Chapter 14

1095 Kata
Semua karyawan yang ikut meeting pada pagi iru sudah masuk di ruang meeting. Meeting kali ini adalah meeting pertama Zara sebagai sekertaris Raka. Zara mempresentasikan materi yang telah di buatnya, semua orang yang ada di ruangan memperhatikan cara Zara menyampaikan materi. Terlihat sangat jelas kalau Zara adalah seseorang yang sangat pintar. Raka sampai kagum melihat Zara mempresentasikan materinya. Dua jam meeting berlangsung, dan akhirnya selesai dengan sangat lancar. Zara sangat senang karena bisa membawakan materi dengan sangat baik. "Kerja bagus Zara." Ucap Raka sembari mamatikan Laptopnya. "Iya keren banget Lo Zar, Lo nggak ada canggung - canggungnya sama sekali. Padahal Lo baru pertama kali presentasi di sini." Ujar Prilly. "Alhamdulillah.. gue seneng banget kalau bisa di terima dan di pahami sama semunya." Ucap Zara sambil melihat semua orang yang ada di dalam ruang kantor. "Congratss yahh Zara.. Lo bisa memimpin meeting pagi ini." Seru Bella sambil berjalan keluar dari ruang meeting. "Selamat berkerja semuanyaaa." Seru Bella lagi. Semua yang berada di ruang meeting satu persatu keluar menuju meja kerja masing - masing. Yang tertinggal di ruang meeting hanya Zara dan Raka. Zara menunggu Raka keluar duluan. "Sini Pak biar saya bantu bawakan ke ruangan bapak." Ujar Zara sambil mengambil berkas yang ada di tangan kiri Raka. Karena Raka terlihat kesusahan membawa laptop dan juga berkas lainnya. "Oh iyaa.. makasih." Balas Raka. Zara dan Raka pun berjalan bersama menuju ruangan Raka. Raka membuka pintu ruangannya lalu menyimpan laptop yang ada di tangannya di atas meja kerja. "Ini saya simpan di mana Pak?" Tanya Zara lalu memperlihatkan berkas tadi. "Simpan saja di sini." Kata Raka sambil berjalan ke meja kerjanya. "Apa ada yang perlu saya bantu lagi?" Tanya Zara sebelum keluar. "Ehmm.. sepertinya tidak ada. Kalau ada nanti saya telepon kamu saja." "Kalau begitu saya permisi." "Oke." "Eh Zara.. bagaimana kaki kamu? Sudah baikan kan?" Tanya Raka yang menghentikan langkah Zara keluar dari ruangannya. "Ohh.. iya Pak.. alhamdulillah sudah baikan."  "Alhamdulillah." Zara kembali membuka pintu ruangan Raka untuk keluar. "Zara !!!" Panggil Raka lagi. Zara kemudian menutup pintu lagi dan berbalik ke Raka. "Iya Pakk. Ada apa?" "Sepertinya kamu melupakan sesuatu." "Hah? Apa tuh Pak?" "Ehmm.. tidak..  tidak apa - apa.. nanti saja." "Apasih Rakaa.. ehh maaf.." Kata Zara lalu menundukkan kepalanya. "Hahaha nggak papa.. itu yang saya maksud.. kalau kita lagi sama Prilly, Bella, Andika sama Ardya nggak papa panggil nama aja. Atau kita lagi berdua saja seperti ini. Kan sudah saya bilang kemarin." "Takut  salah aku.. sapa tau aja nanti ada yang dengar juga kan nggak enak. Nanti mereka salah paham, kemarin aja kita pulang bareng,  aku udah di gosipin." "Lohh siapa yang ngegosipin kamu?" “Eh nggak kok.. nggak papa juga.. nggak jadi masalah buat aku.” Jawab Zara. “Memangnya mereka ngomong apa?” “Intinya mereka nggak suka sama aku, karena kita pulang bareng kemarin. Terus karena mereka itu pada suka sama kamu. Mereka kayak cemburu gitu.” Jelas Zara sambil bersandar di pintu ruangan Raka. “Hah? Mereka suka sama saya?” Tanya Raka kemudian berdiri dari tempat duduknya. “Jangan bilang kamu nggak tau kalau kebanyakan cewek - cewek di kantor kamu ini suka sama kamu Raka. Parah banget sih, masa kamu nggak tau.” Ujar Zara. “Emang saya nggak tau kok. Makanya saya kaget, kok bisa mereka suka sama saya?” Tanya Raka. “Nah itu dia.. kok mereka bisa suka sama kamu. Kamu nggak jarang ngomong panjang lebar sama orang - orang di kantor, dan pemarah gitu. Jadi mana mungkin kan ada yang suka sama kamu hahaha.” Ujar Zara menggoda Raka. Raka terdiam mendengar ucapan Zara. “Ehh maaf yah kalau ucapanku barusan menyinggung perasaan kamu.” Ujar Zara terus melihat Raka. “Nggak kok.. buka begitu.. saya teringat aja sama Rivka adik saya. Dia dulu suka ngejodoh - jodohin saya sama teman - temannya kalau datang ke rumah main.” Ujar Raka berjalan ke arah jendela yang sangat besar di pinggir ruangannya. “Hmm.. maaf yahh. Aku nggak bermaksud untuk mengingatkanmu lagi kok.” Kata Zara lalu berjalan pelan mendekati Raka. “Nggak apa - apa kok.. bukan kamu juga yang mengingatkannya.” Ujar Raka. “Hmm kamu dekat banget yah sama adik kamu?” Tanya Zara. “Iyaa.. saya dulu dari kecil bareng dia terus, dia suka banget minta di temani kemana pun. Ke rumah temannya, ke tempat les, pokoknya dia selalu mau kalau saya sebagai kakaknya selalu ada di sampingnya. Kata dia sih biar keren, ada yang jagain.” Kata Raka. “Kamu sayang banget pasti sama Rivka. Aku juga pernah dengar dari mama kamu, kalau kalian memang selalu berdua. Dan juga kamu sebagai kakaknya Rivka selalu mengalah sama Rivka.” Kata Zara. “Sepertinya mama saya bercerita banyak yah soal saya dan Rivka. Atau pun soal sayang dan eyang. Padahal dulu dia jarang berada di rumah. Paling mama saya dan juga papa saya ada di rumah saat malam hari. Itu pun kalau kami sempat bertemu. Mereka suka pulang di saat sayandan Rivka sidah tertidur.” Kata Raka. “Aku tau kok. Makanya sampai sekarang mama kamu merasa sangat bersalah sama kamu. Mama kamu dulu berhenti bekerja agar bisa menemani kamu di saat Rivka dan Eyang kamu meninggal.” Ujar Zara. Raka kembali terdiam dan menghela nafas yang panjang. Raka tidak membalas ucapan Zara. “Maaf kalau aku lancang lagi kali ini sampai membuatmu membahas hal pribadi di kantor.” Ujar Zara berbalik ingin keluar dari ruangan Raka. “Nggak apa - apa kok. Saya duluan yang membahasnya. Ini bukan salah kamu, terima kasih juga kamu pernah peduli dengan sikap saya.” Ujar Raka. Langkah Zara terhenti dan kembali kesamping Raka. “Semoga kamu kamu bisa lebih memahami keadaan lagi Raka. Dan kamu bisa memaafkan kedua orang tua kamu.” Ujar Zara lalu melemparkan senyumannya untuk Raka. “Yaahh.. terima kasih Zara. Maaf kalau dulu saya sempat sekasar itu sama kamu. Saya hanya masih anak - anak yang baru merasakan kesepian di tinggalkan oleh orang - orang yang saya cintai.” Kata  Raka sambil memasukkan satu tangannya ke kantong celananya. “Nggak apa - apa kok. Dulu saya juga sangat lancang, dan saya bisa mengerti keadaan kamu. Dan juga nggak semuanya orang punya hati yang sama. Ada orang yang perlu banyak waktu untuk bisa terbiasa dengan keadaan baru mereka. Keadaan yang baru saja di tinggalkan orang - orang yang di sayangi.” Ujar Zara. “Hmmm.” “Kalau begitu aku permisi yah Raka. Kalau butuh sesuatu panggil aja.” Kata Zara kembali berjalan keluar dari ruangan Raka dengan menahan teriakan di batinnya. Zara sangat senang sekali bisa ngobrol banyak dengan Raka. =====
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN