“Loh, Bram.” Vani merasa terkejut karena ketika ia membuka pintu rumahnya, Bram sudah berdiri disana. Nampaknya lelaki itu hendak membunyikan bel namun secara bersamaan Vani membuka pintu karena ia akan keluar untuk bekerja. “Hai..” Bram tersenyum seraya menunjukkan giginya. “Ada apa?” “Ini. Mau jemput Devan. Mau berangkat bareng.” Vani baru teringat bahwa sekarang Bram sudah mulai bekerja di kantornya. Lelaki itu nampak rapi dengan kemejanya. Terlihat jauh lebih keren dibanding ketika Bram hanya mengenakan pakaian kaosnya. Bagi Vani, pesona lelaki itu meningkat seratus persen dengan setelan formal seperti ini. “Oh iya. Tapi kebetulan Devan udah berangkat tadi.” Bram nampak terkejut. Padahal Devan tadi menghubunginya dan meminta Bram untuk datang ke rumah supaya mere

