Chapter 89

1096 Kata
Nabila tidak tinggal diam setelah di tampar dengan Zara. Nabila mengambil satu gelas es teh lalu menyiramkan tepat di muka Zara beserta beberapa butir es batu yang besar terkena di wajah Zara. BYUUUUUUURRRRRRRRR (suara semburan air yang di siramkan di wajah Zara. “MBA ZARAAAAA !!!! Mba Zara lancang sekali menampar saya, kedua orang tuaku sendiri bahkan tidak pernah menampar saya. Saya akan tuntut Mba Zara karena sudah menampar saya.” Ucap Nabila menantang Zara. “Tuntut saja !!! aku nggak takut, toh semua orang di sini dengar kalau Mba Nabila sudah berbicara yang tidak - tidak tentang aku, saya bisa menuntut kembali Mba Nabila dengan kasus pencemaran nama baik. Banyak orang - orang di sini sebagai saksinya kalau Mba Nabila sudah membicarakan aku yang tidak - tidak, bahkan sampai ada bukti video yang di rekam sama mereka - mereka ini.” Zara menantang kembali Nabila sambil menunjuk orang - orang yang memang sedang merekam pertengkaran yang sedang berlangsung antara Zara dan juga Nabila. Nabila berbalik ke arah orang - orang yang sedang merekamnya. Nabila tidak bisa berkutik dengan apa yang di ucapkan Zara, di tambah lagi dengan tatapan orang - orang yang melihatnya. “Kalau kamu tidak mau masalah ini di perpanjang, lebih baik kamu pulang, kamu bicarakan semuanya di ruangan Prilly, kalau masih ada toleransi dari Prilly kita bertemu besok di ruangan saya.” Ucap Raka lalu berjalan keluar meninggalkan Nabila dan juga Zara. “Silahkan kalau Mba Nabila mau menuntut aku, aku nggak akan keberatan, dan aku akan menunggu panggilannya. Aku sudah cukup sabar meladeni Mba Nabila, yang ntah tujuannya apa untuk menjatuhkan saya di depan Pak Raka, tapi sayang usaha Mba Nabila sama sekali tidak di gubris sama Pak Raka. Dan selamat atas pemecatannya. Saya permisi.” Zara langsung keluar dari meja makan dan menyusul Raka keluar. “Aaahhh sialaannn !!!!” Teriak Nabila lalu berbalik melihat Zara yang sudah jalan dengan Raka. “Bisa - bisanya dia nantangin gue seperti itu, aaaahhhh dia belum tau gue siapa.” Nabila masih berada di tengah - tengah orang yang sedang makan dan juga yang sedang memperhatikan dirinya di kalahkan oleh Zara. Nabila lalu mengeluarkan uang dari dompetnya dan meletakkannya di atas meja. “Pak ini bayaran untuk makanan saya, dan bayaran untuk makanan rakyat - rakyat jelatah ini yang sudah merekam saya.” Ujar Nabila dengan sombongnya lalu keluar dari mejanya. “Maksud Mba apa??? Wahh Mba ini benar - benar emang suka ngomong sembarangan yahh? Kita nggak butuh di bayarin sama Mba. Kita makan di sini karena punya uang sendiri, Mba jangan sok kaya.” Teriak salah satu pelanggan yang juga sedang makan di tempat makan tersebut. “Ahh.. sudah yahh.. saya nggak ada waktu untuk ngurusin kalian - kalian. Permisi.” Ucap Nabila lalu pergi dari tempat makan itu. Nabila lalu berjalan menuju parkiran mobilnya dan masuk ke dalam mobilnya. “Ahh sial banget sih hari ini. Aaahhh sial sial siaaaallll. Kenapa gue harus ketemu sama Zara juga sihh, harusnya kalau ketemu sama Pak Raka saja pasti kejadiannya nggak akan kayak gini. Emang dasar Zara pembawa sial !!!!! Aaaaaahhhhh.” Teriak Nabila di dalam mobil sambil memukul stir mobilnya. Sementara itu Zara dan Raka berjalan pulang kembali ke rumah mereka. Di tengah perjalanan, Raka mencoba menenangkan Zara. “Kamu nggak apa - apa?” Tanya Raka. “Nggak apa - apa kok.. aku cuma masih sedikit emosi aja. Maaf yah kalau tadi aku kelewatan sampai menampar Nabila. Aku tau perbuatan aku nggak patut di benarkan, aku sangat salah. Aku terlalu emosi sampai menamparnya.” Ucap Zara lalu duduk di satu kursi taman yang tidak jauh dari tempat makan bubur tadi. “Iyaa aku tau apa yang kamu rasakan, tapi aku salut sama kamu, kamu bisa mengeluarkan semua yang ada di hati kamu, tanpa memendamnya sedikitpun. Tenang yahh ada aku di sini.” Kata Raka lalu memeluk Zara. “Makasih yahh Raka.. kalau nggak ada kamu, mungkin aku udah adu tinju sama Nabila tadi. Huufftt kenapa kita bertemu dengan dia sih pagi ini. Harusnya ini jadi pagi yang indah, kenapa malah jadi kayak gini.” Ucap Zara bersender di bahu Raka. “Udah nggak apa - apa.. ambil hikmahnya saja, mungkin Nabila kangen sama kita, makanya kita di pertemukan sama Nabila.” Kata Raka sambil Mengelus tambur Zara. “Tapi apa kamu serius ingin memecat Nabila?” Tanya Raka mengangkat kepalanya dari senderan di bahunya Raka. “Sepertinya.” Jawab Zara. “Hmm.. tapi yang kamu bilang tadi semuanya benar? Kamu dapat laporan dari mana kalau Nabila sering nggak ada di tempatnya di jam kerja?” Tanya Zara. “Dari tim IT yang tiap hari ngecheckin cctv, siapa - siapa aja yang jarang ada di tempatnya.” Kata Raka. “Hah? Berarti kita terus di awasin dong tiap hari sama tim IT, kita nggak boleh ngelakuin yang lain dong.” Tanya Zara. “Ihh nggak gitu maksudnya, jadi tim IT ngecheckinnya pas di hari esoknya saja, nggak pas di hari yang sama, karena tim IT juga punya banyak pekerjaan, nggak cuma itu - itu sajaz.” Jawab Raka. “Ooohhh aku kirain pas di hari yang sama.” Seru Zara. “Udah tenang? Bisa kita pulang sekarang? Nanti kamu telat ngantor loh. Kamu kan harus bawa mobil sendiri.” Ucap Raka. “Iyaa aku udah tenang.. Hmm … tapi kamu fikirkan baik - baik yahh soal Nabila yang ingin kamu pecat, menurut aku sih kamu nggak usah pecat dia. Ini juga kan masalah di luar kantor, jangan sampai di bawa - bawa ke dalam kantor.” Kata Zara. “Iyaa.. aku kan nggak memecat dia karena masalah ini, tapi karena dia jarang ada di tempatnya, dan jarang menyelesaikan pekerjaannya dengan tepat waktu, jadi untuk apa saya mempertahankan orang seperti itu bekerja di perusahaan saya.” Kata Raka. “Kamu berikan surat peringatan pertama aja dulu, jangan di pecat dulu. Atau kamu diskusikan juga dulu sama Prilly gimana baiknya.” Kata Zara. “Zara.. dulu sebelum ada kamu, aku selalu memecat orang tanpa memberikannya surat peringatan. Tapi sekarang aku akan mendengarkan saranmu. Agar perusahaanku juga bisa bertahan.” Kata Raka. Dan saat Nabila mengendarai sedikit mobilnya, Nabila melihat Zara dan Raka yang sedang berpelukan. Nabila langsung mengambil ponselnya dan segera memotret apa yang baru saja di lihatnya. “Tuhkan apa gue bilang, si Zara ini emang yang ngegodain Pak Raka.” Ucap Nabila. “Bisa - bisanya mereka berpelukan seperti itu.” Ujar Nabila dengan penuh amarah. Lihat saja apa yang akan gue lakukan dengan foto ini. Yang pasti ini bukan menjatuhkan Kamu my baby Raka.” Gumam Nabila di dalam mobilnya. ====
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN