Chapter 19

1316 Kata
Jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah enam sore. Zara terlihat masih sibuk dengan berkas - berkas dan komputer yang masih ada di atas mejanya. Zara melihat ke jam tangan berwarna rose gold yang di pakainya. "Oh my God udah jam pulang aja, mana kerjaan aku masih banyak lagi." Ucap Zara pada dirinya sendiri. "Masih ada hari esok kan Zar, lanjut besok lagi aja." Balas Ardya yang mendengar ucapan Zara. "Huffttt nanggung banget sih ini. By the way Lo balik dulu yah sebelum pergi makan?" Tanya Zara lau memundurkan kursinya untuk melihat Ardya. "Kayaknya sih.. gue pengen ganti baju dulu, sumpek banget pakai baju kantor." Ujar Ardya sambil mengibaskan dengan pelan baju yang di pakainya. "Iya juga yah.. emangnya jam berapa perginya?" Tanya Zara lagi. “Kalau gue sama Prilly sih harus datang lebih duluan dari pada kalian, biar cari tempat kan yang enak buat duduk - duduk. Kalau Lo mau balik dulu, balik juga dulu aja. Paling lambat Lo udah ada di sana jam tujuhan sih.” Jawab Ardya. Zara kembali melihat jam tangannya. “Iya juga yahh.. gue balik juga deh.. mau mandi biar fresh.” “Aduuhh.. gue nggak bawa mobil lagi. Gue nunggu di kantor aja deh.” Sambung Zara. “Lahh tapi kan masih lama Zar, yang lain juga pada mau balik dulu. Lo nggak papa sendirian ?” Tanya Ardya. “Pulang bareng saya saja Zara.” Tiba - tiba Rak keluar dari ruangannya. “Eh, Raka.” Seru Zara kaget. “Tuhh.. pulang aja bareng Raka..” Seru Ardya lalu mengedipkan sebelah matanya. Ardya membuat Raka salah tingkah di depan Zara. Tanpa basa - basi Zara kemudian mengiayakan ajakan dari Raka. “Boleh deh.” Ujar Zara. “Okey .. saya tunggu di bawah saja yah. Soalnya sudah nggak ada yang mau saya kerjakan lagi.” Ujar Raka lalu tersenyum bahagia. “Pufftt pufftt hhahaha gila - gila Raka ngajak Lo balik bareng lagi Zar. Duhh jangan - jangan Raka sudah mulai tertarik nih sama Lo Zara. Terus dia datang dari mana coba tadi hahah masa iya dia nguping sih. Hahahah parah banget.” Kata Ardya tertawa, kemudian berdiri membereskan meja kerjanya. “Husshh jangan ngomong yang nggak - nggak nanti ada yang dengar, atau Raka yang dengar gimana?” Kata Zara yang juga membereskan meja kerjanya. “Loh nggak papa dong.. biar mereka tau kalau Raka mulai tertarik sama kamu, biar nggak ada lagi yang gangguin kamu dan Raka.” Jelas Ardya. “Apaan sih Ardya.. nggak usah lebay yahh.. pokoknya Lo jangan ngomong sembarangan. Awas Lo kalau ngomong sembarangan lagi.” Ujar Zara lalu mengepalkan satu tangannya lalu di julurkan ke Ardya. “Hahaha iya iya.. ayo udah beres belum? Biar turunnya barengan.” Kata Ardya berjalan ke depan meja Zara. “Ayo.. udah kok.” Kata Zara sambil memperhatikan kembali meja kerjanya. Ardya dan Zara turun bersama, sesampainya di Loby masih banyak karyawan yang belum pulang. Zara merasa tidak enak lagi kalau harus pulang dengan Raka dan di perhatikan oleh banyak orang. “Heeii.. muka Lo kok gitu?” Tanya Bella yang baru saja keluar dari lift. “Siapa? Gue? Muka gue emang ganteng kan dari sononya.” Seru Ardya. “Idih hahahha bukan Lo tapi Zara.” Seru Bella. “Gue? Kenapa muka gue? Ada kotoran yah? Atau apaan?” Tanya Zara sambil memegangi wajahnya. “Bukan.. ekspresi Lo kenapa kayak orang nggak makan seharian dah.” Ujar Bella. “Hah? Kenapa Lo Zar? Jangan - jangan Lo habis liat penampakan yah?” Tanya Ardya. “Ishh apaan sih Ardya.” Seru Zara. “Kan tadi Lo baik - baik aja, kenapa pas sampai di bawah muka Lo kayak gitu.” Ujar Ardya. “Ohh.. nggak kok.. nggak papa.” Jawab Zara kemudian tersenyum. “Ya udah sana.. pasti udah di tunggui Raka tuh.” Kata Ardya sambil menunjuk ke Raka yang sedang duduk menatap ponselnya. “Lo pulang bareng Raka lagi?” Tanya Bella dengan volume suara yang cukup besar karena kaget. “Bellaaaa sssstttt.” Zara menutup mulut Bella dengan telapak tangannya. “Sayaaanggg.” Teriak Prilly. “Ada apa nih? Kok Zara nutup mulut Lo Bell? Mulut Lo bau yah?” Tanya Prilly. “Hahahahah !!! iya sayang.. mulut Bella bau, bau ikan hahah.” Seru Ardya. “Ihh sialan Lo !!! mana ada mulut gue bau. Ini nihh si Zara, katanya diajakin pulang bareng lagi sama Raka. Terus tadi mukanya tiba - tiba berubah pas sampai di Lobi. Ekspresinya kayak nggak makan seharian.” Jelas Bella. “Ohh.. gue tau nih, Zara kenapa.. Lo pasti nggak enak kan pulang bareng sama Raka lagi? Karena masih banyak orang di Lobi?” Tanya Prilly mendekati Zara. “Kok Lo tau banget sih Prill.” Ucap Zara tersenyum malu. “Iyalahh gue udah baca tuh di raut muka Lo. Kenapa nggak enak sih Zar, Lo kan nggak macem - macem juga sama Raka, kalian hanya pulang bareng. Dan emangnya kenapa kalau atasan pulang sama sekertarisnya? Toh kalian memang sudah lama kenal. Yah wajarlah kalau hanya pulang bareng. Dan orang - orang di sini juga jarusnya perlu tau sih, kalau Lo itu tetanggaan sama Raka. Rumah Lo itu sama rumahnya Raka pas banget sampingan, wajar kan?” Kata Prilly yang benar - benar selalu punya pikiran yang positif dan pola pikir yang cerdas. Prilly memang sangat cocok dengan jabatannya. Puk puk puk puk puk (suara tepuk tangan) Ardya bertepuk tangan atas penjelasan yang baru saja di ucapkan oleh Prilly, dan di ikuti oleh Andika yang baru saja turun dari lift. “Apaan Lo, pakai tepuk tangan juga? Emang Lo tau apa yang sedang kita omongin?” Tanya Bella. “Nggak.” “Hahahhahahah.” Semuanya tertawa. “Emang ada apaan sih?” Tanya Andika. “Nggak ada apa - apa. Udah telat Lo.” Jawab Zara. “Hahahah kasian.” Ucap Bella. “Jahat banget sih sama gue.” Kata Andika. “Huuusshhh nggak usah berisik.” Kata Prilly. “Udah yuk balik, jangan lupa yah ntar jam tujuh malam. Jangan telat atau jam karet yah, biar bisa makan bareng.” Ujar Prilly lagi. “Iya - iya.. bawel banget yah cewek Lo ini. Lo kok mau sih sama cewek bawel kayak gini?” Kaya Andika meledek Prilly. “Bawel - bawel gini gue cantik banget tau. Iya kan sayang?” Kata Prilly lalu menggandeng tangan Ardya. “Ihhh serasa dunia milik Lo berdua yah?” Seru Bella. “Hahahhaah.” Raka yang dari tadi sedang duduk mendengar suara Zara, Andika, Bella, Prilly dan juga Ardya yang sedang berbincang - bincang. Raka berjalan ke arah mereka untuk memanggil Zara pulang. “Zara sudah mau balik kan?” Tanya Raka. Andika, Prilly, Bella dan Ardya melihat Raka dengan tatapan senyum - senyum, Raka yang merasa di perhatikan oleh semuanya tiba - tiba tersadar. “Ohh.. maaf.. kalian masih mau ngobrol yah? Maaf yah.” Ujar Raka. “Waaahhhh Raka min— Semua yang mendengar Raka minta maaf, sangat kaget. Karena baru kali ini Raka meminta maaf ke orang lain dengan nada yang begitu tulus.  “Hussshhh.” Zara kembali menutup mulut Bella. “Ayo Pak.. aku sudah mau pulang kok.” Kata Zara menatap Bella, Prilly, Ardya dan Andika memberikan kode untuk tidak mengatakan apa - apa lagi ke Raka. “Iya - iya pulang yuk.. udah jam berapa nih. Kita kan mau sholat magrib dulu.” Ujar Prilly yang samgat mengerti kode yang di berikan Zara. “Byee semuanya.. duluan yahh.” Ujar Zara melangkahkan kakinya pelan. Raka dan Zara pun berjalan keluar duluan di banding Andika, Ardya, Prilly dan Bella yang masih terus memperhatikan Raka dan Zara sampai tidak kelihatan lagi. “Kok Raka sama Zara pulang bareng lagi?” Tanya Andika. “Ntar deh yahh kita sambung. Sekarang balik dulu.” Ujar Prilly. “Hufftt.. iya deh iyaa.. hati - hati yah semuanya.” Ujar Andika lalu mengeluarkan kunci mobil dari kantong celananya. ====
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN