“Sumpah gue tadi hampir kesel sama lo. Nggak jelas banget tiba-tiba minta jemput malah berangkat duluan.” Devan nampak santai menenggak minumannya. Bram akhirnya bisa mengeluarkan apa yang sudah dirinya tahan sejak tadi pagi. Ia sengaja menahan diri untuk membicarakannya dengan Devan saat makan siang saja. Jadi setelah makan, Bram mulai membuka topik pembicaraan mengenai Vani. Devan tidak merespon hingga ia selesai menutup botol minumannya. “Tadi papa udah duluan berangkat. Terus Kak Vani kayaknya emang agak belakangan. Jadi gue sengaja minta lo dateng ke rumah biar bisa berangkat bareng.” Bram menepuk pundak Devan. “Gila, sih. Lo emang keren banget, Van. Nggak nyangka gue. Peka banget ternyata. Sering-sering ya begini.” “Nggak usah terlalu gas pol. Yang penting

