Chapter 91

1094 Kata
Ibu Nadine menghampiri Raka yang tengah asyik melihat Zara dan Julian bertengkar. “Rakaaa.. maklumin anak - anak tante yahh mereka, mereka nggak ada yang ingat umurnya.” Kata Ibu Nadine. “Heheh.. iyaa nggak apa - apa kok tante. Raka justru senang melihat kak Julian dan Zara seperti itu. Raka teringat sama Rivka, almarhumah adik Raka.” Kata Raka. Saat Raka mengatakan itu Ibu Fara dan juga Pak Gibran mendengar ucapan Raka. Ibu Fara dan Pak Gibran ikut sedih mendengar kalau Raka mengingat Rivka. “Eheemm.. Maa kalau gitu aku berangkat yahh.” Kata Zara lalu mengambil tangan Ibu Fara dan menyalami tangan Ibu Fara. “Iya sayang.. hati - hati yahh.” Kata Ibu Nadine. “Raka.. aku berangkat dulu yahh, kamu kirim pesan aja kalau ada hal yang penting yang harus aku kerjakan di kantor yah.” Kata Zara lagi. “Iyaa.. kabarin aja kalau udah di kantor. Hati - hati..” kata Raka. Zara juga berpamitan dengan Julian dan Pak Ardani. Setelah Zara pergi, tidak lama Julian dan Pak Ardani juga berangkat ke kantor bersama - sama. Zara lalu masuk ke dalam mobilnya lalu berangkat ke kantor. Dan sementara itu Raka masih asyik berolahraga di halaman rumahnya, tapi karena Ibu Nadine yang dari tadi penasaran dengan apa yang terjadi dengan Zara tadi pagi, akhirnya Ibu Nadine bertanya ke Raka. “Ehh Rakaa.. tante boleh ngobrol sebentar nggak?” Tanya ibu Nadine. “Ohh iya bolehh tante. Saya kesebelah atau gimana tante?” Tanya Raka. “Ehm.. kesini aja deh Raka biar lebih enak ngobrolnya.” Jawab ibu Nadine “Ohh iyaa.. tunggu sebentar tnte.” Kata Raka. Raka lalu masuk ke dalam rumahnya untuk meminum juz yang telah di buatkan oleh Ibu Fara. “Makasih Maa.” Kata Raka lalu berjalan keluar. “Mau lanjut lagi olahraganya?” Tanya Ibu Fara. “Nggak Maa.. aku mau ke sebelah.” Jawab Raka. “Sebelah? Rumah Zara?” Tanya Ibu Fara. “Iya..” jawab Raka seadanya. “Lohh kan Zaranya udah berangkat ke kantor?” Kata Ibu Fara. “Iyaa.. Raka mau ketemu dengan Tante Nadine.” Jawab Raka lagi. “Ohh.. ngapain?” “Nggak tau mama.. udah deh.” Kata Raka dengan nada yang tidak suka. Raka lalu keluar dari rumahnya, dan berjalan kaki ke rumah Zara. “Ada apa tante?” Tanya Raka yang masig di pintu pagar. “Ohh sini nak.. duduk sini.” Kata Ibu Nadine sambil menyuguhkan teh hangat untuk Raka. “Oh iya makasih tante.” Kata Raka lalu duduk di kursi yang terbuat dari kayu yang sangat kokoh. “Maaf yahh kalau tante mengganggu waktu mu, tante hanya penasaran saja apa yang terjadi tadi pagi sama Zara. Tadi dia pulang habis jalan - jalan pagi, dia kayak nggak mood gitu. Apa terjadi sesuatu di antara kalian?” Tanya Ibu Nadine. “Ohh itu tantee.. nggak.. bukan sama Raka, tapi tadi pagi Raka sama Zara ketemu sama teman kantor Raka. Cewek, nggak tau deh mungkin udah sering ngebuat Zara marah, tapi tadi pagi dia buat Zara sampai marah banget, Zara sampai nampar dia.” Jelas Raka. “Hah? Zara nampar? Kok bisa? Ya ampun.. emang apa yang teman kamu itu bilang? Siapa sih dia? Nabila? Alia? Atau siapa?” Tanya Ibu Nadine. “Ohh tante udah tau yahh Namanya.. Nabila tante.. menurut Raka sih ucapan dia emang sangat membuat Zara marah tante, dan pantas untuk mendapatkan tamparan dari Zara.” Kata Raka. “Emang apa yang dia bilang?” Tanya Ibu Nadine. “Di ngomong kalau katanya aku ngebelain Zara karena Ehmm maaf yahh tante.. karena katanya Zara udah tidur bareng aku tante, dan dia juga ngomong kalau Zara udah ngasih semuanya buat aku.” Jelas Raka lagi. “Wahh benar - benar yahhh.. kenapa dia ngomong sembarangan begitu? Wahh tante harus beri pelajaran sama tuh anak.” Seru Ibu Nadine. “Tante jangan.. maaf yah tante.. kalau menurut Raka, biar Zara dan Nabila yang menyelesaikan urusan mereka berdua. Jangan ada ikut campurnya tante, siapa tau juga Zara akan marah kalau tante ikut camput. Biar mereka berdua yang selesaikan masalahnya tante. Dan Raka juga pasti ikut membantu Zara kalau memang Zara perlu bantuan Raka, Karena Nabila juga bawa - bawa nama Raka tante. Dan Raka juga sebenarnya sudah mengambil tindakan untuk mau memecat Nabila, tapi Zara nggak mau tante. Katanya itu terlalu kejam kalau sampai harus memecatnya dari kantor, karena itu masalah di luar kantor. Emang sih, harusnya nggak seperti itu, tapi Raka juga sangat tidak suka dengan sikap yang terus di keluarkan Nabila. Jadi Raka mengikuti apa maunya Zara dulu tante.” Ucap Raka lalu meminum teh yang di suguhkan Ibu Nadine. “Hah.. Zara itu benar - benar selalu saja memikirkan perasaan orang lain dari pada perasaannya sendiri. Tante kadang suka marah kalau dia terus - terusan seperti itu. Karena dia nggak pernah memikirkan perasaannya sendiri, walaupun dia udah tersakiti bagaimana pun, tetap saja terselip perasaan kasihannya terhadap orang lain. Haaahh.. tante jadi gemmes sendiri. Tante penasaran sama yang namanya Nabila itu.” Kata Ibu Nadine sambil melipat tangannya di depan dadanya. “Itulah salah satu sikap yang membuat Raka suka sama Zara tante. Hehe.” Kata Raka pelan sambil tersenyum malu. “Adududuuuhhh.. ehhmm Raka makasih yahh udah suka sama Zara. Zara dulu tuh sering banget ngeliatin kamu dari jendela kamarnya, sejak kamu marah sama dia. Dia jadi suka ngeliat kamu dari kejauhan saja, karena katanya kalau dari dekat, kamu nanti bisa ngeliat dia yang lagi ngeliatin kamu.” Kata Ibu Nadine. “Masa sih tante? Ya ampun Raka jadi merasa bersalah. Kenapa baru sadar sekarang kalau Zara itu adalah orang yang tepat untuk Raka.” Ujar Raka sambil menghela nafasnya. “Eisshh kamu jangan ngomong kayak gitu.. emang perasaan itu nggak ada yang langsung suka nak.. emang semuanya butuh proses. Sekarang kamu syukuri saja apa yang terjadi sekarang. Tante sangat merestui kamu dan Zara berpacaran, dan tante juga bukan orang tua yang selalu menanyakan anaknya kapan menikah, ohh itu bukan tante sekali. Yang terpenting kalian berdua pacaran jaga diri baik - baik. Pacaran harus tau batasannya, dan tante fikir kamu pasti tau itu. Kamu orang yang berpendidikan dan mempunyai perusahaan yang sudah sangat besar, tentu saja tidak ingin merusak apa yang sudah kamu raih selama ini.” Jelas Ibu Nadine. Ibu Nadine memberikan nasehat ke Raka untuk hubungannya dengan Zara, agar hubungan mereka bisa bertahan selamanya. Ibu Fara yang sedang menyiram tanamannya di halaman rumahnya melihat Raka dan Ibu Nadine yang sedang ngobrol dengan sangat serius. Ibu Fara berjalan mendekati tanaman yang lebih denkat dengan pagar rumah Ibu Nadine. ====
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN