Chapter 88

1173 Kata
“Hah? Apanya yang lucu sih Mba Nabila? Mba Nabila ini mempermainkan aku yahh? Memangnya aku bahan bercandaan Mba Nabila?” Tanya Zara yang sudah naik darah melihat tingkah laku Nabila. “Ya Ampun Mba Zara kok marah? Masa gitu doang marah sih Mba Zara.. jangan terlalu di bawa perasaan dong, saya kan cuma bercanda hahah.. santai yah Mba Zara.. kalem.. kalem..” kata Nabila. “Tuhh makanannya sudah datang tuh, ayo Mba Zaraa.. Pak Raka duduk lagi sini, kita makan bareng.” Ucap Nabila lagi sambil menepuk kursi yang berada di sampingnya yang Raka dudukki . “Maaf yah Pak Raka sepertinya saya tidak bisa ikut makan, nafsu makan saya sudah hilang. Silahkan bapak makan dengan dia.” Kata Zara. “Ada apa ini? Apa yang Mba Nabila katakan ke Mba Zara sampai Mba Zara marah seperti ini?” Tanya Raka lagi yang masih berdiri di samping meja. “Nggak usah pak, nggak usah di perpanjang lagi. Aku lebih baik pulang saja dan bersiap - siap ke kantor.” Kata Zara. “Mba Nabila sepertinya suka sekali yah mencari masalah dengan orang lain. Sebenarnya apa yang terjadi sama Mba Nabila? Sampai mba Nabila suka sekali seperti ini?” Tanya Raka. “Ya Ampun Pak Rakaa.. Pak Raka tega sekali ngomong seperti itu, padahal Pak Raka belum tau apa yang terjadi sebenarnya. Mba Zaranya saja ini yang terlalu bawa - bawa perasaannya. Masa gitu doang baper sih, kayak anak kecil tau nggak sih Pak.” Kata Nabila. “Ya sudah kalau begitu jelaskan sama saya apa yang terjadi. Mba Zara duduk dulu, tenang. Okeyy?” Kata Raka berusaha menenangkan Zara. “Okeyy saya jelaskan yah Pak.. tadi tuh saya cuma bilang ke Mba Zara kalau kenapa Mba Zara bisa kebetulan bertemu sama Pak Raka, apa jangan - jangan Mba Zara tungguin Pak Raka di depan rumahnya. Dan saya udah bilang bercanda masa gitu doang marah sih, apa yang saya bilang benar lagi? Makanya Mba Zara sampai marah.” Jelas Nabila yang lagi - lagi menjelaskan permasalahannya tanpa merasa bersalah. “Hah? Aku marah? Mba Nabila ini udah menuduh saya kalau seperti itu. Aku marah yah karena Mba Nabila ngomong sembarangan tentang aku, itu sama aja menuduh aku, kalau aku jadi stalkernya Pak Raka. Dan kenapa saya bisa kebetulan bertemu sama Pak Raka yahh itu sangat wajar, rumah saya dan rumah Pak Raka itu sangat berdekatan, samping - sampingan. Dan nggak ada yang menghalangi tembok rumah saya dan tembok rumah Pak Raka, dan di sini cuma taman di sini yang biasa di tempati olah raga, Mba Nabila saja itu, yang rumahnya di mana, olahraganya di mana. Herannn.. masih pagi - pagi mancing - mancing emosi orang aja.” Ucap Zara tiada hentinya, emosi Zara semakin memuncak. “Tuh kan hahahah.. Mba Zara tenang deh.. nggak perlu di jelaskan seperti itu kali, saya cuma bercanda Mbaa.. sensitif sekali yahh Mba Zaraa, kok sifat Mba Zara seperti ini yahh, nggak cocok sekali sepertinya jadi sekertaris Pak Raka, emosian orangnya. Iyakan Pak? Apa Pak Raka bisa bertahan sama sekertaris yang seperti ini?” Tanya Pak Raka. Seketika Zara terdiam, dan memikirkan apa yang baru saja di katakan Nabila. “Hah? Apa benar aku emosian? Aku yang salah yah? Gimana kalau Raka bilang iya? Ahh kenapa sih aku jadi kayak gini? Apa aku minta maaf saja sama Nabila? Ah iya lebih baik aku minta maaf saja. Sepertinya emang aku yang emosian.” Gumam Zara dalam batinnya. Zara sangat khawatir kalau ucapan Nabila tadi membuat Raka berfikiran seperti yang di katakan Nabila. Tapi Raka melihat Zara yang sudah termenung, Raka tau kalau Zara pasti memikirkan ucapan Nabila. “Ehmm.. aku min—“ belum selesai Zara bicara Raka langsung memotong ucapan Zara. “Kamu tau apa tentang sekertaris yang saya butuhkan? Justru kamu yang sepertinya tidak layak berada di perusahaan saya. Kamu yang selalu mencari masalah dengan orang - orang. Belum lagi saya mendapat laporan tentang kamu akhir - akhir ini, yang katanya kamu sering tidak berada di tempatmu, tidak mengerjakan pekerjaan mu tepat waktu, benar - benar tidak bisa di biarkan.” Kata Raka dengan sangat tegas. “Loh siapa yang bilang Pak? Kalau saya nggak ada di tempat saya, saya itu lagi di toilet, bapak jangan percaya dengan omongan orang - orang yang nggak - nggak dong Pak. Mana mungkin saya seperti itu, saya tidak mungkin membuat kesahalan, saya kan sangat suka bekerja di perusahaannya Pak Raka. Mungkin orang - orang yang memberi bapak laporan seperti itu yah hanya orang - orang yang sirik sama saya Pak, soalnya saya itu kan cantik, di sukai banyak orang di kantor, apalagi banyak yang menyaksikan kalau di hari itu Pak Raka membela saya, di saat saya menabrak Mba Zara. mungkin ada yang cemburu kali.” Jelas Nabila sambil melirik Zara dengan tatapan sinis. “What ??? Apa - apaan nih orang ? Dia ngelirik gue? Dia fikir gue yang ngasih laporan? Wahh nih orang kok fikirannya seperti itu sih.” Gumam Zara. “Dengar yahh Nabila.. sepertinya kamu yang salah paham dengan situasi yang terjadi saat itu. Saya.. saya sama sekali tidak membela kamu, saya hanya tidak ingin Andika bertengkar dengan perempuan, dan saya tidak ingin ada malasah yang terjadi di kantor saya, jadi saya mendamaikan kalian. Bukannya saya membela kamu. Haduhh. Lebih baik kita sudahi saja di sini pertemuan kita. Besok kamu bertemu dengan Prilly untuk membicarakan pesangon kamu.” Kata Raka lalu mengambil botol air mineral lalu meminumnya. Raka merasa sangat haus setelah berbicara panjang lebar dengan Nabila. “Hah?? Pak Raka?” Ujar Zara kaget. “Maksud Pak Raka apa? Kok pesangon? Pak Raka mau memecat saya?” Tanya Nabila. “Iyaa.. saya rasa saya tidak butuh karyawan seperti kamu untuk bekerja di kantor saya. Lebih baik saya mencari pengganti kamu saja.” Ucap Raka dengan tegas. “Raka.. No.” Bisik Zara. Zara tidak ingin kalau Raka sampai memecat Nabila hanya karena masalah ini, Zara tidak ingin terjadi kesalahpahaman di kantor dan menimbulkan gosip - gosip kalau dirinya yang membuat Nabila di pecat. “Pak Raka memecat saya karena masalah ini? Wahh hebat sekali yah sepertinya Mba Zara ini, Mba Zara sudah hampir membuat Alia di pecat juga loh. Dan sekarang saya Mba Zara??? Wahh Mba Zara sudah tidur dengan Pak Raka yahh? Sudah memberi semuanya untuk Pak Raka? Ternyata seperti itu yah cara mainnya Mba Zara? Nggak heran sihh, terlihat jelas kok di wajah Mba Zara, kalau Mba Zara ini menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang mba Zara mau.” Nabila lagi - lagi mengucapkan kata - kata yang membuat Zara semakin marah. Tadinya Zara tidak ingin kalau Raka sampai memecat Nabila, tapi Nabila terus - terus membuat Zara marah. Akhirnya Zara berdiri dan mendekati Nabila. PLAAAAAAAAKKKKKKKKK (suara tamparan di pipi Nabila) Dengan tatapan yang penuh emosi, Zara melayangkan satu tamparan keras di pipi kanan Nabila, Zara sudah tidak bisa menahan emosinya karena ucapan Nabila yang semakin mengada - ada. Nabila memegangi pipinya yang sudah mulai merah. Raka sampai kaget melihat Zara menampar Nabila, Raka tidak menyangka kalau Zara akan sampai menampar Nabila. ====
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN