Chapter 20

1406 Kata
Raka dan Zara berjalan bersamaan keluar dari kantor. Semua karyawan yang masih ada di kantor memperhatikan Zara mulai dari ujung kaki sampai ujung rambutnya. Terlebih lagi karyawan perempuan yang menyukai Raka, melihat Zara dengan tatapan sinis. “Udah nggak usah di fikirin.” Kata Raka pelan. “Hah? Apaan?” Tanya Zara. “Kamu pasti mikirin mereka kan? Yang dari tadi memperhatikan kita?” Tanya Raka. “Nggak kok. Ngapain aku mikirin mereka. Aku mikirin diri aku sendiri, gimana kalau mereka nggak suka sama aku karen aku dekat lagi sama kamu?” Tanya Zara lalu menundukkan kepalanya. “Ya itu kan sama aja.. ehmm deket?” Tanya Raka heran. “Eh maaf nggak.. maksud aku bukan deket kayak gitu, maksudnya yah deket kayak gini. Pulanh bareng maksud aku.” Jawab Zara gelagapan karena salah tingkah. “Ohh.. iya itu juga maksud saya.. itunya yang nggak usah di fikirin, nggak usah di masukkin di hati.” “Kalau kamunya boleh di masukkan di hati nggak sih?” Batin Zara sambil metanap Raka. “Zar? Zara? Aduh kok melamun lagi.” Kata Raka melayangkan tangannya di depan wajah Zara. “Ehh iya.. maaf , tadi kamu ngomong apa yah? Aduh maaf yah aku jadi melamun kayak gini.” Ujar Zara. “Iya nggak papa kok. Udah nggak usah di bahas lagi, masuk gih.” Kata Raka sambil membukakan pintu mobil untuk Zara. Sepanjang perjalanan pulang, Zara ketiduran. Raka mengendarai mobilnya dengan sangat hati - hati, karena tidak ingin Zara terbangun. “Kasihan, kelihatannya capek sekali.” Ucap Raka dengan sesekali berbalik melihat Zara yang duduk di sampingnya. “Lagi - lagi aku melakukan hal yang nggak pernah gue lakuin. Gue kenapa sih.” Batin Raka. Cuaca menjelang malam terasa sangat dingin, Raka melihat Zara mulai kedinginan. Raka mengurangi sedikit AC mobilnya agar Zara tidak terbangun. Sesampainya di depan rumah Raka, Zara belum juga bangun. Raka tidak tega untuk membangunkan Zara. Dan tiba - tiba ponsel Zara berdering membuat Zara kaget dan terbangun dari tidurnya. Dan juga membuat Raka kaget dan salah tingkah. Drrrrtttt ddrrrrtttt drrrrtttt (dering ponsel Zara) “Aduhh gue ketiduran yahh? Ya ampun ponsel gue mana lagi.” Gumam Zara. “Halo?” “Iyaa iyaa Prill.” “Lo sama Raka di mana sih? Kok belum datang sih? Kita udah pada laper nih nungguin Lo.” “Hah? Emangnya ini jam berapa?” Zara melihat jam yang ada di ponselnya. “Oh my god sudah hampir jam delapan, aduh tunggu bentaran yah Prill, gue bakal cepet kok sampainya. Kalian makan duluan aja, nggak usah nungguin gue yah.” “Ihhh jangan.. ya udah cepetan kesini yahh, kita semua nungguin Lo. Emangnya Lo ngapain sih sampai nggak liat waktu gini? Jangan - jangan—“ “Jangan - jangan apaan heii !!! Gue ketiduran tau di mobilnya Raka. Udahh yahh ntar gue jelasin. Byeee.” Zara menutup sambungan teleponnya. “Kenapa kamu nggak bangunin aku sih? Aduh kita udah telat banget nih.” Tanya Zara sedikit kesal ke Raka. “Kalau kamu capek, nggak usah ke sana.” Kata Raka pelan. “Lahh jangan lah.. tunggu bentaran yahh, Kamu masuk dulu aja juga di rumah kamu, aku cuma mau cuci muka lalu ganti baju sebentaran. Kamu jadi ikut kan?” Tanya Zara membereskan tas dan outer yang dia pegang dari mobil Raka. “Iya ikut kok.. saya tunggu di sini aja, kalau masuk nanti mama ngomongnya lama, terus kita makin telat.” Kata Raka melihat ke dalam rumahnya. “Ih kok gitu sih.. mampir aja sebentaran, mama kamu pasti ngerti kok kalau kamu mau pergi. Udah yah, aku tinggal. Pokoknya kamu masuk yah ke rumah kamu.” Kata Zara lalu membuka pintu mobil Raka dan segera berlari masuk ke dalam rumahnya. “Lucu banget sih.” Gumam Raka lalu tersenyum. “Hah? Gue barusan ngomong apaan sih?” Kata Raka lagi lalu keluar dari mobilnya. Raka yang tadinya tidak ingin masuk ke dalam rumahnya , terpaksa masuk karena ucapan Zara yang menyuruhnya untuk menemui mamanya. Sementara itu Zara, berlari masuk ke dalam rumahnya. Ibu Nadine bertanya kenapa Zara sampai lari - larian seperti itu. Sambil cuci muka Zara memberi tahu kalau ia akan pergi makan malam bersama teman - teman kantornya dan juga Raka. “Ya Ampun mama kira kamu kenapa sayang. Pelan - pelan aja, kalau kamu jatuh gimana. Pasti mereka semua nungguin kamu kok.” Ujar Ibu Nadine membantu Zara menyiapkan baju yang akan di pakainya. “Iya mama.. mereka emang nungguin aku, tapi aku yang nggak enak sama mereka, mereka udah kelaparan nungguin aku dari tadi. Aku juga sih, kenapa pakai acara ketiduran sih di mobilnya Raka. Dan kenapa juga tuh si Raka nggak ngebangunin aku. Heran.” Ucap Zara lalu mengambil handuk dan membasuh wajahnya. Zara mengambil tas make upnya, lalu memberikan sedikit sentuhan lipstik berwarna nude di bibir mungilnya. Memakai sedikit bedak tabur dan sentuhan sedikit sentuhan maskara di bulu matanya. “Iya iya.. tapi kamu jangan lari - lari seperti itu juga, mama kaget tau nggak. Untung cuma mama yang ngeliat kamu lari - larian kayak gitu, coba kalau si Julian udah panik banget tuh pasti.” Ucap Ibu Nadine. “Dan Raka pasti sengaja nggak ngebangunin kamu karena dia nggak mau mengganggu tidur pulas kamu, dia ngebiarin kamu istirahat di mobilnya. Aduhh so sweet banget sih Raka.” Sambung Ibu Nadine. “Ih mama hahaha.. tapi kalau beneran juga nggak papa sih. Hahahah.” seru Zara sambil tertawa. “Iya kan? Hahah.” “Kalau gitu Zara berangkat dulu yah Mah.” Kata Zara lalu mengambil tas kecil yang berwarna hitam di gantungan tasnya. “Iya hati - hati yahh.. jangan lari - larian. Salam sama Raka.” Ucap Ibu Nadine. “Okeh Maa.. Assalamualaikum.” Kata Zara sembari berjalan keluar dari rumahnya. “Walaikumsalam.” Zara pun berjalan keluar dari rumahnya, dan terlihat Raka yang berdiri di depan mobilnya. “Kamu nggak masuk?” Tanya Zara. “Masuk kok. Mama baru aja pergi sama papa, katanya ada makan malam bersama dengan karyawan - karyawannya.” Jelas Raka. “Oh gitu.. ya udah yuk.” Ucap zara sambil membuka pintu mobil Raka. Zara dan Raka berangkat ke restoran yang sudah di siapkan Ardya dan juga Prilly. “Nah itu Raka sama Zara udah datang.” Ucap Andika menunjuk Zara dan Raka yang masih berdiri mencari keberadaan teman - temannya. Andika melambaikan tangannya ke Zara dan juga Raka. Sudah banyak makanan yang di pesan oleh Ardya dan Prilly. “Aduh maaf yah.. kalian nunggu lama yah?” Kata Zara lalu menarik satu kursi dan tiba - tiba Raka membantu menarik kursi yang akan di duduki Zara, semua mata tertuju pada Raka. “Ehhem.. makan aja yuk, gue udah laper banget nih dari tadi.” Ujar Prilly. “Iya ayoo ayoo.” “Lo kenapa telat banget Zar?” Tanya Bella sambil mengambil sumpit yang ada di depannya. “Tadi gue ketiduran di mobilnya Raka—“ “Hah? Lo ketiduran? Di mobilnya Raka?” Seru Bella yang sudah memasukkan satu ptong sushi di mulutnya. “Pelan - pelan kali Bell.” Ujar Ardya. “Iya.. Zara ketiduran di mobil gue dan gue nggak ngebangunin dia, karena kelihatannya dia capek banget, makanya gue nungguin dia bangun aja.” Kata Raka lalu mengambil satu gelas ocha untuk di minumnya. Bbbrrrrrrrrr (semprotan air keluar dari mulut Prilly yang baru saja menelan satu teguk ocha) “Ihhh Prillyyyyy !!!! Kalau kaget nggak usah nyembur kayak gitu, gue juga kaget kok dengar ucapannya Raka. Tapi gue nggak nyembur, jorok banget sih.” Seru Bella sambil membersihkan bajunya dengan tisu. “Aduhh maaf yahh Bell, gue nggak sengaja. Gue bener - bener nggak nyangka seorang Raka seperti itu. Ternyata dia benar - benar peduli sama orang di sekitarnya.” Ucap Prilly menatap Raka. “Kenapa emangnya?” Tanya Raka. “Lo pakai nanya kenapa emangnya? Raka please yahh, ini kan bukan di kantor jadi kita sekarang bukan sebagai atasan dan bawahan yah, tapi kita sekarang sebagai teman nongkrong. okeyy?” Kata Prilly. “Aha? Hmm okeyy.” “Kenapa sih sayang, jangan bikin suasana jadi tegang deh.” Ujar Ardya. “Nggak papa.. gue juga penasaran apa yang mau Prilly katakan sama Raka hahah. Kesempatan nih Prill hahah.” Ucap Andika. Di tengah - tengah perbincangan, Zara deg - degan takut apa yang akan di katakan Prilly membuat Raka tidak nyaman dan tidak ingin lagi nantinya untuk bergabung atau pergi bersama teman - temannya lagi. ====
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN