Semuanya dimana?

3005 Kata
Mobil pak Amat masuk ke dalam rumah Ririn. Pak Amat menurunkan Renata di dekat pintu utama. "Saya parkir mobil di belakang,Non. Semua mobil diperintahkan bapak untuk diparkir di hanggar heli. " kata pak Amat menjelaskan. "Emang papa lagi dinas pak? " "Ga non. Bapak tadi malam keluar negeri. Tapi bukan dalam rangka dinas. Bapak menjemput tuan muda." "William, pake heli? " tanya Renata "I... iya.. neng. Sama tuan Michael juga." sahut pak Amat tergugup. "Michael juga bisa ikut? Waahh... ngumpul neh semua keluarga Alexander. " Renata tersenyum senang. Ia belum pernah bertemu Michael. Renata hanya tahu wajahnya melalui foto yang terpajang di ruang keluarga Ririn. Foto keluarga besar papa dan mama Ririn. Itu sebenarnya bukan foto, tapi lukisan. Soalnya susah sekali mengumpulkan seluruh keluarga besar mereka. Apalagi Michael. Papa Ririn dulu juga menawarkan agar ia masuk ke dalam lukisan keluarga itu. Hanya saja, Renata menolak. Ia bukan sedarah dengan Ririn. Ia juga bukan anak angkat keluarga itu. Ia hanya orang asing, tak pantas rasanya berdampingan dengan keluarga besar mereka. Renata masuk ke dalam rumah melalui pintu utama. Seorang satpol PP langsung berdiri dan memberinya sikap hormat hingga nona muda itu menghilang di balik pintu. Renata sebenarnya agak canggung menerima perlakuan seperti itu, tapi mau bagaimana lagi, papa Ririn yang memberi perintah bahwa Renata harus diperlakukan sama seperti anak tunggalnya. Termasuk salam salute seperti yang diberikan satpol PP tadi. Melewati ruang keluarga, mata Renata memperhatikan foto besar itu. Michael dilukis di barisan ketiga, berdampingan dengan Tante Layla, Tante Sandra dan Ririn. William sebagai penutup barisan dilukis disebelah Ririn. Sedangkan 3 orang adik mama Ririn berada di barisan kedua. Mungkin karena ukuran tubuh keluarga papa lebih tinggi dibandingkan keluarga mama. Sedangkan papa dan mama dilukis dalam posisi santai, duduk berdua disebuah sofa, di deretan paling depan. Renata baru sadar, ternyata gadis kecil yang ada disebelah Ririn itulah Sandra, adik yang selalu dibicarakan William. Selama ini Renata tak terlalu memperhatikan foto itu. Wajah Sandra terlihat sangat menggemaskan dengan wajahnya memerah khas bule. Wajah itu tirus seperti Layla,William dan Michael. Tapi menurut Renata, wajah Sandra lebih mirip dengan Michael dan Layla lebih mirip dengan William. Renata masuk lebih ke dalam rumah itu. Ia menuju kamarnya. Kamar itu sudah dirapikan. Aroma melati memenuhi ruangan. Renata suka sekali aroma ini. Ia merasa seperti tengah berada di spa. Mungkin parfum ruangannya udah berubah. Biasanya bibi menyemprotkan parfum beraroma apel untuk ruangan Renata. Atau mungkin karena mau acara nikahan, biar terasa lebih tradisional, pikir Renata. Renata meletakkan tas pakaian nya. Kemarin Ririn bilang akan mengajak Renata mengambil baju nikahan dan baju milik Renata juga setelah makan siang. Ia melihat jam dinding, sudah menunjukkan pukul 13.12. Gadis itu menuju kamar mandi untuk bersiap-siap. Selesai mandi dan berpakaian, Renata keluar menuju ruang makan. Aneh!! Pada kemana semua orang? Renata memeriksa hingga ke dapur. Tak tampak wajah mama ataupun Ririn. Di dapur cuma ada Pak Amat yang tengah cuci tangan. Sepertinya ia mau makan siang, pikir Renata. Renata lalu keluar menuju kamar pelayan. Ia mengetuk satu per satu pintu kamar itu, namun tak ada yang keluar. Apa mungkin semuanya kompak pada tidur siang ya?! Baru juga jam satu siang. Gadis itu akhirnya kembali ke kamar. Ia pun lelah sekali sebenarnya. Namun mengingat janjinya pada Ririn untuk menemani ke butik, Renata akhirnya memaksakan diri. Ia pun tak ingin makan siang. Tadi di mobil Renata sudah makan semua bekal yang di pesannya dari resto RS. Ia masih kenyang. Renata mengambil HP nya. Ia menelpon Ririn. Tapi nomor gadis itu diluar jangkauan. Renata bingung. Apa lowbet ya HP Ririn? Ga biasanya HP mahal gitu lowbet. Ririn juga biasanya standby charger dan powerbank. Bisa dikatakan hampir ga pernah HP nya dimatikan. Renata mencoba menghubungi bunda, namun lagi-lagi dia harus kecewa. HP bunda Ririn juga tak bisa dihubungi. Tak mungkin dia menelpon papa, apalagi papa Ririn lagi berpergian dengan Heli. Ia mencoba menelpon William. Telponnya juga masih tak bisa dihubungi. Renata kesal jadinya. Kenapa keluarga Alexander ini jadi mendadak kompak HP nya pada mati ya??!! Renata yakin bukan HP nya yang bermasalah karena tadi pak Amat menelponnya. Ia mengecek chat sambil tiduran. Yang pertama di lihatnya adalah chat dengan William. Pesan terakhir yang ia buat masih centang satu. Sesibuk itukah William sampai-sampai ga bisa membuka chat darinya? Tiba-tiba perutnya mendadak kram. Renata meringis menahan sakit yang melilit. Duhhh... ini perut kenapa ya? Apa dia salah makan? Apa makanan RS tadi ga steril? Ga mungkin rasanya, karena makanan itu masih panas sewaktu dia bawa. Itu berarti makanan itu baru saja masak. Atau minumannya? Renata ga yakin juga. Renata menuju lemari obat. Mungkin maagku kambuh, pikir Renata. Ia mengunyah obat maag itu lalu bergegas mengambil air yang ada di galon disebelah pintu kamarnya. Dia paling ga tahan aroma mint pada obat itu. Walau sebenarnya obat maag setelah dikunyah harus menunggu sebentar agar bereaksi maksimal di lambungnya, namun Renata merasa bakalan muntah jika tidak langsung minum air. Renata mengambil HP nya lagi. Mencoba menghubungi Ririn dan juga bunda berkali-kali. Tapi tetap saja HP nya diluar jangkauan. Akhirnya Renata memberanikan diri menelpon papa. Suara sering sambungan telpon mulai terdengar. Ia penasaran kemana semuanya pergi. Tapi mana mungkin papa tahu kemana bunda atau Ririn pergi. Tapi... setidaknya bunda kan selalu izin ke papa jika mau kemana-mana, pikir hati Renata. Ia sejenak bingung. Hampir saja ia menutup telpon ketika suara berat diseberang menjawab panggilan nya. "Halo, dear. Ada apa? " "Halo pa, Renata udah di rumah. Tapi kok kayak ga ada orang disini? Apa papa tahu semuanya pada kemana? Bunda dan Ririn HP nya ga bisa dihubungi. Re jadi khawatir. " "Bunda dan Ririn bersama papa. Beberapa pelayan juga. Kami ada di halaman belakang, dekat hanggar heli. Kemarilah jika kau mau. Kami bisa menunggumu. " HP lalu dimatikan oleh papa Ririn. Hanggar??? Ada apa semuanya ke situ? Apa mereka sedang mendekorasi pesta taman Ririn? Apa pestanya dirubah lokasinya? Ga jadi di hotel? Walaupun bingung, Renata berjalan menuju ke arah Hanggar heli. Jaraknya lumayan jauh, ke arah perbukitan di belakang rumah, sekitar 200m. Perlu waktu sekitar 10 menit untuk ke sana dengan berjalan kaki. Mendekati lokasi, Renata melihat banyak orang berkumpul. Mereka semuanya memakai dresscode hitam. Semakin Renata mendekat, ia semakin bingung. Ia melihat ada tante Layla dan suaminya juga. Tante Layla berada di pelukan suaminya, menangis sesenggukan di belakang para pelayan yang membentuk lingkaran. Renata mendekati Tante Layla. Namun ia tak berani bertanya. Renata berjalan lagi mendekati kerumunan orang. Menyadari kehadirannya, para pelayan satu persatu membukakan jalan bagi Renata untuk masuk kedalam kerumunan itu. Sosok pertama yang terlihat olehnya adalah Michael. Ia mengenali pria itu. Wajah yang sama dengan di lukisan. Pria berwajah bule namun berambut hitam, dengan brewokan yang tertata rapi. Pria itu menatapnya dengan tatapan sendu. Tampak wajahnya memerah, pertanda ia baru saja habis menangis. Pria itu seperti sedang berusaha menyembunyikan kesedihannya. Matanya berwarna hijau, sama seperti William. Mana William? Renata mengedarkan pandangannya. Ia menemukan William!! Tapi hanya wajahnya di dalam pigura yang dipegang oleh papa Ririn. Papa menatap ke arah Renata. Wajah pria tua itu pun tak kalah sendu. Ia juga (masih) menangis. Air mata pria yang Renata kenal sangat tegar itu, jatuh mengalir deras. Renata mengerti situasi ini. Ia melihat gundukan tanah disebelah Michael yang terlihat masih baru. Di atasnya ada sebuah salib dan rosario. Renata menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tak percaya ini. Tak mungkin yang tertanam dibawah salib itu adalah William!!! William akan pulang hari ini. Dia berjanji akan pulang 3 hari sebelum pernikahan Ririn. Dia berjanji akan menemui Renata!! Mendadak kepala Renata terasa sakit sekali. Lalu seketika pandangannya menjadi gelap. Gadis itu jatuh pingsan di pemakaman William. ***** Semua orang yang hadir di pemakaman itu terkejut melihat Renata jatuh tak sadarkan diri. Para pelayan mencoba bersama-sama mengangkat tubuh Renata. "Bawa mobil segera." perintah papa Ririn. Salah seorang sopir bergegas ke dalam hanggar untuk membawa mobil. Ia kembali ke tempat itu dalam waktu singkat. Para pelayan memasukkan Renata ke dalam mobil, dibantu oleh sopir. "Bawa Renata ke rumah. Ririn, temani dia sampai sadar. Bunda tolong telpon dokter Harry. Suruh dia datang secepatnya. " perintah papa Ririn kemudian. Ririn yang tadinya kaget melihat Renata pingsan, buru-buru naik ke mobil. Di dalam mobil, ia memeriksa denyut nadi Renata. "Denyutnya lemah, wajahnya pucat. Tangan dan kakinya mendingin. Namun tubuhnya terasa hangat. Apa dia belum makan? Apa Renata sedang sakit? Apa urut kemarin tidak mengembalikan kondisinya menjadi lebih bugar? " tanya Ririn dalam hati. Ririn mencoba membuat Renata sadar dengan menepuk-nepuk pipinya pelan. Namun gadis itu tak bergeming. Walaupun ia seorang dokter, tapi apabila berhadapan dengan orang terdekatnya, Ririn bisa sangat gugup dan otaknya langsung blank, tak tahu harus bagaimana. Setibanya dirumah, Ririn meminta beberapa orang Satpol PP untuk membantunya membawa Renata ke dalam kamar. Selepas itu, Ririn membuatkan teh hangat, dan berjaga menunggu hingga sahabatnya itu sadar. Aroma melati kembali memenuhi kamar Renata. ___ Di Pemakaman "Who is that? " Michael bertanya. *kita translate aja ya guys* "Itu Renata, sahabat Ririn. Sudah seperti anak bagiku." jawab papa Ririn. "Renata? Jamie's girlfriend? " Papa Ririn terkejut. "No.. Renata tak punya hubungan apapun dengan William. Mereka baru bertemu beberapa bulan yang lalu. Kami memang punya keinginan untuk menjodohkan mereka, tapi belum terjadi." "Aneh. Karena beberapa waktu yang lalu Jamie bilang ia akan pindah selamanya ke Indonesia karena ada seorang gadis yang sangat ia inginkan untuk menjadi tua bersama. Jamie bahkan sudah menjual Ranch dan apartemennya di London. Ia bilang, gadis itu masa lalunya. Dia menunggu gadis itu selama 10 tahun dan kini takkan pernah melepaskan nya lagi. Seingat ku, 10 tahun yang lalu, Jamie pernah menceritakan tentang seorang gadis bersama Renata. Jadi ku pikir, gadis itulah wanitanya." Bunda yang menyimak cerita Michael terkejut. Putri angkatnya itu tak pernah bercerita apapun mengenai kehidupan pribadinya. Ketika bersama Jamie hari itu pun, mereka tidak menunjukkan kedekatan sama sekali. Jadi dia tak merasa ada hubungan khusus diantara keduanya. Papa Ririn dan bunda hanya saling berpandangan. Apakah benar yang dikatakan Michael? Air mata Abraham mengalir kembali. Ia merasa bersalah karena tak pernah tahu tentang kehidupan pribadi adik nya itu. Ia tak pernah meminta Jamie bercerita tentang suasana hatinya. Ia seakan acuh terhadap adiknya itu. Sekarang semuanya terlambat. Pemuda Jenius itu sudah meninggalkan mereka. Michael memeluk Abraham. Ia mengerti kesedihan abangnya itu. Hanya Abraham yang paling banyak berinteraksi dengan Jamie. Sedangkan dirinya terlalu sibuk dengan tugas negara, menjaga keluarga kerajaan Inggris. Namun ia lupa menjaga keluarga sedarahnya. "Mari kita kembali ke rumah. Kasihan Layla, dia sangat sedih. Aku takut nanti dia juga pingsan." ujar Michael pada abangnya. Michael dan Abraham berjalan menuju Layla. Wanita itu berlari ke dalam pelukan kedua saudara lelakinya. Ia menangis kembali. Layla tak menyangka, Jamie akan secepat itu pergi. Pertemuan terakhirnya bersama Jamie terpatri di memorinya. Itu makan siang terakhirnya bersama Jamie. "Jangan menangis. Jamie takkan senang melihatmu bersedih. Jangan buat Jamie menangis di alam sana. " hibur Michael. "Jamie sudah tenang disitu. Ada Sandra yang selalu dirindukannya. Ia pasti bahagia bisa bertemu Sandra kembali. " kata Michael lagi. Walau ada perbedaan persepsi tentang alam kubur dan kehidupan setelah mati menurut Kristen dan Islam, namun perkataan Michael itu tetap membuat hati Layla sedikit terhibur. Ia tahu bagaimana sedihnya Jamie ketika Sandra meninggal. Jika kondisi ini bisa membuat Jamie bahagia bisa dipertemukan lagi dengan adiknya itu, Layla ikhlas menerima kenyataan ini. Beberapa mobil sudah terparkir di dekat mereka. Satu per satu mereka naik ke mobil yang akan mengantarkan ke rumah Abraham.  *** Di rumah keluarga Ririn Semua keluarga berkumpul di ruang tengah,menunggu kedatangan dokter Harry. Para pelayanan menghidangkan cemilan dan minuman untuk mereka sebelum makan siang selesai di tata di ruang makan. Kegiatan memasak tadi terhenti setelah jenazah tuan muda Jamie tiba. Para pelayan menghadiri acara pemakanannya. Keluarga Alexander tak satupun sepertinya berniat untuk menyentuh makanan itu. Hanya suami Layla yang kemudian meminum teh yang disediakan pelayan. Ia memang sangat haus karena terus berdiri di terik Matahari saat di pemakaman itu. Mana ia harus memakai setelan jas hitam karena istrinya yang menyediakan itu. Padahal biasanya ketika ia ke pemakaman muslim, hanya memakai baju koko dan peci. Namun tadi Layla menyuruhnya untuk memakai jas hitam lengkap dengan dasi dan kopiahnya. Hidayat tak bisa membantah mengingat kondisi istrinya yang tengah terguncang atas kematian Jamie. Tadi pagi, Michael langsung yang mengabarkan berita ini kepada Layla dirumahnya. Hidayat hanya mendapatkan chat dari Layla yang menyuruhnya segera pulang dan berganti pakaian. Saat ia pulang, istrinya sedang dalam pelukan seorang pria berwajah bule sambil menangis terisak sedih. Hidayat memang belum pernah bertemu Michael. Ia sedikit merasakan kecemburuan melihat istrinya dipeluk pria lain. Tapi begitu melihat wajah yang rasanya pernah dilihatnya di suatu tempat, Hidayat menepis rasa cemburu itu. Mata hijaunya yang membuat Hidayat yakin bahwa pria yang sedang memeluk Layla itu adalah muhrimnya Layla. Michael hanya mengatakan bahwa Jamie meninggal karena kecelakaan saat berada di Laboratorium kampus Oxford. Tadinya Hidayat mengartikan kecelakaan yang dikatakan Michael adalah peristiwa tabrakan lalu lintas. Tapi saat di pemakaman, ia mencium bau gosong dari dalam peti Jamie saat mau dikubur, barulah Hidayat sadar, kecelakaan yang dimaksud abang iparnya itu adalah Kebakaran, bukan kecelakaan lalu lintas. Jamie dikuburkan didalam sebungkus kain kafan yang tampak sedikit menghitam oleh arang. ia membantu Michael dan Abraham menurunkan kafan yang berisi jenazah Jamie. Abraham tidak ingin Jamie dikuburkan di dalam peti. Walaupun Jamie non muslim, namun Abraham ingin ia tetap memakai kain kafan, agar jasadnya tetap menyentuh tanah. Michael tak keberatan dengan hal itu. Bahkan pria itu sempat berkelakar " yang penting Jamie dikuburkan. Kalau tidak nanti dia bakal balik sendiri ke rumahmu untuk minum teh bersama." Hidayat ingin rasanya memukul kepala iparnya itu. Bisa-bisanya ia bercanda saat di suasana seperti ini. Tapi lelucon Michael itu sedikit merubah suasana yang tadinya kelam oleh kesedihan menjadi senyuman di tengah keluarga Alexander. Sepertinya cuma Hidayat yang merasa bahwa itu sebuah lelucon yang tak pantas. Michael memulai doa menurut keyakinannya. Saat Michael berdoa, Hidayat melihat Layla menutup matanya, seolah meresapi kata-kata doa yang diucapkan Michael. Hidayat merasa sedikit kesal dengan kejadian itu. Tapi kembali ia menepis rasa tersebut, mungkin Layla menutup mata karena merasa lelah setelah menangis. Setelah Michael selesai berdoa, Hidayat mewakili Abraham untuk memanjatkan doa sebagai seorang muslim. Hidayat membaca doa panjang yang biasa dibacakan saat doa selepas sholat jenazah. Sekarang gantian dilihatnya Michael yang memejamkan matanya meresapi tiap doa yang diucapkan Hidayat. Budaya western memang aneh, pikir Hidayat dalam hati. Baju jas hitam resmi pakai dasi seperti orang yang sedang melamar pekerjaan, lelucon yang tak sesuai waktunya, bahkan ada sesi pidato perpisahan dari setiap anggota keluarga tentang si mayit. Abraham memberikan taburan bunga hidup di atas pusara Jamie untuk menghilangkan bau gosong yang menyengat. Hidayat sendiri tadi tak tahu harus berkata apa, karena dia cuma dua kali pernah bertemu Jamie. Itupun saat lamaran pertamanya serta hari pernikahan dengan Layla dulu. Dia tak pernah bercengkrama banyak dengan Jamie. Walaupun Jamie sering beberapa kali ke rumah mereka, tapi selalu saja disaat Hidayat sedang bekerja. Ia hanya mendengar laporan istrinya bahwa abang iparnya itu berkunjung. Hidayat sama sekali tak mengenal pribadi Jamie. Pidato Hidayat akhirnya diwakilkan oleh Layla. *** Dokter Harry tiba di rumah kediaman Abraham beberapa menit kemudian. Bram mengantarkannya masuk ke kamar Renata.Michael dan bunda pun ikut masuk ke dalam. Ririn menyalami dokter Harry, yang sudah dianggapnya ayah sendiri, karena ia adalah dokter keluarga itu semenjak mereka pindah ke Bandung ini. Dokter Harry tampak serius memeriksa. Ia lalu menatap Ririn. "Kamu sudah memeriksa kondisinyakan?" tanya dokter Harry. "Sudah om. " "Lalu, apa kesimpulan mu? " Ririn terdiam.. Ia menatap kedua orangtuanya. Sebenarnya ia ragu tentang hal itu, mengingat rasanya tidak mungkin. Tapi tanda fisiknya sangat jelas terlihat. Dokter Harry yang melihat Ririn ragu, tersenyum sendiri. "Aku menunggu jawabanmu. Aku mau tahu apakah spesialis bedah ortopedi masih ingat pelajaran awalnya dikampus kedokteran." ujar dokter Harry. "Hmmm... dia... diagnosaku.. berkemungkinan besar Renata dalam kondisi hamil. Tapi aku tak tahu, dia bahkan belum punya pacar. Bagaimana mungkin dia bisa hamil. " Ririn tampak sangat frustasi. Bagaimana tidak, sahat yang selalu hampir setiap hari bersamanya, selalu berbagi cerita, dalam kondisi hamil. Gadis yang tak pernah menceritakan tentang pacar, atau terlihat bersama seorang pria, bagaimana mungkin dapat hamil?! Kedua orangtua Ririn lebih terkejut lagi. Tak menyangka akan mendengar berita seperti itu. "Apakah dia pernah mendapatkan tindakan kekerasan seksual? " tanya dokter Harry lagi. "Rasanya tidak, om. Dia tak pernah bercerita tentang itu. Dia praktek bersamaku. Tak mungkin aku tak tahu jika dia mengalami hal seperti itu." seru Ririn. "Apakah itu berarti, ini adalah anak Jamie? " kata bunda tiba-tiba. "Apa? " Ririn terkejut ketika nama Jamie disebut. "Apa maksud bunda anak om Jamie? Ririn bahkan tak pernah melihat Renata berjalan bersama Om Jamie. Bunda lihat sendiri kan waktu kemarin di rumah pun, mereka seperti yang tak pernah kenal saja. Tak mungkin bun. Bagaimana mungkin?! " Ririn masih tak percaya. "Maksudmu Jamie berhubungan dengan gadis ini? Ku pikir dia bahkan tak suka dengan gadis Indonesia." sahut dokter Harry. "Dulu aku pernah menjodohkannya dengan putriku, Diana, tapi ia bilang hanya ingin cewek bule. Soalnya kalau cewek Indonesia, terlalu terikat dengan budaya dan hal-hal tabu lainnya. Jika begitu... mungkin saja Renata adalah gadis yang diluar pengecualian, karena ia kini hamil. Mungkin karena ia tak suka akan sebuah pernikahan." ujar dokter Harry lagi. "Renata adalah first love Jamie. Mereka bertemu di Australia 10 tahun yang lalu. " sahut Bram menengahi komentar dokter Harry. Bagaimanapun, Renata sudah dianggapnya anak sendiri. Kata-kata Harry terdengar menyakitkan, seolah-olah anak angkatnya itu w************n yang mau hamil diluar nikah begitu saja. Cerita Michael tadi membuatnya merasa wajar jika Renata menyembunyikan hubungannya dengan Jamie. Mereka berdua adalah orang-orang yang tidak mau terikat oleh suatu hubungan "keluarga". Dokter Harry yang merasa bahwa temannya itu sudah mulai tersinggung, memilih untuk tak memperpanjang komentar nya. Ia lalu pamit setelah memberikan resep kepada Ririn. " Pastikan dia testpack segera. Dan jaga pola makannya. Jika memang itu anak Jamie, dia harus tes rhesus juga agar bisa antisipasi. " pesan dokter Harry. Setelah dokter itu pulang, mereka melanjutkan perbicaraan di ruang tamu. Hidayat ternyata sudah pulang duluan karena ada jadwal sidang sore ini. Layla meminta izin untuk menginap di rumah Ririn selama dua hari kepada suaminya. Hidayat mengizinkan dengan syarat ia harus memperhatikan kondisi kesehatannya. Ia akan mengantar anaknya untuk ikut menginap dan beberapa pakaian Layla nanti malam. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN