Setelah Raka dan Zara makan siang, Raka dan Zara kembali ke kantor. Di perjalanan Zara kembali menanyakan ajakan makan malam dari Ardya dan Prilly ke Raka.
“Ehmm.. Raka kalau bisa kamu ikut makan malam yah sama yang lain.” Ujar Zara sambil memperhatikan jalanan.
“Iya saya ikut deh.”
“Beneran? Aaahhhh.” Seru Zara sambil teriak.
“Haha.. kamu emang suka teriak gitu yah?” Tanya Raka menahan tawanya.
“Kalau mau ketawa lagi ketawa aja kali, nggak usah di tahan - tahan gitu.” Ucap Zara melihat Raka yang malu.
“Kamu nggak mau turun?” Tanya Raka mengalihkan pembicaraan Zara.
“Ohh iya yah.. udah sampai haha.. makasih makan siangnya Raka. Lain kali aku yang traktir, kalau idah di gaji sama kamu hahaha.” Ujar Zara sambil membuka pintu mobil Raka.
“Saya tunggu traktirannya." Balas Raka lalu tersenyum.
“Iyaa.. aku masuk duluan yah.” Ujar Zara lalu berjalan masuk ke kantor.
Saat berjalan masuk, sepanjang Lobi Zara di perhatikan oleh karyawan yang berada di lobi.
Zara merasa sangat tidak enak karena di perhatikan banyak orang.
“Zaraaa !!!” Teriak Prilly yang juga memperhatikan orang - orang yang sedang memperhatikan Zara.
“Heii Prill.” Balas Zara.
“Liat apa kalian semua ??? Sana kembali bekerja, bisanya cuma buang - buang waktu aja.”
Prilly di kenal sebagai orang yang sangat tegas, terlebih lagi dia seorang HRD yang berhak menegur setiap karyawan yang lalai akan pekerjaannya, Prilly juga berkah memecat karyawan yang menang tidak di siplin.
“Udah cepetan naik, nggak usah peduliin orang - orang ini. Lo juga tau kan alasan mereka memperhatikan elo kayak gitu.” Kata Prilly berbisik ke Zara.
“Iyaa makasih yah Prill.. gue naik dulu.” Kata Zara berjalan ke pintu Lift.
“Eh eh Zar.. lo baca chat gue kan tadi? Udah Lo tanyain?” Tanya Prilly sebelum masuk ke ruangannya.
“Iya udah kok.”
“Terus?”
“Katanya liat aja nanti.”
“Yaahh kok gitu sih. Ya udah deh.” Prilly berjalan kembali ke ruangannya.
“Nggak usah gue bilang dulu deh, biar ngasih surprise buat mereka.” Gumam Zara pada dirinya sendiri yang berdada di dalam lift.
Zara kembali ke mejanya, dan ternyata Raka sudah duluan sampai di ruangannya.
“Cepet banget naiknya, lewat mana yah? Perasaan tadi gue duluan deh yang masuk.” Tanya Zara pada dirinya sendiri.
“Lewat lift yang ada di parkiran Mba Zara.” Bisik Andika yang tiba - tiba datang mengagetkan Zara.
“Andikaaa.. ihh bikin kaget aja. Ohh.. gue baru tau kalau ada lift di parikiran.” Seru Zara memegang dadanya.
“Aduuhh.. gimana sih? Siapa yang ajak Lo keliling kantor emangnya pas perkenalan?” Tanya Andika.
“Elo kan hahahah.”
“Ehh iya juga yahh hahahah.”
“Yeee Gimana sih.”
“Hahahha sorry deh. Ehmm.. bye the way Ciee yang makan berduaan bareng bapak bos.” Kata Andika menggoda Zara.
“Hahah.. apaan sih Lo.. udah sana kerja, emang nggak ada kerjaan Lo yah?” Tanya Zara.
“Ada sih.. tapi biar nanti aja, gue mau ketemu sama Raka dulu. Gue mau marah - marah.” Ucap Andika berjalan ke ruangan Raka.
“Marah - marah? Kok marah - marah, emangnya kenapa?” Tanya Zara.
“Iyaa.. karena dia udah ninggalin gue makan, dan dia pergi bareng Lo. Hiksss jahat banget sih.” Kata Andika lalu tertawa.
“Hahahah.. sotoyy.. ada - ada aja sih. Ya udah sana marah - marah.” Kata Zara mempersilahkan Andika masuk ke ruangan Raka.
Andika masuk ke ruangan Raka sambil bernyanyi, Raka tau kalau Andika sudah bernyanyi pasti dia akan mengganggu ketenangan Raka.
“Ngapain sih Lo?” Tanya Raka menahan senyumnya.
“Du du du du du du.. na na na na naaa.. aku jatuh cinta kepada dirinya, sungguh - sungguh cinta ooohhhh.” Andika terus bernyanyi dari mulai masuk ke ruangan Raka sampai di depan meja Raka.
“Kalau mau mengganggu keluar aja, sana kerja. Jangan buang - buang waktu.” Ucap Raka yang tidak ingin melihat wajah Andika.
“Cieee yang habis makan sama cewek. Nggak ngajak - ngajak gue lagi.” Kata Andika.
“Ngapain Lo di ajak?”
“Ohh gitu yah sekarang.. udah ada Zara gue di lupain. Huaaaaaa sedih banget gue.”
“Apaan sih Lo.. tadi itu kebetulan aja gue sama Zara yang masih ada di ruangan. Dan pas Zara mau ke kantin yah gue ajak makan sama gue aja.” Jelas Raka.
“Hahahah ngapain Lo jelasin sih. Nggak papa juga kali. Malah gue seneng Lo bisa pergi bareng orang lain, nggak cuma gue aja.” Kata Andika.
“Jadi Lo udah nggak mau pergi sama gue?” Tanya Raka.
“Nething banget parahhh.. nggak gitu, gue sebagai sahabat Lo yang paling tampan sedunia ini, senang banget Lo bisa punya teman yang lain. Dan itu pasti sebagai awal yang baik untuk kehidupan Lo Raka. Gue berharap Lo nggak nyiksa diri Lo lagi, yang semakin tertutup dengan orang - orang di sekitar Lo.” Ucap Andika lalu duduk di sofa depan meja Raka.
“Hmm.. mungkin gue emang butuh lebih banyak waktu lagi. Maafin gue kalau selama ini gue sering ngerepotin Elo yah.” Ujar Raka berjalan ke jendela besar di ruangannya.
“Iyaa iyaa.. ohh by the way.. ntar malam Prilly sama Ardya ngajakin kita makan malam bareng, katanya mereka mau merayakan hari jadi mereka. Lo mau ikut nggak? Pasti nggak mau deh. Iya kan?” Kata Andika.
“Siapa yang bilang?” Tanya Raka tersenyum.
“What? Jadi Lo mau ikut?” Tanya Andika lagi.
“Iyaa.. makan malam doang kan?”
“Wahhh.. si Zara bener - bener hebat, bisa ngajakin Lo kayak gini. Salut gue. Padahal dia baru beberapa hari di sini, udah membawa hal yang positif aja buat Lo.” Kata Andika sambil bertepuk tangan.
Tok tok tok (suara ketukan pintu)
“Permisi.. Raka, ada yang ingin bicara dengan bapak. Katanya dari klien yang memberi penawaran kemarin lewat email. Aku sambungkan atau bagaimana Raka?” Tanya Zara yang memegang pesawat telepon.
“Ohh bilang aja nanti saya telepon kembali.” Raka masih tetap berdiri dengan gagahnya di depan jendela ruangannya.
“Ya Ampun.. kok tuh orang makin di liat makin ganteng sih.” Batin Zara.
“Baik kalau begitu, aku bicara dulu yah sama orangnya.” Kata Zara berjalan keluar dari ruangan Raka.
“Zar.. kalau udah masuk sini yah.” Seru Andika.
“Oh iyaaa.” Balas Zara sebelum keluar dari ruangan Raka.
Raka berbalik ke Andika dan memberi Andika tatapan heran.
“Tenangg.. gue cuma mau ngobrol sebentar kok sama Zara, nggak usah tegang gitu muka Lo.” Ucap Andika.
“Dihh.. ngapain ngobrol di ruangan gue. Udah sana keluar kalau mau ngomong sama Zara, jangan di ruangan gue.” Balas Raka kembali ke meja kerjanya.
“Gue kan mau ngobrol bertiga bareng sama Lo juga.” Ucap Andika berdiri lalu membuka kulkas kecil, dan mengambil dua minuman kaleng.
“Lo tau kan ini jam kerja? Ngapain sih.” UcapnRaka yang sudah mulai kesal.
“Gue tauu.. nggak usah marah - marah gitu kenapa sih. Kan lagi nggak banyak kerjaan juga, santai dong.” Ujar Andika lagi.
“Hmm.. terserah Lo deh.” Jawab Raka yang sudah mulai pasrah.
Tidak lama kemudian Zara masuk kembali ke ruangan Raka.
“Kenapa gue di panggil masuk?” Tanya Zara melihat ke Andika lalu ke Raka.
“Duduk Zar. Kita ngobrol - ngobrol dulu.
Raka sama sekali tidak melihat ke arah Zara dan juga Andika, Raka mau fokus dengan pekerjaannya.
“Raka sini juga kali.” Ucap Andika.
“Ngobrol apaan sih? Ini kan jam kerja? Kenapa malah ngobrol. Kalau nggak penting nanti aja deh, ntar malam kita ketemu juga kan.” Ucap Zara.
“Puffftt.” Raka tertawa kecil.
“Tuh Zara aja tau kalau ini jam kerja. Nggak salah emang gue manggil Zara kembali jadi sekertaris gue.” Kata Raka menatap Andika.
“Ah nggak asyik banget sih kalin berdua.” Ucap Andika.
“Hahah.. Lo yang nggak jelas Andika.. lebih baik Lo kembali ke ruangan Lo aja deh, dari pada ganggu orang yang lagi bekerja.” Ujar Zara.
“Tuhh dengeerr.” Seru Raka.
“Iya deh iyaa.. tapi makin lama kalian berdua makin kompak deh, cocok.” Ucap Andika yang kemudian membuat suasana menjadi hening.
====