Nabila belum mengetahui kalau Zara dan Raka sudah berpacaran. Kalau Nabila mengetahuinya pasti Nabila akan sangat malu dengan perbuatannya sendiri.
Raka dan Zara pun akhirnya sampai di depan rumah Zara.
“Kalau gitu aku masuk yahh.. aku mau siap - siap berangkat ke kantor, kamu istiharat aja dulu sebelum beres - beres kamarnya Rivka.” Ucap Zara.
“Iyaa.. masuk gihh.. eh tapi tunggu.. apa kamu nggak apa - apa ketemu Nabila di kantor?” Tanya Raka.
“Hmm nggak apa - apa sih, semoga aja nggak ada perang dunia ke tiga lagi. Aku capek banget berdebat sama dia.” Kata Zara.
“Kalau kamu mau aku bisa langsung memecat dia kok.” Kata Raka.
“Loh loh lohh.. jangan - jangan.. jangan gara - gara aku kamu mecat dia. Itu nggak profesional banget.” Kata Zara.
“Hahah iya bercanda kok. Ya udah kamu masuk, hati - hati yah ke kantornya.” Kata Raka.
“Iyaa - iyaa.. kamu jangan lupa fikirkan baik - baik apa yang aku bilang tadi yah. Diskusikan dulu sana Prilly, gimana baiknya.” Kata zara.
“Iyaa siaapp Bu Zara.. byyeee.” Seru Raka.
“Byeee Raka.” Zara pun berjalan masuk ke dalam rumahnya.
Raka juga kembali pulang ke rumahnya.
Zara masuk ke dalam rumahnya dengan wajah yang lesu dan tidak bersemangat. Membuat ibu Nadine bertanya - tanya apa yang terjadi dengan Zara.
“Kamu kenapa sayang?” Tanya Ibu Nadine sambil merangkai bunga mawar segar yang baru saja di antarkan oleh pengirim bunga.
“Nanti yah Maa aku ceritain ke mama. Ceritanya panjang banget, Zara udah hampir telat ini kalau Zara ceritain lagi ke mama.” Jawab Zara.
“Hmm iya deh iyaa sayang.. tapi kamu nggak putuskan sama Raka?” Tanya Ibu Fara.
“Hah? Zara putus sama Raka? Wahahahah. Kasian banget sih. Baru juga pacaran udah putus aja.” Seru Julian.
“Terserah Lo dehh !!!! Gue lagi nggak Mood.” Seru Zara.
“Maa aku siap - siap dulu yahh.” Ucap Zara lalu berjalan menaiki tangga ke lantai dua kamarnya.
“Iya sayangg.. huussshh kamu itu suka banget gangguin adik kamu.” Kata Ibu Nadine lalu menepuk pundak Julian.
“Ihh aku kan dengernya kayak gitu mamaaaa.. jadi aku bilang kayak gitu. Emang kenapa sih dia?” Tanya Julian.
“Mama juga nggak tau, katanya nanti dia cerita, dia udah terlambat katanya.” Jawab Ibu Nadine.
“Kenapa yahh?? Dia kan baru ketemu sama Raka, masa iya moodnya nggak bagus gara - gara ketemu sama Raka?” Kata Julian menerka - nerka.
“Tunggu aja nanti dia cerita sama kita.” Kata pak Ardani yang baru saja keluar dari kamar mandi.
“Ihh Papa kok bisa denger sih.” seru Ibu Nadine.
“Ya iyalahh.. gimana nggak di dengar kalau suara kalian berdua itu sangat berisik.” Jawab Pak Ardani.
“Hahah.. suaranya mama tuhh yang gede banget. Julian mahh nggak.” Kata Julian.
“Enak aja.. kamu juga tau.” Seru Ibu Nadine.
Setelah bersiap - siap, Zara pun keluar dari kamarnya dan turun ke lantai satu. Zara memakai setelan celana kain panjang yang tidak terlalu ngepas di kakinya yang berwarna pink salem dan juga blazer yang berwarna pink salem dengan dalam putih. Rambutnya di biarkan terurai dan memakai lipstik ombre yang berwarna natural di padukan dengan warna merah di dalamnya.
“Paahh kunci mobil aku di mana yah?” Tanya Zara.
“Wiidiihh tumben banget Lo cantik !!! Make up Lo? Hahaha.” Seru Julian yang melihat Zara turun dari tangga.
“Hellooooo !!! Lo nggak sadar kalau adik Lo ini emang cantik?” Balas Zara.
“Iyaa nihh Julian.. anak papa ini emang udah cantik.. kamu aja tuh yang nggak sadar.” Kata Pak Ardani lalu memberikan kunci mobil Zara yang terletak di gantingan khusus kunci mobil yang ada di ruang tamunya.
“Hahahah.. tuhh dengerin.. jangan sok - sok nggak mau ngakuin gue cantik. Gue itu emang udah cantik. Lo nggak liat mama cantik dan papa ganteng. Gue mahh akuin Lo kalau Lo ganteng, nggak sok - sokan kayak Lo.” Kata Zara.
“Diihhh apaan.. iya deh iyaa.. Lo cantik.. puaaasss??” Kata Julian.
“Huussshh masih pagi - pagi udah bertengkar.” Seru Ibu Nadine.
“Nggak.. hahahah.. ehh tolongin gue dong angkatin ke mobil barang - barang gue, ini tuh oleh - oleh temen kantor.” Kata Zara sambil menunjuk beberapa papper bag besar yang terletak di lantai ruang tengahnya.
“Banyak banget ini.” Kata Julian.
“Iyaa karena temen kantor gue juga banyak. Makanya oleh - olehnya banyak.” Jawab Zara.
“Ya udah bukain tuh mobil Lo.” Kata Julian sambil mengangkat papper bag di tangannya.
Zara lalu membuka pintu mobilnya, dan saat Zara keluar, Raka juga berada di halaman rumahnya sedang berolahraga. Rumah Raka dan Zara bisa saling melihat karena tembok yang membatasi rumah Zara dan rumah Raka temboknya hanya sepinggang orang dewasa selebihnya pagar tinggi yang menjulang ke atas.
“Kamu udah mau berangkat?” Tanya Raka lalu berjalan mendekati pagar yang membatasi rumahnya dan rumah Zara.
“Iyaa nih.. kamu kok nggak istirahat?” Tanya Zara.
“Ntar aja.. nggak bagus kalau udara sesejuk ini di anggurkan untuk tidak berolahraga.” Jawab Raka.
“Ehhheemm ehheemmm.” seru Julian.
“Ehh kak Julian.. pagi kak.” Ucap Raka pelan.
“Pagi Rakaa.” Kata Julian sambil tersenyum dengan merapikan papper bag yang tadi di angkatnya di dalam mobil Zara.
“Makasih yahh.” Ucap Zara ke Julian.
“Yoii.. salamin sama Bella yahh.” Kata Julian.
“Iyaa - iyaa ntar gue salamin.” Ucap Zara.
“Ehh Raka kenapa nggak ke kantor?” Tanya Julian ke Raka.
“Lagi pengen istirahat dulu aja kak.” Jawab Raka.
“Wahh enak yahh.. kalau kita yang punya kantor. Bisa semau kita kapan mau masuknya.” Kata Julian.
“Hehe.. nggak juga sih kak.” Kata Raka.
“Iyalahh.. aku aja yang anak pemilik perusahaan yang bekerja di perusahaan papanya sendiri sering di omelin kalau nggak masuk kantor, padahal perusahaannya milik papanya sendiri. Huufffttt penderitaankuuuu.” Ucap Julian.
“Paaahh Papaaaa.. ini nihh Julian lagi mengeluh, katanya sering di omelin kalau nggak masuk kantor.” Teriak Zara.
“Zaaaraaaaaa !!!!! Kenapa di kasih tau sih.” Ucap Julian sambil memburu Zara yang sudah berlari mengelilingi mobilnya.
“Hahahah.. makanya jangan suka mengeluh, udah bagus masih di marahin, itu tandanya papa masih sayang sama Lo.” Ucap Zara.
“Ckckckckck.. kalian ini masih bertengkar yaahh.. aduhhh tuhh ada Raka juga tuh yang ngeliatin kalian. Ihh nggak malu yahh, bertengkar kayak anak kecil gitu. Udah sana berangkat - berangkat kerja, kalian ini.. bikin mama gemass tau nggak.” Ucap Ibu Nadine yang baru saja keluar dari rumahnya.
Raka yang melihat pertengkaran kecil Julian dan Zara, teringat akan Rivka adiknya. Yang dulunya juga sering bertengkar kecil dengan Rivka. Raka membayangkan hari - harinya dulu saat Rivka masih ada di sisinya.
====