Chapter 112

1079 Kata
Setelah mandi, Raka keluar dari kamar mandinya dan menuju lemari pakaiannya. Raka mengambil setelan kemeja dan jaz yang berwarna coklat muda sama seperti warna pakaian yang di pakai Zara hari ini. Raka pun bersiap - siap untuk menunjukkan pakaian yang ia kenakan ke Zara. Raka berjalan menuju kolam renang kembali. “Ehemm.. gimana sayang ? Bagus nggak?” Tanya Raka. “Hah? Haha kamu sengaja yah pakai baju yang itu biar kita senada?” Tanya Zara kembali setelah melihat pakaian yang ia kenakan hari ini. “Haha.. ketahuan yah.. iyaa aku sengaja, aku baru ingat kalau aku ada baju yang warnanya hampir sama sama baju yang kamu pakai itu. Jadi aku ambil aja.. gimana bagus nggak?” Kata Raka yang masih berpose di depan Zara menunjukkan pakaiannya. “Haha.. iya lah ketahuan.. tapi iya bagus kok, kamu kan pakai apa aja memang selalu keren. Pakai baju yang kucel pun tetap terlihat bagus kalau kamu yang pakai.” Kata Zara lalu berdiri dan merapikan sedikit jaz Raka. “Eisshh eisshh eisshh kamu gombalin aku yah? Masih pagi - pagi udah di gombalin.” Kata Raka sambil memegang pipi Zara. “Haha.. nggak aku nggak gombal tau. Aku berbicara apa adanya.. kamu emang kayak gitu.. mau pakai baju kucel pun tetap di sukai banyak wanita.” Kata Zara dengan sedikit gambek. “Masa sih? Tapi biarpun banyak yang suka sama aku, tetap kamu kan yang aku suka, tetap kamu yang nomor satu di hati aku.” Kata Raka lalu mencium kening Zara. “Iyaa lahh.. kalau itu harus, awas aja kalau ada orang lain di hati kamu, akan aku keluarkan dengan cara paksa.” Kata Zara sambil melihat wajah Raka yang lebih tinggi dari wajahnya. “Hahah.. gimana kalau sudah terkunci?” Tanya Raka. “Ya aku dobrak pintunya, terus aku keluarin secara paksa.” Kata Zara lagi. “Hahaha.. iyaa - iyaa.. tenang aja, nggak akan ada yang masuk, karena aku juga sudah menguncinya dan tidak membiarkan orang lain masuk.” Kata Raka lalu memeluk Zara. “I love you.” Ucap Zara dengan senyum manisnya. “Apa? Aku tidak mendengar apa yang kamu katakan.” Tanya Raka berpura - pura tidak mendengarnya. “Aku bilang I love youuuu.. i love you Rakaaaaa ..” seru Zara yang juga memeluk Raka dengan sangat erat. “Hahah.. i love you too Zara.. i love you more than you know.” Ucap Raka. “Kalau gitu kita berangkat sekarang aja yuk.. biar nggak buru - buru di jalan.” Kata Zara lalu melepaskan pelukan Raka. “Aku masih ingin memelukmu.” Kata Raka lalu memeluk Zara kembali. “Haha.. apasihh nanti kita terlambat, terus di liatin satu kantor. Kalau kamu yang terlambat masukmsih nggak apa - apa kan kamu yang punya kantor. Kalau kita berdua yang terlambat kan jadi bahan omongan orang - orang di kantor.” Kata Zara lalu melepaskan pelukannya lagi dari Raka. “Hmm.. kamu masih aja mikirin pendapat orang - orang. Padahal kita udah beri tahu semua orang kalau kita pacaran, memangnya kita nggak boleh pacaran?” Tanya Raka. “Heii bukan begitu.. maksud aku , aku nggak mau kalau orang berfikir yang tidak - tidak tentang kita. Dan masih banyak tau yang nggak suka kalau kita berdua pacaran.” Kata Zara. “Hmm.. sekarang kamu udah nggak perlu mikirin itu Zara, itu semua nggak harus di fikirkan , jadi kamu bawa santai aja semuanya.” Kata Raka. “Hmm.. iyaa aku coba .. aku akan berusaha, ya udah ayo berangkat sekarang.” Kata Zara. “Ya udah ayo kalau gitu. Nggak usah ngambek ayak gitu dong.” Kata Raka. “Aku nggak ngambek kok.. udah ah yuk jalan.” kata Zara melangkahkan kakinya keluar dari pintu samping apartemen Raka. “Ehh kamu nggak bawa mobil kan kesini?” Tanya Raka “Bawa.” Jawab zara. “Hah? Terus kita berangkat sendiri - sendiri lagi?” Tanya Raka. “Hahah nggak kok.. aku nggak bawa mobil. Aku tadi di antar sama kak Julian kesini dengan berbagai pertanyaan - pertanyaannya.” Kata Zara. “Hah? Beneran? Emang kak Julian seposesif itu yah sama kamu?” Tanya Raka lagi sambil menutup ointu apartemennya. “Bangett.. kak Julian lebih posesif di banding papa dan mama. Dulu tuh yahh, aku terlambat pulang, aku bukannya di cariin sama papa sama mama tapi smaa kak Julian. Bahkan kalau ada temen cowok yang datang di rumah, dia selalu duluan yang mengintrogais temen ku itu.” Jelas Zara yang menggandeng erat tangan Raka. “Wahh kak Julian benar - benar kakak yang terbaik.” Seru Raka sambil menelan tombol lift dan masuk bersamaan dengan Zara ke dalam lift. “Lahh terbaik apanya kalau gitu.. aku malah jadi tegang setiap kali temen aku datang ke rumah , takut kalau teman aku udah nggak mau datang lagi ke rumah, dan takut kalau temenku di marahin sama kak Julian.” Kata Zara. “Tapi kak Julian nggak memarahi orang sembarangan kan? Pasti di tanya - tanya aja.” Kata Raka. “Iyaa sihh.. hmm ada baiknya juga deh kalau gitu. Hahah.” Seru Zara. Raka dan Zara pun berangkat ke kantor bersama. Di perjalanan menuju kantor, Zara mendapat telepon dari Andika. “Halo.. iyaa Andika.. good morning.. pagi bener nelponnya.” seru Zara. Andika menghubungi Zara untuk menanyakan ponselnya yang tertinggal kemarin di meja Zara, Andika menanyakan keberadaan Zara karena Andika sangat membutuhkan ponselnya. Raka yang mendengar Zara dan Andika teleponan, merasa kembali biasa saja. Karena Zara membuatnya lebih percaya lagi di hari itu, dengan datang di apartemennya dan membawakan sarapaj pagi untuk dirinya. Raka mencoba menghilangkan perasaan cemburunya terharap Andika. “Kenapa Andika?” Tanya Raka. “Dia nanya aku udah di mana, katanya dia butuh banget ponselnya, kenapa juga sih ponselnya pake ke bawa di tas aku segala.” Gumam Zara. “Hmm.. kita udah deket juga kok, sebentar lagi sampai. Mungkin Andika ada file yang harus dia buka di dalam ponselnya itu.” Kata Raka. “Iyaa sepertinya sih.. dia emang bilang begitu tadi. Katanya dia lagi nyari file yang pernah kamu kirimkan, katanya nggak ada di ponselnua yang satunya.” Kata Zara. “Dia tuhh udah aku bilangin nggak usah pakai ponsel dua, kan jadi bingung gitu.” Kata Raka. “Mungkin Andika nggak bisa berpaling dari ponselnya yang lama.” Ucap Zara. “Hmm sepertinya sihh.” Kata Raka. Setelah kurang lebih sepuluh menit Raka dan Zara pun akhirnya sampai di kantor. Prilly yang sudah datang lebih awal, sudah menunggu Raka di Lobby. ====
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN