Alia memikirkan kalau saja Raka sampai marah dan tau kalau Zara di tahan olehnya di Loby, Alia juga takut. Jadi Alia memutuskan untuk mengajak Zara bertemu kembali saat pulang kantor.
“Hmm iya deh.. bagaimana kalau pulang kantor saja Mba Zara, saya ajak Mba Zara makan malam aja, biar sekalian kita ngobrol - ngobrol. Kan Mba Zara juga belum jawab pertanyaan saya.” Ucap Alia lagi. Tapi Zara menolak ajakan Alia.
"Maaf Mba Alia saya nggak bisa, saya harus segera pulang, besok saya ada meeting di Bali sama Pak Raka. Jadi saya harus menyiapkan segala keperluan meeting dan belum lagi saya packing. Saya harus mempersiapkan semuanya tanpa ada kurang satupun, karena ini meeting pertama saya Mba, maaf yah Mba, saya permisi dulu.” Kata Zara berjalan perlahan meninggalkan Alia.
Alia menarik tangan Zara, karena Alia sudah mulai kesal dengan sikap Zara.
"Mba Zara kenapa sih? Jangan mentang - mentang Mba Zara sekertarisnya Pak Raka, mba Zara jadi belagu kayak gini.” Seru Alia.
“Loh kok Mba Alia jadi marah sih sama aku? Aku belagu bagaimana mba? Saya ini hanya bersikap yang sewajarnya.” Jawab Zara.
“Mba Zara juga pasti sengaja kan tadi memotong pembicaraan saya sama Mamanya Pak Raka? Mba Zara nggak mau kan kalau saya dekat sama Mamanya Pak Raka? Apa jangan - jangan Mba Zara suka yah sama Pak Raka? Sampai - sampai mba Zara nggak mau saya bicara lama - lama sama mamanya Pak Raka?” Seru Alia.
Semua orang yang ada di Loby perhatiannya langsung tertuju ke Zara dan juga Alia.
“ALIAAA !!! ALIA APA YANG SEDANG KAMU BICARAKAN ?? KENAPA KAMU BERBICARA SEPERTI ITU ??” Teriak Raka.
Raka tiba - tiba sudah berada di Loby dan mendengar semua ucapan Alia.
Alia sangat kaget dan tidak bisa menjawab pertanyaan Raka.
“Saya dari tadi menunggu Zara, dan ternyata kamu yang menahannya di sini? Mencecar Zara dengan pernyataan - pernyataan bodohmu itu.” Ujar Raka yang mulai berjalan mendekati Zara dan juga Alia.
“Maaf Pak Raka.. saya nggak bermaksud untuk menahan Mba Zara di sini.” Ucap Alia. Jantungnya sangat deg - degan takut melihat Raka menatapnya dengan penuh amarah.
“Zara sekarang kamu naik, ada berkas yang harus kamu selesaikan. Saya menyimpannya di atas meja kamu.” Ucap Raka ke Zara.
“Baik Pak, saya permisi dulu.” Zara berjalan menuju pintu Lift.
“Dan kamu Alia, ikut saya ke ruangan HRD. Sekarang juga.” Tegas Raka.
Raka membuka pintu ruangan HRD, terlihat Prilly yang memakai kacamatanya sedang sibuk bekerja.
“Maksud kamu apa berbicara seperti itu sama Zara?” Tanya Raka kepada Alia.
“Loh Pak Raka? Alia? Ada apa pak? Apa yang terjadi?” Tanya Prilly. Prilly berdiri dari kursinya saat mendengar ucapan Raka. Prilly tidak sadar kalau Raka dan juga Alia sudah berada di ruangannya.
“Prilly kamu duduk saja di situ dan dengar apa yang akan Alia jawab.” Ucap Raka.
Prilly benar - benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Prilly membuka ponselnya, membuka grup obrolan dengan Zara, Andika, Ardya dan juga Bella.
Prilly : “Guyysss.”
Prilly : “Guyyss.”
Prilly : “Halooo.”
Prilly : “Zar ini ada apaan dah Mba Alia sama Raka?”
Andika : “Kenapa Prill? Ada apa?”
Ardya : “Kata Zara ntar dia cerita sama kita semua, dia lagi sibuk ada yang harus dia selesaikan.”
Alia sangat takut menatap mata Raka.
“Maaf Pak.. saya nggak bermaksud untuk berbicara seperti itu sama Mba Zara, saya hanya….”
“Kamu nggak bermaksud? Terus apa lagi kalau kamu nggak bermaksud seperti itu? Memangnya kamu siapanya saya hah?” Tanya Raka yang sudah bertolak pinggang.
Prilly hanya bisa tunduk, ia sangat taku menjawab pertanyaan yang di lontarkan Raka.
“Kamu mempermalukan saya di depan orang banyak. Dan membawa - bawa mama saya, kamu fikir saya mau sama kamu?” ujar Raka lagi.
“PRILLY !!!” Teriak Raka.
“Hah? Iya Pak? Kenapa?” Tanya Prilly sambil meletakkan ponselnya.
“Besok kamu pasang iklan lowongan untuk mencari customer service. Saya tidak ingin melihat dia ada di kantor saya lagi.” Kata Raka.
“Pak Raka.. Pak tolong jangan pecat saya, saya benar - benar minta maaf Pak. Saya berjanji saya tidak akan mengulangi lagi kesalahan saya.” Ucap Alia.
“PRILLYYY !!! Kamu dengarkan apa yang saya bilang? Segera selesaikan urusan dengan orang ini, dan selesaikan segala macam administrasinya.”
“I ii iya baik Pak. Ehmm Maaf Pak, apa boleh saya tau apa kesalahannya?” Tanya Prilly terbata - bata.
“Kamu lakukan saja apa yang saya bilang, saya tidak suka ada karyawan yang seperti ini. Membuang - buang waktu kerjanya hanya untuk mengobrol hal yang tidak penting, yang membuat saya malu.” Ucap Raka.
“Pak Raka.. saya mohon Pak, saya mohon. Saya nggak akan mengulangi kesalahan saya Pak, tolong jangan pecat saya.” Kata Alia. Air mata Alia sudah membasahi wajahnya. Tangannya mulai kedinginan.
Beberapa karyawan mendekat di pintu ruangan HRD untuk mendengar Raka.
“Pak Raka apa kesalahan Mba Alia fatal? Bisa kita beri toleransi dulu?” Tanya Zara.
“Apa yang baru saja kamu bilang? Kamu juga mau saya pecat? Kalau saya bilang A tetap A, kamu jangan mengatur - ngatur saya.” Seru Raka.
Prilly tidak berani berkata apa - apa lagi. Prilly memberitahukan di grupnya kalau Raka akan memecat Alia hari ini juga.
Zara sama sekali tidak membuka ponselnya karena sibuk dengan pekerjaan yang baru saja di berikan oleh Raka. Tapi Ardya yang berada di sampingnya terus memantau situasi dari pesan - pesan Prilly.
“Zar Zara ini apa yang terjadi sih? Katanya Alia mau di pecat hari ini juga sama Raka.” Seru Ardya.
“Hah? Beneran? Siapa yang bilang?” Tanya Zara.
“Beneran.. ini Prilly yang ngomong, katanya Prilly juga sampai di marahin karena minta toleransi supaya Alia nggak di pecat.” Jawab Ardya.
“Aduhhh.. Raka kok sampai seperti itu sih. Nggak bisa di biarin ini. Gue harus turun.” Seru Zara sambil memakai heellsnya.
“Eeh ehh mau kemana? Kerjaan Lo gimana?” Tanya Ardya.
“Udahh - udah.. tolong Lo close aja yah, gue harus turun. Kasihan Alia jangan sampai dia di pecat hanya karena hal sepele.” Ucap Zara.
“Sumpah gue penasaran banget.” Seru Ardya.
“Ntar yah Ardya.. gue turun dulu.”
“Iyaa hati - hati, Lo make hells lagi tuh.” Ucap Ardya.
Zara berlari ke pintu lift dan segera turun ke ruangan Prilly.
“Pak Raka saya mohon Pak Raka.. maaf kalau saya membuat Pak Raka malu, maaf kalau ucapan saya menyinggung bapak dan juga Mamanya Pak Raka. Maafkan saya, saya memang lancang Pak. Saya mohon jangan pecat saya.” Ucap Alia.
Zara mendengar ucapan Alia dari balik pintu.
“PAK RAKA !!!” Teriak Zara yang langsung membuka pintu dengan Nafas yang ngos - ngosan.
====