- Sambungan Epilog -
“ Apa yang harus gue lakukan yah Ardya kalau kayak gini? Zara nggak mau ngasih tau ke orang - orang kalau aku sama dia tuh pacaran. Tapi kalau kayak gini, Nabila benar - benar keterlaluan.” Ucap Raka lagi.
“Gue rasa ini saat yang tepat untuk Lo ngasih tau ke semua orang kalau Lo pacaran sama Zara.” Ujar Ardya.
“Tapi kalau Zara marah gimana?” Tanya Raka.
“Nggak.. Zara nggak mungkin marah, sebenarnya zara juga pasti sangat ingin memberitahukan ke orang - orang kalau kalian berpacaran, cuma dia takut aja akan pandangan orang - orang ke dia kalau kalin memberitahukan kalau kalian pacaran. Zara nggak mau cari masalah aja sama mereka - mereka yang suka sama Lo, Zara malas meladeni mereka.” Jelas Ardya.
“Lo yakin kan Ardya?” Tanya Raka lagi.
“Hahah iya gue yakin Raka. Kenapa Lo malah nggak yakin sih. Zara itu pacar Lo, Lo yang lebih tau lah tentang dia. Gue cuma memberi saran buat Lo, yang gue rasa itu udah benar. Jadi terserah Lo aja.” jawab Ardya.
“Hmm.. baiklah.. gue juga sebenarnya sangat ingin memberitahukan ke semua orang kalau gue sama Zara pacaran. Gue harus masuk sekarang.” Ucap Raka lalu melangkahkan kakinya satu langkah menuju pintu masuk.
“Woii tunggu dulu Raka, tunggu tuh Andika menyelesaikan ucapannya. Pokoknya Lo harus masuk di saat yang tepat.” Ucap Ardya.
“Haahh.. di saat yang tepat bagaimana lagi sih. Lo itu ada - ada aja deh.” Ujar Raka lagi lalu masuk ke dalam kantornya. Dan saat Raka masuk, semua mata langsung tertuju ke Raka. Zara belum melihat Raka.
“Raka tunggu !!! Gue udah berbakat belum jadi penasehat dalama masalah cinta? Hahahah.” Seru Ardya.
“Ahh apaan sih Lo !!! Haha.. suasana lagi tegang juga, Lo malah bercanda.” Ucap Raka melanjutkan masuk ke dalam kantornya.
====
Setelah penjelasan yang di berikan Raka, suasana kantor menjadi tenang kembali.
“Apa kalian semua sudah mengerti dengan apa yang saya jelaskan barusan?” Tanya Raka sambil melihat ke sekeliling kantor.
“Mengerti Pak Raka.”
“Kami sangat sangat mengerti Pak.”
“Semoga langgeng yah Pak Raka dan Mba Zara , semoga sampai ke pelaminan, ke jenjang yang lebih serius lagi.”
“Aamiiinnnn !!!!” Semua orang berteriak.
Raka tidak pernah merasakan bahagia yang selepas ini, Raka bisa mengeluarkan apa yang ada di hatinya di depan orang - orang banyak.
“Okeyyy jadi untuk hari ini, karena kalian sudah ikut merasakan kebahagiaan yang saya rasakan, saya akan meneraktir kalian makan siang. Semuanya !!! Satu kantor. Dan yang pasti nggak di restoran kantor yah. Karena pasti kalian sudah bosan dengan suasananya kalau di restoran kantor.” Ucap Raka.
“Waaaaahhh benar Pak?”
“Asyiiikk nyaaaaa !!!!”
“Makan gratissss !!!!”
“Terima kasih Pak Rakaaa.. kami tunggu di jam makan siang.”
“Sepertinya Raka udah benar - benar berubah yah, semenjak kedatangan Zara. Aku senang banget ngeliat dia yang ceria seperti itu.” Bisik Prilly ke Ardya.
“Iya sayang.. aku juga juga ikut senang Raka udah bisa kembali seperti dulu, yang penuh aura kebahagiaan.” Balas Ardya.
Saat itu Zara benar - benar tidak menyangka kalau hal itu akan terjadi, Raka menyebut dirinya sebagai pacarnya di depan semua orang sambil menggenggam tangan Zara. Benar - benar kebahagiaan yang sangat nyata di rasakan Zara.
“Dan untuk Nabila.. silahkan kamu ikut sayanke ruangan Prilly. Prilly ayo ke ruangan kamu.” Kata Raka lalu melepaskan tangan Zara.
Nabila memasang wajah angkuhnya, Nabila nenar - benar tidak ada rasa bersalah ataupun takut saat Raka memanggilnya masuk ke ruangan Prilly.
“Zara.. kita naik yuk.” Ucap Bella.
“Ohh iyaa.. yuk.. ehh tapi barang Lo gimana?” Tanya Zara.
“Udah ntar aja, pas selesai makan siang.” Jawab Bella.
“Iyaa Zar.. simpan dulu aja yah di mobil Lo. Gue urus ini dulu.” Bisik Prilly ke Zara lalu berjalan ke ruangannya.
“Haha.. iya - iyaa.” Balas Zara.
Zara, Bella, Ardya dan juga Andika bersama - sama berjalan menuju Lift untuk naik ke lantai lima.
“Cieee Zaraa !!! Akhirnya yahh.. semua orang udah tau kalau Lo sama Raka pacaran.” seru Andika.
“Hmmm.. gue nggak pengen - pengen banget sih hal itu terjadi, tapi mau gimana lagi. Raka semangat banget untuk ngasih tau ke orang - orang.” Kata Zara.
“Itu gue yang ngehasut Raka tadi, gue yang bilang ke Raka kalau lebih baik Lo ngasih tau aja kalau Lo dan Zara pacaran. Dan Raka dengerin saran gue hahahah.” Ucap Ardya.
“Ardyaaaa !!! Kok gitu sih? Kan gue udah bilang kalau gue nggak mau ngasih dulu ke orang - orang. Kenapa malah ngehasut Raka sihh ???!!!” Teriak Zara.
“Hahahahah !!! Nggak apa - apa kali Zara.. Lo liatkan respon orang - orang tadi, mereka semua ngedukung Lo pacaran sama Raka kok, nggak ada yang marah juga. Kecuali itu tuh si Nabila hahahah.” Ujar Bella.
“Ahh.. iya juga sih. Hmmm.. ya udah sih.. udah terlanjur juga, udah nggak bisa di apa - apain lahi haha.” Ucap Zara.
“Nahh.. iya kan.. nggak apa - apa juga.” Ucap Ardya.
“Gue sihh lebih ke penasaran sama apa yang terjadi sama Nabila sekarang. Aduhh bisa - bisanya yahh tuh orang, punya fikiran picik seperti itu.” Ucap Andika sambil berjalan keluar dari lift.
“Semoga Raka sama Prilly ambil keputusan yang tepat deh, semoga Nabila masih di beri kesempatan untuk bekerja lagi di sini.” Ucap Zara.
“Hahah.. kenapa Lo masih kasian sih Zara sama dia? lo nggak perlu kasihan sama dia, dia itu orang kaya kok, di nggak akan pusing kalau dia di pecat dari kantor ini.” Ucap Ardya.
“Ya iyaa sihh.. tapi kalau di pecat karena kejadian ini, kan nggak baik juga. Seperti di pecat dengan tidak hormat tau.” Kata Zara.
“Yahh salah dia sendiri, kenapa dia berbicara yang tidak - tidak tentang Lo, dan tentang Raka juga, kalau gue jadi Raka udah gue pecat karyawan yang seperti itu.” Kata Ardya lagi.
“Tapi sebenarnya apa yang terjadi sih Zara? Kok dia bisa sampai bikin keributan seperti ini sih? Mana masih pagi lagi. Ada - ada aja.” Tanya Bella.
“Gue juga sebenarnya capek banget tau urusin Mba Nabila, ada - ada aja kelakuannya. Ehh ini belum jam masuk kantor kan?” Tanya Zara.
“Belum kok, Lo masih ada kesempatan setengah jam untuk cerita sama kita hahah.” Ucap Andika yang juga ikut ke meja Zara dan Ardya.
“Hahah.. kalian yahh emang harus banget di jelasin. Hmm.. jadi gini.. tadi pagi tuh, gue sama Raka sempat lari pagi dulu, dan itu juga juga nggak sengaja ketemu sama Raka. Dan kalian tau kan taman yang dekat rumah gue dan Raka? Gue sama Raka ketemu tuh sama Nabila, dan Nabila ngajakin kita buat makan dulu, tapi gue udah sempat nolak, tapi lagi - lagi dia kayak maksa gitu. Jadi gue sama Raka ikut aja, karena tempat makannya juga nggak jauh gitu. Nahh sampai di tempat makan, Raka ke mini market yang ada di samping tempat makan itu, dan gue di tinggal deh sama Mba Nabila.” Jelas Zara.
“Ooohh gue tau nih kelanjutannya gimana? Hahah.” Seru Bella.
“Aduuh Bell, Lo diam dulu bisa nggak? Zara belum selesai tau.” Kata Ardya.
“Iya nih Bella. Pelan - pelan dong hahah.” Seru Andika.
“Hahah kalian ini kayak cewek tau nggak, suka ngegosip.” Kata Bella.
“Kita nggak ngegosip, kita karena kita teman jadi harus tau apa yang terjadi sama teman kita. Bukan gosip.” Kata Andika dengan gaya berdiri di depan pintu ruangan Raka dengan tangannya dimasukkan satu di kantong celanannya.
Andika benar - benar terlihat keren dengan berpose apa aja.
“Ihh hahaha.. jangan sok keren Lo di situ !!!” Teriak Bella sambil melemparkan kertas ke Andika.
“Lahh gue nggak sok keren yahh. Gue itu udah keren emang, Lo nya aja yang nggak tau.” Balas Andika.
“Hmm.. kalian berdua bertengkar lagi dan lagi. Kenapa nggak jadian aja sih.” Ucap Ardya.
“Huussshhh Bella udah punya kakak gue. Biarin aja tuh Andika nyari jodoh yang lain. Iyaa nggak Bell? Hahah.” Ucap Zara
“Hahah.. bener banget.. tau nih Ardya suka banget ngejodoh - jodohin gue sama Andika.” Kata Bella.
“Huuhh iyaa - iyaa.. terserah kalian deh.”
“Gue sabar kok.” Kata Andika sambil mengelus dadanya dan tersenyum.
“Hahahaha jijik banget sih.. kenapa ekspresi Lo gitu dehh.” Teriak Bella lagi.
“Kenapa sih Lo hhahahah. Kalau gue keren yah bilang aja. Susah banget hahahah.”
“Husshh husshh husshh hahah Mau lanjut nggak nih ceritanya?” Tanya Zara.
“Mau lahh.” Jawab Andika.
“Tapi kayaknya ntar deh, kita lanjut. Udah masuk nih, kerja dulu. Kerja kerja kerja.” Kata Zara.
“Ahh iya juga yahh. Cepet banget waktu berjalannya.” Kata Bella lalu berdiri dari kursi yang ia tempati duduk di samping Zara.
====