pov azam

1319 Kata
( pov azam) Entah kenapa sejak jihan pulang aku berubah dingin, bukan tak ingin seperti dulu selayaknya seorang adik dan abang tapi entah kenapa saat ini aku hanya ingin menjauh. Aku merebahkan kepala ku sandaran ranjang, menatap langit-langit kamar. Tuntutan mbak Fatimah untuk menikah dengan jihan sebenarnya tak berat bagiku, terlebih aku dan jihan sudah bersama sejak 15 tahun lalu meski dengan status abang dan adik angkat. Namun, akhir-akhir ini pikiran ku seperti berubah terlebih saat adanya masalah yang muncul karena ayah kandung jihan. Permintaan gila nya sebenarnya bisa ku penuhi tanpa harus menggadaikan aset milik abah. Namun, lagi-lagi aku seperti enggan melakukan itu semua, padahal itu semua untuk memudahkan rumah tangga ku nanti dan jihan. Drt drt Aku menatap ponsel yang tergeletak di atas meja di samping tempat tidur, ternyata itu notifikasi sebuah pesan dari seseorang yang kontak nya ku beri nama hanya sebuah emoticon berbentuk bunga. “( Mas pikir kan lah tawaran ku, dan konsekuensi yang akan mas ambil bila menikah dengan nya. yakinlah mas, dia tidak sebaik itu bahkan nasab nya saja tidak jelas, mas tahu kan jika ingin menikah harus melihat bibit, bebet dan bobot? menikahlah dengan wanita yang memiliki ilmu yang sepantaran dengan mu, agar rumah tangga kalian rukun) ." Itulah pesan yang aku terima dari kontak itu, tak ku pungkiri seseorang yang mengirimkan pesan ini sedikit banyak sudah mempengaruhi ku soal pernikahan ku dengan jihan. Bukan hanya kali ini, bahkan dia sudah memberikan peringatan padaku sejak sebelum kejadian datangnya ayah jihan kemari. Huh rasanya aku bimbang, ingin berdiskusi pada keluarga terutama abah dan mbak Fatimah rasanya juga tak mampu. Akhirnya lelah mendera aku menutup mata saat pikiran ini terus berputar di kepala, rasanya tidur lebih baik untuk saat ini. Di lain tempat seseorang tengah tersenyum penuh kemenangan, dia tak henti-hentinya memberikan masukan-masukan yang menjerumuskan seseorang untuk mengikuti kemauannya. “Sampai kapan pun kau milik ku," gumam nya dalam hati sambil menggenggam erat ponsel milik nya. ☘️☘️☘️ Pagi ini aku berinisiatif untuk membuat makanan kesukaan abah, yaitu cumi pedas manis. “Mbak jihan pamit ya," pamit ku pada mbak Fatimah yang sedang mencuci piring. “Enggak kepagian dek?" Ujarnya sambil melirik ke arah jam dinding . “Enggak sih mbak biar dapat yang baru di bawa masih segar." “Oh yasudah kamu pergi bareng siapa? Mbak enggak izinkan kalau sendiri," ujarnya penuh selidik. “Oh jihan bareng sama angel boleh kan mbak, katanya dia juga mau beli sesuatu di pasar ." “Yasudah nih, dia menyerah kan kunci motornya padaku, cepet balik ya dek," pesannya. “Iya mbak." Aku segera mengeluarkan sepeda motor matic itu, tak berapa lama angel juga telah siap . “Gimana langsung berangkat?" “Iya nanti ke buru siang panas," ujarku. Kami langsung tancap gas, sambil berceloteh tak menentu akhirnya kami tiba di pasar tradisional. tempat para ibu-ibu berbelanja semua kebutuhan pangan, yang harga nya lebih terjangkau tapi kualitas terjamin. “Kamu mau langsung ke tempat jual ikan atau nemenin aku dulu nyari sayur?" Angel menatap teman nya itu dia agak khawatir jika harus membiarkan jihan berbelanja sendiri. “Barengan aja," jawabku. Akhirnya setelah memastikan semua komplit kami lekas pulang. namun, di perjalanan kami bertemu dengan Rahma. “Eh berhenti dulu ji itu Rahma bukan," tunjuk angel pada salah satu tepi jalan yang hendak kami lewati . Aku menajamkan penglihatan ku, “iya itu mbak Rahma ngapain kira-kira?" Angel menggeleng tanda dia pun tak tahu untuk apa mbak Rahma disana, “mau samperin?" tawarku. “Boleh deh sekalian mau nanya beneran dia mau nikah atau Cuma isu," kata angel. Aku segera tancap gas untuk mendekat ke arah nya , tapi ternyata mbak Rahma sedang bersama orang lain saat ini. “Rahma," teriak angel yang turun dari motor. Mbak Rahma berbalik menatap kami tampak ekspresi nya yang terkejut, namun kembali datar. “Darimana ?" katanya sambil menatap ku juga angel. “Pasar mbak," jawabku singkat. Dia hanya mengangguk, “ada apa nih?" Katanya dengan nada bercanda. “Ah enggak ada mbak," balasku dengan tawa sumbang. “Enggak ada mau nanya aja bener mau nikah?" ujar angel. Aku menatap angel yang juga nada bicara nya seperti tidak enak, ada apa ini seperti perang dingin saja mereka ini, pikir ku. “Ya gitu deh, nanti lah ya undangan nya sampe. dia langsung membuka pintu mobilnya, oh iya pamit dulu ya lagi sibuk soalnya," ucapnya langsung masuk ke dalam kendaraan roda empat itu . Aku dan angel hanya melongo melihat nya, namun itu hanya sebentar angel terlihat tidak perduli. Akhirnya kami akhiri pembicaraan soal mbak Rahma, apalagi tadi dia sudah klarifikasi soal kebenaran tentang pernikahannya, jadi ya berarti bukan gosip. Meskipun pertemuan tadi tidak sempat bertanya perihal kenapa dia keluar dari pesantren tanpa pamit, tapi ah ya sudahlah mungkin lain kali, pikir ku. Tak terasa kini kami telah sampai di pekarangan pesantren. Namun, ada yang menarik perhatian ku, mobil mas azam tidak ada, kemana dia? Biasanya di hari libur seperti ini dia fokus istirahat di rumah. “Aku duluan ya ji !" ucap angel yang membuat ku menatap ke arah nya. “Eh iya ngel makasih ya udah nemenin," jawabku. “Assalamu’alaikum." Saat aku memasuki rumah sepi, kemana semua orang? apa mereka pergi bersama mas azam? Tapi tidak ada yang pamit padaku. Aku langsung berkeliling melihat area rumah. “Eh dek udah balik ?" Aku terkejut saat mbak Fatimah datang dari arah belakang dan mengejutkan ku, “mbak darimana,” tanyaku. “Oh dari asrama putri kenapa?" Dia melirik ku yang sempat berfikir macam-macam ini, huh suudzon aku mana mungkin mereka pergi tanpa mengajak ku. Kami masuk ke dalam rumah, “mas azam mana mbak?" “Nah itu mbak pusing tadi dia pergi setelah kamu pergi enggak tahu kemana, pas mbak tanyain jawabnya ada urusan dadakan." Aku hanya ber oh saja wajar menurut ku, pekerjaannya menjadi seorang dosen mengharuskan nya ada ketika di butuhkan. ☘️☘️☘️ Di lain tempat kini ada dua orang anak manusia yang sedang duduk berhadap-hadapan, berbicara perihal sebuah masalah yang baru-baru ini terjadi. “Jadi bagaimana mas kamu setuju? Aku enggak maksa kamu buat cinta sama aku. Tapi, aku Cuma niat bantu kamu, dan aku ingin bisa menggapai surga bersama dengan nya." “Apa ini tidak terlalu keterlaluan? Kenapa harus dia yang menjadi yang kedua," tanya sang pria. Wanita di hadapannya itu menatap nya, ““ “agar aku bisa menasehati dirinya mas, agar aku bisa menjadi guru yang baik untuk nya. ilmu dan pengalaman milik nya belum seberapa di bandingkan dengan diri kita," jawabnya. Laki-laki itu terdiam mencerna setiap ucapan yang di lontarkan sang wanita di hadapan nya, yang sedikit demi sedikit mulai masuk akal pikir nya. “Baiklah aku akan membicarakan ini dengan abah dan kakak ku," jawabnya. “Tidak," suara wanita itu naik satu oktaf. Laki-laki itu bingung, “jadi bagaimana? Tidak mungkin kan aku melamar mu tanpa ada keluarga ku? Terlebih aku juga harus memberitahu pada mereka soal rencana ini," Ujarnya. Wanita itu menggeleng, “jangan mas cukup kita saja yang tahu anggap saja kejutan, aku telah pergi dari sana. aku ingin nanti di hari pernikahan kita calon adik madu ku juga harus ada disana, setelah akad dengan ku maka kamu harus akad dengan nya." Pria itu menatap tidak percaya wanita yang ada di hadapan nya, jika semua wanita di dunia ini seperti dirinya mungkin para suami sudah bisa memiliki empat istri atau bahkan lebih sekarang. Apa mungkin itu yang di namakan ikhlas? Rela berbagi untuk bisa meraih surga yang di janjikan? Apalagi tidak semua wanita bisa sepertinya, wajar saja mungkin itulah keunggulan dari orang yang memiliki ilmu. “Baiklah aku pamit dulu semoga pernikahan ini bisa berjalan dengan baik, aku akan melamar mu mungkin dua hari lagi," ujar sang pria itu. Kemudian ia melenggang pergi seorang wanita yang kini tersenyum penuh kemenangan. “Selamat tinggal, selamat menyaksikan pertunjukan spektakuler beberapa hari lagi ya, kasihan sekali kamu sudahlah mendapat ayah yang seperti itu kini malah di khianati oleh pasangan sendiri benar-benar miris," gumam nya dalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN