Chapter 108

2354 Kata
“Kenapa nggak jadi photografer aja mas, ini keren banget loh mas hasil fotonya.” Kata Bella yang juga ikut melihat hasil foto pelayan terserbut. “Ehh tunggu dehh.. tapi kayaknya gue pernah ngeliat Lo deh.” Seru Julian. “Ah? Siapa? Hah? Kak Julian yahh? Ya ampun apa kabar?” Tanya pelayan tersebut. Yang ternyata adalah adik kelas Julian saat sekolah dulu. “Ehh Lo Andre kan? Adik kelas gue dulu yang suka sama adik gue? Yang selalu nitip coklat ke gue buat di kasih ke Zara?” Tanya Julian. “Hahah.. iya Kak Julian. Waduhh nggak nyangka bisa ketemu di sini. Ehh tapi tunggu.. Zara gimana kabarnya kak? Pasti udah punya pacarnya dia sekarang?” Tanya Andre. “Tuhh Zara.. Lo nggak liat Zara juga ada di sini? Hahah.” Kata Julian sambil menunjuk Zara. “Hah? Zara? Ahh hahah Zara?? Oh my god , gue jadi malu omongin Lo lagi. Hahah.” Seru Andre berbalik melihat Zara. “Hahaha hai Andre.. ya ampun nggak nyangka kita bakal ketemu lagi.” Kata Zara. “Kamu nggak berubah yah Zara. Tetap cantik, eh tapi sekarang malah lebih cantik.” Ujar Andre. “Ehhheemm.. kenalin gue Raka pacarnya Zara.” Ucap Raka sambil menjulurkan tangannya dan memberi salam ke Andre. Sontak semua yang ada di meja itu langsung tertawa akan sikap yang di tunjukkan Raka, yang seolah - olah sangat takut kalau Zara akan di rebut dari pelukannya. “santai aja kali Raka.. Andre nggak akan merebut Zara dari pelukan Lo kok. Hahah.” seru Prilly. “Hehe nggak kok, gue cuma mau kenalan juga sama Andre.” Kata Raka. “Hahah.. iyaa tenang aja.. salam kenal yan Raka, gue Andre yang dulu sangat menyukai Zara. ‘Tenang aaja Raka.. Andre udah punya tunangan kan? Apa sekarang Lo udah nikah Andre?” Tanya Julian. “Kok kak Julian tau sih?” Tanya Andre kembali. “Itu cincin yang di tangan kamu ada namanya soalnya.” Jawab Julian sambil menujuk cincin yang berada di jari manis Andre. “Haha iya yah.. iya nih kak, gue udah tunangan, tinggal nunggu beberapa minggu lagi baru acara pernikahan gue kak Julian.” Kata Andre. “Wahh selamat Andre.” Seru Zara. “Makasih Zara.. kalau gue undang kalian, kalian mau datang nggak?” Tanya Andre. Beberapa menit kemudian pesanan makanan mereka sudah datang dan di antarkan oleh pelayan yang tadi. “Selamat menikmati semuanya.” Kata pelayan tersebut sambil menyajikan semja pesanan yang di pesan Raka, Zara, Julian, Bella, Ardya, Prilly dan juga Andika. “Andre kok tinggal sih di sini? Sapa tau ada yang mau di foto lagi kan?” Tanya Pelayan yang membawa makanan. “Ahh.. iyaa .. ini gue ketemu sama temen lama gue, mau sekalian gue undang ke nikahan gue. Kalian mau datang kan kalau gue undang? ” tanya Andre lagi. “Ohh kaau gitu saya permisi yahh Mas - mas dan mba - mba.. silahkan di nikmati makanannya.” Kata pelayan yang membawa makanan. “Boleh kok.. siapa tau aja ketemu teman lama kan di acara Lo.” Kata Julian. “Kalau Zara Lo mau datang juga kan? Datang deh sama calon suami Lo ini.” Tanya Andre sambil menunjuk Raka. “Andre hahah.. kita tuh baru pacaran. Jangan kayak gitu ding, gue jadi nggak enak tau.” Ujar Zara berbisik ke Andre yang tepat berdiri di sampingnya. “Hahah.. iyaa sorry - sorry.. jadi gimana Lo mau datang kan? Kalau yang lain mau datang juga nggak apa - apa kok, makin banyak makin ramai.” Kata Andre. “Okeeyy dehh.. Lo kirim aja alamat acara Lo di mana, nanti kita akan usahain buat datang.” Kata Julian. “Eeiittsss tenang.. gue ada undangannya kok. Tunggu di sini yahh.” Kata Andre. “Hahah.. iyaa kita mau makan dulu deh.” Kata Julian. “Ah iyaa kak Julian.. maaf yahh.. gue jadi kebanyakan ngomong. Silahkan di nikmati makanannya. Ntar gue kembali lagi.” Kata Andre lalu berjalan meninggalkan meja Raka. “Ganteng juga yah dia, mana tinggi juga, stylenya juga oke. Keren deh.” Kata Prilly. “Sayaaangg ???” Seru Ardya. “Hahaha.. apa sih sayang ? Aku tuh cuma ngeluarin pendapat aku aja. Nggak ada maksud apa - apa kok. Hahah jangan cemberut gitu dong. Tetep kamu kok yang paling keren di hati aku.” Ujar Prilly. “Ooooeeekkkkk !!!! jijik banget .” Seru Andika. “Hahahah sirik aja Lo.” Ucap Prilly. “Ehh tapi gue setuju ji sih sama Prilly emang dia ganteng kok, anaknya juga sopan. Terus tadi kata kak Julian , cowok itu suka sama Zara dulu?” Tanya Bella. “Iyaaa.. jadi dulu tuh Andre adik kelas aku dulu dan emang lumayan akrab sih sama aku, karena satu ekskul basket dulu. terus waktu itu dia ngeliat aku boncengin Zara, dan nggak tau dari mana dia tau, kalau Zara itu adik aku, jadi dia minta tolong ke aku buat salamin ke Zara, tapi Zaranya waktu itu nggak mau. Tapi si Andre tetap tidak mau menyerah, tiap hari tuh dia nitipin coklat buat Zara, dan coklat yang di kasih ke Zara , nggak pernah Zara makan, ehh bukan nggak pernah sih tapi saking banyaknya, dan Zara nggak mau jadi gendut gara - gara makan coklat tiap hari jadi coklatnya numpuk terus di bagi - bagiin deh ke pembantu di rumah.” Jelas Julian. “Hahah.. lucu banget sih. Tapi kenapa Lo nggak mau Zara? Dia kan ganteng banget gitu.” Tanya Bella. “Iyaa kenapa Lo nggak mau Zara? Kalau gue sihh di perlakukan seperti itu pasti gue udah terima deh jadi pacar gue.” Kata Prilly. “Ituu Lo.. bukan Zara.” Seru Andika. “Ihh hahaha.. kenapa sih Lo Andika, dari tadi kayaknya sensitif melulu.” Kata Ardya. “Hahah.. nggak kok biasa aja.” Balas Andika. Raka juga sangat penasaran dengan jawaban Zara. “Kenapa kamu nggak mau sama Andre Zara?” Tanya Raka. “Tuuhh Raka juga nanyain Lo tuh.” Kata Bellaa. “Hahah.. iya iyaa.. gue nggak mau dulu yah karena dia tuh anak basket, dan dia juga terkenal gitu di sekolah . Gue malas aja, pacaran sama orang yang terkenal gitu di sekolah, males jadi sorotan tau nggak. Lagian gue juga waktu itu belum mau pacar - pacaran gue sibuk belajar.” Jawab Zara. “Wahhh.. Zara emang fikirannya beda yahh.. pasti tuh cewek rata - rata pengen pacaran sama cowok yang terkenal di sekolah. Biar mereka juga ikut terkenal, dan jadi couple goals deh di sekolah.” Ucap Prilly. “Hahah.. iyaa sih. Tapi malasahnya gue juga cukup terkenal di sekolah, gue nggak mau nambah - nambah perhatian waktu itu.” Kata Zara sambil menuangkan minuman bersoda di gelasnya yang sudah kosong. “Hmm.. berarti kamu nggak mau pacaran sama dia bukan karena kamu nggak suka sama dia?” Tanya Raka yang mendengar dengan seksama penjelasan yang di lontarkan Zara. Seketika semua mata langsung tertuju ke Raka, Raka terlihat sangat serius saat memberikan pertanyaan untuk Zara. “Uuuhh kayaknya Raka udah mulai posesif nih.” Kata Ardya. “Ehh nggak.. gue kan cuma penasaran . Apa salah yah gue bertanya?” Tanya Raka. “Emang nih Ardya dari tadi mulutnya kok ngomong sembarangan mulu sih. Suka ngomong yang nggak - nggak dehh.. udah kayak Nabila aja.” Ucap Andika yang masih asyik menikmati hidangan yang nersda di depannya. “Wahahah sialan !!! Gue di sama - samain sama Nabila.” Seru Ardya. “Makanya Lo kalau mau ngomong di fikir dulu , jangan asal nyerocos gitu.” Kata Andika. “Aduuhh apa sih kalian berdua. Mau dengerin alasan gue nggak tadi? Yang di pertanyakan Raka?” Tanya Zara . “Iyaa mau .. mauu.” Kata Prilly dan Bella bersamaan. “Naahh.. aku emang nggak suka sama Andre, nggak tau kenapa nggak suka aja.” Kata Zara lalu menatap Raka. “Oohh.. gitu.. yaudah lanjut dulu tuh makannya. Yang lain udah pada mau habis kamu belum setengahnya habis . kata Raka sambil meihat makanan Zara. Raka, Zara, Julian, Andika, Ardya, Prilly dan juga Bella, kembali menikmati hidangan yang sudah mereka pesan. Makanan yang mereka pesan semuanya adalah menu terbaik di restoran itu. “Gimana? Enak nggak makanannya?” Tanya Raka ke Zara. “Iyaa enak banget.. aku paling suka banget sama pumkin purenya , rasanya Pas nggak manis yang manis banget. Terus ada asin - asinnya juga, enak.” Kata Zara yang masih menikmati makanannya. “Kalau gue sih yang paling enak ini nih dagingnya, enak banget parah. Gue kayaknya baru makan steak yang ini deh. Rasanya tuh enak banget, dagingnya lembur dan bumbu marinasinya meresap sampai ke dalam dagingnya.” Kata Bella. “Iyaa bener banget tuh Bell.. gue juga paling suka sama beef steaknya, dagingnya benar - benar lembut. “ ucap Prilly. “Kalau kak Julian suka yang mana?” Tanya Bella. “Aku sih suka sama.. sama kamu.” Ucap Julian. “Aaaaaaaaaaaaaaa kak Julian sweet banget sih hahaha.” Teriak Prilly. Bella tersipu malu mendengar ucapan Julian. Pipinya langsung berubah merah merona. “Hahahah.. jangan gombal aja Lo kak” seru Zara. “Nggak kok.. aku suka sama kamu Bella. Kamu mau nggak jadi pacar aku?” Tanya Julian lalu mengeluarkan setangkai bunga mawar dari dalam tasnya. “Waahhh kak Julian sepertinya udah mempersiapkan semuanya. Sampai bawa bunga segala.” Ucap Prilly. “Terima terimaa terimaaa terimaa terimaa.” Raka , Zara , Ardya , Andika , dan Prilly berseru agar Bella menerima Julian. “Bella maaf yahh kalau aku terlalu lama menggantung kamu, aku cuma belum percaya diri aja untuk menyatakan perasaan aku sama kamu selama ini. Baru sekarang aku merasa kalau hari ini adalah hari yang tepat untuk menyatakan perasaanku sama kamu. Dan sekarang juga aku rasa lebih tepat waktunya karena banyak saksinya di sini. ” Ucap Julian sambil memegang bunga mawar di tangannya. “Ahh .. nggak kok kak Julian, nggak apa - apa.. kak Julian tidak perlu minta maaf.” Ujar Bella. “Ehmm.. jadi jawaban kamu apa?” Tanya Julian lagi. “Jawaban aku.. hmmm.. maaf kak—“ “Hah? Kenapa Bella? Kamu nggak mau menerima kak Julian jadi pacar kamu?” Tanya Zara memotong ucapan Bella. “Iyaa Bell kenapa?” Tanya Prilly juga. Semuanya jadi tercengang mendengar Bella meminta maaf. “Aduuuhh kalian ini.. gue belum selesai ngomong tau.” Seru Bella. “Hhhuuuffffttttty” semuanya menghela nafas. “Gue minta maaf karena nggak peka juga selama ini kak Julian. Aku juga suka sama kak Julian.” Ucap Bella. “Jadi?” Tanya Julian. “Jadii.. iyaa aku mau jadi pacar kak Julian.” Ucap Bella . “Aaaahhhhhhh akhirnyaaa.. congratssss Kak Julian .. congrattsss Bellaaa.” Seru Zara. “Selamat yah kak Julian .. Bella ..” Ucap Raka. “Romantis banget sih kak Julian.” Ucap Prilly. “Aku juga dulu kayak gitu kan sama kamu? Nembak kamu di depan banyak orang ? Di dalam cafe temen kamu itu.” Kata Ardya. “Ahh iya juga yahh.. kenapa sih cowok - cowok pada romantis banget. Semoga aja hubungan kita baik - baik aja yah semua, jangan pas mau jadi pacar kita aja jadi baik kayak gini. Hahah.” Kata Prilly. Raka yang mengingat kalau cara menyatakan perasaannya sama Zara saat itu adalah suatu hal yang biasa saja. Raka jadi tidak enak dengan Zara. Di tengah - tengah perbincangan, Raka meminta izin untuk keluar sebentar dan berpura - pura menghubungi seseorang agar terlihat lebih natural untuk keluar. Tapi Zara yang sempat melihat layar ponsel Raka, tidak ada siapa - siapa yang yang menghubungi Raka, jadi curiga akan sikap Raka. Jadi saat Raka meminta izin keluar tidak lama Zara juga ikut keluar menyusul Raka. “Huuuffffttt..” Raka menghela nafasnya saat sampai di pinggir kolam renang yang agak jauh dari meja mereka sebelumnya. “Kamu kenapa?” Tanya Zara. Zara mengagetkan Raka. “Ehh.. kok kamu ikut ke sini?” Tanya Raka yang berpura - pura melihat kembali layar ponselnya. “Hmm.. aku tau kamu lagi nggak ngomong sama siapa - siapa di ponsel kamu, aku tadi nggak sengaja liat layar ponsel kamu, kamu kenapa tiba - tiba keluar ke sini?” Tanya Zara mendekati Raka. “Hmm.. aku nggak enak sama kamu Zara.” Jawab Raka singkat. “Hah? Nggak enak? Nggak kenapa Raka?” Tanya Zara lagi. “Waktu aku nyatain perasaan aku sama kamu, aku nggak kayak Ardya ataupun kak Julian, yang menyatakan perasaannya di depan banyak orang. Aku malah sembunyi - sembunyi menyatakan perasaan aku sama kamu waktu itu. Nggak ada romantis - romantisnya sama sekali.” Jawab Raka. “Puuffttt.. hahahahah.. Raka?? Kamu ini kenapa sih ? Hahahah ternyata itu yang dari tadi kamu fikirkan ? Ya ampun Raka .. aku tuh nggak perlu yang seperti itu. Kita ini juga bukan anak sekolah lagi atau anak kuliahan lagi yang harus sepertinitu cara menyatakan perasaannya. Ya ampun kamu ini ada - ada aja deh yahh..” jelas Zara yang berusaha untuk berhenti tertawa. “Tapi kan aku juga mau punya kesan yang romantis untuk kamu, harusnya aku menyiapkan semuanya dulu baru aku menyatakan perasaan aku sama kamu.” Ucap Raka. “Rakaa.. heii.. dengerin aku yahh.. apa kamu lupa apa yang kamu lakukan hari ini? Kamu udah romantis banget buat aku. Dan aku juga nggak perlu sebenarnya yang seperti itu, aku tuh cuma butuh kamu , butuh sikap kamu yang baik, yang ceria yang ramah seperti ini. Bukan Raka yang nggak suka tersenyum dulu. Itu udah lebih dari cukup Raka, aku tau kamu sayang sama aku juga udah cukup. Kamu yahh berhenti deh berfikir yang seperti itu, kita bukan anak kecil lagi tau nggak.” Kata Zara lalu mengambil tangan Raka. “Kamu nggak kecewa sama aku?” Tanya Raka. “Hahah.. makin ke sini kamu makin kelihatan aslinya yahh.. ternyata kamu orangnya memang selalu memikirkan orang lain. Makin sayang deh sama kamu. Aku tuhh nggak pernah kecewa sama kamu Raka.. aku sayang sama kamu.” Kata Zara. “Bener?” Tanya Raka. “Beneran.” Jawab Zara. Raka kemudian mendekap Zara dan memeluk Zara dengan erat. “Aku sayang banget sama kamu Zara.” Kata Raka yang hampir menitihkan air matanya ====
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN