga apa, kamu harus pakai supir, atau nggak kamu nggak usah bawa mobil sendiri deh ke kantor, naik ojek online kan bisa.” Ucap Pak Adrian tak berhenti sembari melihat kaki Zara. “Hahahah.. nggak heran kan Zara kalau kakak kamu juga seperti itu?” Ucap ibu Nadine tertawa melihat tingkah suaminya. “Hahaha mama bener banget. Papa ini jangan khawatir berlebihan kayak gitu dong, nggak bagus tau buat kesehatan Papa. Zara tuh nggak papa, Zara nggak kecelakaan, ya Ampun amit - amit dehh.” Kata Zara sambil tertawa. “Alhamdulillah.. Terus kenapa dong?” Tanya Pak Adrian sembari meminum air putih yang ada di depannya. “Ini kaki Zara terkilir kemarin, karena Zara baru pakai heels lagi. Makanya jadi kayak gini.” Jawab Zara. “Ya ampun.. hati - hati dong sayang.. udah kamu nggak usah pakai heels lagi. Masih baik tuh kaki kamu nggak bengkak.” Ujar Pak Adrian lalu menunjuk kaki Zara. “Iyaa Paa.. nggak kok.. ya udah deh, Zara berangkat ke kantor dulu yahh.. nanti telatlagi. Mau pesen ojek online dulu. Ujar Zara sambil mengambil tasnya dan melihat sekali lagi di cermin tampilannya hari itu. “Udah cantik kok.” Kata ibu Nadine dan Pak Adrian bersamaan. “Heheh.. Zara berangkat yahh Maa.. Paa.. byee Maa.. byee Paa.. Assalamualaikum.” “Hati - hati jangan jatoh lagi. Walaikumsalam.” ====
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN