Hadiah

1403 Kata
Tubuh Gabriel terguncang lumayan kuat, matanya masih sulit terbuka padahal sudah jam setengah tujuh. Gabriel baru memejamkan mata usai shalat subuh tadi, berarti hanya sekitar satu jam dia tertidur. Pandangannya masih buram, tetapi dia bisa melihat seorang wanita paruh baya yang masih sangat cantik duduk di kasur dan kembali menggoyahkan badannya. “Bangun Iel, kamu bisa telat ke kampus tadi.” Suara yang terdengar begitu lembut berhasil masuk ke indra pendengarannya. Gabriel terpaksa membuka mata dan tersenyum. "Bidadari aku akhirnya pulang juga.” "Jangan drama, langsung mandi kamu terus kita sarapan di bawah.” "Peluk dulu baru aku mau bangun," ucap Gabriel manja. Katria membantu Gabriel duduk, dan cowok remaja itu langsung memeluk erat mamanya. "Kangen banget aku sama Mama, lama banget sih perginya.” Katria mengelus kepala putra bungsunya. "Gak usah akting kamu, padahal lebih senang kalau Mama gak di rumah 'kan?" "Omongan Mama emang suka benar, aku bebas main kemana pun dan gak harus izin.” Elusan di rambut Gabriel berganti saat Katria menjewer telinganya dengan kuat. "Mandi, dan turun ke bawah buat sarapan." Begitu suara pintu tertutup dengan kencang, Gabriel tersenyum puas. Dia selalu ingin mendapatkan perempuan seperti saat mamanya masih muda, sedikit nakal, keras kepala, tetapi baik hati. Gabriel ingin seberuntung papanya merasakan kehidupan yang tidak monoton. **** Sesuai permintaan mama, Gabriel langsung mandi, berpakaian, dan turun ke lantai satu untuk makan. Langkah kakinya saat menuruni tangga masih sempoyongan karena rasa kantuk yang belum hilang. Gabriel duduk di sebelah papanya yang sudah teripang sapi. "Morning, rival." Alvan yang sedang makan menatap Gabriel. "Tidur jam berapa kamu semalam, kenapa masih ngantuk banget kelihatannya? Ini udah mau setengah delapan lho.” "Jam sebelas, Pa." "Jam sebelas, matamu." Laya mendumel pelan, untungnya hanya Gabriel yang mendengar. "Makan, jangan asik ngobrol." Katria memberikan sepiring nasi goreng kepada Gabriel. "Hari ini kamu sama Kakak Mama antar aja, lagi hujan dan kebetulan Mama ada beberapa keperluan jadi harus ke kampus." "Aku naik motor aja, Kak Laya yang ikut Mama." "Mau mandi hujan pagi-pagi kamu? Nurut sama Mama, nanti masuk angin Mama juga yang repot lihat kamu ngeluh. Apalagi kalau sampe gak bisa masuk sekolah besoknya.” "Iya udah aku sama Mama.” kata Gabriel yang tidak bisa melawan lagi. "Makan yang benar, jangan cuma diaduk-adul aja. Nanti kalau dingin gak enak tau.” Katria menegur putranya. "Iya Mama sayangku, cintaku, duniaku. Ini Gabriel makan yang banyak supaya Mama puas.” Setelah makan, Gabriel dan Laya mengikuti langkah mamamya keluar rumah. "Mama yang nyetir, kamu masih kelihatan ngantuk gitu. Bahaya kalau kamu yang nyetir." Gabriel langsung masuk ke kursi belakang untuk tidur selagi ada kesempatan. Sedangkan Laya duduk di depan bersama mamanya. "Baju kamu bisa kusut kalau tidur gitu." Gabriel duduk dan membuka kemeja, meninggalkan kaos dalaman hitam. "Bangunin kalau udah sampai kampus." Katria dan Laya hanya bisa mengiyakan kemauan Gabriel. Cowok ganteng itu sudah memejamkan mata dan tertidur. Perjalanan ke kampus memakan waktu sekitar 30 meni karena jalanan yang macet, jadi Gabriel memang harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk tidur. Sampai di kampus, Gabriel bangun dan kembali memakai kemeja. Serta merapikan rambutnya supaya tidak terlihat baru selesai bangun tidur. "Baju kamu kancingkan semuanya, jangan kayak mahasiswa berandalan. Mama gak suka lihatnya tau.” "Mama dulu aja suka langgar peraturan.” "Gabriel." tegur Katria agar anaknya berhenti bercanda. Gabriel langsung patuh, jika mamanya sudah memanggil nama saja itu merupakan tanda bahaya. Laya pamit untuk menemui dosennya, sedangkan Gabriel berjalan beriringan dengan mamanya. Kantor dekan memang searah dengan ruang kelas Gabriel. Menyusuri koridor yang sudah ramai, meskipun setiap pagi selalu hujan tidak ada alasan untuk mahasiswa memilih absen. Kecuali mereka akan mengulang kelas yang sama di semester berikutnya. "Jessica," panggil Katria sembari tersenyum ramah. Gadis yang memakai jaket berwarna merah jambu itu tersenyum. "Selamat pagi, senang bisa bertemu dengan Ibu di sini.” Jessica menyalami Katria. "Kamu apa kabar, Nak?” "Baik seperti yang Ibu lihat." "Ini ada oleh-oleh dari saya, supaya kamu lebih semangat belajarnya." Katria menyerahkan paper bag di tangannya, dan diterima oleh Jessica. Memang sengaja dibawa untuk diberikan kepada mahasiswa favoritnya. "Saya sangat berterima kasih, karena Ibu selalu memberikan hadiah seperti ini. Saya takutnya merepotkan kalau keseringan.” "Tidak sama sekali, itu bentuk rasa terima kasih saya karena kamu selalu mengharumkan nama baik kampus dalam banyak lomba." Jessica tersenyum. "Saya permisi ke kelas, Bu." "Sebentar, Jessica." Katria menahan langkahnya. "Kenapa, Bu?" "Perkenalkan ini putra saya, namanya Gabriel." Jessica mengulurkan tangannya, terlihat sangat natural seolah dia memang belum mengenali sosok Gabriel. "Jessica Azkaleriya." Gabriel memutar bola matanya malas, tetapi agar mamanya tidak curiga dia menerima jabatan tangan tersebut. "Gabriel Angkara Prasetya, salam kenal.” Jessica mengangguk saja. "Kalau begitu saya izin ke kelas, Bu." "Iya Jessica, semangat studinya ya.” Begitu Jessica sudah pergi, Katria melirik Gabriel. "Kamu harus temenan sama cewek kayak Jessica, dia pintar, ber-attitude dan setau Mama dia juga dekat sama Garda. Kamu tau soal kedekatan mereka 'kan?" "Iel, tau, Ma. Udah mau jam delapan, Iel ke kelas dulu." Gabriel ikut pergi setelah menyalami mamanya. **** Ketika kelas selesai, Gabriel langsung pergi meninggalkan kedua temannya. Mereka jelas bingung kemana Gabriel mendadak pergi, tapi tidak juga mengikuti sebab merasa malas. Ternyata dia datang untuk mencari seseorang yang terus dipikirkan selama kelas berlangsung. Gabriel harus berbicara dengannya untuk merasa tenang. "Akting lo di depan Mama gue patut diacungin jempol." Gabriel berdiri di sebelah Jessica yang sedang mencari buku di rak perpustakaan. Gadis itu langsung tersenyum kepada Gabriel. "Soal akting pura-pura baik, gue jagonya." "Sayangnya gue gak bisa tertipu dengan semua hal itu." "Apa yang lo lihat semalam, bukan berarti lo tau semuanya tentang gue." "Setidaknya gue tau, kalau lo punya dua versi. Bukan cuma gadis polos serta lugu di sekolah.” "Kalau itu bisa gue bilang iya. Jangan sering deketin gue kayak gini, gue gak mau jadi bahan gosip sekolah." Jessica melirik beberapa siswi yang ada di perpustakaan dan mereka memang sedang melihat ke arahnya. Gabriel seseorang yang populer, apalagi mamanya salah satu donatur di kampus ini. Siapa coba yang tidak mengenalinya. "Dua hari setelah kenal, dan gue lihat lo selalu sendiri. Gak punya teman?" "Lebih tepatnya gak mau punya teman. Manusia sekarang kebanyakan palsu, nyari teman cuma buat nyebar aib sendiri buat apa? Lebih baik gak punya." "Semalam lo pulang jam berapa?" "Kenapa lo harus peduli?" tanya Jessica. "Soalnya lo gak kelihatan ngantuk sama sekali." "Gue gak selemah lo." Jessica tertawa. "Lihat lo bahkan masih kesusahan buka mata udah jam segini, makanya jangan gaya-gayaan ke klub kalau gak sanggup." "Mama lo gak tau kalau anaknya suka keluyuran?" tanya Gabriel. "Gue ke kantin, Garda udah nungguin." Jessica langsung pergi dan membawa beberapa buku di tangannya. Selalu menghindar setiap kali Gabriel membahas perihal keluarga gadis itu. Gabriel mengikuti langkahnya dari belakang, karena memang ingin ke kantin juga. Kenapa Jessica selalu tidak mau menjawab jika Gabriel menanyakan tentang keluarga. Hal itu kembali membuat Gabriel penasaran dan ingin mencari tau, padahal sebelumnya Gabriel selalu acuh tentang kehidupan seseorang. Lantas, kenapa dengan Jessica dia merasakan hal yang berbeda? "Hai, jomblo." Gabriel menarik kursi dan duduk di sebelah Rager yang sendirian karena Garda bersama Jessica. "Abis dari mana lo, sama teganya kayak Garda ninggalin gue mulu." "Toilet, gue udah bilang tadi." Kata Gabriel padahal dia sama sekali tidak pamit kepada temannya. "Toilet mulu kayak cewek." "Gue mau pesan makanan dulu." Gabriel mendekati stan makanan Bu Ani dan memberi tahu makanan yang ingin dia pesan. Selesai dengan urusan makanan, Gabriel pergi ke stan minuman. "Bu, coklat hangat satu." Gabriel kaget ketika berbalik menemukan Quinla di depannya. "Kangen, ya?" tanya gadis yang merupakan seniornya. "Gak sih, biasa aja.” "Tapi lo tau 'kan, kalau satu minggu gue gak masuk kuliah?" "Lo abis ikut lomba essay mewakili kampus." Quinla tersenyum. "Masih suka sama gue?" Sebelum menjawab, Gabriel mencari keberadaan seseorang yang ternyata sedang menatapnya. Gabriel tersenyum dan berkata. "Masih." Quinla tersenyum lebar. "Gue kira perasaan lo berubah setelah kita gak ketemu satu minggu." Gabriel menyentuh rambut Quinla tapi pandangan matanya masih tertuju ke arah Jessica. "Gak mungkin gue gak naksir lagi sama primadona kampus yang bukan modal tampang doang." "Meskipun gue lebih tua dari lo?" tanya Quinla. "Beda setahun bukan masalah bagi gue. Bukannya lo udah sering nanyain, dan gue selalu menjawab dengan alasan yang sama." Quinla langsung memeluk Gabriel, tidak peduli dilihat oleh banyak orang sekaligus. "Love you, Iel." "Love you more." Gabriel memang menyukai Quinla sejak pertama melihat gadis ini, tetapi sekarang kenapa kehadiran Quinla tidak membuatnya berdebar seperti dulu? Dia bahkan kaget sebab teringat masih ada Quinla di hidupnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN