Jessica

1477 Kata
Hujan masih mengguyur bumi sampai jam istirahat tiba. Suasana dingin ini tentu saja mengundang hasrat dalam diri untuk mencoba makanan yang hangat. Seperti contohnya yang dilakukan oleh Gabriel, Garda, dan Rager. Mereka sudah menghabiskan bakso, bakpao, nasi goreng dan juga teh hangat. Namun Rager bangun lagi dari posisi duduknya untuk memesan, katanya masih belum kenyang. "Dasar rakus banget lo jadi manusia," sindir Gabriel dan Rager hanya menyengir saja. “Selagi gue masih bisa makan dan hidup, gak ada salahnya mencoba kan.” “Terserah lo asal masih sanggup bayar gak masalah.” "Gar, gue ke toilet bentar." “Oke, gak harus gue temenin kan?” “Gak lah, gue bukan cewek kalau lo lupa.” Garda hanya tertawa singkat dan membiarkan Gabriel pergi meninggalkan dirinya sendirian. Gabriel meninggalkan kantin yang penuh dan melangkahkan kakinya menuju toilet. Setelah selesai urusan dengan toilet, Gabriel tak sengaja melihat Jessica yang berjalan ke arah belakang sendirian. Merasa penasaran, cowok itu mengikuti langkah Jessica dari belakang. Gadis itu duduk di bangku yang ada di dekat pagar belakang kampus, sambil menatap hujan yang masih turun dengan begitu deras. Gabriel masih diam mengamati, sampai pada satu titik dia membulatkan matanya kaget ketika melihat apa yang dikeluarkan oleh Jessica dalam saku rok abu-abunya. Buru-buru Gabriel mendekati Jessica yang sedang duduk sendiri itu. "Ngevape gak baik buat kesehatan, apalagi lo cewek." kata Gabriel. Gabriel dapat menangkap ekspresi kaget wajah Jessica, tetapi tidak ada rasa takut yang terlihat karena gadis itu tersenyum sinis dan berkata. "Gabut banget sampai harus ngebuntutin gue ke sini. Gak ada kerjaan lain lo?” Jessica memasukkan kembali barang itu ke dalam saku roknya. "Gue gak sengaja, gak biasanya ada cewek berani ke belakang kampus sendirian." "Hmm. Mau bocorin ini ke dosen? Silakan, gak ada yang larangan juga di kampus ini kalau cewek gak boleh nge-vape.” "Gue bukan mahasiswa caper, dikit-dikit ngaduin apa yang gue lihat." Jessica mendekat, dan berdiri di depan cowok yang tingginya sekitar 180 CM. Jessica hanya sebatas dadanya. Gadis itu mendongak untuk menatap mata Gabriel. "Hal ini bisa jatuhin gue di mata dosen, gue mahasiswa berprestasi lho. Yakin gak ngadu?" Gabriel tersenyum tipis. "Gue aja gak kenal sama lo. Jadi, apa keuntungan yang gue dapat kalau ngaduin hal ini." "Bukannya lo cowok yang tadi pagi berdiri di depan kelas sama Garda? Dan, bukan lo juga yang penasaran dan merasa pernah ketemu sama gue selain tadi pagi?" Gabriel berusaha bersikap tenang, padahal dia kaget karena Jessica mengetahui semuanya. "Dari mana lo tau, Garda ngasih tau lo?" “Gak, buat apa juga dia kasih tau sama gue. Gerak-gerik lo yang menjelaskan semuanya, karena kalau lo gak penasaran, gak mungkin juga lo bakalan ngikutin sampai ke sini buat cari tau. Gue benar 'kan?" Hmm, gadis ini pintar pikir Gabriel. Dia juga bodoh karena terlalu penasaran dan malah memunculkan diri barusan. Jessica kembali mengeluarkan vape yang semula sudah dia masukkan ke dalam roknya. Mengangkat tinggi-tinggi ke depan wajah Gabriel "Ini cuma jadi objek buat mancing lo dan gue berhasil." Jessica membuangnya. "Kenapa lo lakuin ini?" Gabriel mendekatkan wajahnya, dan Jessica sama sekali tidak mundur malah semakin menantang. "Lo suka sama gue, dan barusan cara lo cari perhatian?" Jessica berdecih. "Hmm, isi pikiran lo beda sama isi pikiran gue. Kasih gue alasan kenapa harus suka sama lo? Modal ganteng gak bikin gue tertarik." "Secara gak langsung lo mengakui gue ganteng?" Gabriel tersenyum miring. "Mengakui ganteng, bukan berarti bakalan suka. Lo bakalan tau jawaban kenapa gue mancing buat ke sini, dan kenapa gue muncul tiba-tiba dalam kehidupan lo." "Kalau Garda tau, dia pasti kecewa karena cewek yang dia kira baik-baik. Ternyata begini di belakang semua orang.” "Kalau emang sahabatnya Garda, gak mungkin lo rusak kebahagiaan dia." "Terus, gimana dengan nyokap?" tanya Gabriel. “Apa lo gak mikir reputasi dia bisa rusak, kalau yang lihat lo di sini bukan gue.” "Urusan keluarga gue, gak perlu dicampurin. Ini hidup gue, dan gak ada satupun orang yang bisa menentang. See you di kesempatan berikutnya, Gabriel." Jessica langsung pergi seraya menepuk pundak cowok itu. Dia malas terlalu lama di sini karena Gabriel sudah mengungkit topik yang tidak suka dibahas. **** Malam ini Garda dan Rager akan pulang ke rumahnya masing-masing. Sebelum pulang, mereka menghabiskan waktu dengan bermain PS bersama. Gabriel duduk di atas sofa dengan sepiring nasi di tangannya. Rager dan Garda sedang bertanding dan Gabriel menjadi penonton sementara. "Gar, gue mau nanya lagi deh sama lo.” "Tanya aja kalau emang penting." Garda masih fokus menatap layar televisi. "Lo udah berapa lama kenal sama Jessica?" "Dari kelas satu SMA, karena kita sekelas. Kenapa?" "Kok lo bisa sahabatan sama dia? Menurut gue dia tipikal orang yang susah dideketin dan kelihatan cuek banget sama sekitar." "Sefrekuensi sama gue sih, pintar dan gak terlalu bisa bergaul dengan banyak orang." Garda menjawab sangat enteng. "Pembahasan lo daritadi pagi Jessica mulu, Iel. Suka kayaknya lo sama dia, cinta pandangan pertama gitu?" tanya Rager. "Bukan gue yang suka sama Jessica, tapi Garda." "Kok di pause sih." Rager menatap kesal ke arah Garda, karena sedikit lagi tim-nya akan berhasil mencetak gol. Tapi lawannya malah tiba-tiba menghentikan permainan. "Jessica sahabat gue, gak mungkin lah suka sama dia." "Sahabat lo, atau karena dia menganggap lo cuma sebatas sahabat dan gak pernah bisa lebih?" "Maksud lo gimana tiba-tiba ngomong gini?" Garda menatap Gabriel. "Lo suka Jessica, 'kan? Baru kali ini gue lihat lo bisa dekat dan senang pas natap wajah cewek. Lo menunjukkan itu tadi pagi, senyuman lo buat Jessica adalah bukti nyata lo suka sama dia." "Sok tau lo, gue gak suka dia." "Jadi, apa tanggapan kalau gue dekatin Jessica dan jadiin dia pacar?" "Gue gak masalah, asalkan lo pacarin Jessica memang karena niat tulus dan suka sama dia bukan karena lo merasa penasaran doang. Setelah rasa penasaran hilang, lo malah tinggalin dia gitu aja.” "Gak apa-apa berarti kalau gue sama Jessica?" Gabriel mengulang pertanyaan yang sama untuk memastikan. "Iya gak ada urusannya sama gue kok," jawab Garda. "Ya udah ayo main lagi," ucap Rager. Mereka berdua melanjutkan bermain. Gabriel mulai berpikir, haruskah dia mendekati Jessica? **** Jam dua belas malam, Gabriel keluar dari kamar. Cowok itu memakai pakaian serba hitam dan menyisir rambut dengan jari-jarinya. Rager dan Garda sudah pulang sejak dua jam yang lalu dari rumahnya. Pintu sebelah kamarnya terbuka. Laya yang memakai piyama tidur bergambar panda itu menatap tajam adik laki-lakinya. "Mama sama papa pulang besok, kenapa masih keluyuran?" "Jam tiga gue balik." "Mama sama papa pasti kecewa kalau tau lo kayak gini selama mereka gak ada di rumah." "Jangan kasih tau, biar mama sama papa gak kecewa." Gabriel menjawab sangat enteng. "Kalau gak dikasih tau, lo bakalan semakin ngelunjak." "Kak, gue cuma nongkrong sama teman, bukan hamilin anak orang. Itu hal wajar bagi remaja kayak gue." "Tapi beberapa kali lo ikut balapan liar, lo pikir gue gak tau?" Laya bertolak pinggang menatap Gabriel kesal. "Dua kali doang, itu juga buat ngebela teman. Gue janji, ini kali terakhir gue pulang pagi." "Janji yang sama, dan berulang kali lo ingkar." "Please, gue udah ditungguin." "Jam dua, kalau lo gak pulang. Mama sama Papa bakalan tau soal ini." Gabriel langsung memeluk Laya. "Oke, jam dua gue pulang." Laya mendorong adiknya dan kembali masuk ke dalam kamar. Dia sangat mengantuk sebab lelah seharian berurusan dengan dosen. ***** Gabriel sampai di klub dan mencari keberadaan temannya yang beda kampus. Rager dan Garda memang tidak pernah ke klub kecuali Gabriel memaksa keduanya. "Gue kira lo gak bakal datang, Gab." "Emang pernah gue ingkar janji?" tanya Gabriel kepada Dean. Dean menggeleng dan mereka saling berbincang, membahas beberapa cewek yang cantik seperti kebiasaan setiap malam: Disela pembicaraan Gabriel mendengar nama seseorang disebut. "Barusan lo bilang Jessica?" "Iya, kalau mau gue bisa kenalin." “Kuliah di mana dia?" tanya Gabriel. "Kalau itu gue gak tau, Gab. Cuma Jessica banyak yang ngincar, soalnya anaknya asik banget." Kevin berucap. "Dia ada di sini?" "Barusan gue ada lihat Jessica, di sebelah sana," tunjuk Dean. "Gue ke sana bentar," pamit Gabriel yang harus menuntaskan rasa penasarannya. Walau dia sendiri yakin itu bukan Jessica yang sama. "Kayaknya Gabriel emang suka." "Bedain antara suka sama penasaran, menurut gue Gabriel cuma penasaran aja," ujar Dean. "Lo gak sadar, baru kali ini Gabriel penasaran sama cewek. Bukan pertama kali kita bahas cewek dan cuma sekarang dia langsung gercep. Masih gak sadar?" tanya Kevin. "Mungkin Gabriel udah normal sekarang." Kevin menatap Dean kesal. "Ngomong sama lo cuma bikin gue emosi." Kevin pergi meninggalkan Dean yang masih tertawa. Gabriel masih mencari-cari, dia harus memastikan bahwa Jessica yang mereka maksud memang bukan gadis yang satu kampus dengan dirinya. Jika memang benar mereka berdua adalah satu orang yang sama, berarti Jessica memang bukan gadis baik-baik seperti yang terlihat. Lampu remang-remang menyulitkan Gabriel untuk bisa melihat wajah setiap orang yang berada di sini dengan jelas. Namun saat Gabriel menemukan seorang gadis memakai dress nude selutut, dia mempercepat langkah dan menarik tangan perempuan yang sedang berbincang-bincang asik itu. "Je," ucap Gabriel ragu-ragu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN