Chapter 18

1430 Kata
Raka dan Zara yang mendengar ucapan Andika hanya bisa saling menatap. "Kalau begitu aku permisi dulu yah Raka.. Andika kalau nggak ada kerjaan lebih baik tidak usah mengganggu, kembali ke ruangan Lo aja." Ujar Zara lalu berjalan keluar. "Iya - iya gue keluar.. selamat bekerja Bapak Raka." Seru Andika dengan membawa satu minuman kleng yang belum habis dari ruangan Raka. Raka hanya tersenyum melihat Zara dan Andika yang berjalan keluar dari ruangannya. "Permisi yah Ibu Zara." Kata Andika. "Hahah.. iya Pak Andika." Balas Zara. "Ehh.. tunggu - tunggu.. gue mau nanya sesuatu." Ucap Andika berjalan mundur. "Apalagi sih?" Tanya Zara. "Ituu .. katanya Raka mau ikut makan malam yah? Kok bisa? Tumben amat loh dia mau di ajakin makan sama - sama. Lo bilang apa sama dia?" Tanya Andika menarik satu kursi kemudian duduk di samping Zara. "Hahahah bener - bener deh Lo.. udah nanti aja, liat tuhh kerjaan gue banyak banget. Udah sana, nanti gue ceritain." Ujar Zara menunjuk berkas yang ada di atas meja kerjanya. "Ahh nggak asyik banget sih Zara." Kata Andika sambil memukul pelan meja kerja Zara. "Nanti deh yahh.. udah sana ke ruangan Lo kembali." Ucap Zara. "Iyaa iyaa gue ke ruangan gue dulu yah.. ehh.." "Apalagi sih Andika ???" "Kerjaan yang kemarin gue email ke email Lo udah lo liat?" Tanya Andika kembali ke meja Zara. "Ohh iya udah kok.. kayaknya ada hal yang perlu gue tanyain deh." "Yang mananya?" "Datanya ada nggak? "Ada kok, ke ruangan gue aja kalau gitu." "Oh oke.. tunggu bentaran, gue tutup dulu ini." Ujar Zara lalu menutup file yang di komputernya. Zara kemudian berjalan mengikuti Andika ke ruangannya. Raka yang dari tadi memperhatikan Andika dan Zara, tiba - tiba berdiri lalu berjalan keluar ruangannya mengikuti Andika dan Zara. "Aduh gue ngapain sih pakai ngikutin mereka? Raka are you crazy? Sejak kapan Lo mengurusi urusan orang yang nggak penting?" Gumam Raka tersadar sebelum sampai di ruangan Andika. Raka berdiri sudah hampir di dekat pintu ruangan Andika, Zara melihat Raka berdiri lalu memanggil Raka. "Pak Raka? Kenapa berdiri saja di sana? Bapak mencari aku? Ada yang perlu saya bantu?" Tanya Zara berjalan ke dekat Raka. "Oh? Ngg.. nggak kok. Saya mau ambil sesuatu di dalam." Jawab Raka mencari alasan. "Ohh.. aku kira bapak mencariku." "Lo mau ambil apa? Emang ada barang Lo yang ketinggalan di sini?" Tanya Andika sambil membuka Laptopnya. "Iyaa.. kayaknya gue lupa charger gue deh di sini." Jawab Raka lalu berpura - pura mencari di sekitar colokan dekat meja kerja Andika. "Kapan Lo ngecharge di ruangan gue? Kayaknya nggak pernah deh." Seru Andika yang memperhatikan Raka yang sudah sedikit salah tingkah. “Pernah.. gue pinjem charger Lo aja deh kalau gitu. Nggak gue temuin nih charger gue.” Kata Raka berusaha untuk tidak salah tingkah. “Ya udah ambil aja, ada di colokan kan di situ?” Tanya Andika lalu menjelaskan ke Zara pekerjaan yang tadi ia tanyakan. Raka sesekali memperhatikan Zara dan juga Andika. “Gue pinjem yahh charger Lo.” Kata Raka lagi. “Iyaa.” Balas Andika tanpa memperhatikan Raka. “Gue keluar yah.” Seru Raka lagi yang masih memperhatikan Zara dan Andika sambil berjalan keluar dari ruangan Andika. “Iyaaaaa.” Balas Andika. “Kenapa sih Raka kok tingkahnya aneh gitu, heran.” Gumam Andika di depan laptopnya. “Aneh kenapa? Kan dia mau pinjem charger.” Kata Zara. “Yah aneh ajaa, dia tuh kalau lagi nyari sesuatu pasti dia nelvon aja, nggak sampai datang terus nyari - nyari sendiri kayak tadi. Dia bukan tipe orang yang suka merepotkan dirinya sendiri.” Jelas Andika. “Emang iya?” Tanya Zara. “Iyaa.. makanya gue heran. Jangan - jangan—“ “Jangan - jangan apaan?” Tanya Zara heran. “Jangan - jangan yah jangan - jangan aja hahahah.” Kata Andika lalu menertawai Zara. “Ihh nggak lucu tau nggak sih.” Seru Zara sambil menepuk pundak Andika. “Buseett… sakit banget pukulan Lo. Uuhh.” Kata Andika sambil memegangi pindaknya. “Makanya jangan rese’ , lo nggak tau kan kalau gue ini pernah masuk latihan bela diri?” Kata Zara lalu tertawa. “Wahhh gilaa.. ngapain Lo masuk latihan bela diri?” Tanya Andika. “Yah supaya gue bisa ngelindungin diri gue sendiri. Gimana kalau gue jalan sendirian terus ada yang tiba - tiba datang terus mengganggu gue? Kan serem. Makanya gue ikut latihan bela diri.” Jawab Zara. “Wahh keren - keren. Kapan - kapan ajarin gue juga deh.” Ujar Andika. “Hahahah.. iyaa nanti deeh yahh. Sekarang Lo jelasin ini gimana dulu, gue mau kerjain sarkarang juga, biar nggak deadline.” Kata Zara sambil melihat kertas yang ada di depannya. Andika kemudian menjelaskan panjang kali lebar ke Zara soal pekerjaannya. Setengah jam lebih Zara berada di ruangan Andika. Sementara Raka terus berdiri di ruangannya menghadap ke pintu ruangannya untuk menunggu Zara kembali ke meja kerjanya. Setelah melihat Zara dari kejauhan, Raka tersenyum dan kembali duduk du meja kerjanya. Raka tidak tau apa yang sedang dia lakukan tapi Raka senang melakukannya. Zara kembali ke meja kerjanya, bersiap untuk mengerjakan pekerjaan yang baru saja di berikan oleh Andika. Ting.. Ting.. Ting.. Ting.. Ting.. (Suara ponsel Zara) “Lahh apaan tuh? Kok banyak banget.” Gumam Zara sambil mencari ponselnya. Zara mencari ke sidut - sudut meja, tapi tidak berhasil mendapatkan ponselnya. Hanya nada dering yang terus berbunyi. “Aduh dimana sih? Mana berisik banget lagi.” Kata Zara kesal. “Tuuuhh di bawah meja Lo.. ckckckk ponsel kok bisa sampai di bawah meja sih.” Ucap Ardya yang baru saja kembali ke kantor. “Aduh ya ampun, kok bisa jatuh di sini sih.” “Makanya kalau kerja tuh jangan terlalu serius banget, sampai yang di sekitar Lo pun nggak Lo perhatiin.” Ujar Ardya sembari berjalan ke meja kerjanya. “Wah grup baru yah.. udah banyak banget pesannya.” “Ssssttt ssstttt.” Saut Ardya. Jarak meja kerja Ardya dan Zara tidak terlalu jauh, sehingga mereka bisa berbincang - bincang tanpa harus ada salah satu di antara mereka yang pergi ke meja kerjanya. Hanya kaca besar yang menjadi pemisah di antara mereka. “Apaan?” Tanya Zara berbisik lalu memundurkan kursinya agar bisa di dengar oleh Ardya. “Ntar malam jadikan?” Tanya Ardya. “InsyaAllah yahh.. semoga gue nggak di suruh pulang cepat.” Jawab Zara. “Siippp.. Yang di dalam gimana?” Tanya Ardya sambil melihat ke ruangan Raka. “Katanya ntar diliat, kalau dia nggak sibuk.” Jawab Zara. “Lah? Kata si Andika, Raka ikut kok. Kan Lo yang ajak?” Ucap Ardya. “Hah? Siapa yang bilang?” Tanya Zara heran. Karena Zara belum sama sekali memberitahu Andika kalau Raka mau ikut untuk makan malam. “Andika kan? Lo nggak baca yah tuh di grup yang baru di buat?” “Emang iya?” Zara langsung memeriksa kembali grup yang baru saja masuk di notifnya. “Ya ampun Raka sendiri yah yang bilang sama Andika? Hmm padahal gue mau kasih surprise ke yang lain.” Batin Zara kecewa. “Nggak papa deh.. yang penting mereka semua senang karena Raka bisa ikut bergabung dengan mereka untuk makan malam.” Sambung Zara lagi. “Gimana? Iya kan?” Tanya Ardya lagi. “Iyaa.. gue baru baca.” Jawab Zara sambil bekerja. “Hebat banget Lo Zar, bisa ngajakin Raka hanya dengan satu kali. Yang lain biasanya mengajak sampai berkali - kali dia nggak mau loh.” Ucap Ardya. “Hanya kebetulan aja kali.” Ucap Zara. Zara tidak mau terlalu percaya diri dan besar kepala kalau karena dia yang bisa mengajak Raka. “Beneran. Tanya Aja semua anak - anak yang lain, bahkan sampai Andika pun, dia nggak mau. Paling dia hanya mau pergi barenh Andika aja. Malah kita semua tuh sudah berfikir negatif, kalau mungkin aja Raka nggak mau makan dengan karyawan - karyawannya, karena nggak selevel gitu.” Jelas Ardya yang juga matanya tetap berada di depan komputernya. “Astaghfirullah Aladzim, suuzdhon banget sih hahaha. Nggak mungkin lah Raka kayak gitu, dari pandangan gue sih, meskipun dia arogan kayak gitu dia nggak mandang materi orang - orang, nggak memandang rendah orang - orang. Yah dia hanya tidak bisa berbaur dengan orang - orang di sekitarnya lagi semenjak Adik dan eyangnya meninggal.” Jelas Zara. “Iya juga yahh.. kalau di fikir - fikir lagi, Raka berubah semenjak saat itu. Hmmm.. semoga aja dengan makan malam ntar malam adalah suatu permulaan yang baik untuk Raka. “Semoga yahh.” Ujar Zara. Zara bersyukur bisa membawa pengaruh positif untuk Raka, yah meskipun Zara tidak menunjukkan rasa senangnya ke orang lain. ====
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN