Chapter 109

2719 Kata
Raka sangat lega mendengarkan kata - kata sayang yang di ucapkan Zara. "Terima kasih sudah hadir di hidup aku Zara." Sambung Raka. Zara membalas pelukan Raka. "Terima kasih juga karena sudah mengizinkan aku untuk masuk di dalam hidup kamu." Kata Zara. "Kita kembali yuk.. nggak enak sama yang lain. Kita udah kelamaan di sini." Ucap Zara. "Ohh iyyaa.. ayo." Kata Raka lalu memegang tangan Zara. Raka dan Zara pun kembali ke meja mereka. "Kalian berdua dari mana sih?" Tanya Prilly. "Dari lihat - lihat view yang ada di restoran ini." Jawab Zara. "Ya ampun.. nggak ngajak - ngajak lagi." Kata Prilly. "Hahah.. kita cuma keliling - keliling di sekitar sini kok, lagian kan Lo juga udah pernah datang ke restoran ini." Ucap Zara. "Ahh iya juga sih. Hahah." Kata Prilly. "Jadi gimana nih yang baru jadian ? Gimana rencana ke depannya?" Tanya Zara. "Lahh orang baru jadian juga.. Lo tuh yang sama Raka gimana rencana ke depannya." Tanya Bella kembali. "Kalau gue sih mau nikah. Gue mau nikah sama Zara." Ujar Raka dengan santainya. "Hah?" Zara kaget mendengar ucapan Raka. "Kamu kenapa ? Kamu nggak mau ?" Tanya Raka. "Ahh.. mau kok. Ehh apa sih hahahah. Jangan ngebahas ginian deh kalau banyak orang kayak gini. Aku malu." Kata Zara. "Kenapa Lo malu Zara ? Harusnya Lo senenh karena Raka bilang seperti itu di hadapan kita semua, biar kalau Raka hanya modal ucapan saja , Lo ada saksi. Saksinya banyak lagi." Kata Andika. "Nahh bener tuh Zara. Raka ngomong kayak gitu di depan kakak Lo lagi, apa sebelumnya dia udah minta restu?" Tanya Ardya. "Lahh kenapa ngomongnya jadi kemana - kemana deh.. udah ah, jangan ngomongin gue lagi sama Raka dong.. gue jadi nggak enak kalau kalian bahas - bahas ginian, nanti di kira gue yang mau banget nikah. Kasihan kan Raka jadi terbebani gitu.” ucap Zara. “Raka nggak akan merasa terbebani kalau emang dia serius sama kamu Zara.” Ucap Andika. “Aduhh udah yahh nggak ada serius - serius lagi.. aku juga belum mau membahas hal seperti ini, apalagi di depan kalian. Aku bukannya nggak seneng tapi aku juga mau membicarakannya dulu berdua sama kamu Raka, bukan kayak gini.” Kata Zara. “Lohh kok jadi marah sih Zara? Kan nggak apa - apa.. kalau kamu nggak mau bahas ya udah kita nggak bahas, nggak usah marah kayak gitu dong.” Ucap Julian. “Ahahah.. aku nggak marah kok.. maaf yahh semuanya kalau nada bicara gue jadi nggak nyantai kayak tadi.” Ucap Zara. “Zaraa Zaraa.. untung Lo adik gue, kalau nggak udah gue jitak Lo dari tadi.” Kata Julin “Hahah iyaa - iyaa nggak apa - apa kok Zara.. kita semua mengerti kok.” Ucap Bella. “Ehh .. gimana kalau kita main game?” Tanya Prilly. “Main game apaan?” Tanya Bella lagi. “Hoi hoi.. kalian nggak liat ini jam berapa? Ini udah malem lain kali aja main gamenya.” Kaya Andika sambil melihat jam tangan yang ia kenakan. “Wahh.. iyaa bener.. udah hampir jam setengah sepuluh nih. Kita pulang sekarang aja gimana? Udah pada selesai kan makannya?” Tanya Raka. “Iyaa kalau gitu kita pulang aja, udah selesai kok.” Kata Prilly. “Iyaa udah selesai kok.” Kata Bella juga. “Kalau gitu gue ke kasir dulu yah.” Kata Raka. “Ehh mau kemana Bro Raka? Tunggu di sini aja biar gue yang bawakan Billnya.” Kata Andre yang sudah datang kembali. “Oh boleh dehh.. gue tunggu di sini yahh.” Kata Raka lalu duduk kembali di kursinya. “Okeeyy .. ehh ini undangan gue yahh kak Julian.. Zara.. lihat - lihat aja dulu, saya tinggal ambil bill dulu.” Kata Andre sambil memberikan beberapa undangan ke Zara dan juga Julian. Julian dan Zara bersamaan membuka undangan yang di berikan Andre. “ wahh tempatnya outdoor nihh.. Di Pantai Tanjung Layar. Pasti keren banget nih. Kalian mau pergi nggak?” Tanya Zara sambil melihat ke Bella, Prilly, Ardya kemudian ke Andika. “ Emang nggak apa - apa yahh? Kita kan baru kenal sama Andre? Nggak apa - apa kalau datang ke acara pernikahannya?” Tanya Prilly. “Lahh kenapa emangnya? Kan Andre udah ngomong langsung sama kalian tadi? Kalau kalian juga dia undang. Ayolah pergi aja yuk, acaranya juga weekend kok. Bisa bersantai juga di sana.” Ucap Zara. “ iya pergi bareng aku yahh? Masa aku pergi ke acara nikahan sendirian tanpa pasangan sih. Mau yah Bella?” Tanya Julian. “Ahh iyaa.. aku mau pergi kok.” Jawab Bella. “Kamu Raka? Kamu mau pergi juga kan?” Tanya Zara. “ iyaa boleh kok.. aku mau pergi.” Jawab Raka. “ Tuhh.. Raka sama Bella mau pergi juga kok. Kalian juga pergi yah?” Ajak Zara ke Prilly dan Ardya. “Iyaa dehh.. bolehh.. sekalian jalan - jalan juga.” Kata Prilly. “Baiklah kalau tuan putriku ini mau pergi yah sudah pasti pengerannya juga harus ikutlah. Iya kan sayang?” Kata Ardya. “Oeeeeeekkk.. mulai lagi deh Lo.” Seru Bella. “Yaahhh kayaknya gue nggak usah pergi deh yahh, kan gue nggak ada pasangannya.” Kata Andika yang masih duduk santai di kursinya. “Yaelahh.. kan nggak harus bawa pasangan juga kali Andika.. pergi aja yuk.. biar makin ramai.” Kata Zara. “Pengen banget nih gue pergi?” Tanya Andika. “Hahahah.. apaan sih Lo.. iya dongg.. kita semua kan temen, jadi yah harus pergi bareng lah.” Kata Zara. “Baiklah kalau begitu, gue juga pergi.” Kata Andika. “Idihh hahaha.. apaan sih.” Seru Zara sambil menepuk pundak Andika dan tertawa bersama - sama. Raka lagi - lagi masih merasa tidak nyaman dengan kedetakan Zara dan Andika meskipun sudah di jelaskan dengan Zara bahwa dirinya dan Andika tidak ada hubungan apa - apa. Kegelisahan yang di rasakan Raka juga terlihat di mata Prilly, Prilly yang lulusan psikologi bisa melihat Raka yang sedang gelisah saat melihat Andika dan Zara. Jadi Prilly memutuskan untuk menghubungi Raka saat tiba di rumah nanti. “Ehhmm… ini Billnya bro.” Kata Andre sambil membawakan Bill meja yang akan di bayar oleh Raka. “Ehh.. Raka sini biar gue aja yang bayar.” Kata Julian. “Lohh kenapa jadi kak Julian yang mau bayar, jangan kak, kan saya yang manggi kakak ke sini. Dan saya juga emang mau merayakan surprise yang tadi untuk Zara , makanya saya aja mereka semua ke sini.” Kata Raka. “Surprise apaan?” Tanya Julian. “Adduuuuhh udah deh kak, nanti aja tanyanya Si Andre menunggu tuh.” seru Zara. “Ohh hahah.. iyaa sorry - sorry. Ya udah kalau gitu, thanks yah Raka.” Kata Julian lalu memasukkan kembali dompetnya. “Haha.. iyaa sama - sama kak Julian.” Raka kemudian mengeluarkan dompetnya, dan mengambil satu kartu yang di pakai untuk membayar. “Totalnya empat juta lima ratus dua puluh lima ribu yah.. silahkan pinnya.” Ucap Andre yang membawakan mesin untuk menggesek kartu Raka. “Hah? Banyak banget? Ya Ampun.. Raka kita bayar masing - masing aja dehh.” Kata Zara. “Iyaa Raka.. aduhh nggak nyangka kalau totalnya banyak banget.” Kata Prilly. “Iyaa Raka.. biar gue sama Prilly bayar sendiri aja yahh, nggak enak gue.” Kata Ardya. “Hussshh .. kalian ganggu konsentrasi aku nih.” Ucap Raka sambil menekan pinnya di mesin itu. “Okee.. terima kasih yahh. Silahkan datang kembali.” Kata Andre sambil memberikan kertas bill yang keluar dari mesin kasir. “Sama - sama.” Kata Raka. “Ya ampun Rakaaa.. makasih banyak Raka.. semoga rejekinya makin lancar lagi.” Kata Bella. “Aamiin aamiin..” kata Zara, Julian, Bella, Ardya, Prilly dan Andika bersamaan. “Aamiin.. terima kasih juga untuk kalian yang sidah hadir di hidupku.” Kata Raka lalu megecilkan suaranya. “Apa Raka?” Tanya Zara yang berada di sampingnya. “Ahh? Nggak.. aku bilang aamiin juga.” Kata Raka. “Ohh.. ya udah yukk pulang.” Kata Zara lalu mengambil tasnya yang berads di belakangnya. Satu persatu dari mereka berdiri dari kursinya. “Ehh tunggu.. kalian datangkan di acara pernikaha gue?” Tanya Andre lagi. “Kita usahain yah Andre, tapi kami mau kok datangnya.. semoga nggak ada halangan aja.” Kata Zara. “Ahh iyaa.. okee dehh.. gue tunggu yahh.” Kata Andre lalu mengangkat tangannya untuk tos dengan Zara . “Gue tunggu yah Kak Julian.” Kata Andre lagi. “ yoi Broo.. sampai jumpa lagi yahh. See youu.” Kata Julian lalu berjalan keluar sambil menggandeng tangan Bella. “Balik dulu yah Broo.” Kata Raka juga. “Byee Andre.” Kata mereka bergantian. “Senang bertemu dengan kalian guyss.” Seru Andre. Raka, Zara, Julian, Bella, Prilly, Ardya dan Andika berjalan ke keluar menuju parkiran. “Rakaa.. thanks yahh makanannya.” Kata Andika. “Iyaa makasih yahh Raka.. senang banget deh bisa di traktir makan makanan yang enak.” Kata Prilly. “Makasih Rakaaa.” Kata Bella. “Thank juga yah Raka,, karena gue juga udah di ajak.” Kata Julian. “Iyaa sama - sama semuanya. Jangan bosan - bosan kalau saya ajak kalian lagi untuk makan bersama. Karena saya sudah merasa sangat dekat dengan kalian, kalian sudah mau bersabar menghadapi saya selama ini.” Kata Raka. “Duuh.. jadi terharuuu.. kita juga senang kok, Lo udah mau membuka diri begini. Kita bahkan nggak nyangka kalau sekarang kita bisa makan bersama seperti ini.” Kata Prilly. “Iyaa bener banget tuhh.” Kata Bella. “Akhirnya gue nggak di repotkan lagi sama Raka.. terima kasih ya Allah. Hahahah.” Seru Andika. “Hahah bercanda yah gue.” Sambung Andika kembali. “Ehheemm.. kayaknya pembahasan kalian nggak habis - habis deh yahh.. ini udah hampir jam sepuluh malam lagi, lebih baik kita pulang sekarang yahh.. aku juga nggak enak kalau harus mengantar kamu terlalu larut malam.” Kata Julian. “Ahh iyaa yahh.. ya udah hati - hati yahh semuanya.. see you tommorow.” Kata Prilly lalu berjalan menuju mobil Ardya. “Duluan yah guyss.” Seru Ardya yang menggandeng Prilly. “Zara Lo mau ikut sama gue atau gimana?” Tanya Julian. “Gue sama Raka aja lah, biar langsung pulang kan, Lo kan mau anterin Bella dulu.” Jawab Zara. “Okeyy dehh.. langsung pulang yahh, ini udah jam berapa.” Kata Julian mewanti - wanti Zara agar tidak pergi ke mana - mana lagi. “Iyaa - iyaaa.. jangan posesifin gue lagi deh, Lo kan udah punya cewek. Tapi jangan di posesifin juga ceweknya , nanti kabur Lo.” Kata Zara sambil melirik Bella. “Hahahah.. bisa aja Lo Zara.. kalau kak Julian posesifin gue, gue juga jadi nggak tenang sih. Tapi selama itu nggak berlebihan yahh nggak apa - apa.” Kata Bella. “Ya udah pulang sekarang yuk Zara.. kak Julian sama Bella hati - hati yahh.. Andika Lo juga hati - hati.” Kata Raka lalu menekan kunci mobilnya. “Okeeyy duluan yahh.. Kak Julian, Bella.. hati - hati di jalan.” Kata Andika juga. Akhirnya setelah beberapa menit berbincang - bincang di parkiran, semuanya pun memasuki mobilnya dan pulang. Di perjalanan Raka terlihat diam lagi, karena memikirkan kembali kedekatan Zara dan Andika. Tapi Zara sangat tidak menyadari kalau Raka sedang merenungkan itu. “Raka.. makasih yahh kamu udah ajak kita semua ke restoran tadi.” Kata Zara. Tapi Raka tidak mendengar ucapan Zara. “Raka?” Ujar Zara lagi. “Raka heii?? Kok nggak dengerin aku sih?” Kata Zara lagi sambil menegang tangan Raka. “Ehh.. ya ampun maaf kamu bilang apa tadi?” Tanya Raka. “Aku bilang.. makasih karena kamu udah membawa kami ke restoran yang tadi, khususnya aku sih, yang baru pertama kali ke sana .” Kata Zara. “Ohh.. iyaa sama - sama Zara .” Ucap Raka. “Nanti aku bawa kamu ke restoran atau cafe yang lebih bagus lagi.” Kata Raka. “Kamu kenapa lagi Raka? Apa ada yang mengganjal lagi di fikiran kamu? Kamu cerita sama aku, jangan bengong kayak gitu.” Kata Zara. “Ehh nggak kok Zaraa.. nggak apa - apa.. ohh ini aku cuma keinget aja sama Rivka.. dulu dia juga suka banget makan di restoran tadi. Kalau kita lagi makan di sana, dia selalu fokus sama spot - spot yang ada di restoran . Dan kalau udah nemu spot foto yang keren pasti dia tinggal duduk di spot foto itu terus minta di fotoin .” Kata Raka. “Ohh maaf yahh Raka.. aku nggak tau kalau itu yang sedang kamu fikirkan.. maafin aku yahh Raka.” Kata Zara. “Ehh kok malah minta maaf sih.. nggak apa - apa Zara.. Kan aku juga yang kepikiran sama Rivka bukan karena kamu yang ingatkan .” Kata Raka. “Ehmm.. iyaa Rakaa.. hmm.. kamu semangat yahh, ingat ada aku di samping kamu, yang selalu ada untuk kamu, aku akan berusaha untuk selalu ada untuk kamu.” Kata Zara sambil memegang tangan Raka. “Makasih Zara.. aku juga akan selalu ada di samping kamu, aku nggak akan ngelepasin orang sebaik dan sesabar kamu, aku benar - benar sayang sama kamu Zara.” Kata Raka yang juga menggenggam tangan Zara. “I love you to so muchh mucchh mucchhh Rakaaa.”ujar Zara lalu menyenderkan kepalanya di pundak Raka yang sedang menyetir dan karena tahu sudah hamlir sampai di depan rumahnya. Raka mengelus lembut rambut Zara. “Tuhh udah sampai.” Kata Raka sambilmenunjuk rumah Zara. “Cepet banget sihh.” Zara masih menyenderkan kepalany di pundak Raka. “Hahaha.. kan besok ketemu lagi, udah malam juga. Kamu masuk gih. Dingin.” Ujar Raka. “Hmm iya dehh. Ehh by the way kamu nginep di rumah atau di apartemen kamu?” Tanya Zara. “Ehmm.. kayaknya di apartemen deh.” Jawab Raka. “Kenapa? Ini kan udah larut malam. Kamu masuk aja istirahat di dalam.” Kata Zara. “Ada yang harus aku kerjakan dulu Zara sayang.. berkas - berkasnya ada di apartemen.” Kata Raka. “Apa nggak bisa besok aja di kerjainnya? Emangnya apa sampai harus di kerjakan sekarang?” Tanya Zara. “Perkerjaan yang bersama Pak Handoko, kita sudah harus mengerjakannya, dan pak Handoko juga udah minta laporan yang dari kantor kita.” Jawab Raka. “Hah? Kok kamu nggak bilang sama aku? Kan aku bisa bantuin kamu.” Tanya Zara. “Aku juga baru dapat pesannya pak Handoko, tapi nggak apa - apa kok, aku bisa kerjain sendiri dulu. Nanti kalau aku butuh bantuan baru aku kasih tau kamu yah. Tenang aja , aku udah biasa begadang buat kerja kok. Kan besok di kantor udah ada yang bantuin jadi nggak masalah.” Kata Raka. “Bener nih nggak apa - apa? Duhh aku kan sekertaris kamu, harusnya aku yang ngerjain.” Kata Zara . “Iyaaa.. tapi ini memang bukan tugas kamu dulu. Aku harus lebih dulu memeriksanya di banding kamu, jadi nggak usah merasa bersalah okeyy?” Kata Raka. “Bener yahh? Kamu nggak boleh nggak enak sama aku karena aku pacar kamu, kita harus profesional, jangan di sangkutpautkan dengan kehidupan pribadi.” Kata Zara yang mulai bangun dari senderannya. “Iyaa - iyaa.. ya udah masuk gihh.. nanti kak Julian sampai duluan, terus ngeliat kita masih di depan sini, nanti dia kira kita dari mana - mana tadi . Nggak langsung pulang, kamu masuk yahh.” Kata Raka. “Hmm.. iyaa.. kamu hati - hati yahh, kabarin aku kalau kamu sudah sampai, aku nunggu kamu sampai baru aku istirahat.” Kata Zara. “Iyaa.. nggak nyampe sepuluh menit aku udah sampai di apartemen kok, kan nggak jauh juga dari sini.” Kata Raka. “Okeeyy.. hati - hati yahh Raka.. sayangg.” Kata Zara lalu melayangkan satu ciuman ke pipi Raka dan langsung keluar dengan malu - malu. Raka sampai memegangi pipinya yang sudah di berikan tanda sayang oleh Zara. “Ada - ada aja sih Zaraa .” Kata Raka sambil senyum - senyum merona lalu pergi dari depan rumah Zara. Dan benar tidak sampai sepuluh menit Raka sudah sampai di apartemennya. Raka membuka pintu apartemennya dan otomatis semua lampu yang ada di apartemennya langsung menyala. Apartemen yang begitu mewah dan begitu luas hanya di tinggali oleh Raka seorang. Raka masuk ke kamarnya lalu membaringkan dirinya di tempat tidurnya, kemudian mengeluarkan ponselnya dari kantong celananya dan menghubungi Zara yang sudah menunggunya pulang. ====
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN