Mereka tiba malam hari di bandar udara internasional Tokyo. Setelah itu keduanya pun menuju hotel yang sudah disiapkan. Vani nampakny begitu lelah. Gadis itu hanya diam saja sejak tadi. Bram sendiri masih berusaha untuk memahami gadis itu. Pasalnya selama ini ia tidak pernah melihat Vani yang menjadi lebih pendiam. Gadis itu meski sebelumnya tidak sepenuhnya banyak bicara, namun belum pernah sediam sekarang. Alis Bram terangkat ketika sang resepsionis hanya memberikan satu kartu. Ia pun lantas segera bicara dengan perempuan itu menggunakan bahasa inggris. “Maaf, Ms. Saya rasa ada satu kartu kamar lagi yang belum diberikan.” “Ah, I’m sorry. Biar saya periksa kembali terlebih dahulu.” “Okay, thank you.” Bram menanti sejenak dan tidak perlu waktu lama, resepsionis terse

