“Istirahat yaa sayang. Jangan lama telvonannya, kalian baru saja pulang dari perjalanan dinas, terus besom harus ngantor. Istirahat yang cepet.” Kata Ibu Nadine.
“Iyaa Mamaa.. good night mom,” ucap Zara.
“Good night sayang.. Rakaaa.. sekali lagi tante makasih yahh.” Kata Ibu Nadine lalu keluar dari kamar Zara.
Zara kembali naik ke tempat tidurnya, dan masuk ke dalam selimutnya.
“Raka maaf yahh, jadi banyak gangguan kayak gitu. Gara - gara Kak Julian yang rese’ banget orangnya. Huufttt.” Kata Zara sambil menyenderkan badannya di sandaran tempat tidurnya.
“Loh kok gangguan sih.. nggak lahh. Aku malah senang bisa ngobrol sama mama kamu dan kak Julian. Tinggal papa kamu nih yang mau aku sapa.” Kata Raka.
“Masih banyak kesempatan kok, lain kali juga bisa.” Ucap Zara.
“Iyaa - iyaa.. eh, iyaa tadi tuh kamu udah ketiduran tau, udah ngantuk banget. Udah Nggak balas ucapanku tadi, terus aku sengaja nggak bangunin kamu tapi tiba - tiba ada suara ketukan pintu dan teriakannya kak Julian, kamu nggak jadi tidur deh.” Ucap Raka.
“Oh iyaa? Hahah.. aku nggak sadar loh itu. Sepertinya aku kecapean, padahal pas mau balik nggak ada kegiatan apa - apa juga.” Kata Zara.
“Siapa? Kamu? Kamu kan sebelum pulang berenag dulu, makanya kamu jadi capek ngantuk.” Kata Raka.
“Ohh iya juga yahh.. aku lupa haha.” Seru Zara.
“Ya udah kamu tidur aja, aku lagi mau ngirimin kamu email untuk besok.” Kata Raka.
“Ohh iyaa.. gimana besok? Mau aku anter aja?” Tanya Raka.
“Ehmm… nggak usah deh.. aku bawa mobil sendiri aja, aku bawa banyak barang soalnya. Banyak titipan teman - teman kan.” Kata Zara.
“Kan bisa di simpan juga di mobil aku.” Ucap Raka.
“Terus aku bawa masuknya gimana kalau sama kamuuuuu? Kamu mau kalau kamu yang bawain semua barang - barang mereka ke atas? Atau kamu kamu kalau anak - anak turun ke bawah dan mangambil barang - barangnya di mobil kamu, terus orang - orang kantor pada ngeliatin kita ada di mobil kamu?” Tanya Zara dengan tegas.
“Ahh iya juga yahh.. iya deh iyaa.. atau kalau nggak kita pakai mobil kamu, terus aku yang bawa. Dan kalau pulangnya aku tinggal naik taksi aja. Gimana?”
Kata Raka dengan sangat serius ingin mengantar Zara ke kantor.
“Hahaah.. nggak usah Rakaa.. ih kamu ini.. aku bisa sendiri kok. Aku kayak nggak pernah bawa mobil sendiri aja ke kantor. Udah kamu di rumah aja, quality time bareng mama dan papa kamu.”
Ucap Zara.
“Hmm.. iya deh iyaaa.. aku kan cuma ingin mengantar kamu, cuma ingin jadi pacar yang baik buat kamu. Dan aku bukan mau quality time di rumah, aku mau bantu beresin barang - barangnya Rivka.” Kata Raka.
“Sama aja.. baik - baik yahh sama Mama dan Papa kamu. Jangan di ajakin bertengkar lagi.” Kata Zara.
“InsyAllah.. aku akan bersikap baik. Hmm ya udah deh.. kamu tidur yahh, istirahat.” Kata Raka.
“Iyaa kamu juga jangan lama tidurnya. Besok aku kabarin kamu yah, kalau aku udah berangkat ke kantor.” Kata Zara.
“Iya pacarnya akuu.” Ujar Raka lalu tersenyum malu.
“Good night.”
“Good night honeyyy.” Balas Raka lalu mematikan sambungan teleponnya.
“Aaaaahhhhhhhhh.. senangnyaaaa !!! Ini aku nggak mimpi kan? Nggak kan? Aku emang pacarankan sama Raka? Aaaaaahhhh ya ampun tiba - tiba teringat malam itu.” Zara tiba - tiba berteriak di dalam selimutnya, Zara terbayang akan ciuman pertamanya dengan Raka di saat hari pertama mereka berstatus pacaran.
Julian yang kebetulan kamarnya di samping kamar Zara, mendengar teriakan Zara.
“Zaraaaaaaaa !!!!!” Teriak Julian yang terganggu karena teriakan Zara.
“Upss hahaha. Gue berisi banget yah? Hahaha.. habis teringat sama yang itu sih. Kapan lagi yah. Huummm.. ehhh astaghfirullah Ya Allah.. maafkan Zaraa.. aduh ngapain sih mikir macem - macem. Zara - Zara..” gumam Zara pada dirinya sendiri.
Akhirnya karena sudah kelelahan Zara pun tertidur dengan sendirinya.
Esoknya..
Suasana sejuk di pagi hari membuat Zara terbangun dengan sangat segar bugar.
“Ahh baru jam enam pagi. Pantesan aja suasananya sejuk kayak gini. Segarnyaaa… lari pagi dulu deh, mumpung bangun pagi.” Gumam Zara.
Zara bangun dari tempat tidurnya, lalu masuk ke dalam kamar mandinya dan membasuh wajahnya di atas wastafel. Setelah kelur dari kamar mandi, Zara bersiap - siap untuk berlari pagi. Zara keluar dari kamarnya dan turun menuruni tangga yang menyambungkan lantai satu dan dua.
“Loohh sayangg.. kamu lari pagi? Apa nggak capek?” Tanya Ibu Nadine yang melihat Zara turun dari ruang tengah.
“Iya Maahh aku mau lari pagi, mumpung bangun cepet kan habis sholat subuh tadi tidur lagi. Aku nggak capek kok Maa. Larinya juga nggak berat - berat amat. Zara mau santai - santai aja.” Kata Zara.
“Hmm.. ya udah hati - hati.” Kata Ibu Nadine.
“Siap Mamaaa.” Zara pun keluar dari rumahnya.
Zara melihat ke arah rumah Raka yang masih sepi, belum ada Bibi yang membersihkan halaman rumah Raka.
“Raka pasti belum bangun.” Gumam Zara sambil melihat ke dalam rumah Raka.
“Kata siapa?” Raka tiba - tiba berdiri di belakang Zara.
“Aaaaaaaaaahhhhhhh !!!!! Rakaaaaaa !!! Ya Ampun aku kaget banget. Ihh kamu maahh kok serem banget sih pagi - pagi. Dasaarrr !!!!”
Zara berteriak sambil memukul - mukul pundak Raka karena kesal di kagetkan.
“Hahahah.. habis kamu serius banget ngeliatin rumah aku.” Ujar Raka sambil mengelus pundaknya yang di pukuli Zara.
“Kan aku kira kamu belum bangun. Dan rumah kamu juga masih sepi, biasanya sudah ada bibi yang menyapu halaman.” Kata Zara.
“Oohhh.. bibi lagi buatin aku juz kali, karena tadi aku nyuruh dia buat bikinin aku Juz yang segar - segar.” Ujar Raka.
“Kamu kok lari pagi nggak ngajak aku sih, parah banget.” Sambung Raka
“Aku juga tiba - tiba ke bangun sendiri kok, kamu marah? Tanya Zara.
“Hahah nggaklah masa mau marah karena itu sih.. yuk lari, biar sehat.” Kata Raka lalu lari mendahuluk Zara.
Zara sangat senang karena ternyata Raka juga bangun pagi untuk lari pagi. Dan di saat sedang lari pagi, Zara dan Raka lagi - lagi bertemu dengan Nabila. Nabila juga sedang lari lagi di taman dekat rumahnya. Nabila heran karena melihat Raka dan Zara yang sedang berlari pagi berduaan.
====