Chapter 87

1022 Kata
“Loh Pak Raka?? Mba Zara?? Ternyata suka lari pagi juga yah di sini? Tapi kalian kok bisa sama - sama? Ohh kalian baru ketemu juga yah?” Tanya Nabila. Raka sama sekali tidak menggubris apa yang di katakan Nabila, Raka berjalan dan sedikit berolahraga di taman tersebut. Dan karena Zara yang tidak enak, Zara pun menjawab pertanyaan Nabila dengan sangat terpaksa, Zara sebenarnya sangat tidak ingin berbicara dengan Nabila. “Ehh Mba Nabila.. iyaa Mbaa.. aku sama Pak Raka tadi kebetulan ketemu saat baru saja keluar dari rumah masing - masing.” Ucap Zara. “Ohh hahhaa iyaa sudah saya duga. Pasti kalian hanya ketemu nggak janjian.” Kata Nabila dengan suara yang pelan. “Apa Mba Nabila?” Tanya Zara. “Ohh? Ah iyaa pasti kalian hanya kebetulan bertemu seperti kita sekarang ini.” Kata Nabila lalu berjalan mendekati Raka. “Pak Raka suka olahraga di sini yah ternyata?” Tanya Nabila ke Raka, dan meninggalkan Zara begitu saja. “Lahh tujuan dia emang selalu ke Raka yah.” Gumam Zara dalam batinnya. “Iya” jawab Raka seadanya. “Wahh kebetulan sekali yahh, saya juga suka berolahraga di sini Pak, kapan - kapan kita janjian yuk, biar bisa olahraga bareng. Iya kan Mba Zara?” Kata Nabila lalu berjalan sedikit dan langsung memegang tangan Zara. “Ah? Hah? Kayaknya nggak bisa deh, soalnya Pak Raka jarang tinggal di rumahnya yang di sini, jadi nggak bisa selalu olahraga di sini.” Ucap Zara. “Ohh benar begitu pak Raka? Terus Rumah Pak Raka yang sering bapak tinggali di mana? Saya kira cuma di sini rumah bapak yang sering bapak tinggali.” Ucap Nabila sambil berolahraga di samping Raka. Raka tidak menjawab pertanyaan dari Nabila, Raka asyik berolahraga sendiri. Raka sangat malas meladeni Nabila yang selalu berbicara panjang lebar, yang ntah arahnya kemana. “Ya Allah ini cewek kok gini banget sih, Raka nggak akan tergoda sama Lo tau.” Gumam Zara lagi. “Ehm.. Pak Raka aku duluan yahh, aku mau lari sekali putaran lagi baru pulang dan bersiap - siap ke kantor.” Kata Zara mengalihkan pembicaraan Nabil, karena Zara juga tidak tega melihat Nabila yang terus di cuekin Raka. “Ohh ya udah sekalian saya juga mau pulang.” Ucap Raka. “Ehh ehh ehh.. tunggu dulu.. kok cepet banget sihh, belum setengah tujuh juga kok, kantorkan masuknya jam 8 pagi, kita bertiga sarapan dulu yuk. Biar saya yang traktir. Itu tuuhh di sana ada penjual bubur ayam yang enaknya pake banget.” Kata Nabila sambil menghalangi Zara untuk lewat. “Ahh? Nggak usah Mba Nabila , saya sarapannya di rumah saja.” Kata Zara. “Ihh ayolah Mba Zara.. kapan lagi nih kita makan bertiga. Yahh ayolahh.. Pak Raka maukan?” Tanya Nabila. Tapi Raka menata Zara, bertanya apakah tawaran dari Nabila di terima atau tidak. Dan akhirnya karena Zara tidak enak, Zara akhirnya menyiakan ajakan dari Nabila. “Ehh Mba Nabila, ayo.. ya sudah kalau begitu, ayo kita makan bubur ayam dulu.” Kata Zara. “Nahh gitu dong. Ayo Pak Raka juga mau kok, deket kok pak Raka tempatnya.” Kata Nabila. “Iya baiklah.” Jawab Raka. Nabila akhirnya berhasil membujuk Raka untuk makan dulu bersama dirinya. Dan saat mereka sampai di tempat makan bubur, Raka yang pertama duduk, di kursi. Lalu saat Zara ingin duduk di samping Raka, Nabila langsung menyerobot kursi Zara dan duduk di samping Raka. “Ya Allah.. sabarkan diriku pagi ini. Huuffttt.” Gumam Zara saat melihat Nabila mengambil tempat duduknya. “Eheemmm.. ini Pak Raka.. Pak Raka mau pesan yang mana?” Tanya Nabila lalu duduk di samping Raka dan memberikan buku menu untuk Raka. Nabila sama sekali melupakan apa yang telah terjadi kemarin saat dirinya di turunkan oleh Raka di tengah jalan. “Gue nggak akan menyia - nyiakan kesempatan ini lagi, gue harus mendapatkan Dirimu Pak Raka sayangku.” Ucap Nabila dalam batinnya. “Iya makasih. Zara kamu pesan duluan saja, saya mau keluar dulu ke sebelah.” Kata Raka lalu menunjuk mini market yang ada di samping tempat makan bubur ayam tersebut dan memberikan buku menu ke tangan Zara. “Ohh.. ah iya Pak.” Kata Zara lalu mengambil buku menu dan memilih menu pilihan yang ada di dalam buku menu tersebut. Raka pun keluar dari tempat makan bubur ayam dan menuju ke mini market di sebelahnya. “Ehh Mba Zara.. Mba Zara kok bisa kebetulan banget yahh ketemu sama Pak Raka.. apa jangan - jangan Mba Zara ngikutin Pak Raka yahh pas keluar dari rumah? Mba Zara tungguin Pak Raka kan di depan rumah Mba Zara?” Nabila mencecar Zara dengan pertanyaan - pertanyaan yang mengada - ngada. “Hah? Maksud Mba Nabila apa? Saya stalkerin Pak Raka gitu? Kok Mba Nabila bisa sih ngomong kayak gitu?” Tanya Balik Zara yang emosinya sudah mulai naik lagi. “Siapa tau kan Mba Zara.. kan katanya rumah Mba Zara sampingan gitu kan sama rumah Pak Raka, bisa aja kan Mba Zara berdiri - berdiri di depan rumah Mba Zara, terus Mba Zara ngeliat Pak Raka keluar dari rumahnya, dan Mba Zara langsung ngikutin Pak Raka deh.” Kata Nabila dengan santainya. “Mba Nabila ini ada bakat jadi pemain sinetron yahh, pemain sinetron yang antagonis, yang suka menuduh orang yang nggak - nggak. Bagus sekali yah sifat Mba Nabila ini.” Ucap Zara yang masih berusaha menahan emosinya. tiba - tiba Raka datang dengan kantongan belanja di tangannya dan mendengar apa yang barusan di katakan oleh Zara. “Ada apa ini? Apa lagi yang terjadi?” Tanya Raka. “Ahahha.. nggak ada apa - apa kok Pak Raka.. aduh Mba Zara masih pagi - pagi emosian yahh hahah.. padahal saya cuma bercanda loh Mba Zara.. mana mungkin sih saya berfikir seperti itu. Saya cuma bercanda Mba Zara hahaha.” Ucap Nabila lagi sambil tertawa terbahak - bahak. Zara sangat kesal dengan tingkah laku Nabila yang sengaja mempermainkan dirinya seperti itu. Saat tidak ada Raka, Nabila menuduh - nuduh Zara dengan pernyataan yang tidak - tidak. Sedangkan Zara sendiri belum mau memberitahukan kalau dirinya dan Raka sudah berpacaran. Zara masih bisa mengontrol kesabarannya menghadapi Nabila. ====
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN