Zara keluar dari ruangan Raka, dan menghela nafas panjang.
“Huu haaa huu haaa huufftttt tarik nafas, huuuu… aduh ya Ampun oh my god.. nggak nyangka bisa ngomong seperti itu sama Raka, ternyata aslinya memang baik. Nggak sia - sia aku perjuangin.”
Gumam Zara sambil senyum - senyum.
Ardya yang berada di dekat meja Zara, dari tadi memperihatikan Zara dengan tingkahnya yang aneh.
“Zaarr.. ssstttt sssttt kenapa Lo? Girang amat keluar dari ruangannya Raka. Ada apa?” Tanya Ardya.
“Ssstttt.. jangan berisik nanti kedengaran sama yang lain.” Jawab Zara menaruh satu jarinya di depan bibirnya.
“Hahha makanya kalau senang tuh jangan kelihatan banget. Lo nggak sadar yah kalau tadi tuh Lo hampir lompat - lompat tau.” Kata Ardya dengan matanya yang tetap tertuju di komputernya.
“Hah? Seriusan? Jelas banget yahh?” Kata Zara kaget.
“Iyaalahh hahaha.. untung aja di sini cuma kita berdua, kalau nggak Lo bisa di gosipin lagi.” Ujar Ardya.
“Lohh kok Lo bisa tau kalau gue di gosipin?” Tanya Zara yang juga tangan dan matanya sambil bekerja.
“Iya, tadi Si Prilly cerita ke gue. Katanya Lo di gosipin sama anak lantai tiga. Terus kebetulan gue juga tadi lagi jalan ke toilet dan gue nggak sengaja denger nama Lo. Nggak tau deh mereka ngomong apa.” Jawab Adrya.
“Ya Ampun.. sampai segitunya. Padahal gue baru dua hari loh di sini.” Ujar Zara.
“Itu resikonya kalau Lo jadi sekertarisnya Raka. Dulu tuh juga ada tuh sekertarisnya Raka sebelum Lo, tapi dia nggak tahan. Mana sifatnya Raka yang dingin, suka marah - marah nggak jelas, terus di tambah lagi dengan gosip - gosip aneh yang katanya dia ngedeketin Raka. Makanya dia keluar hahhaa lucu sih.” Jelas Ardya.
“Wah beneran yah? Gue sih nggak papa kalau di gosipin. Tadi kata Prilly gue santai aja, selama gue nggak salah dan nggak ngerugiin mereka kan. Ngapain gue ambil pusing.” Ujar Zara.
“Nahh ini.. gue suka gaya Lo, jangan dikit - dijit kabur hahaha.. tapi kasihan juga sih tuh sekertaris yang lama, karena nggak cocok gitu sama Raka. Mungkin nggak bisa ngehadepin Raka yang arogan aja sih.” Ujar Ardya.
Raka sudah berkali - kali mengganti sekertarisnya, karena kebanyakan dari mereka tidak cocok bekerja sama dengan Raka. Mereka tidak tahan dengan sikap arogan Raka. Andika juga sudah berkali - kali mencarikan sekertaris untuk Raka.
“Wahh parah banget sih.” Bisik Zara.
“Makanyaa.. gue sih berharap Lo bisa bertahan. Semoga aja yah. Hahah.” Ucap Ardya tertawa.
“Hahah aamiin dehh.. semoga aja, tapi kayaknya bertahan deh.” Bisik Zara.
“Apa?” Tanya Ardya.
“Nggak.. nggak papa kok hahah.”
Zara tidak ingin memberitahukan ke orang - orang dulu kalau dia menyukai Raka. Karena tidak ingin ada permasalahan yang terjadi nantinya.
Siang itu Zara bekerja seperti biasanya, Zara memasang headset di telinganya karena musik membantu Zara bekerja lebih fokus. Zara sangat menyukai pekerjaannya di kantor Raka.
“Tok tok tok.” Kata Raka sambil mengetuk meja Zara.
“Eh, Pak Raka.. maaf, ada apa pak?” Tanya Zara sambil melepas headset di telinganya.
“Sudah jam makan siang, apa kamu tidak lapar?” Tanya Raka.
“Eehh ohh iyaa.. ya ampun.” Kata Zara lalu melihat jam di tangannya dan melihat ke arah meja Ardya.
“Ardya udah turun dari tadi—“
“Loh kok nggak manggil - manggil aku sih. Dasar Ardya.”
“Dengar dulu.. Ardya sudah dari tadi turun, karena dia minta izin untuk pulang ke rumahnya ada hal yang mendesak katanya. Sepertinya kamu terlalu serius bekerja sampai tidak memperhatikan di sekitarmu.” Ucap Raka.
“Aduh kayaknya Raka.. ya udah kalau gitu kamu makan aja silahkan. Aku mau beres - beres dulu baru turun ke bawah.” Kata Zara sambil membereskan mejanya.
“Saya tunggu aja sekalian, lagian udah gelap lampu istirahat udah di matiin.” Kata Raka.
“Ohh iya.. tunggu sebentar.”
Drrrrttt drrrttt drrrtttt… (handphone Zara berdering)
“Iya Halo Prilly..”
“Lo dimana? Nggak turun makan? Apa Lo diet?”
“Hahaha.. nggak.. ini gue baru mau turun, tungguin yah.”
“Iya cepetan. Gue udah makan nih, sama Andika dan Bella.”
Zara mematikan teleponnya.
“Udah dicariin kan?” Tanya Raka sambil berjalan pelan.
“Iya nihh.. duh kalau kamu nggak ngetuk meja aku tadi, pasti aku masih tinggal deh sampai sekarang.” Jawab Zara mengikuti Raka.
“Nggak papa kalau serius bekerja, tapi ingat makan juga.” Ujar Raka.
“Iyaa pasti makasih yahh. Eehmm kamu makan di mana biasanya?” Tanya Zara sambil memencet tombol lift.
“Di mana - mana aja. Nggak tentu, kalau ada rumah makan yang saya liat, terus mau singgah yah di situ. Kalau nggak, yah cari yang lain lagi.” Kata Raka melangkahkan kakinya masuk ke dalam lift.
“Kenapa nggak makan di bawah aja?” Tanya Zara.
“Saya lebih senang makan di luar.” Jawab Raka.
Raka tidak ingin makan di kantin kantornya karena banyak orang, Raka tidak mau menjadi perhatian orang - orang di saat dia sedang makan. Dan Tak juga menghindari obrolan - obrolan yang tidak penting. Raka takut kalau nanti akan ada yang tersinggung dengan ucapan yang keluar dari mulutnya.
“Hmm.. ya sudah kalau gitu aku duluan yah.” Kata Zara sambil melihat layar lift yang sudah hampir sampai di lantai kantin.
Saat pintu lift sudah mau terbuka, Raka berjalan ke dekat tombol lift dan menutup kembali pintu lift.
“Kalau temani saya makan gimana?” Tanya Raka lalu mengalihkan pandangannya dari wajah Zara.
“Hah?”
“Iya temani saya makan di luar saja, saya bosan makan sendirian.”
“Ohh.. iyaa boleh. Ayoo.” Zara di buat deg - degan oleh ajakan Raka.
Raka sendiri tidak menyangka kalau dia akan mengajak Zara makan siang bersama.
“Aku kirim pesan ke Prilly dulu yah, sapa tau dia nungguin aku, kan nggak enak.” Ujar Zara lalu mengambil ponselnya yang berada di dalam pouch yang di pegangnya.
“Oh iyaa..”
Zarapun mengirim pesan ke Prilly agar Prilly tidak usah menunggunya karena ia makan siang di luar. Zara tidak mengatakan kalau ia makan siang bersama dengan Raka.
Sementara itu di kantin, Prilly, Bella dan juga Andika yang sedang asyik makan bersama di kagetkan dengan bunyi ponsel Prilly yang sangat besar.
“Woi Prilly hahahah.. apa - apaan tuh dering ponsel Lo kok berisik banget.” Seru Bella sambil tertawa.
“Astaga pasti adik gue nih habis pakai main game lagi semalam ckckckck, tuh anak udah gue bilangin kalau udah main di kurangin lagi volumenya. Bikin malu aja. Hahahah.” Ucap Prilly lalu mengambil ponselnya.
“Eh tapi dari Zara nih, katanya nggak usah nungguin dia. Dia makan di luar.” Kata Prilly lagi.
“Makan di luar sendirian? Kok nggak ngajak - ngajak sih kalau mau makan di luar, kan kita bisa temenin.” Kata Andika yang lagi asyik melahap makanannya.
“Mungkin dia bilang kita kan lagi sementara makan di kantin, masa iya di ajak sih. Gimana sih Lo Andikaaa.” Seru Prilly lalu menjitak kepala Andika.
“Ehh tunggu dehh. Sini liat.. itu Zara kan? Itu mobilnya Raka kan?” Tanya Bella sambil melihat ke bawah dari jendela yang ada di sampingnya.
“Haaahh?” Prilly kaget dan melihat ke Andika dan Bella.
Prilly, Andika dan juga Bella saling menatap keheranan.
“Waaahhh baru kali ini gue liat Raka pergi berdua sama orang lain, bukan sama Lo Andika.” Seru Bella.
“Bener - bener.. ada kemajuan nih kalau kayak gini.” Ucap Prilly.
“Kok hati gue sakit yahh, liat Raka sama orang lain.” Kata Andika lalu tertawa.
“Hahhaha pokoknya kita harus tanya Zara ntar, gimana bisa dia pergi makan sama Raka.” Ujar Bella.
“Ssssttt.. Bell.” Prilly meletakkan satu jarinya di depan mulutnya menyuruh Bella untuk tidak terlalu berisik karena orang - orang di dekat meja mereka sudah memperhatikan mereka, dan mendengar obrolan mereka.
====