“Aku tidak sanggup melihat mu dingin seperti itu, aku ingin menggenggam erat tangan mu Jihan. Namun, kamu adalah wanita terhormat, tak sepantasnya aku menyentuh sesuatu yang berharga tanpa ada alat yang melindunginya." “Kamu itu layaknya seonggok berlian yang ketika di pegang harus menggunakan sarung tangan." “Kamu pandai bermain kata ya," ucapku kagum padanya dan dia hanya tersenyum namun dia hanya diam. Alviano menemani ku masuk ke dalam ruangan abah, dia akan membantu untuk menyelesaikan semua masalah hari ini. Malu sekali rasanya! “Eh nak alvi," ujar abah tersenyum bahkan setelah kejadian tadi. Aku melirik kesana kemari, ternyata hanya ada mbak Fatimah dan abah entah kemana yang lain. “Bagaimana apa bapak sudah sehat?" “Alhamdulillah saya baik-baik saja," jawab abah. Ak

