Fitnah

1539 Kata
“Mbak tahu enggak kabarnya ada yang ingin menikah," ujarku pada mbak Fatimah. “Oh iya siapa?" “Si Rahma mbak kenal kan?" Uhuk uhuk ! Kami bertiga melirik ke arah mas azam yang terbatuk seolah baru mendengar kabar buruk saja. “Minum mas," ujarku sambil menyodorkan air minum padanya. Dia segera menghabiskan setengah gelas air itu, setelah di rasa cukup dia kemudian menyenderkan punggungnya di senderan kursi. “Kamu kenapa zam sampe kaget gitu?" “Anu mbak azam kaget aja, bukannya si Rahma itu yang juga kuliah bareng azam di Mesir ya mbak?" Mbak fatimah menatap ke arah ku, tampak bingung di wajahnya tercetak jelas, sedangkan aku hanya mengedikkan bahu tanda aku pun tak mengerti. “Kok nanya mbak kan kamu yang kuliah bareng dia, mbak mana kenal zam," jawabnya sambil menyendok nasi ke piring abah. “Memang kenapa zam?" Kini giliran abah yang bertanya. “Enggak kok bah, menurut abah dia gimana baik?" Kami semakin aneh dengan pertanyaan mas azam. “Baik kok," jawabku hingga membuat nya melihat ke arah ku. “Ehem maaf ji mas hanya bertanya, ujarnya seperti menghilangkan kegugupan , eemm tapi kesehariannya gimana di pesantren?" “Ya baik kok, apalagi dia juga kan baru balik dari Mesir jadi terkadang kalau kami butuh bantuan ya alhamdulillah dia bisa ngajarin kok," jawabku jujur. “Alhamdulillah !" Aku tak jadi menyendok nasi ke dalam mulut saat mendengar jawaban itu, perasaan ku tiba-tiba tak enak padahal mas azam hanya bertanya. “Astaghfirullah hilangkan lah was-was ini ya allah," doa ku dalam hati. “Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu azam? Kamu ini, sekarang kami sedang menunggu keputusan kamu untuk menikahi jihan, malah kamu nanya yang lain-lain," ujar mbak fatimah sambil melirik ke arah ku dan juga mas azam. “Azam sudah setuju kok mbak seminggu lagi bakal nikah, tapi ji boleh tidak nikah nya akad saja yang penting şah secara negara dan agama?" Aku menatap nya aneh, padahal dia belum ada bermusyawarah dengan kami. tapi ya sudahlah mungkin untuk saat ini belum ada dana, apalagi soal permintaan ayah waktu itu, rasanya itu saja sudah terlalu besar dana yang akan keluarga ini keluar kan. Abah menepuk pundak mas azam, “Kalau begitu segeralah bersiap," katanya dan hanya di balas anggukan oleh mas azam. Aku tak dapat menyembunyikan kebahagiaan ku, sejak percakapan malam itu aku terus saja tersenyum, kini aku yakin mas azam memang jodoh ku. ........................................... “Hemm kira-kira kalau buat sedikit pertunjukan seru kali ya? iya deh pemanasan dulu kali, hahah." drt drt “Ya saya mau sesuai instruksi yang saya kirim tadi, saya mau kamu ngirim paket itu ke alamat kantor nya dan pastikan dia Terima dan buka," pintanya dari sambungan telepon. “ Baik." “Maaf ya, aku cuma enggak suka sesuatu yang aku sukai di miliki orang lain," lirih nya sambil mengelus sebuah foto seorang wanita. ☘️☘️☘️☘️☘️ “Jihan jihan!” Aku dan mbak fatimah saling pandang mendengar teriakan keras itu, tidak biasanya ada yang berteriak seperti itu di pesantren ini. “Kok teriak nya gitu sih zam?" tanya mbak fatimah menegur mas azam, aku pun mengangguk mendengar pertanyaan itu. “Apa ini, apa!" teriak nya sambil melemparkan beberapa buah foto. “Apa sih zam segitunya," ucap mbak fatimah yang kini suaranya naik satu oktaf. “Astaghfirullah," lirih mbak fatimah saat memegang salah satu foto membuat ku ikut penasaran gambar apa itu sebenarnya. “Kenapa mbak?" tanyaku sambil berdiri di sebelahnya dan ikut melirik ke arah foto yang berada di tangan mbak fatimah, Ia tak menjawab pertanyaan ku melainkan memberikan foto itu padaku. “Hah ya allah," aku langsung melemparkan foto itu cukup terkejut aku melihat nya, ini lebih mengerikan daripada film horor. Aku menatap mas azam yang kini menatap ku penuh amarah, “kenapa, kaget?" sentak nya. Aku menggeleng tak percaya melihat semua itu, “itu bukan jihan mas," ucapku sambil melihat nya. “Cihh apa yang bukan itu kamu jihan apa kamu buta? Disitu terpampang jelas foto pernikahan mu dengan laki-laki tua itu," teriak nya. Ku lirik mbak fatimah yang kini bersender di punggung sofa sambil memijit kepalanya, tidak ada kata yang terucap darinya sebatas pembelaan seperti biasanya. “Mbak,"panggil ku. “Tolong jelaskan itu dek maksudnya itu apa?" lirih nya. “Jihan bersumpah mbak itu bukan jihan, mbak lihat sendiri kan sewaktu jihan kembali kesini. Jihan menggunakan baju pengantin? Jihan belum menikah mbak sesuai dengan yang jihan cerita kan waktu itu," aku menatap nya berharap dia mau mengerti. “Tapi foto itu bukan saat kamu kembali kesini jihan, tapi itu dua bulan lalu,"teriak mas azam. Aku menggeleng, “itu bohong mas dua bulan lalu aku masih berada disini , tolong jangan begini mas," ucapku memelas. “Mbak tolong beritahu mas azam kalau dua bulan lalu aku masih disini mbak, "ucapku pada mbak fatimah yang kini tak kunjung memberikan jawaban. Tok tok paket!!! “Biar mbak saja," ucap Mbak fatimah bangun dari duduk nya Dan menghampiri kurir di depan. “Ini untuk mbak jihan." Aku masih mendengar ucapan sang kurir saat mengatakan bahwa paket itu milik ku, aku sempat terdiam kembali mengingat apakah aku sedang memesan barang? “Dek ini," mbak fatimah memberikan secarik kertas padaku, ternyata bukan sebuah barang melainkan surat tapi darimana asalnya? “Kenapa kamu diam? buka surat itu," sentak mas azam. Aku langsung merobek bungkusan paket itu, namun baru setengah aku merobeknya aku kembali terkejut saat melihat logo di kertas itu. “Pengadilan agama?" “Ya allah!" Tangan ku gemetar saat baru melihat logo itu, tak dapat ku tahan air mata dan kegugupan yang melanda, hingga membuat kertas itu jatuh tepat di bawah kaki mas azam. “Pengadilan agama," ucapnya membaca tulisan yang tertera di logo itu sesaat setelah dia mengambil kertas itu. Tidak lama kemudian matanya melirik marah bahkan lebih tajam dari pandangan sebelum nya. “Bagus kalian sudah bercerai," teriak nya. Mbak fatimah langsung merebut kertas itu dan membaca isi nya, dia menggeleng sambil melirik ke arah ku mungkin juga tak percaya dengan semua itu. “Dek jujur apa ini benar?" Bahkan sekarang mbak fatimah mempertanyakan soal itu, ya allah apa mereka lupa jika saat itu batal menikah dan dua bulan lalu aku masih disini bersama mereka. “Percayalah mbak ada seseorang yang ingin menghacurkan hubungan jihan," lirih ku padanya. Mereka tak menjawab pembelaan ku, mas azam langsung masuk ke dalam kamar sambil membanting pintu, sedangkan mbak fatimah duduk termenung. Aku langsung pergi keluar dari rumah yang saat ini keadaannya tidak baik-baik saja, ini baru kemarahan dari mas azam dan mbak fatimah bagaimana jika berita ini sampai pada abah, aku tak yakin dia mau menikahkan ku dengan mas azam. Tok tok angel Aku mengetuk pintu kamar angel, hanya dia tempat ku bercerita saat ini. Ceklek “Loh kenapa ini?" ujarnya padaku saat aku langsung memeluk nya. “Izinkan aku masuk ngel," pintaku. Ia menarik ku masuk ke dalam kamarnya yang saat ini sepi entah kemana yang lainnya, mungkin sedang di dapur karena ini berhubung jam makan siang. Ia mengelus pundak ku dan memberikan air minum, “ini minum dulu kalau sudah tenang baru cerita," ucapnya menyodorkan gelas itu padaku. Aku menghembuskan nafas untuk menghilangkan sesak di d**a. “Sudah enakan?" Aku melirik nya yang kini tampak khawatir padaku. “Aku di fitnah ngel," teriak ku menangis luruh sudah pertahanan yang tadi coba aku bangun. “Ya allah jihan maksudnya gimana? coba cerita pelan-pelan ya !!" Aku mengangguk dan lekas menceritakan semua kejadian yang tadi terjadi di rumah padanya. “Ya allah jihan bukannya kamu dua bulan lalu Cuma disini? Jadi itu kenapa fotonya benar-benar mirip kamu? " “Aku juga bingung ngel tapi laki-laki dalam foto itu aku kenal dia teman ayah ngel," hiks hiks. “Apa dia laki-laki yang mau di jodohkan dengan kamu?" Aku mengangguk , “iya tapi sewaktu pernikahan kemarin memang belum terjadi ngel, karena istri şah nya datang dan mengacaukan acara itu. setelah itu aku kabur dengan cara mengancam mereka," jawabku. “Ya allah jihan aku miris dengernya, setega itu ada yang fitnah kamu, entah apa untungnya bagi dia." “Tapi jihan menurut kamu siapa yang lakuin ini? Kalau menurut aku ini kelakuan ayah kamu," ucapnya. Aku menatap nya sambil berfikir, “apakah ayah sudah keluar dari tahanan? Tapi jika iya siapa yang mengeluarkannya?" “Atau mungkin ini perbuatan tante sonya dan Clarissa?" “Yaudah kamu disini aja ya jihan, jangan dulu pulang. Takut nya ribut lagi semoga ada solusi dari masalah ini, dan semoga mas azam juga bisa nyelidikin ini ya," ucapnya menghiburku. Aku mengangguk memang sebaiknya aku disini saja, biarkan kami sama-sama menenangkan diri. ( Cafe Cinta) Di sebuah meja terdapat dua orang beda usia yang kini sedang berbahagia karena hasil pencapaian mereka hari ini. “Terimakasih dan ini bayarannya saya mau kamu pergi dari kota ini saya tidak ingin ada yang tau soal urusan ini," ujar seorang wanita yang kini sedang menyeruput minuman di depan nya. “Mbak tenang saja, saya sudah pengalaman dalam hal ini, oke kalau begitu saya permisi," ujarnya berpamitan. “Tidak akan ada istri kedua atau kamu yang menjadi istri pertama, hanya aku bagaimana pun caranya aku adalah istri satu-satunya dan akan tetap begitu." “Hallo, Bagaimana apa kamu mengenal pria itu?" “Oh baiklah katakan padanya,bahwa saya siap membayar berapapun asalkan dia ikut dalam rencana." “Baiklah atur saya dan waktunya saya akan kabari nanti."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN