Chapter 93

1224 Kata
- Kantor - Mobil Zara memasuki halaman kantor menuju parikiran kantor. Pagi itu tidak seperti biasanya, di depan kantor banyak karyawan yang seakan - akan menunggu kedatangan Zara. Karena foto yang di kirim Nabila, sudah masuk di grup kantor. Dan membuat kehebohan di kantor. Nabila membuat berita kalau di foto itu, Zara yang memaksa untuk memeluk Raka. Prilly dan Bella juga sudah ada di depan pintu kantor menunggu Zara, Prilly dan bela sangat gemas dengan apa yang dilakukan Nabila, Mereka semua tidak tau apa yang di lakukan Nabil, mereka tidak tau kalau Zara dan Raka sudah berpacaran. Zara berjalan perlahan - lahan seperti biasanya menuju pintu masuk kantor. “Wahhh ini dia nih yang suka ngegodain bosnya sendiri.” Ucap salah satu karyawan perempuan yang berdiri di sekitar pintu masuk. “APAA ???? Maksud Anda saya??” Tanya Zara dengan Nada yang begitu emosi, belum masuk kantor sudah di berikan ucapan yang tidak mengenakkan dari karyawan tersebut. “Iyalahh !!! Siapa lagi kalau bukan Anda.” Seru salah satu karyawan lagi. “Zara udahh yuk masuk aja nggak usah meladeni orang - orang ini. Toh mereka juga nggak tau yang sebenarnya.” Ucap Bella. “Kalian nggak tau apa yang sebenarnya terjadi, jadi tidak usah sembarangan berbicara.” Ucap Prilly. “Loh loh lohh.. kenapa Mba Bella dan Mba Prilly membela perempuan ini, dia memang suka menggoda bosnya sendirikan? Memaksa bosnya untuk memeluknya.” Seru Nabila yang ternyata dari tadi berdiri di antara para karyawan tersebut. “HEIII MBA NABILAAA !!! Mba Nabila apa maksudnya?? Apa Mba Nabila lupa kalau Mba Nabila harus masuk keruangan saya hari ini?” seru Prilly selaku HRD di kantor Raka. “Loh Loh lohhhh ???? Justru sekarang saya mau mencari kebenaran dulu. Nasib saya sekarang hampir di pecat loh gara - gara perempuan ini.” Jawab Nabila. “Hah? Mba Nabila juga mau di pecat? Kok bisa ? Wahh sama seperti Mba Alia dong.?” “Wahh serem banget yahh.” “Jangan - jangan kita juga kalau berurusan sama perempuan ini, bisa - bisa kita di pecat juga.” “Aduhh kalau gitu kita nggak usah ikut canpur deh. Kan serem banget kalau kita juga di pecat.” “Pak Raka ternyata bisa tunduk yah sama sekertarisnya, pasti sekertarisnya yang meminta kalau ada yang membuat masalah sama dia, langsung minta di pecat.” Semua karyawan yang berdiri di sekitar pintu masuk yang kebanyakan adalah karyawan perempuan yang menyukai Raka, berganti - gantian untuk membicarakan yang tidak - tidak tentang Zara, mereka sudah terhasut dengan omongan - omongan yang di keluarkan Nabila. Tapi Zara tetap diam karena kalau dia juga ikut meladeni orang - orang itu , dia akan sama saja membuang - buang waktu, karena mereka semua tidak tau kalau dirinyan Raka sudah berpacaran. “Heii heii heii … kalian sadar nggak sih kalau yang kalian bicarakan semua itu nggak bener? Kalian sadar juga nggak sih kalau semenjak Zara masuk di kantor kita Pak Raka jadi berubah jadi lebih baik? Jadi lebih ramah sama kita? Apa kalian nggak sadar dengan semua itu? Dan sekarang Pak Raka juga sudah mau bergabung dengan kita untuk makan bersama di restoran kantor. Dan itu semua semenjk Mba Zara kerja di sini. Aduhh sepertinya kalian semua sudah nggak sadar, karena kalian semua sudah buta akan cinta kalian yang bertepuk sebelah tangan dengan Pak Raka. Dan saya Rrasa di antara kalian ada yang sadar kan dengan apa yang saya ucapkan barusan?” Kata - kata yang sangat jelas di keluarkan oleh salah seorang customer service yang berada di meja customer service yang bernama Aminah. “Hah? Bener juga sih apa kta Mba Aminah, Pak Raka pernah gue sapa dan dia nyapa balik gue, bahkan dia tersenyum sama gue.” “Kayaknya Mba Aminah benar deh.” “Ahh iyaa.. pernah juga pulpen gue nggak sengaja jatuh di depan Pak Rak, gue kira bakalan di lewatin begitu aja, tertanyata Pak Raka sampai tunduk untuk mengambilnya langsung dan mengembalikkannya ke saya.” “Bener sih, Pak Raka sekarang jadi lebih peduli dengan orang - orang di sekitarnya, tidak seperti dulu yang tidak pernah tersenyum dan hanya memasang wajahnya yang seram itu. Yang selalu diam tanpa meneggur kita.” Karyawan - karyawan yang tadinya berbicara yang tidak - tidak tentang Zara akhirnya satu persatu membela Zara, dan tidak ada yang memulai untuk berkata buruk lagi. Sedangkan Nabila tidak bisa berkata apa - apa saat mereka semua yang tadinya membela dirinya kini berpaling membela Zara. “Nahh nahh nahh.. ini nihh yang baru benee. Kan kalian sadarkan apa yang terjadi di kantor ini. Jadi untuk semua yang kalian ucapkan itu semuanya nggak benar.” Ucap Prilly. “Makasih yahh untuk Mba Aminah dan kalian - kalian semua yang udah percaya sama saya. Saya tidak akan membuat pembelaan apa - apa, cumup kalian saja yang menilainya. Dan untuk Mba Nabila, saya rasa Pak Raka sudah menjelaskan kesalahan Mba Nabila, itu pyurr kesalahan Mba Nabila dan nggak ada urusannya atau campur tangan saya kalau pak Raka ingin memecat Mba Nabila. Dan dengar baik - baik yah Mba Nabila, tadinya saya sudah memaafkan Mba Nabila, tadinya saya ingin meminta Mba Prilly untuk memberi surat peringatan dulu untuk Mba Nabila, tapi Mba Nabila seperti ini terhadap saya, jadi saya tidak mau ikut campur lagi. Itu semua terserah Mba Prilly dan Pak Raka. Dan tentang foto yang sudah Mba Nabila sebarkan, itu sama sekali nggak benar, saya sama sekali tidam memaksa Pak Raka untuk memeluk saya, tapi— ahh sudahlah untuk apa juga memberikan klarifikasi ke Mba Nabila.” Jelas Zara yang sudah sangat capek dengan kelakuan Nabila, Zara belum ingin memberitahukan kalau dirinya dan Raka sudah berpacaran. “Hahahaha.. Mba Zara ini sangat pintar acting yahh.. Heii Mba Zara, kalau memang bukan Mba Zara yang memaksa Pak Raka untuk memeluk Pak Raka, tolong di jelaskan dong apa sebenarnya yang terjadi di foto itu? Kenapa Mba Zara nggak mau memberi tahu kami? Apa jangan - jangan..” ucap Nabila yang belum selesai berbicara. “Jangan - jangan apa Mba Nabila? Mba Nabila ini benar - benar nggak waras atau gimana? Kenapa Mba Nabila ingin tau apa yang sebenarnya terjadi di foto Mba Zara dan Pak Raka yang sudah Mba Nabila sebarkan? Mba Nabila sendiri ada di sana kan saat kejadian di foto itu terjadi? Kenapa minta klarifikasi lagi? Mba Nabila yang menyaksikan semuanya. Dan itu adalah privasi Mba Raka dan Pak Raka. Mba Nabila bisa di tuntut loh sudah mengambil foto orang diam - diam dan juga menyebarkannya, apalagi Mba Nabila sudah menyebarkan berita - berita yang tidak benar tentang Mba Zara san Pak Raka.” Ucap Andika yang tiba - tiba berada di belakang Prilly. Nabila terdiam, mendengar semua serangan yang di lontarkan Andika. Nabila tidak bisa menjawab semu pertanyaan dari Andika. Orang - orang yang berada di sekitarnya juga sudah memperhatikan Nabila dengan tatapan yang sangat ingin mengetahui jawaban Nabila. “Hellooo !!! Mba Nabila nggak bisa jawabkan? Itu karena Mba Nabila tau kalau di dalam foto itu Mba Zara tidak memaksa Pak Raka untuk memeluknya, Mba Nabila tau kebenarannya. Bisa - bisanya yah Mba Nabila punya fikiran seperti itu? Menyebarkan foto orang tanpa izin dan menyebarkan berita yang tidak - tidak.” Ujar Andika lagi. Tadinya Andika tidak ingin imut campur dengan permasalahan mereka, tapi karena Andik mendengar Nabila yang sudah keterlaluan. Makanya dia berdiri dan menghadapi Nabila. ====
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN