Hati-hati!!

4351 Kata
Malam ini pasien tidak banyak. Sejak jam 7.30 tadi pasien terakhir di klinik Ririn sudah pulang. Renata memilih duduk bercengkrama dengan Ririn menunggu jam dinasnya selesai. Ririn pun harus menunggu Arya yang lembur sampai jam 9 nanti di kantornya. Calon suami Ririn itu harus menyelesaikan penelitiannya sebelum ia mengambil cuti honeymoon. Kedua sahabat itu bercerita ngalor ngidul kemana-mana. Mereka sadar, bahwa mungkin inilah kesempatan mereka bisa bareng sebelum Ririn menikah. Renata tau, setelah menikah nanti ia takkan berjumpa lagi dengan Ririn. Kemarin Ririn bercerita, bahwa Arya dipinjamkan ke salah-satu universitas di Jepang, sebagai utusan LIPI, untuk masuk tim peneliti pengembangan obat vaksin dari WHO. Ia dikontrak selama 5 tahun. Ia akan memboyong Ririn ikut bersamanya ke Jepang. "Jadi... di Jepang loe bakal kerja juga? " tanya Renata. "Belum tahu. Soalnya kalo pun ngelamar di RS atau buka klinik di sana, aku belum bisa bahasa Jepang. Kau pikir aku bakal praktek pake bahasa isyarat gitu? " canda Ririn. Mereka terbahak bersama. "Mending loe jadi ibu rumah tangga aja deh. Atau kalau belum tekdung, bisa juga ambil sekolah S3. Mana tau, setelah lulus S3, bahasa Jepang mu jadi paten. Kau direkrut di RS sana." ujar Renata sambil tertawa. Tak terbayang rasanya bila Ririn jadi IRT, secara gadis itu seumur hidupnya cuma bisa masak mie instan dan air doank. "Tapi gue kasian sama si Arya kalo lo jadi IRT. Bakalan kurus kerontang disuguhin mie tiap hari. " ejek Re. "Enak aja loe. Gua bisa masak tau. " "Masak apaan selain mie dan air? " "Masak telor rebus, sop telor, telor ceplok, dadar, sandwich, burger sama spageti. Itu aja menunya gue putar-putar tiap minggu. Telor itu gizinya banyak lho. " kata Ririn tanpa rasa bersalah. Mereka tertawa lagi. "Cuma Re... jujur gue kepikiran elo. Ntar kalo gue ga di klinik, loe bakal dioper kemana ya sama pihak RS ?!" Wajah Ririn langsung berubah sendu. "Kemana aja boleh sih, asal ga jadi asisten nenek lampir" Ririn langsung tertawa lepas mendengar kata-kata Renata. Ia tahu, maksud gadis itu. Nenek lampir adalah panggilan Ririn untuk dokter anestesi itu, dokter Ayu Putri. "Atau kalau loe mau, gue bisa bujuk om Jamie untuk mindahin lu ke bangsal bedahnya. Gimana? " tanya Ririn. Renata langsung blingsatan. "Loe mau gue di kutuk jadi pisau bedah sama nenek lampir itu ya? Emang lu ga tau, anestesi itu dibawah departemen bedah? Bakal tiap hari gue jumpa sama dia. Hhhh... ga deh ya. Makasih aja. " Ririn tertawa lagi. Topik nenek lampir membuat kesedihannya pudar berganti gelak tawa. "Loe tenang aja deh. Mau di klinik rawat jalan, mau di UGD ataupun jadi resepsionis penerima pendaftaran, gue bakal kerjain kok. Loe ga usah khawatir. Berdoa aja dokter pengganti loe single, muda, cakep, rajin menabung trus blasteran. Mana tau jadi jodoh gue." sahut Renata. "Tapi loe bakal di jodohin sama om Jamie. Ga ingat ya? Pasaran lu dah mati kalo emang jadi nyokap gue ngejodohin lu sama om es batu itu" ledek Ririn. Mendengar topik Jamie dibicarakan Ririn, wajah Renata langsung memerah. Ia berusaha menenangkan hatinya. Ia tak mau hubungan nya dengan Jamie terbongkar karena salah kata. "Cie.. cie... yang merah padam" goda Ririn. "Ah... om mu itu mana suka cewek item kayak aku. Loe ga ingat dia bawa dokter Ayu ke pesta mantannya? Itu berarti standar si om ya yang kayak Cinderella itu. Mending gue nungguin pangeran gue deh sampe ubanan. " "William yang loe ketemu 10 tahun yang lalu itu?? Cuih... mana tau dia udah punya anak 5, nat. Cowok bule mah ga doyan nungguin cewek lama-lama. Libido nya tinggi. Ga ehek ehek sehari, kejang-kejang deh mereka. Jangan ditunggu deh yang gituan... yang ada loe sama dengan tu nenek lampir, ga nikah-nikah sampe loe pensiun dari RS." jelas Ririn berapi-api. Ririn ga tau, bagaimana perjuangan William menunggu dirinya selama 10 tahun. Ingin sekali Renata menceritakan kisah mereka, namun ia tahu waktunya belum tepat. Renata hanya bisa tertawa. Tiba-tiba Renata merasakan kepalanya berdenyut. Ia memijit pelipisnya. Perutnya ga enak. Seperti kembung dan mual. Padahal dia sudah makan satu jam yang lalu. "Napa loe? Kok mendadak pucat gitu?" Ririn menatapnya khawatir. "Ga tahu, tiba-tiba aja sakit kepala berdenyut dan perutku langsung ga enak. Mungkin gue masuk angin karena kecapean kemarin keliling pasar sama elo." sahut Renata. "Gue anterin pulang ntar ya. Atau kalo lu mau pulang sekarang juga ga apa-apa. Naik mobil onlen aja. Motor lu nginep disini aja. " saran Ririn. "Ga usah. Gue tidur di RS aja. Jadi kalo kenapa-kenapa bisa cepat lari ke UGD." "Ya udah... sono tiduran. Biar gue nungguin Arya di lobby aja. Tutup aja sekarang kliniknya. Toh pendaftaran juga udah tutup, ga bakal ada pasien yang nongol lagi. " Renata mengangguk. Mereka berdua membereskan perlengkapan dan mematikan lampu ruangan. Renata berjalan agak terseok. Denyutan di kepala nya semakin kuat. Perutnya juga semakin mual. Mereka masuk ke lift. Ternyata lift bergerak turun. Renata mengantarkan Ririn ke lobby. "Besok gue ada janji mau luluran pengantin di sanggar kecantikan. Loe gue jemput ya pagi jam 8. Ikutan sekalian refresing. Biar seger badanmu. Kalau perlu ambil paket pengantin juga deh, biar om gue ga malu jalan sama elo. Kan ntar dia janji mau jadiin loe pasangannya di pesta gue. Ga ingat?" ledek Ririn. Wajah Renata kembali bersemu. "Terserah loe dah. Gua mah ikut aja. Asal tagihan nya di elo. " Renata memaksakan dirinya tertawa lebar sebelum kemudian ia beranjak ke lift untuk naik ke lantai atas. Lift itu kosong saat ia masuk. Lantai demi lantai orang-orang mulai masuk dan keluar silih berganti. Tiba-tiba Renata ingin sekali ke kamar William walaupun ia tahu pria itu tak ada disana. Tapi melihat sampai lantai 8 masih ada orang yang berada di lift, Renata pun ragu. Akhirnya di lantai 9 semua orang keluar dan lift menjadi kosong. Buru-buru Renata menempelkan kartu aksesnya ke lantai 10. Ia berhasil menuju lantai 10 tanpa ada orang yang melihat nya. Renata masuk ke dalam apartemen William setelah membuka pintu dengan kartu aksesnya. Ia sekalian membawa masuk kain Laundry yang ada di depan pintu Kamar itu. Ruangan ini masih seperti yang terakhir ditinggalkannya sebelum ia mengantar William ke bandara. Sebenarnya William menyuruh Renata untuk tidur disini saja jika kebetulan ia harus pulang malam. Tapi Renata tak berani. Ia takut berpas-pasan dengan pegawai lain saat keluar-masuk dari apartemen ini. Renata tak secuek William. Ia masih mempertimbangkan pemikiran orang-orang jika melihat dirinya berada di lantai kamar seorang dokter beken seperti William. Tapi malam ini ia mendadak ingin sekali tidur disini. Ia sangat merindukan pria itu. Seolah-olah dengan berada dikamarnya, Renata dapat sedikit mengusir rasa rindunya. Renata membuka lemari dengan fingerprint nya. Disana sudah ada baju untuknya. William memaksa agar Renata meletakkan beberapa baju ganti disana. Renata mengambil sepasang, lengkap dengan dalamannya. Lalu ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Selesai mandi, Renata menghidupkan chanel TV. Ia memilih chanel musik. Ia tak ingin menonton apapun. Tubuhnya terasa lelah tak bersemangat. Ia lalu berjalan membuka kulkas. Diambilnya pizza beku dan dipanaskannya di oven selama 5 menit. Ia takut, rasa mual dan pusing yang dirasakannya adalah karena asam lambung yang meningkat. Sambil menunggu pizzanya ready, Renata melirik ke arah meja sofa. Parfum William ada disana. Renata menghampiri parfum itu dan mencium aromanya. Sejujurnya, aroma parfum ini secara terpisah sangat wangi dan elegan. Aroma musk sangat sesuai dengan kepribadian William. Dan aroma jeruk sangat fresh untuk dikenakan seorang wanita. Namun karena pria itu mengenakannya bersamaan, menciptakan sebuah aroma baru yang saling berebut masuk ke indera penciuman seseorang. Seolah-olah setiap kali bernafas, kita akan mencium kedua aroma ini bergantian. Renata menyemprotkan kedua parfum itu di pakaiannya. Ia ingin merasakan kehadiran William melalui aroma itu. Setelah memakan pizza itu, Renata beranjak ke kasur. Sebelumnya ia mengambil HP dan mengetik suatu pesan chat untuk William. Aku sekarang berada di kamarmu. Aku merindukan dirimu. Sangat merindukan. Aku bahkan memakai parfummu, agar aku merasa kau tengah memeluk ku. Selamat tidur Honey. Aku menunggu kepulangan mu di sisi ku. Renata mengirimkan pesan itu segera. Ia menunggu hingga ada tanda centang muncul. Satu menit berlalu, namun tanda centang itu hanya satu terlihat. Mungkin HP nya lowbet. Nanti juga pasti akan dibacanya, pikir Renata. Gadis itu bergelung di dalam selimut tebal William. Ia tersenyum mengingat pelukan pria itu. Renata akhirnya tertidur pulas diiringi alunan musik dari TV kabel yang diputarnya tadi. **** Renata bangun dengan tubuh serasa remuk. Tidur lelapnya seakan tak mampu memulihkan tenaganya. Ia memeriksa HP nya. Ada pesan baru disana dari William. Renata membuka pesan itu. Sebuah pesan suara. Aku juga merindukanmu sayang. Aku bahkan tak bisa fokus dengan pekerjaan ku saat rindu itu datang. Kadang aku berfikir,haruskah aku pulang saja sekarang dan meninggalkan pekerjaan ini? Aku tak mau nanti gadis pandaku malah selingkuh mencari pria lain karena aku jauh darinya. Sama seperti mantanku dulu. Semoga itu tak terjadi padamu. I trust you. Renata tersenyum. Ia menekan tombol rekam dan mulai berbicara di layarnya. "Itulah perbedaan wanita Indonesia dengan bule. Jangan kau samakan aku dengan mantan bule mu itu. Malahan aku yang takut dirimu yang ga tahan , karna kau pria termesum yang pernah ku kenal. Cepat selesaikan pekerjaan mu dan pulanglah kembali secepatnya. Aku dan tubuhku menunggu mu untuk disentuh. Kalau kau lebih lama dari janjimu, Siap-siap aja, aku yang akan ke sana menyusul mu. Ingat itu dokter Jamie William Alexander. " ancam Renata. Pesan itu terkirim otomatis. Sama seperti malam kemarin, pesn itu hanya berupa centang satu. Renata tak menunggu lagi. Ia lalu berjalan lemah menuju lemari, mengambil pakaian ganti. Ia akan menunggu Ririn yang mengajaknya ke salon kecantikan. Semoga saja kegiatan itu dapat membuat tubuh nya segar kembali. _____ Di Salon kecantikan Disebuah private room yang sama, Dua gadis cantik tengah rebahan di sebuah dipan tanpa kasur, dengan hanya memakai balutan kain kemben Jawa. Di tubuh mereka hanya memakai celana dalam plastik sebagai lapisan, yang disediakan salon ini. Mereka menanti orang yang akan menjadi therapist urutnya dengan sabar. Seorang wanita paruh baya berkaca mata, bernama bu Martha, yang merupakan owner salon kecantikan itu datang ke ruangan therapist. Ia mencarikan seorang therapist terbaik untuk tamu spesialnya. Customernya kali ini berasal dari keluarga duta besar yang sudah menjadi langganannya sejak 10 tahun lalu. Ia tak ingin service para therapistnya mengecewakan, apalagi mereka kesini untuk mengambil paket pernikahan yang budgetnya sangat mahal. Mereka memesan 2 paket pernikahan untuk 2 hari senilai 4 juta rupiah per set nya. "Bu Sumini dan Bu Minah, bisa jadi therapist untuk 2 hari?" ( pepercakapan ini udah di translate dari bahasa Jawa) Kedua wanita Jawa itu menoleh pada bosnya. "Bisa bu." jawab keduanya. "Itu ada nona Ririn yang pesan paket pernikahan. Tolong dilayani dengan baik ya. Mereka kan langganan kita udah lama." "Bu sum mijit nona Ririn dan bu Minah ke teman nona Ririn. " tunjuk bu Martha. "Ayo siapkan perlengkapan paketnya, nanti bareng sama saya ke kamar VIP." sambung owner tersebut. Kedua therapist itu bergegas menyiapkan minyak urut beraroma terapi untuk mengurut tamunya. Tak lupa merek mengambil godokan lulur rempah asli yang tadi pagi sudah digiling oleh tim khusus salon itu. Mereka mengikuti ownernya menuju ruang VIP. Bu Sum dan Bu Minah adalah dua dari 5 orang therapist yang berpengalaman di salon ini. Mereka sudah hampir 13 tahun bekerja bersama Bu Martha di salon kecantikan ini. Mereka mengenal nona Ririn juga sudah lama. Biasanya sang owner menggilir 5 therapist terbaiknya untuk menangani keluarga duta besar itu, agar tidak terjadi kecemburuan. Tapi nona yang satunya lagi belum pernah mereka temui. Ketika mereka masuk, aroma melati merebak kuat bercampur aroma minyak essensial. Bu Minah mendadak pucat. Ia terdiam beberapa saat di depan pintu. Ia melihat penampakan seorang lelaki berwajah tampan sedang berada di sebelah teman Nona Ririn. Ya... bu Minah memiliki bakat untuk melihat penampakan makhluk halus. Ia membaca Ayat dalam hati untuk mengusir ketakutan nya. Biasanya,jika itu adalah setan, maka bayangan itu akan segera hilang jika dibacakan ayat matra itu. Tapi bila itu adalah bayangan arwah, makan penampakan itu akan bertahan. Bayangan itu tetap ada disitu. Pria itu menatap sendu ke arah gadis yang tengah menelungkup itu. Jantung Bu Minah berdetak kencang. Siapa pemuda itu? Suaminya gadis itu kah? Namun ia harus profesional. Bu minah melangkah mendekati gadis itu. Bu Martha meninggalkan mereka berempat di dalam kamar itu. "Saya permisi memulai mengurut badan ya mbak. " izin keduanya. Bu Minah mengambil posisi untuk memijit kaki gadis itu. "Maap.. nama mbak siapa? " tanyanya sopan. "Panggil saja Renata, bude. " jawab gadis itu. "Nona Renata ingin diurut dulu, jangan diliatin, nanti saya grogi. Kalau ada yang mau disampaikan, silakan kasi tanda pada saya. " ucap Bu Minah kepada Renata. "Ya Bu." sahut Renata tanpa curiga. Ucapan ini sebenarnya lebih ditujukan bu Mina kepada penampakan itu. Tapi dia tak mau membuat kedua gadis ini takut padanya. Bayangan itu menatap padanya, seakan mengerti bahwa ibu itu tengah berbicara padanya. Pemuda itu kemudian menghampiri punggung Renata. Mengusapnya lembut. Ia menatap pada Bu Minah. Ibu itu bingung maksudnya apa. "Maaf non, coba berbalik sebentar. Ibu mau mengurut kaki bagian depan dulu. " ujar Bu Mina. Renata berbalik sambil menyingkapkan kembennya. Pria itu kemudian menyentuh perut Renata, menggeleng dan kembali menatap ke Bu Mina. Wanita paruh baya itu mengerti. Ia mengangguk dan tersenyum. Kemudian bayangan itu menghilang. Bau aroma melati perlahan juga mulai menghilang mengikuti penampakan itu. Tak ada lagi bau kembang di ruangan VIP itu. Yang ada hanyalah aroma minyak essen vanila dan jamu-jamuan dari lulur godokan yang mereka bawa. Bu Mina mulai mengurut dengan lembut. Urat-urat yang berhubungan dengan jalur peranakan gadis itu, tak disentuhnya. Bu Mina takut, akan ada bahaya bagi anak dalam kandungan gadis itu. Anak?!! Ya!!! Bu Mina tahu bahwa gadis itu tengah hamil. Urat peranakan pada kakinya membesar. Itu biasa terjadi pada orang yang sedang mengandung. Ia penasaran, siapakah bayangan penampakan tadi? Tapi ia yakin sepertinya dia adalah ayah dari anak yang ada di rahim Renata. "Maaf... siapa yang akan menikah? Nona Renata apa nona Ririn? " tanya bu Sum membuka suasana. "Saya bude, " sahut Ririn. "Ini sahabat saya, Renata. Dia akan jadi pengiring mempelai nantinya, makanya saya suruh dia mengambil paket yang sama. Biar kami sama-sama kinclong di depan kamera." ujar Ririn. "Nak Renata sudah menikah juga? " tanya Bu Mina. "Belum Bu. Belum ada suami." jawab gadis itu. Bu Mina terkejut. Apakah ini anak hasil diluar nikah?? Ia menggelengkan kepalanya. Anak zaman sekarang, nikah belum tapi kawin udah. Gerutunya dalam hati. "Kalau nikah dan punya anak, pasti nanti anaknya cakep." kata Bu Mina lagi. "Gimana mau punya anak bude, pacar aja dia ga punya" ejek Ririn. "Masak iya toh nduk? Gadis secantik ini ga punya pacar? " Bu Mina semakin penasaran. Lalu dari mana anak ini?! Apakah gadis ini pernah diperkosa sehingga hamil? Atau karena s*x bebas, gadis ini jadi tek dung begini?! Tapi sepertinya ia gadis baik-baik, ujar Hati Bu Mina. "Apa akhir-akhir ini tubuh non Renata pegel-pegel? " tanya ibu itu penasaran. "Iya bu. Kepala saya juga mulai pusing,badan juga lemes., jadi agak mual. Mungkin ini karena kecapean untuk persiapan acara Ririn. Pagi ini pun pusing, lemas dan pegalnya masih berasa. Untung Ririn jemput saya untuk ngasih paket gratis di salon ini. Katanya biar saya fresh" gadis itu tertawa. Bu Mina semakin berhati-hati mengurut urat-urat tubuh gadis itu. Ketika sedang mengurut bagian perut, bu Mina berpesan pada Renata "Jangan banyak gerakan ya non. Jangan angkat beban berat juga.Nanti otot perutnya kram, ga baik. Ga boleh diet,harus makan banyak biar ga gampang pusing. bla.. bla... bla... " Renata hanya mengangguk mendengarkan petuah ibu itu. Walaupun di dalam hatinya, ia bingung sendiri mengapa banyak sekali godokan yang harus dia minum? Oh... mungkin agar tubuhnya lebih kuat, pikir Re. Tiba-tiba HP Ririn berdering. Bu Sum membantu memberikan HP itu pada Ririn dan menyalakan speaker nya "Assalamu'alaikum bunda. " "Waalaikumsalam, nak. Kamu dimana?" "Masih di tempat salon bun. Masih luluran. Ada apa bun? " "Ga ada apa-apa. Bunda kira kamu sama Arya. Ya udah,ntar langsung pulang ya, kan kamu masih di pingit. " "Ya itu, ga mungkin Ririn sama Arya. Mana boleh gadis dipingit ketemu calonnya. Iya bun, ntar kami langsung pulang kok. Ini bareng Renata juga. " "Kalo langsung balik ke Bandung aja gimana? Kamu masih kerja? Bukannya udah cuti? " "Ririn udah cuti mulai hari ini. Tapi Renata belum. Dia hari ini terakhir. Besok baru cuti. " "Ya udah... bunda kirim pak Amat jemput kamu ke situ. Ga baik calon pengantin nyupir jauh-jauh sendiri. Di salon bu Martha kan?! " "Ya udah... Ririn tungguin deh. Lagian ini juga masih lama kelarnya. Baru aja kami nyampe." "Oke.Assalammualaikum, nak" "Waalaikumsalam bun. " Ririn menutup telpon nya. Bu Sum kembali melanjutkan aktivitas mengurutnya. **** Ketika mereka selesai memanjakan diri di Salon itu, ternyata pak Amat sudah standby duduk di lobby salon. "Hai Pak... udah lama nungguin? " sapa Renata dan Ririn sambil menyalami dan mencium tangan pak Amat dengan sopan. Kedua gadis itu memang sudah terbiasa seperti itu, menyalami tangan orang yang lebih tua, walaupun dengan pembantunya sendiri. "Baru non, sekitar 15 menitan. Tadi jalanan lengang, jadi agak cepat nyampenya. Langsung pulang ke Bandung non? " tanya pak Amat. "Ga, anterin Renata dulu ke RS. Dia masih harus masuk kerja hari ini. Lagian motornya juga masih di sana. Iya kan,Nat? " kata Ririn sambil menatap Renata. Renata menjawab dengan anggukan. Walau badannya sudah lebih baik karena urut tadi, namun entah kenapa moodnya masih jelek. Males rasanya ngomong banyak-banyak. Ia merasa lebih mengantuk sekarang. Ririn beranjak ke kasir untuk membayar tagihan mereka berdua. Seorang pelayan memberikan wedang Jahe untuk menyegarkan tubuh kedua gadis itu. Tiba-tiba Bu Mina berteriak kencang. "Aduuuhh non Renata jangan minum wedang Jahe. Ga bagus." "Kenapa bude? Bukannya wedang bagus untuk menghangatkan badan setelah diurut? " "Mmm...itu..." Bu Mina ragu menjawab nya. Ia berusaha mencari alasan lainnya. "Jahe bisa buat non lebih pusing nanti. Non Renata sepertinya ga bisa tensi tinggi,jahe itu bisa buat tensi tinggi lho Non. Lebih baik Non makan godokan ini aja ntar dirumah pakai air hangat." Bu Mina menyerahkan tiga bungkus godokan pada Renata. "Minum ini tiap pagi sebungkus. Selanjutnya, tiap pagi minum kunyit giling sama keprokan serai sebatang. Habis itu kalo rasanya neng udah ga lemes dan pusing lagi, baru boleh minum wedang Jahe, ya. " pesan Bu Mina. "Baik bu, terimakasih. Berapa harga godokan nya bu? " "Ini gratis nak. Ambil aja sebagai hadiah dari Bude." "Lha bude...Ririn yang mau nikahan, malah Renata yang dapat hadiahnya." gurau Ririn sambil tertawa. Bu Mina tersenyum malu. " Kalau non Renata,kan udah dikasi jamu galian rapet sam bu Sum. Kalo yang beginian mah, non Ririn belum perlu". Walaupun bingung dengan maksud perkataan wanita tua itu, mereka tetap tertawa renyah. *** Di mobil Ririn "Non Re, tadi ibu berpesan, besok non dijemput sama saya pulang ke Bandung. Motornya parkir aja di RS. Ibu ga mau non pergi sendiri, apalagi naik motor. Jadi besok saya jemput jam berapa Non? " kata pak Amat. Renata tersenyum. Bunda Ririn itu selalu saja perhatian padanya, seperti anak sendiri. Renata senang sekali bisa merasakan kasih sayang seorang ibu dari bunda Ririn. Renata lupa bahwa ia anak yatim-piatu apabila sedang berada diantara mereka. "Jam 10 aja jemput di RS , pak. Takut besok macet kalo terlalu pagi nganterin motor ke RS. " ujar Renata. Mobil meluncur ke arah RS mengantarkan Renata kembali. Sebelum turun, Ririn mengingat kan Renata suatu hal. "Nat, sekalian ntar bantu ngemasin buku dan barang pribadiku lainnya yang diruangan. Aku takut, ntar lupa kalo nungguin habis pulang honeymoon ngemasin barang di klinik. Ga banyak kok. Masukin dalam box tolong ya. Sama jas aku juga. " pinta Ririn. "Oke bos. Siap laksanakan. " gurau Renata sambil memberi hormat seperti seorang prajurit. Ririn melemparkan tisu bekas ke arah Renata sambil memonyongkan bibirnya yang tebal merekah itu. Mobil Ririn meninggalkan Renata setelah gadis itu turun. **** Keesokan harinya Renata tiba di RS lebih awal, sekitar jam 9.15 pagi. Setelah memarkir dan mengembok roda motornya karena mau ditinggal lama, Renata menuju ke pos satpam untuk mendaftarkan motornya agar tidak terkena biaya parkir alias GRATIS. Setelah ia mendapatkan pass bukti gratis parkiran, Renata menuju ke lobby untuk menunggu pak Amat. Karena masih jam 9.25, Renata memutuskan untuk membeli makanan. Entah mengapa, rasanya ia lapar lagi. Padahal tadi jam 7, ia sudah makan nasi goreng dan s**u coklat serta ngemil beberapa buah apel. Ia juga sudah meminum godokan yang diberi Bu Mina kemarin. Apa mungkin karena kamu itu, makanya Re lebih mudah lapar?! Ya... mungkin saja. Renata tahu, beberapa ramuan terkadang membangkitkan nafsu makan. Seperti Kunyit asam. Gadis itu menuju ke restoran yang kini nampaknya tidak terlalu ramai. Hanya ada dua buah meja yang diisi beberapa orang. Renata langsung ke arah kasir untuk memesan menu yang simpel. Ia pesan roti pisang bakar, sandwich dan s**u coklat serta kopi cream. Ia memesan dua, agar bisa makan bersama pak Amat nanti di mobil. Ia lalu membayar pesanannya langsung agar nanti tidak terbirit-b***t saat pak Amat datang. Sambil menunggu pesanannya selesai dibuat, Renata memutuskan untuk duduk menunggu di meja dekat pintu masuk. Ketika ia berjalan menuju meja, seseorang menyapanya. "Hei kamu. " Renata menghentikan langkahnya. Dokter Ayu melambaikan tangannya. Renata kaget, tak menyangka dokter cantik itu masih mau menyapa dirinya setelah kejadian malam itu di rumah Ririn. Renata membalas lambaiannya sambil tersenyum. Dokter Ayu bersama seorang dokter pria berwajah Tionghoa. Mereka memakai seragam ungu. Berarti mereka sama-sama dari Departemen anestesi. Dokter Ayu menghampiri Renata. Gadis itu melanjutkan langkahnya menuju meja sambil menunggu dokter itu mendekat. Renata mengulurkan tangannya duluan dan Ayu menyambut uluran nya. "Pagi dok, apa kabar? " sapa Renata. "Alhamdulillah baik. Maaf, aku belum tahu namamu. Kamu perawat di klinik dokter Ririn, kan? " tanya Ayu. "Iya, dok. Nama saya Renata. Panggil saja Re atau Nata. Saya perawat dokter Ririn. " "Maaf malam itu kita tak sempat berkenalan apalagi ngobrol. Lagi situasi emergency, nungguin heli sepertinya. " Renata mengangguk. "Ga apa-apa, dok. Saya juga salah karena tidak duluan menyapa dokter. Soalnya saya pangling melihat kecantikan dokter malam itu, jadi udah blank duluan. " kilah Renata. Ia tak mau mengungkit kejadian bersama William di depan Ayu, takut dokter itu bertanya lebih jauh. "Maaf, boleh aku bertanya tentang hal sedikit pribadi?" tanya Ayu. Renata terdiam. Senyumannya menghilang. Apakah Ayu ingin bertanya tentang hubungannya dengan William? Bagaimana Re akan menjelaskan itu pada Ayu tanpa membuatnya terluka? Renata tahu gadis didepannya ini naksir sama William. Renata akhirnya mengangguk. Ia takkan menyembunyikan hubungan nya dengan dokter ganteng itu. Ia ingin mengklaim miliknya. Ia tak ingin baik Ayu maupun wanita lain, menaruh harapan pada William. "Silahkan dok, ga apa-apa. Saya akan jawab semampunya." "Sejak malam itu, aku tahu bahwa kamu adalah wanitanya dokter Jamie. Tadinya kupikir kamu adik Jamie, tapi dia menjelaskannya padaku saat di heli, bahwa kamu pacarnya. Jujur aja, tadinya aku sempat naksir Jamie, tapi karena dia adik kelasku di SMA dan umurnya jauh di bawahku, membuatku malu untuk meneruskan perasaanku. Tapi kamu ga perlu khawatir, kini aku sedang menjalin hubungan baru dengan kolega ku. Itu yang wajahnya Cina. Namanya dokter Lim. Kami sama-sama dokter anestesi. InsyaAllah kami akan menikah bulan depan di Bali. You know... kami berbeda agama." jelas Ayu kemudian. Ya.. Renata sering mendengar, bahwa pasangan yang berbeda keyakinan, lebih dipermudahkan mengurus surat pernikahannya di Bali. Tapi Renata kaget juga karena baru sekarang menemukan langsung ada tenaga medis dokter yang menikah berbeda keyakinan. "Aku hanya penasaran, apa hubungan dokter Ririn dengan William? Aku melihat foto diruang keluarga ada Ririn dan William disana. Tapi kamu tidak ada difoto itu. Aku juga melihat bahwa dia berasal dari keluarga konsulat. Benarkah? " tanya Ayu. Waaahhh... ini dokter kepo juga ternyata. Renata mendadak jahil ingin membalas perlakuan nenek lampir ini dulu terhadap sahabatnya. "Iya dok. Ririn itu sahabat saya sejak kecil, waktu kami masih di Australia. Kemudian Ririn mengambil spesialisnya di Belanda dan saya tetap kuliah di Australia. Papanya duta besar Indonesia untuk Australia. Dokter Jamie adalah adik papa Ririn. Jadi saya sudah mengenal dokter Jamie sejak lama. Tapi kami baru pacaran setelah saya pulang pendidikan spesialis perawat bedah di Australia." jelas Renata. Dia sengaja menekankan tentang pendidikan mereka, agar kedepannya mak Lampir ini tidak semena-mena terhadap kolega lainnya. Mungkin dikiranya Ririn lulusan lokal, makanya bersikap menekan sahabatnya saat diruang operasi. Mentang-mentang lulusan Harvard kale ya? " Aku menerima undangan pernikahan Ririn beberapa waktu yang lalu untuk departemen kami. Dua hari lagi di Bandung ya kan? Tapi sepertinya kami ga bisa datang, karena ada jadwal operasi. Ga tau kenapa, sejak dokter Jamie pergi simposiun, banyak sekali jadwal operasi di RS ini. Mungkin dokter bedahnya kekurangan personel. Biasanya sehari itu paling cuma 4x operasi, sekarang bisa sampe 6 bahkan tadi malam 8 kasus. Kamar operasi full,semua dokter bedah dan anestesi begadang hampir 20 jam bekerja. Baru pagi ini kami free. " dokter Ayu agak frustasi. Dalam hati Renata berkata "Itu mah derita loe. Siapa juga yang milih profesi berat gituan, harus tanggung resiko deh. Perawat mah juga gitu. Seperti dirinya yang mengambil spesialis medical bedah, pasti bakal ngerasain gitu juga kalo ditempatkan di bangsal gawat darurat macam kamar operasi. Emang ada dokter bedah yang ga didampingi perawat dan anestesi?! Emang kayak operasi sunatan, yang bisa ditangani oleh satu orang aja??!" "Apa Jamie masih lama di luar negeri? Ga pulang menghadiri pernikahan dokter Ririn? " tanya Ayu. "Belum tahu juga... dua hari yang lalu sih dia bilang rencananya hari ini. Tapi belum ngabarin juga. Ga tau maksudnya apa hari ini berangkat atau tibanya. HP nya masih belum aktif, mungkin juga karena masih dipesawat. " jelas Renata. Tiba-tiba HP nya berbunyi. Dari Pak Amat, mungkin beliau sudah nyampe. Renata menjawab telpon nya. "Ya pak, sudah nyampe parkiran? Baiklah.. tunggu bentar ya, Re ngambil pesanan makanan dulu. Sepertinya udah siap kok. " Telpon ditutup. Renata pamit pada dokter Ayu. "Maap dok, sopir saya udah jemput diparkiran. Saya tinggal dulu ya. Permisi. " Renata mengulurkan tangannya bersalaman dengan dokter Ayu penuh kemenangan. Lalu ia berjalan ke meja bar untuk mengambil pesanannya. Saat melewati meja dokter Lim, Renata menganggukkan Kepala hormat pada dokter berparas oriental itu. "Hmmm... calonnya dokter Ayu lumayan ganteng juga kok. Wajah khas Asia macam aktor Korea yang selalu dibicarakan Ririn. Kenapa dia lebih tertarik sama wajah bule wiliam?! Kalo Renata sih lebih suka wajah Asia, tapi karena udah keduluan dipertemukan dengan Wiliam...mau gimana lagi." keluh hati Renata. Renata tersenyum malu. Terasa wajahnya menghangat mengingat hubungan nya dengan William. 10 menit kemudian, mobil pak Amat meninggalkan pelataran parkir RS, mengantarkan nona Renata menuju Bandung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN