Chapter 21

1030 Kata
Zara tau kemana arah pembicaraan yang akan diucapkan Prilly. "Kenapa sih? Lo mau ngomong apa?" Tanya Raka. "Gini Raka.. Lo kan—" "Prill kita makan aja yuk, nanti makanannya keburu dingin." Kata Zara berusaha menghentikan ucapan Prilly. "Hengg.. okeeyy." Kata Prilly lalu mengambilkan sumpit dan piring kecil untuk Ardya. Raka hanya diam menatap semuanya, Dalam hati Raka bertanya - tanya apa yang sebenarnya yang ingin di matakan Prilly. "Terima kasih sayaaangg." Seru Ardya. "Ciee yang pacaran sweet banget sih." Seru Andika. "Iya dong makanya Lo nyari cewek juga, biar ada yang ambilin piring juga buat Lo." Ucap Ardya. "Ohh jadi aku cuma jadi tukang ambil piring nih?" Kata Prilly. "Hahahahhahah." Semuanya tertawa. "Eh tunggu - tunggu.. kayaknya kita seperti pasang - pasangan gitu yahh. Aku, sama Ardya, Bella sama Andika, terus Zara sama Raka." Ucap Prilly melihat sekelilingnya. "Ihh ogaahhh.. gue udah ada inceran cowok yahh di kantor. Malas banget gue pasangan sama Andika." Seru Bella. "Ihhh gue juga nggak mau sama Lo.. kepedean banget sih jadi orang." Jawab Andika. "Hahahah.. kenapa sih kalian berdua. Kan ini cuma bayangan gue ajaa, Raka sama Zara aja nggak protes. Iya kan Zar?" Kata Prilly. "Ya iyalahh.. Zara malah senang kalau memang dia pasangan sama Raka. Hahahah." Seru Ardya. "Ardya apaan sih. Nggak kok Raka." Kata Zara. Raka asyik dengan makanannya, tanpa memperdulikan ucapan teman - temannya. "Gue seneng kok kalau memang harus pasangan sama Lo Zar." Batin Raka. "Hah apaan sih gue." Gumam Raka. "Ehh kenapa Raka?" Tanya Zara. "Oh nggak kok.. gue ke toilet dulu yah." Kata Raka lalu berdiri dari kursinya. Hampir saja Raka keceplosan, Raka kemudian ke toilet untuk menghidari pertanyaan - pertanyaan dari teman - temannya. "Dia kenapa sih?" Tanya Bella. "Aneh banget hahah.. tapi kalian sadarkan, Raka udah bisa di ajak makan bareng?" Kata Andika. "Iya nihh.. special thanks untuk Zara pastinya yang udah ngajakin Raka." Kata Ardya. "Kenapa gue sih. Gue kan cuma ngajak dia doang, biasa aja kan." Kata Zara. "Yah kalau bukan karena Lo yang ngajak Raka, dia pasti nggak bakalan mau gabung sama kita. Andika aja nggak berhasil ngebujukin dia." Ucap Prilly. "Emang iya Dika?" Tanya zara. "Iyaa.. gue ngebujukin Raka juga. Tapi yah seperti biasa, dia cuma bilang gue nggak bisa banyak kerjaan yang mau gue kerjakan." Jawab Andika. "Tuhh.. makanya gue heran dan kaget banget liat di grup, kalau katanya Raka jadi ikut." Kata Bella. "Kayaknya Raka suka deh sama Lo Zar." Kata Andika. "Hah? Mana mungkin. Masa iya gue yang pernah ngebuat dia marah banget, sekarang bisa suka sih sama gue." Ucap Zara. Zara kemudian menuangkan satu gelas ocha lagi di gelasnya yang sudah kosong. Raka yang kembali dari toilet mendengar apa yang baru saja di ucapkan oleh Zara. Raka tidak segera duduk di kursinya kembali. Melainkn dia keluar untuk mencari udara segar, dan Andika melihat Raka keluar juga ikut menyusul Raka. "Kenapa lo?" Tanya Andika menepuk pelan pundak Raka. "Kenapa? Gue nggak kenapa - kenapa kok." Jawab Raka. "Aduh Lo itu udah berapa kali gue bilangin, kalau Lo itu nggak bisa bohong sama gue. Kita tuh udah bersahabat lima tahun tau nggak sih. Emangnya Ada apasih? Cerita aja." "Hmm.. Zara sepertinya masih terus mengingat kejadian lima tahun lalu deh." "Yang mana?" "Yang itu." "Yang Lo lempar dan mecahin bingkai fotonya itu?" "Iya yang mana lagi kalau bukan itu. "Ya sama kan kayak Lo, Lo juga masih ingat kejadian itu. Memangnya kenapa kalau Zara masih ingat?" Tanya Andika sambil mengeluarkan ponselnya dari kantong celananya. "Ya nggak papa juga sih, gue nggak enak saja sama dia." "Raka Lo sadar nggak sih? Kalau Lo itu udah perlahan mulai berubah?" Tanya Andika lagi. "Berubah gimana?" "Yah gini.. Lo bahkan udah bisa mikirin perasaan orang lain di banding perasaan Lo sendiri." Ujar Andika. "Masa sih?" "Ya Ampun Lo pakai bertanya lagi. Iyaa Lo itu udah mulai berubah. Tapi bagus sih, jadi Lo nggak perlu buang  - buang tenanga untuk terus marah - marah dan ketus sama orang di sekitar Lo." Jelas Andika." "Hmmm.. Lo juga tau kan kalau gue kayak gitu bukan tanpa sebab?" Tanya Raka. "Iya gue tau, tapi Lo nggak bisa terus - terusan jadiin itu sebagai alasan atas sikap Lo selama ini. Terlebih lagi untuk orang - orang yang sudah Lo marah - marahin nggak jelas, kan mereka semua nggak salah sama Lo." "Iyaa.. gue juga ngerasa selama ini gie keterlaluan sih. Dan saat gue ngeliat Zara pertama kali, ingatan gue di hari itu benar - benar sangat jelas. Gue merasa sangat marah sama Zara, tapi setelah gue melihat dia baru - baru ini ngejelasin alasannya kembali, dia terlihat benar - benar tulus ingin menyadarkan gue. Gue merasa jadi orang paling berdosa." Jelas Raka lalu menghela nafasnya. "Hmm.. bagus deh kalau Lo ngerasa kayak gitu. Gue ikut senang mendengar Lo ngomong kayak gini sekarang." Ucap Andika yang masih asyik dengan gamenya. Raka kemudian menarik ponsel Andika. "Raka woii.. itu udah mau menang !!!!" Teriak Andika. "Hahaha siapa suruh Lo main game terus. Masuk yuk, nanti yang lain nyariin kita." Kata Raka sambil berjalan masuk kembali ke restoran dan di ikuti oleh Andika. "Kalian dari mana sih? Nih makanannya masih belum habis." Seru Bella yang masih asyik mengunyah. "Biasalah nyari udara segar. Zara mana? Udah balik?" Tanya Andika lalu duduk kembali di kursinya. "Hah Zara udah balik?" Tanya Raka kaget. "Emangnya kenapa kalau Zara udah balik? Lo mau nganterin Zara pulang?” Tanya Prilly. “Ngg— belum sempat Raka menjawab, Zara sudah kembali dari toilet. “Nggak usah tegang gitu kali hahaha. Tuh Zara dari toilet kok.” Kata Prilly. “Kenapa?” Tanya Zara heran. “Ini si Andika nyariin Lo, dan Raka ngira Lo udah balik duluan. Dia mau nganterin Lo pulang katanya.” Kata Prilly menggoda Raka. “Hah? Nggak usah Raka. Aku pulang sendiri aja, banyak taksi kok.” Raka menatap Prilly dengan tatapan kesal. “Raka.. lo inget kan apa yang barusan Lo bilang?” Tanya Andika mengingatkan Raka agar tidak terbawa emosi oleh sikap Prilly. "Ada yang salah yah?" Tanya Zara. "Nggak kok Zar, nggak ada apa - apa." Kata Andika  "Sayang kayaknya kamu udah banyak bicara deh." kata Ardya.  Semuanya diam, dan ikut tegang melihat Raka yang sudah mulai tidak mood. ====
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN