Suasana lantai lima di pagi hari seperti biasanya, beberapa karyawan ada yang sudah sibuk dengan pekerjaannya dan ada juga yang masih sarapan bersama teman - teman lainnya. Raka memasukki pintu lantai lima melihat karyawannya sambil tersenyum. Dan semua yang melihat Raka menyapa Raka dengan hati yang lebih tenang, karena Raka juga sudah tersenyum duluan.
“Pagi Pak Rakaaa.” Kata seorang karyawan.
“Pagi Pak Rakaaa.. makan Pak Raka.” Kata seorang karyawan juga sedang menikmati sarapannya berhenti untuk menyapa Raka.
Dan beberapa juga menyapa Raka.
“Iyaa Pagi semuanya.. silahkan di lanjutkan saja makannya. Ingat yah cuma sampai jam sembilan pagi, dan ingat meja kalian kalau sudah sarapan tetap bersih.” Ucap Raka dengan penuh ketenangan.
“Siap Pak Rakaaa. Tenang saja.” Balas beberapa karyawan yang sedang sarapan.
Rakapun berjalan menuju ruangannya. Di depan ruangannya terlihat Zara dan juga Ardya yang sudah fokus di depan komputernya.
“Pagi Pak Rakaaa !!! Pak Raka makin ganteng yahh.. iya nggak Pacarnya pak Raka? Hahahah.” Seru Ardya yang ternyata sudah melihat Raka.
“Hahah apa sih Lo.. gue kirain Lo udah fokus kerja, ternyata masih ngeliat gua juga datang.” Kata Raka.
“Bukan Ardya kalau nggak berisik emang.” Ucap Zara.
“Gue kan juga mau menyapa Pak Raka.. emang nggak boleh hahah.” Kata Ardya.
“Udah dehh.. gue mau masuk, banyak kerjaan.” Kata Raka lalu membuka pintu ruangannya.
“Ehh tunggu dehh.. baju Lo sama Bajunya Raka sama?” Tanya Ardya sambil memperhatikan pakaian yang di kenakan Zara.
“Nggak.. warnanya aja yang sama.” Jawab Zara.
“Cieee .. udah main senada - senadaan nih bajunya.. gue juga ahh.. mau nyuruh Prilly pakai baju yang sama sama warna baju gue.” Ucap Ardya.
“Hahah.. terserah Lo Ardya.. pagi - pagi udah nggak jelas banget Lo.” Seru Zara.
“Ehh tunggu dehh.. tadi gue sama Raka buat rencana, kalau gimana kita buat acara barbequan di apartemennya Raka.” Kata Zara lagi.
“Hah? Nggak apa - apa tuh?” Tanya Ardya yang matanya tetap fokus di komputernya.
“Apanya yang nggak apa - apa?” Tanya balik Zara.
“Rakanya.. Raka mau apartemennya di jadiin tempat kita buat barbequan?” Tanya Ardya yang sekarang berbalik ke Zara.
“Oohhh.. iyaa nggak apa - apa .. Raka mau kok, tenang aja. Tinggal cari waktu yang pas aja , kapan bisanya kalian.” Kata Zara.
“Wahh bener yahh, kalau orang jatuh cinta tuh emang berubah derastis, jadi makin - makin baik.” Kata Ardya.
“Hahah.. Lo juga gitukan sama Prilly.” Kata Zara.
Zara juga sibuk dengan beberapa dokumen yang harus di tanda tangani Raka.
“Iyaa sih kenapa kayak gitu yah.. hahaah.. jatuh cinta tuh lucu, kadang bisa manis kadang juga bisa pahit.” Kata Ardya.
“Hmm.. apalagi tuh.. jangan puitis puitis dulu deh pagi - pagi, nanti gue malah nggak fokus, malah mikirin kata - kata Lo.” Ucap Zara.
“Hahaha.. iyaa deh iyaa.. by the way kok kalian berdua tiba - tiba mau buat acara barbequan sih? Di apartemennya Raka lagi.” Tanya Ardya.
“Jadi ceritanya tadi tuh gue sarapan di apartemennya Raka, dan gue juga baru tau ternyata ada ruangan tempat kolam renang di apartemennya Raka. Jadi kita kepikiran buat barbequan di sana. Dan itu juga Raka yang mau kok, jadi kita ajak kalian semua deh.” Jelas Zara.
“Ooohh pantesan aja.. apartemennya Raka emang mewah banget sih, luas juga. Yaudah kalau gitu kasih tau aja yang lain, pasti bisanya mereka hari sabtu atau minggu sih, cuma hari itu kan yang libur.” Kata Ardya.
“Iyaa ntar deh gue kasih tau, pas makan siang aja, biar kita ada semua, nggak ngejelasin satu - satu.” Kata Zara.
“Okeyy.. terserah Lo aja pacarnya Pak Raka.” Ucap Ardya sambil tertawa.
“Hahah.. awas Lo yahhh !!! jangan manggil gue kayak gitu deh, nggak enak kalau di dengar orang - orang. Udah ah gue mau masuk dulu, banyak yang harus di tanda tangani Raka.” Ucap Zara lalu berdiri dari kursinya.
Zara berdiri dari tempat duduknya lalu mengetuk pintu ruangan Raka.
Tok tok tok (suara ketukan pintu ruangan Raka)
“Iya masuk aja.” Kata Raka dari dalam ruangannya.
Zara berjalan masuk ke dalam ruangan Raka dengan beberapa dokumen di tangannya.
“Ohh ada yang harus aku tanda tangani lagi yah?” Tanya Raka .
“Iyaa banyak nih.. udah aku periksa semua juga.” Kata Zara sambil memberikan dokumen yang dibawanya ke atas meja Raka.
“Okeyy.. tunggu sebentar yah.” Kata Raka lalu membuka satu persatu dokumen yang di bawa Zara.
“Okeyy.. aku duduk di sini dulu deh.” Kata Zara lalu duduk di sofa depan meja kerja Raka.
Raka menandatangani dokumen yang di bawa Zara.
“Udah nih.” Kata Raka sambil menutup dokumennya.
“Kamu udah periksa juga semuanya?” Tanya Zara.
“Udah kok, udah aku baca - baca sedikit. Kan udah kamu periksa juga. Aku percaya sama cara kerja kamu.” Kata Raka.
“Eisshh jangan gitu. Kamu harus profesional, inget yahh kerja yah tetap kerja, jangan di campur dengan hal pribadi.” Ujar Zara sembari memeriksa kembali dokumen yang sudah di tanda tangani Raka.
“Ya ampun iyaa Zaraa.. kamu nggak usah khawatir, aku ini orang yang paling profesional.” Ucap Raka.
“Dihh hahah.. ehh ada apa tadi sama Prilly? Ada yang buat masalah lagi yah?” Tanya Zara.
“Ahh? Ohh nggak ada kok nggak ada yang buat masalah. Cuma ngebicarain soal tata tertib kantor.” Jawab Raka. Raka tidak ingin menceritakan ke Zara kalau apa yang ia bahas bersama Prilly adalah tentang hububungannya bersama Zara. Raka tau kalau membohongi Zara adalah suatu tindakan yang tidak baik, tapi Raka juga tidak ingin membuat Zara berfikir yang tidak - tidak tentang Prilly yang mencampuri hubungannya dengan Zara. Padahal Prilly hanya memberi saran ke Raka untuk bersikap lebih baik lagi terhadap hubungannya dengan Zara.
“Ohh kenapa tata tertibnya mau di ubah?” Tanya Zara.
“Nggak.. Prilly cuma mau menyampaikannya ke orang - orang yang baru. Biar mereka juga lebih mengerti bagaimana tata tertib di kantor ini.” Kata Raka lagi.
“Ooohh.. kirain mau di ubah.” Kata Zara.
“Nggak kok.” Ucap Raka.
“Ohh iyaa.. aku udah kasih tau Raka tadi tentang acara barbequan kita, katanya kok tiba - tiba buat acara, di apartemen kamu lagi.” Kata Zara.
“Haha.. kok kayak nggak percaya gitu sih.” Seru Raka.
“Hahh.. iyaa kan apalagi katanya di apartemen kamu. Ntar aku mau kasih tau yang lain juga, pas makan siang aja. Biar sekalian.” Kata Zara.
“Ohh iyaa okey dehh, kamu atur aja.” Kata Raka.
“Kalau gitu aku keluar dulu yah, masih banyak yang mau aku kerjain.” Kata zara.
“Iyaa sayangg.. sini peluk dulu dong.” Kata Raka membuka kedua tangannya siap untuk memeluk Zara.
“Ihh nggak ah, masa di kantor peluk - pelukan.”
Tanpa basa basi Raka langsung berjalan mendekati Zara dan memeluk Raka.
“Rakaaaaaa !!!!” Seru Zara sambil tersenyum.
====