Michael termenung mengingat kenangan terakhirnya bersama Jamie.
Flashback On.
Pagi itu Michael sedang berada di Istana Buckingham. Ia mengawasi Ratu yang sedang bermain dengan cucunya, anak dari prince William.
Saat telponnya berdering, ia meminta izin Ratu terlebih dahulu untuk menjawabnya. Ratu mengangguk mengizinkan Michael menggunakan telepon. Aturan kerajaan memang sangat ketat. Tak sembarangan bisa menerima panggilan telpon ataupun tamu yang tidak dikenal.
Telepon itu dari William, adik Michael. Nomornya hanya bisa di akses oleh keluarga Alexander. Ia tak pernah punya teman diluar istana itu. Sebagai pengawal pribadi, tugasnya hanya memastikan keamanan keluarga kerajaan. Urusan eksternal dengan orang banyak, itu menjadi tanggung jawab sekretaris kerajaan.
"Hallo Jamie. Ada apa? Kau di London?" tanya Michael
"Ya.Tapi tidak lama. Hanya beberapa hari. Aku harus ke Belanda untuk simposium. Oh iya... apa kau ada waktu? Aku ingin sekali bertemu denganmu. Sudah lama kita tak ngobrol bareng." kata Jamie.
"Hmmm... aku jadwal libur besok, selama 3 hari. Aku bisa menginap di rumah mu. "
"No... jangan dirumahku. Aku di hotel. Rumah ku sudah ku jual. " jelas Jamie.
"Dijual? Kenapa? Kau kesulitan dana? Aku bisa meminjamkan mu. "
Jamie tertawa.
"Jangan sepele padaku. Uangku lebih banyak daripadamu, walau kau pengawal istana. Aku ingin tinggal di Indonesia. Aku sudah menemukan apa yang kucari. You know?!"
"Apa itu? Wanita? " tanya Michael penasaran.
"Hmm.. benar!! Aku menemukan gadis yang selama ini ku tunggu. Aku ingin bersamanya. Aku belum memikirkan pernikahan, tapi mungkin itu bisa terjadi jika aku siap. Dan aku tengah menuju proses itu."
Michael tertawa. Ia yakin sekarang wajah Jamie pasti tengah memerah. Ia memang tertutup dengan kehidupan pribadinya. Tapi jika dia memilih bercerita ke Michael tentang hal ini, berarti adiknya itu tengah galau. Dia butuh seseorang untuk berkeluh kesah. Abraham mungkin tidak punya banyak waktu untuk Jamie, karena ia sudah berkeluarga. Namun Michael, masih single. Selain keluarga kerajaan ini, kehidupannya nyaris kosong.
"Ok... aku akan ke hotel mu nanti malam. Pastikan kau membeli cukup bir dan snack. Aku akan membawa anggur dari dapur kerajaan. Kau akan terkejut bila tahu berapa usia anggur itu. Tunggu saja, kita akan segera bersenang-senang. " ujar Michael.
Telpon itu ditutup. Prince William menatap Michael menyelidik.
"Adik saya, Jamie William Alexander. Seorang dokter bedah sekaligus profesor di Oxford. Dia ingin bertemu sebelum kembali ke Indonesia. " jelas Michael
William mengangguk mengerti, lalu melanjutkan aktivitas nya membaca buku. Ya... begitulah. Semua kegiatan Michael disini harus dilaporkan. Walau hanya ingin pergi kencing, dia harus mendapatkan izin dari keluarga ini. Tapi bagi Michael tak apa. Dia sudah terbiasa karena hampir 15 tahun bersama mereka. Ia menjaga Prince William dan Harry sejak mereka berumur 15 tahun.
*Flashback On*
Saat itu Michael baru saja tamat dari pendidikan tentaranya di Inggris. Ia pemuda yang ambisius, pintar dan berprestasi. Ia kemudian dipromosikan oleh kepala sekolahnya di militer, untuk menjadi pengawal biasa di kerajaan. Namun beruntung bagi Michael, di hari ia di interview oleh sekretaris kerajaan, ia bertemu pangeran Harry secara langsung.
Prince Harry saat itu berusia 15 tahun. Ia bermain softball di halaman belakang bersama beberapa pengawal. Ketika itu, tanpa sengaja bola yang dipukul oleh tongkat bet pemukul milik Harry, menuju cepat ke arah Michael berdiri. Refleks tangan Michael menangkap bola itu. Ia kemudian melemparkan bola sekuat tenaga, kembali kepada pitcher. Padahal jarak Michael sangat jauh dari mereka.
Prince Harry yang kaget karena ada orang yang responnya sangat tinggi, bisa menangkap bola tanpa gloves softball, serta melemparkan bola dengan tepat dalam jarak sejauh itu, langsung takjub.
"How can you do that? " teriak Harry.
Michael hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya memberi hormat.
"Come on... play with us." ajak pangeran muda itu.
Hari itu, Michael mendapatkan kesempatan bermain softball bersama pangeran Harry.
Keesokannya, ia mendapatkan pemberitahuan bahwa ia diterima bekerja di istana itu. Ketika masa orientasi, ia lagi-lagi beruntung. Ia bertemu ibunda Ratu. Karena usianya yang tua, Ratu Elizabeth kerap melupakan sesuatu. Entah itu kacamata, tongkat, payung, topi sampai ke sarung tangannya pun terkadang dia melupakannya.
Hal itu terjadi saat ada pertemuan dengan Perdana Menteri Italia. Michael yang berdiri berjaga di pintu masuk, memperhatikan Ibu Ratu dari kepala sampai kaki seperti alat pemindai. Ia terbiasa melakukan itu saat di Akademi untuk mengenali dan mengingat seseorang. Biasanya ia lakukan itu untuk menemukan hal yang unik pada seseorang sehingga ia takkan melupakan wajah orang baru.
Ia melakukan itu pada ibu Ratu. Michael menghafal kostum serta perlengkapan yang dibawanya. Ia bahkan tahu lipstik warna apa yang dikenakan Ratu Elizabeth saat itu.
Ketika acara kenegaraan itu selesai, Ratu berlalu begitu saja tanpa melihat bahwa ada beberapa perlengkapannya yang tertinggal.
Ia meninggalkan topi dan saputangannya di atas baki dekat lemari. Michael langsung mengambil kedua benda itu. Ia mencari sekretaris kerajaan untuk menyerah kan barang itu, namun tak menemukan keberadaan nya. Hingga ternyata Ratu berbalik kembali ke arah ruangan itu dan menemukan Michael sedang memegang saputangan dan topi miliknya. Di sebelahnya berdiri pengawal pribadi kerajaan, Sir Anthony.
Michael sontak terduduk dan tangannya terulur memberikan kedua benda itu. Ia menjelaskan bahwa tak menemukan sekretaris kerajaan untuk menyerahkannya.
"Darimana kau tahu aku melupakan barang ini? Dimana kau menemukannya? " Michael menceritakan kejadiannya.
Kepala keamanan yang bersama dengan Ratu membisikkan sesuatu pada beliau. Michael kemudian menundukkan kepalanya. Ia ingat sebuah aturan, kala seseorang sedang bercakap atau berbisik kepada Ratu, maka tak ada seorang pun boleh menatap mereka. Hal itu dimaklumi, karena orang seperti Michael, di militer telah diajarkan membaca gerak bibir. Hal ini tentu saja berbahaya jika tidak ada peraturan seperti itu. Bisa-bisa rahasia dan strategi negara terancam bocor.
Michael mendengar Ratu mengatakan Okey. Dia hanya menunggu perintah dari Ratu ataupun Sir Anthony untuk bisa bebas pergi dari hadapan mereka.
Tapi itu tak terjadi.
Sir Anthony malah memintanya untuk mengikuti mereka ke dalam ruangan utama kerajaan. Disitu, Ratu duduk dengan anggun di singgasananya.
"Mr.Michaele William Alexander, mulai hari ini, aku mengangkat mu menjadi pengawal pribadi kerajaan untuk menjaga pangeran Harry. Beberapa bulan lagi, price Harry akan bersekolah di Asrama khusus kerajaan. Aku ingin kau yang mengawasi kesehariannya. Apakah kamu keberatan? " tanya Ratu.
"Tidak Yang Mulia. Saya merasa senang dan bangga bisa melayani keluarga kerajaan. Terimakasih. " Michael merasa dirinya seakan bisa menangis saat itu saking senangnya. Ia yang hanya dipromosikan menjadi pengawal biasa di kerajaan ini, yang (mungkin) hanya bertugas di pos penjagaan ataupun pintu masuk, seperti dimasa orientasinya kemarin, malah mendapatkan kesempatan untuk menjadi pengawal pribadi seorang Pangeran atas penunjukan langsung oleh Ratu, orang nomor satu di Inggris ini. Betapa beruntungnya Michael.
Itulah pengalaman bagaimana ia bisa menjadi pengawal pribadi keluarga kerajaan. Setelah Sir Anthony pensiun, ia menggantikan pria itu menjadi kepala keamanan pribadi di istana ini.
Kini Michael sudah berumur hampir 45 tahun. Hidupnya di abadikan untuk keluarga Buckingham. Ia pun mensyukuri, bahwa selama ia menjabat ini, tak pernah ada kejadian yang tak diinginkan melanda keluarga kerajaan.Ia bahkan suskes melaksanakan pesta pernikahan Prince Harry dengan aman dan tertib. Nyaris sempurna, kecuali tragedi ibu Ratu yang menumpahkan teh minumannya, sesaat sebelum berangkat ke acara pemberkatan. Ia harus mengeluarkan pakaian terbaik ibu Ratu yang lain untuk menggantikan baju yang sudah kotor itu. Untunglah Ibu Ratu berkenan mengganti kostum itu dengan jenis lainnya. Jika tidak, entah bagaimana cara Michael harus menghilangkan noda di baju itu sementara acara sudah disusun dan tak boleh terjeda sedikitpun.
Ia juga akan segera pensiun di usia 48 tahun. Itu berarti 3 tahun lagi. Namun ia belum punya istri ataupun sekedar pacar. Rumah dan tanah Ranch yang dibelinya hanya didiami oleh tukang kebun yang biasa sewa untuk menjaga kebun buahnya. Entah kehidupan apa yang akan ia jalani setelah ia pensiun nanti. Akan masih adalah seorang wanita yang mau menikahi pria tua berumur 48 tahun???
*Flashback off*
****
Malam itu di sebuah hotel mewah, Michael dan Jamie sedang duduk di balkon. Pemandangan kota London dimalam hari sangat Indah. Langitnya penuh dengan bintang gemerlap. Secangkir wine tua menemani mereka minum.
Malam itu mereka berbagi cerita dengan seru. Canda tawa terdengar dari keduanya. Entah sudah berapa abad mereka tidak seperti itu. Kesibukan masing-masing telah merengut keakraban dua orang kakak beradik tersebut.
"Aku akan pindah ke Indonesia. Di situ aku udah 5 tahun dikontrak oleh RS, 3 bulan lagi masa kontrak itu habis. Tapi kurasa, aku masih bisa memperpanjang kontrak ataupun memilih menjadi dosen terbang di Fakultas Kedokteran seluruh Indonesia. Entahlah, aku masih belum memutuskan.
Saat ini yang ada di fikiranku hanya satu. Wanita itu !! You know, Michael, gadis Indonesia berbeda pemikirannya dengan bule. Aku bahkan tak pernah menyangka akan seperti itu cara dia berfikir. Dia sangat polos dan lugu. Seperti pacaran dengan anak SMP. Aku bahkan mengambil keperawanannya, hanya berdasarkan saling percaya. Tak ada ikatan kontrak pernikahan, ataupun rasa suka. Hanya karena kami pernah bertemu sekali dahulu.
Saling menunggu selama 10 tahun.
Itu bukan hanya gairah sesaat. Aku bisa merasakan ketulusannya menginginkan diriku. Aku tak pernah merasakan itu pada mantan-mantanku dahulu. Mereka hanya ingin *** dan ikatan pernikahan.
Kau tahu kan, kalo perceraian ortu kita membuatku tak percaya lagi arti pernikahan. Dan gadis itu pun sama, kesedihan yang dia dapatkan karena kehilangan terus anggota keluarganya, membuat dia trauma.
Kami adalah dua orang yang sama-sama belajar untuk mempercayai arti kebersamaan. Belajar untuk memulai kehidupan baru bersama. Tanpa paksaan, tanpa kewajiban. Itu sudah menjadi awal yang baik. Mungkin bila kami berdua sudah siap, kami akan menuju ke arah itu juga. Namun kali ini, kami nyaman dengan cara seperti ini. " ungkap Jamie.
"Kau dan aku sama-sama trauma akan pernikahan. Hanya saja, aku mungkin lebih tepatnya tak mau ribet memilih dan menerka-nerka seperti apa pasangan ku. Aku ingin menikah dengan orang yang sudah ku tahu, bahwa ia orang yang baik." kata Michael.
"Kalau begitu, nanti ketika kau memutuskan untuk menikah, suruh para gadis di sini mengumpulkan CV nya" gurau Jamie.
"Ya... mungkin akan seperti itu. " mereka berdua terbahak-bahak.
Malam itu mereka saling berkeluh kesah. Tapi tatapan Jamie sangat sendu. Entah mengapa. Entah apa yang dipikirkan adik lelakinya itu.
Tiga hari ia habiskan bersama Jamie di hotel. Mereka berjalan-jalan, shopping, berburu bahkan kemping di Ranch milik Michael. Mereka seperti ingin mengulang kembali keakraban semasa kecilnya.
Michael kemudian mengantarkan Jamie ke Bandara menuju Belanda. Ia memeluk adiknya itu hangat, namun Jamie memeluknya sangat erat, seolah ia tak ingin kehilangan abangnya itu.
"Kau memelukku begini, gimana nanti kalau ada paparazi yang laporin ke ibunda Ratu kalau pengawal pribadinya homo." gurau Michael.
Jamie terkekeh. Ada air mata tergantung di sudut kelopak matanya.
"Aku akan kembali ke sini setelah dari Simposium. Jika sempat, aku ingin bertemu lagi denganmu."
"Nope.. i wont. Kau benar-benar membuatku merasa seperti seorang gay jika seperti itu." gurau Michael lagi. Jamie memonyongkan bibirnya. Ia kesal karena Michael berkata seakan-akan dirinya homo.
Michael senang menggoda adiknya, yang walaupun jenius kayak Albert Einstein, tapi sangat polos dalam bersikap. Ia selalu apa adanya dalam mengungkapkan perasaannya. Michael terkejut ketika tahu ada seorang wanita yang sangat ia tunggu selama 10 tahun ini.
Ia pasti gadis yang istimewa, pikir Michael.
Semenjak itu, Michael tak pernah lagi bertemu Jamie. Hanya ada beberapa chat yang ia terima. Kabar terakhir yang Jamie katakan adalah ia berada di Lab Oxford, membantu temannya penelitian.
Tapi yang membuat Michael bingung, di akhir chat itu, Jamie berpesan "Jaga dirimu, bro. Jangan terlalu bekerja keras. Sudah waktunya kau istirahat dari tugas negara. Ingat...Ririn sudah akan menikah. Mungkin dalam 2 tahun, kau akan menjadi kakek. Nanti takkan ada wanita yang mau menikahi kakek-kakek berumur 48 tahun. Oh iya...tolong jaga juga keluarga ku. "
Michael berfikir, mungkin maksud Jamie adalah menjaga keluarga Abraham dan Layla. Jamie belum menikah. Tak mungkin rasanya ia menitipkan wanitanya untuk dijaga Michael.
Beberapa hari kemudian, Michael dikejutkan oleh berita di salah satu channel TV Inggris, bahwa terjadi kebakaran hebat di kampus Oxford. Entah mengapa, saat itu Michael langsung teringat kepada Jamie. Ia langsung meminta izin Ratu untuk pergi keluar dan mengecek keberadaan adiknya itu.
Nomor HP Jamie tak aktif. Beberapa kali Michael coba menghubungi nya. Dia bahkan mencoba men Tracking keberadaan terakhir ponsel milik Jamie. Sebagai kepala keamanan Ratu Elizabeth, ia punya akses khusus untuk melacak ponsel seseorang di seluruh dunia.
Ponsel itu terakhir aktif di kampus Oxford. Michael langsung mengendarai mobilnya ke sana. Tampak kerumunan mahasiswa memenuhi pintu masuk gedung itu.
Seorang polisi menahan langkahnya, tak mengizinkan Michael mendekati tempat kejadian.
Michael mengeluarkan kartu pengenalnya. Di negeri ini, kartu itu bagaikan akses resmi untuk keluarga kerajaan. Tak ada siapapun boleh melarangnya.
Michael mengikuti arah tracking ponsel Jamie. Ponsel itu terdeteksi 10 meter dari tempat ia berdiri. Itu berarti di dalam gedung yang terbakar itu!!! Di depannya, kobaran api sudah padam. Ia menghentikan langkah seorang pemadam kebakaran.
"Apakah ada korban? Saya mencari adik lelaki saya. Pria berumur 30an tinggi sekitar 160 cm dan berat 60an kg. Kulitnya putih, rambut hitam." Michael mendeskripsikan ciri-ciri Jamie.
"Ada empat orang korban yang sudah hangus. Tak dapat dikenali fisiknya kecuali dibawa ke forensik. Tim forensik akan tiba sebentar lagi." kata pemuda itu.
Hati Michael langsung terbalik rasanya. Matanya menghangat. Ia ketakutan, bahwa Jamie lah yang menjadi korbannya. Michael mencoba melobi polisi agar ia bisa masuk untuk mengidentifikasi korban itu. Tapi petugas menyarankan agar menunggu tim forensik, baru bisa masuk bersama mereka.
Michael mencoba menelpon bawahan nya untuk memastikan bahwa benar ponsel Jamie lah yang mereka deteksi, bukan milik orang lain. Michael tak mau ada kesalahan.
Personelnya menjabarkan alur perjalanan ponsel itu seminggu sebelum berada di kampus ini. Jantung Michael berdetak lebih kencang. Seluruh alur perjalanan ponsel itu sama dengan schedule yang Jamie rencanakan.
Michael ingin mengabarkan pada Abraham, tapi diurungkannya. Ia ingin memastikan dulu. Lagipula, di Indonesia pasti sudah malam. Mungkin Abraham sudah tidur.
Tapi sejujurnya ia sangat ketakutan. Ia merasa memerlukan seseorang untuk menenangkannya.
Hingga akhirnya satu jam kemudian,ia tak kuat. Ia memutuskan untuk menelpon abangnya itu.
"Hallo.." suara wanita menjawab telpon milik Abraham.
"Hello sister, ini Michael berbicara. Abraham ada?Eh sori, maksudku Bram. Aku ingin bicara sebentar, tolong bangunkan dia. Ini urgent. " perintah Michael pada istri kakaknya itu. Sesaat tadi ia lupa bahwa Abraham telah mengganti namanya menjadi Bram semenjak ia menjadi muslim.
Terdengar suara kakak ipar nya membangunkan Bram.
"Halo.. ada apa Michael. " suara berat di sana terdengar.
Michael langsung menangis mendengar suara abangnya itu. Ia meraunh seperti anak kecil yang tengah kehilangan permen.
"Ada apa... mengapa menangis? Tenangkan dirimu dulu, ambil nafas panjang" kata Bram lagi.
Setelah emosinya sedikit mereda, Michael baru bisa bicara.
"Jamie... ada kebakaran di Lab kampus Oxford. Tracking ponsel Jamie terakhir terdeteksi di sini. Ada 4 orang korban, semuanya... semuanya... " Michael tak kuasa menahan emosi, ia menangis lagi.
"Aku menunggu tim forensik baru bisa dibolehkan masuk. Aku akan mengidentifikasi mereka. Tapi rasanya aku tak sanggup. Abraham... bagaimana jika... jika... Jamie... " Michael meraung pilu.
Diseberang telepon, Abraham memegang dadanya. Ada rasa sakit disana karena keterkejutannya.Tapi ia berusaha tenang. Ia tak mau sampai terkena serangan jantung Ia menarik nafas berulang-ulang, sambil mengucapkan doa dalam hati, agar adiknya diselamatkan.
"Tenanglah... lakukan tugasmu. Tolong identifikasi dia. Jika kau tak sanggup, biarkan tim forensik membawanya dulu. Aku akan berangkat malam ini dengan Heli. Aku akan landing di Ranch mu. Tolong bantu kirim mobil untukku ke sana.
Michael... tenanglah. Tenangkan dirimu. Ingat Tuhan. Berdoalah yang terbaik. Aku akan menemanimu nanti. " ujar Abraham kepada adiknya itu. Kemudian Michael menutup telponnya.
Di kampus Oxford, Lima belas menit kemudian baru tim forensik tiba disana. Michael dipersilahkan untuk ikut masuk. Namun ia tak sanggup. Ia membiarkan tim itu untuk membawa jasad korban tersebut ke RS untuk di otopsi. Ia memberikan beberapa helai rambutnya serta sampling darah untuk uji DNA apabila jasad adiknya rusak untuk dikenali.
Ketika petugas membawa keluar korban itu satu persatu, kaki Michael terasa lemas.
Ia melihat salah satu dari korban yang kain penutupnya tersingkap di kaki. Korban itu memakai sepatu olahraga yang sudah sebagian besar terbakar. Sepatu itu mirip dengan yang pernah ia berikan pada Jamie dulu, sebelum pemuda itu pergi ke Indonesia.
Michael kembali menangis. Ia terus berdoa berharap itu hanya kebetulan. Banyak orang yang punya sepatu seperti itu. Namun hatinya tetap merasa bahwa adiknya sudah meninggal.
Ia kembali menangis terisak. Ia tak ingat lagi bahwa ia adalah pengawal pribadi Ratu Elizabeth yang terlatih untuk tegar. Ia kini hanya merasa sebagai kakak yang bersedih karena mengkhawatirkan kondisi adiknya.
Ia bahkan sudah mengutuk Tuhan yang telah mengambil orang-orang yang dia sayangi. Dulu Sadra, sekarang Jamie. Ia tak sanggup membayangkan bagaimana hancurnya hati keluarga Alexander bila memang korban itu adalah Jamie. Hingga seorang petugas polisi menyadarkannya untuk menenangkan diri.
Akhirnya Michael menuju ke RS yang membawa jasad korban kebakaran di kampus Oxford itu setelah ia mendapatkan izin dari keluarga kerajaan untuk mengidentifikasi jenazah adiknya.
****
Malam itu Michael standby di RS Lab forensik. Ia sudah menghadap Ratu untuk meminta izin cuti. Walau jasad korban itu belum selesai di identifikasi, namun Michael sudah pasrah. Ia meminta cuti resmi selama dua minggu. Tugasnya di operkan kepada wakil kepala keamanan.
Michael menunggu dengan gelisah. Ia bahkan lupa makan siang dan makan malam. Ia tak mau meninggalkan ruangan ini sebelum kepastian autopsi itu keluar.
Perkiraan tiga jam lagi, Abraham akan sampai di Ranch Michael. Ia memutuskan akan menjemput Abraham oleh dirinya sendiri.
Seorang dokter yang masih berpakaian bedah lengkap tanpa gloves, keluar dari dalam ruangan forensik. Michael segera berdiri.
"Hasil DNA-nya akan keluar satu jam lagi. Tapi sebelum itu, mari ikut saya untuk mengidentifikasi barang-barang pribadi para korban."
ujar dokter itu.
Michael dibawa masuk ke sebuah ruangan bercat putih. Di sana ada beberapa meja yang terbuat dari Steinlesteel. Ada kotak-kotak berjejer disitu. Ada beberapa jenis bahan pakaian dan potongan celana yang hangus namun masih dikenali bentuk bahan dan motifnya. Ada sepatu juga dan perhiasan.
Dari bahan pakaian dan celana, Michael tidak dapat mengenali satupun barang milik Jamie. Tapi sepatu yang tadi dilihat nya, ia merasa kenal. Tapi ia berargumen, mungkin hanya mirip, karena itu sepatu umum yang sering dipakai banyak orang, bukan buatan khusus.
Beralih pada benda pribadi, Michael mengenali jam tangan milik Jamie. Tapi sekali lagi, dia merasa itu juga bukan jam khusus. Namun Michael tahu, jam itu memiliki fitur yang lengkap, mulai dari tensi digital sampai pengukur suhu.
Satu hal lagi yang membuat Michael tertarik adalah sebuah kartu keemasan berlogo dan tulisan Hospital dibawahnya. Ia menatap dokter itu.
"Kartu itu punya korban JD-043. Ditemukan di saku celananya. Saya yakin itu bukan logo RS di Inggris. Saya hafal sekali logo RS disini. Kami sudah mengirimkan foto kartu itu untuk diidentifikasi." kata dokter forensik itu.
Michael memfoto kartu itu dan mengirimkan kepada anak buahnya. Dalam 2 menit, ia mendapatkan balasan.
"RS. **** Indonesia, sir. Itu tempat dr. Jamie William Alexander bekerja. Profilnya ada di situs RS tersebut." tulisan chat anak buahnya.
Sebuah screenshot dari website RS itu terpampang di layar HP Michael.
Kaki Michael lemah, ia jatuh terduduk. Besar peluang bahwa memang adiknya yang menjadi korban kebakaran itu.
"Agar lebih pasti, mari kita menunggu hasil tes DNA. Bersabarlah. " ujar dokter itu mencoba menenangkan Michael.
Michael beranjak keluar dari ruangan tersebut. Ia terduduk dan menangis di sudut ruangan hingga airmatanya mengering sendiri. Bayangan Jamie yang bersama Michael selama tiga hari itu berputar di memorinya.
Rupanya kau ingin berpamitan padaku. Kau tak ingin menyesal meninggalkan ku. Itukah arti pelukan eratmu saat itu Jamie? Mengapa cuma 3 hari kau bersamaku? Jika ku tahu itu saat terakhir kita, aku pasti akan menemuimu lagi sebanyak apapun yang kau inginkan.Namun takdir Tuhan tidak ada yang bisa menebaknya. Michael berusaha ikhlas dengan tragedi ini.
HP Michael berdering. Anak buahnya menelpon. Mereka melaporkan bahwa menurut laporan kepolisian, saksi mata mengatakan di Lab itu sedang ada kegiatan penelitian mengenai vaksin baru yang dilakukan oleh 3 orang Profesor. Ketiga nya adalah pengajar di Oxford. Dr. Jamie salah satunya. Ada seorang staf Lab yang kebetulan melihat ketiganya sekitar 15 menit sebelum ledakan terjadi dari dalam ruangan itu. Saat itu di laboratorium tersebut memang tidak dipergunakan oleh mahasiswa. Prof Harry membooking ruangan itu selama 5 hari, sampai dengan hari ini. Seharusnya kegiatan itu sudah selesai malam ini, sebagai batas waktunya.
Michael meradang. Ia menendang kursi hingga kakinya terasa sakit. Ia memukul dinding hingga tangannya memar. Namun semua itu tak dapat menghilangkan rasa sakit di dadanya. Rasa sakit karena kehilangan seseorang yang berarti di dalam hidupnya. Sakit yang sama yang dirasakannya saat Sandra dulu juga meninggalkan mereka. Tuhan... mengapa ini terjadi pada keluargaku?! Tak cukupkah Engkau memporak-porandakan keluargaku? Membuat orangtua kami berpisah. Membuat Sandra pergi. Membuat Layla harus menjadi tumbal keserakahan ibunya? Membuat dirinya dan Jamie harus hidup terpisah karena Michael tak mau lagi berhubungan dengan ayahnya.
Michael menyesal dengan jalan hidup yang dipilihnya dulu. Karena kebencian pada Ayahnya, Michael lebih memilih masuk ke asrama militer daripada tinggal serumah dengan Ayahnya. Ia meninggalkan Jamie sendirian disana. Hingga kemudian ia tahu, Jamie juga lebih memilih tinggal di asrama sekolah nya sejak SMP. Ia menghabiskan waktunya dengan buku-buku dan penelitian. Bahkan ia tak pulang ke rumah saat Natal tiba.
Jamie lebih memilih merayakan Natal di Australia bersama Sandra dan ibunya. Namun setelah Sandra meninggal, ia lebih sering memilih menghabiskan Natal di asrama. Michael tak pernah ada bersama Jamie saat malam Natal. Ia hanya mengirimkan paket kado dan barang-barang yang diinginkan Jamie. Tapi ia tak pernah hadir, bahkan untuk sekedar memeluk adiknya itu.
Michael baru tersadar, selama tiga hari itulah, kebersamaan mereka yang paling lama sepanjang mereka ada di Inggris. Sejak kepindahan mereka dari Australia, Michael tak pernah lagi bermain bersama Jamie. Ia hanya punya waktu paling lama sehari untuk bisa berjumpa dengan adiknya itu. Biasanya cuma beberapa jam untuk sekedar duduk ngobrol sambil minum kopi di lobby hotel tempat Jamie menginap. Ia bahkan belum pernah mengunjungi rumah pribadi dan ranch milik Jamie. Ia hanya tahu lokasinya dari laporan anak buahnya yang terus memantau keadaan Jamie untuk memastikan keselamatan adiknya itu.
Satu jam kemudian Michael dipanggil kembali. Hasil tes crosscek DNA menyatakan bahwa korban JD 043 adalah Jamie. DNA nya cocok dengan milik Michael, yang menyatakan bahwa mereka memiliki hubungan darah.
Lama Michael merenung setelahnya. Kemudian HP nya kembali berbunyi. Dari Abraham, yang mengabarkan bahwa ia akan sampai dalam waktu 30 menit. Michael menenangkan dirinya sebelum ia beranjak pergi menjemput abangnya itu.
***
Abraham belum menceritakan hal ini kepada siapapun,kecuali istrinya. Ia pergi saat Ririn sudah tidur. Ia berpesan,jika Ririn bertanya,agar mengatakan saja ia pergi menjemput Michael sekaligus mengurus urusan kedutaan di Inggris. Ia tak mau membuat Ririn khawatir.
Ketika Abraham tiba di RS forensik, Michael menahan langkahnya di pintu masuk kamar jenazah.
"Kuatkan dirimu. Jasadnya sudah hangus tak bisa dikenali. Kau yakin bisa menahan diri? Kau punya riwayat penyakit Jantung. Aku tak mau kau juga meninggalkan ku nanti setelah itu. " Michael mencoba bercanda untuk mengurangi kesedihannya.
"Jika kematianku setimpal dengan keacuhanku selama ini terhadap kalian semua terutama Jamie, aku takkan keberatan dicabut nyawaku saat ini juga. Hidup dan mati di tangan Allah. Aku harap kau mau menggendong tubuhku yang gendut ini nanti, tak membiarkanku terkapar di lantai yang dingin. " Abraham juga berusaha bercanda di akhir kalimatnya.
Mereka berdua tersenyum dan kemudian berpelukan. Mereka mencoba saling menguatkan dengan cara mereka sendiri.
Mereka didampingi oleh dokter forensik. Keduanya menatap jasad JD 043. Jasad itu gosong. Masih tersisa sedikit bahan kain berwarna putih melekat di tubuhnya. Kemungkinan itu adalah jas lab, kata dokter forensik. Di tubuhnya tak ada logam seperti kalung ataupun cincin. Tak ada daging yang tersisa, semuanya hangus menjadi arang. Namun bagian kaki yang terlindungi sedikit dari bagian sepatu, masih menyisakan lapisan kulit yang utuh. DNA nya diambil dari situ. Abraham tak tahan menatap jasad adiknya seperti itu. Ia menangis. Michael pun ikut menangis lagi. Ia meminta jasad adiknya itu segera dibungkus dengan kafan yang ia bawa lalu dimasukkan ke peti untuk dibawa ke Indonesia.
Peti berisi jasad jamie, diterbangkan langsung dengan pesawat pribadi militer Inggris, atas izin keluarga kerajaan. Ratu Elizabeth juga memberikannya izin cuti selama yang ia perlukan. Abraham menguruskan izin agar pesawat itu dapat masuk ke landasan Halim Perdanakusuma, Indonesia. Michael ikut terbang bersama heli Abraham. Jamie akan dimakamkan di belakang rumah keluarga Abraham di Bandung.
Di dalam heli yang membawa mereka kembali ke Indonesia, Abraham bertanya pada Michael, apakah akan diselenggarakan prosesi pelepasan di gereja? Dia bisa memesankannya jika memang perlu. Namun Michael menolak, karena hanya dia yang beragama Kristen dikeluarga Alexander.
Ayah dan ibu mereka sudah wafat. Abang dan adiknya sudah menjadi muslim. Lagipula, Michael tak mau terlalu mengekspose dirinya ke publik, bagaimanapun ia adalah pengawal pribadi Ratu. Mereka memutuskan, acara melayat kepada keluarga yang berduka, akan dilaksanakan setelah pernikahan Ririn. Pasti banyak rekan profesi Jamie yang akan hadir nantinya.
Yang sekarang mereka khawatirkan, dapatkah mereka mengatakan peristiwa ini pada Ririn yang sedang menunggu hari penting dalam kehidupannya itu? Sebuah kabar duka disaat ia tengah bahagia menanti pernikahannya. Abraham tahu, Ririn akhir-akhir ini terlihat akrab dengan William. Ia pasti akan sedih mendengar berita ini.
Mereka terdiam sepanjang perjalanan memikirkan hal itu.
Sementara itu, keluarga Alexander tak tahu, akan ada seorang gadis lain yang terluka akan kenyataan ini. Seorang gadis yang bahkan tak tahu dirinya tengah mengandung anak dari William. Seorang gadis yang berusaha menyembunyikan hubungannya dengan dokter jenius itu dari semua orang.
Seorang gadis yang menunggu kepulangan kekasihnya dengan kerinduan yang membuncah.
Gadis itu bernama Renata Suci yanti !!!
Flashback Off
*****