Zara berjalan mengikuti Raka menuju ke atap. Zara memperhatikan tampilan Raka dari kaki sampai ujung kepalanya dari belakang.
"Kok makin keren sih nih orang hiksss.. tapi sayang hatinya sedingin es batu." Batin Zara yang terus melihat Raka.
"Halooo." Kata Raka sambil menepuk tangannya di depan wajah Zara.
"Ehh.. maaf Pak.."
"Kok malah menghayal sih."
"Maaf Pak.. sepertinya tadi saya lupa minum air putih deh, jadinya kurang fokus gini. Heheh." Ujar Zara sambil memasukkan rambutnya ke belakang telinganya.
Raka sempat tersenyum melihat Zara, tapi pandangannya langsung Raka alihkan.
"Oh iya.. bapak mau ngomong apa?" Tanya Zara.
"Ehm.. saya mau minta minta maaf atas kejadian kemarin. Tidak seharusnya masalah pribadi saya ikut campurkan ke dalam urusan kantor. Maaf sampai membuat kamu malu di hadapan banyak orang." Ujar Raka.
"Oh hmmm.. iya nggak papa kok Pak.. wajar kalau bapak bersikap seperti itu kemarin, mungkin bapak langsung mengingat kejadian yang waktu itu sikapku sangat lancang mengusik kehidupan pribadi bapak." Balas Zara berjalan menuju tempat duduk kecil dekat balkon.
"Hmmm.. sepertinya. Sekali lagi saya minta maaf yah." Ujar Raka yang berdiri di tepi balkon.
"Boleh saya bertanya Pak?" Tanya Zara.
"Silahkan."
"Maaf kalau ini menyinggung lagi. Tapi apa bapak masih belum bisa memaafkan kedua orang tua bapak? Atau bapak masih marah sama kedua orang tua bapak?" Tanya Zara.
"Zara.. mungkin lebih baik kalau cuma kita berdua atau bareng sama Andika, kita manggil nama aja. Rasanya canggung sekali kalau kamu panggil saya bapak. Rasanya saya ketuaan.” Ujar Raka.
“Pufftt bapak nggak bercanda kan?” Tanya Zara menatap Raka.
“Nggak.. kenapa saya harus bercanda.” Jawab Raka.
“Aduh ya ampun iyaa iyaa.. ketus banget sih jawabnya. Baiklah kalau begitu Raka.” Kata Zara sambil tersenyum.
“Haha.. oke.”
“Hah? Dia baru saja tertawa kan?” Tanya Zara dalam hatinya sambil melihat Raka dengan serius.
“Hei kok menghayal lagi sih.” Seru Raka menepuk tangannya lagi.
“Eh hahaah maaf.. kayaknya dari pas aku masuk kantor semuanya pengen di panggil namanya aja deh. Lucu banget sih.” Ujar Zara.
“Oh yah? Semuanya? Siapa aja?” Tanya Raka.
“Yahh karyawan - karyawan di sini. Termasuk, Prilly, Andika, Bella sama Ardya. Katanya nggak usah resmi kayak gitu. Santai aja.. katanya kamu juga nggak ngelarang.” Ujar Zara.
“Ohh hm iya saya nggak melarang kok. Yang penting semuanya tetap sopan satu sama lain.” Kata Raka.
“Bagus dehh.. oh iya kamu belum menjawab pertanyaanku tadi.” Kata Zara lagi.
“Nanti yahh. Sekarang lebih baik kita kembali bekerja deh.” Ujar Raka.
“Oh iya ya ampun.. udah jam dua Raka.. yuk yuk.. nanti ada telvon lagi yang nyariin kamu.” Ujar Zara sambil berlarian.
“Heii pelan - pelan aja. Nggak papa kok, Bosnya juga ada di sini.” Kata Raka tersenyum.
Zara yang berlarian memakai heels akhirnya terjatuh, kaki Zara terkilir dan susah untuk berdiri.
“Aduhh tuh kan.. saya bilang pelan - pelan aja, kenapa harus lari.” Ujar Raka sambil membantu Zara untuk berdiri.
“Aduh duuhh.. sakit banget, aku nggak bisa berdiri. Huhuhu sakit banget.” Kata Zara sambil memegangi kakinya.
“Gimana sih. Makanya hati - hati dong. Tunggu saya panggil bantuan dulu yah.” Ujar Raka melihat sekeliling.
“Ehh.. Lo kenapa Zara?” Tanya Andika yang berlari melihat Zara sudah menangis.
“Kaki gue terkilir deh kayaknya, sakit banget.” Jawab Zara.
“Kok bisa sih? Sini gue bantuin berdiri. Pegangan yang kuat.” Ujar Andika sambil menarik tangan Zara untuk memegang pundaknya.
“Pak Raka kok malah ngeliatin doang sih.. bukannya bantuin Zara.” Kata Andika yang sudah berdiri memegangi Zara.
“Ah? Hah? Ini saya baru mau cari bantuan dan pas sekali kamu datang.” Jawab Raka.
“Lahh.. kan bisa di bantuin kayak gini. Kenapa harus nyari bantuan. Ampun deh.” Seru Andika.
“Aduh.. udah yuk.. Lo antar gue ke meja gue aja. Permisi pak Raka.” Kata Zara.
“Ohh iya iya hati - hati.” Kata Raka.
Andika mengantar Zara ke mejanya, berjalan dengan pelan - pelan.
“Loh Zara kenapa sampai di topang kayak gitu?” Tanya Ardya.
“Kaki gue terkilir hahah.. nggak biasa pke heels nih gue.” Jawab Zara.
Andika membantu Zara untuk duduk di kursinya, Raka terus melihat dari jauh.
“Kenapa Lo sama Raka tadi pas jatuh? Lo sama Raka nggak bertengkar lagi kan?” Tanya Andika.
“Husshh sembarangan. Nggak kok, gue aja yang nggak hati - hati tadi. Malah Raka udah minta maaf sama gue.” Jawab Zara.
“Hah?? Beneran?” Seru Ardya.
“Ardyaaaa.. isshh kok teriak gitu sih. Udah ah sana kerja. Nanti gue lagi yang di marahin. Gue ini sekertaris bos, harus mencontohkan yang benar hahah.” Kata Zara.
“Wahaha.. iya deh iya bu sekertaris.” Ujar Ardya.
“Ya udah kalau gitu gue masuk dulu yah.” Kata Andika sambil menunjuk ruangan Raka.
“Loh tapi kan Raka belum ada di ruangannya.” Kata Zara.
“Eh iya juga yah haha.. duh kemana sih. Dia kan tadi ada di belakang? Kok belum muncul sih.” Seru Andika.
“Iya juga yahh.. singgah di toilet mungkin atau lagi nelvon.” Jawab Zara sambil mengeluarkan berkas - berkas yang ada di dalam lacinya.
“ Kenapa?” Tanya Raka yang tiba - tiba muncul di belakang Andika.
“Astaghfirullah Aladzim. Ngagetin aja Pak Raka.. ini Pak saya mau bawa laporan yang harus bapak tanda tangani.”
Zara tertawa melihat Andika yang kaget tapi dengan suara yang pelan.
“Oh iya bawa masuk aja.” Kata Raka sembari membuka pintu ruangannya.
“Pak Andika.. makasih banyak yah sudah di bantuin.” Ujar Zara.
“Iya sama - sama. Lain kali hati - hati.” Balas Andika.
Andika dan Raka masuk ke dalam ruangan. Rak membaca dan menandatangani berkas yang di bawah oleh Andika.
“Kayaknya Lo dekat banget sama Zara.” Tiba - tiba Raka mengelurkan ucapan yang membuat Andika kaget.
“Hah? Hahahah.. emangnya kenapa kalau gue dekat sama Zara? Lo cemburu?” Kata Andika yang mencoba menggoda Raka.
“Yah gue nanya aja. Zara kan baru masuk hari ini. Tapi kayaknya kalian udah kelihatan akrab banget.” Jawab Raka.
“Kan gue kemarin udah ngomong juga sama Zara. Dan emang Zara anaknya ramah dan enak di ajak ngobrol, makanya jadi kelihatan akrab.” Jawab Andika.
“Oohh.”
“Dihh.. kalau Lo mau akrab juga nggak papa kok.. makanya Lo nggak usah bersikap dingin lagi sama orang - orang. Biar Lo bisa punya teman ngobrol yang banyak. Nggak cuma gue temen Lo. Gimana sih.” Ujar Andika sembari membuka kulkas kecil yang ada di ruangan Raka.
“Ehh tunggu - tunggu.. jangan bilang Lo ngomong kayak gitu karena Lo takut gue di ambil sama Zara yah? Wahh jangan aneh - aneh Lo yah.” Kata Andika lagi.
“Ya kali.. udah gila Lo yah.” Seru Raka sambil tertawa.
“Hahaha siapa tau kan. Lo takut kehilangan temen Lo yang ganteng ini.” Kata Andika sambil membuka minuman kaleng yang baru saja di ambilnya.
“Ehmm.. kakinya Zara udah nggak papa kan?” Tanya Raka lagi.
“Masih tuh.. kayaknya dia kesusahan deh kalau harus berdiri. Nggak tau deh ntar kalau mau pulang gimana. Soalnya dia juga bawa mobil, sapa tau aja dia nggak bisa bawa pulang mobilnya. Lo anter dia pulang aja, biar mobilnya di tinggal di sini.” Ujar Andika.
“Kenapa gue harus nganterin dia?” Tanya Raka.
“Ya Kan biar sekalian Lo mampir ke rumah Lo. Liat keadaan nyokap dan bokap Lo. Nggak papa kan kalau Lo sering mengunjungi mereka. Biar mereka juga seneng tau.” jawab Andika.
Raka terdiam memikirkan saran dari Andika.
====