Chapter 92

1201 Kata
“Iya tante.. kalau itu Raka pasti akan selalu mengingatnya. Ehmm Kalau bisa Raka sangat ingin serius dengan Zara tante, mudah - mudahan ini langkah yang tepat untuk Raka dan Zara.” Ucap Raka. “Apa Rakaa?? Kamu sudah mau menikah nak?” Teriak Ibu Fara yang dari tadi sangat ingin mengetahui apa yang sedang di bicarakan Ibu Nadine dan juga Raka. Ibu Fara tidak sengaja menguping pembicaraan Ibu Nadine dan juga Raka. “Mama apa - apaan sih? Kok langsung nimbrung bgtu sih.. ihh nggak baik tau.” Ucap Raka. “Ya ampun maaf - maaf nak. Mama nggak sengaja kok mendengar pembicaraan kalian. Mama kaget aja mendengar kamu ngomong ingin serius sama Zara. Itu berarti kan kamu udah mau nikah sama Zara.” Jawab Ibu fara. “Mamaaaa.. Raka hanya mengutarakan apa yang Raka rasain akhir - akhir ini sama Zara. Raka hanya tidak ingin melepaskan Zara. Dan tolong mama tidak usah ikut campur dulu.” Ucap Raka. Sepertinya Raka belum bisa sepenuhnya untuk memaafkan iBu Fara, mamanya. Raka tidak ingin kehidupannya di campuri oleh orang tuanya. Ibu Nadine yang kaget karena Raka sudah berbicara dengan Ibu fara. Ibu Nadine sangat senang melihat kejadian itu, Ibu Nadine memberi ucapan selamat ke Ibu Fara dengan suara yang kecil. Dan ibu Fara juga membalasnya dengan menganggukkan kepalannya. “Sssssttttt..” ibu Fara meminta Ibu Nadine untuk tidak membahasnya dulu. Karena Ibu Fara takut kalau mood Raka akan rusak kalau mereka membahasnya saat itu. “Okeyyy.. finee.. mama nggak ikut campur. Mama masuk deh. Jeng Nadine, saya permisi dulu yah, nanti kita cerita - cerita yah.” Kata Ibu Fara lalu melambaikan tangannya dan masuk ke dalam rumahnya. “Siaaappp jeng.” Seru Ibu Nadine. “Raka.. tante senang deh, melihat kamu dan mama kamu udah baikan kayak gitu.” Ucap Ibu Nadine. “Hmm.. iya tante.. itu semua karena ucapan - ucapannya Zara tante.. Zara yang udah membuat Raka sadar seperti ini. Meskipun dalam lubuk hati Raka masih menyimpan rasa marah dan benci terhadap mama dan Papa.. setiap hari Raka selalu ingin memaafkan Mama dan Papa, setiap kali memikirnya, Raka jadi teringat lagi kejadian waktu itu.” Jelas Raka. “Itu karena yang kamu ingat adalah rasa sakit kamu nak.. Rasa sakit saat di tinggal, coba kamu mencoba mengikhlaskan apa yang terjadi, dan mengubah fikiran kamu, dengan kalau semua yang terjadi bukanlah kesalahan Mama dan Papa kamu. Melainkan sudah yang terbaik yang di berikan oleh Tuhan untuk almarhumah adik kamu.” Kata Ibu Nadine. “Raka tau kalau itu semua bukan kesalahan Mama dan Papa tante.. tapi Raka belum bisa menghilangkan rasa benci yang tertanam di hati Raka. Raka selalu memikirkan kalau saja waktu itu mama dan papa datang tepat waktu, Rivka pasti nggak akan ninggalin kita semua, Rivka pasti masih ada di sini bersama Raka.” Ucap Raka. “Nahh.. itu yang harus kamu ubah Nak.. coba kamu tidak berfikir seperti itu. Rivka pergi karena sudah di berikan tempat terindah untuk tuhan, bukan karena orang tua kamu yang datang terlambat. Maaf yahh kalau tante seperti menggurui kamu, tapi cuma itu saran yang bisa tante berikan untuk kamu Nak.” Ucap Ibu Nadine. “Hmm.. iyaa tante.. makasih banyak yah tante, Raka sudah membuat repot tante.” Ucap Raka. “Ehh nggak kok Raka.. malah tante yang makaish karena kamu sudah datang ke rumah tante, dan mendengar ocehan tante.” Ucap Ibu Nadine. “Hehe.. sama - sama tante.” Kata Raka. “Ohh.. iyaa.. kamu ada fotonya Nabila Nabila itu nggak, tante mau lihat. Tante penasaran deh orangnya seperti apa.” Ucap Ibu Nadine. “Ohh aku nggak punya tante.. aku nggak pernah berurusan dengan karyawan langsung. Itu tugasnya Andika tante.” Kata Raka. “Oalah.. yahh padahal tante pengen sekali lihat wajahnya. Tante penasaran banget. Dia pasti sangat suka sama kamu yah Raka? Makanya dia sampai sering ngerecokin Zara, karena Zara yang lebih dekat dengan kamu. Aduuh gimana kalau sampai dia tau kalau kamu pacaran sama Zara yah? Dia pasti bakalan sakit hati banget deh.” Kata Ibu Nadine. “Raka sih nggak tau yahh tante. Tapi dari yang Raka dengar - dengar dari orang kantor katanya emang Nabila suka sama aku tante. Tapi aku kan nggak bisa suka sama orang yang nggak aku suka, masa aku mau paksain, kan nggak mungkin. Iya kan tante?” Kata Raka. “Iyaa sihh.. nggak bisa di paksain juga kalau emang udah nggak suka. Hmm..” balas Ibu Nadine. “Ohh iya tante.. gimana kalau tante jalan - jalan aja ke kantor, biar bisa liat yang mana yang namanya Nabila. Ehh tapi kan nggak penting juga tante, ngapain mau lihat coba.” Ucap Raka. “Iya juga sih.. nggak penting juga. Tapi boleh juga tuh ide kamu, tante penasaran juga kantor kamu seperi apa. Boleh kan tante jalan - jalan ke sana?” Tanya Ibu Nadine. “Boleh dong tante. Ohh.. iya, tante bawa kartu ini saja, biar nggak banyak di tanyain sama security dan sama customer service.” Kata Raka lalu mengeluarkan kartu tamu yang bertuliskan VIP di atas kartu itu. “Ohh oke.. Wah tamu VIP? Ya ampun sampai ada yang kartu seperti ini yah Raka?” Tanya Ibu Nadine. “Iya tante.. itu kartu khusus untuk tamu yang Raka undang sendiri ke kantor. Yang bebas kelur masuk di kantor.” Jawab Raka. “Wahh.. bagus dong kalau gitu. Ini boleh tante simpan aja? Kamu nggak ambil lagi kan? Hehe.” Kata Ibu Nadine sambil tersenyum. “Haha.. iya tante.. nggak kok, tante simpan aja. Siapa tau mau mengunjungi Zara lagi, atau main ke kantor Raka. Tante juga boleh makan sepeuasnya di restoran kantornya Raka, bebas ngegym, bebas berenang, bebas menggunakan fasilitas apa aja yang ada di kantor Raka, yang penting menunjukkan kartu itu di petugas - petugas yang lagi jaga.” Jelas Raka. “Waaahh enak banget yah jadi tamu VIP, boleh juga nih kalau tante lagi bosen olahraga atau berenang di rumah, boleh banget jalan - jalan ke kantor kamu.” Ucap Ibu Nadine sambil memperhatikan kartu yang di berikan Raka. “Heheh.. iyaa tante.. tante bebas mau datang kapan aja, dan nggak ada masa berlakunya kok.” Kata Raka. “Wahh.. bagus banget.. ya udah kalau gitu tante mau pakai hari ini aja deh, tante mau jalan - jalan ke kantor kamu.” Kata Ibu Nadine. “Heheh.. iyaa silahkan tante.. kalau gitu Raka balik sekarang yah tante.” Kata Raka yang hendak berdiri dari kursinya. “Iyaa nak.. makasih banyak yah.. ehh ini nggak apa - apakan di pakai kalau nggak ada kamu di kantor?” Tanya Ibu Nadine sebelum Raka pergi. “Iyaa nggak apa - apa kok tante.” Jawab Raka. “Okeyy dehh.. makasih sekali lagi yah Raka.” Ucap Ibu Nadine. “Siap tantee.. have fun yahhh.” Ucap Raka lalu berjalan keluar dari rumah Zara. “Aduuhh anak itu ternyata aslinya emang nggak pendiam, dan nggak dingin seperti dulu. Zara benar - benar berhasil mengembalikkan Raka seperti dulu yang ramah seperti apa yang di ceritakan oleh jeng Fara.” Gumam Ibu Nadine pada dirinya sendiri. Setelah Raka keluar dari rumahnya, Ibu Nadine pun masuk ke dalam rumahnya dan bersiap - siap untuk berangkat ke kantor Raka untuk bertemu dengan Zara. ====
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN