Berdebar Bersamamu

3253 Kata
Bau masakan yang wangi memenuhi ruangan, membuat William terjaga dari tidur nyenyak nya. Ia melirik ke arah lampu sirine di dekat TV. Lampu itu tak menyala, berarti tak ada panggilan bedah untuknya. Beberapa detik kemudian pemuda itu tertawa. Tentu saja tak menyala. Kalau lampu itu menyala, akan langsung terdengar bunyi sirine diruangan itu. Bunyinya takkan berhenti sebelum ada suara tepukan tangan 3x atau langsung dimatikan William dengan kode khusus dari HP nya. Dirinya yang biasa jenius, menjadi bodoh hari ini. Dia tersenyum lebih lebar kini. "Napa baru bangun udah senyum-senyum?! Idih... takut ah ngelihat elo gitu. Tidur bareng gue ga buat elo jadi gila kan dokter Jamie William Alexander tersayang?! " suara nyaring Renata langsung menusuk telinganya Gadis itu berteriak dari arah dapur. Ia tengah mencuci beberapa buah lalu mendekati ranjang. Renata duduk disisi ranjang didekat William. Tangannya memegang pisau untuk membuka apel hijau yang terlihat segar. Lalu memberikan sebuah potongan kecil ke arah mulut William. "Cobain... manis ga?! " kata gadis itu. "Gue jarang makan apel beginian, jadi ga tau manis apa ga. Loe aja yang jadi kelinci percobaan gue. Kalo asem.. gua emoh dah makannya. " gadis itu lantas tertawa. William langsung memakan potong apel yang disuapin gadis itu. Asem banget, pikir William. Tapi hatinya mendadak usil ingin mengerjai gadis itu. "Hmmm... enak say!! Tanganmu memang pandai milihin apel yang manis begini" ujar William dengan berusaha mengabaikan ekspresi asam yang dirasakannya. Renata percaya!! Dia memotong apel dengan ukuran yang lebih besar. Menyuapkan apel itu kedalam mulut mungilnya sendiri. William perlahan beringsut menjauh. Satu detik... dua detik.. tiga detik... "Ishhh... dasar pembohong!! " Pekik Renata. "Apel asam gini dibilang manis. Itu lidahmu udah mati rasa ya?! " rungut Renata. Tangannya bergerak untuk mencubit William. William terbahak-bahak melihat ekspresi gadis itu menahan rasa asamnya. Dibiarkannya tangan Renata mencubit kulit lengannya. Sakit memang, tapi itu ha seberapa dengan rasa bahagia di hati William. Sudah berapa lama ia tak tertawa terbahak-bahak seperti ini bersama seorang wanita? Renata mendengus dongkol. Ia beranjak ke arah sofa. "Mau kusiapkan baju? Mandi gih sana. Ntar kalo ada panggilan mendadak lagi gimana? Ga keburu ntar mandinya. Ini udah mau jam delapan. Loe ga ada shift malam? " Renata menyerang pemuda itu dengan pertanyaan beruntun. William sampai bingung mau menjawab yang mana satu? William bangkit menuju sofa dan melilitkan selimut ke tubuh bagian bawahnya yang masih b***l. Renata refleks memalingkan mukanya. Wajah gadis itu memerah. William terbahak-bahak lagi melihat gadis itu menahan malu. Ia duduk disebelah Renata, lalu merengkuh tubuh mungil itu dalam pelukannya dengan lembut. Ia mengecup pipi gadis itu sekilas. "Kenapa pipi mu memerah? Padahal ini bukan kali pertama kau melihat tubuhku. Lagipula yang terbuka hanya bagian atas saja, tidak sampe ke bawah! " ejek William. "Aku hanya belum terbiasa aja." ujar Renata. " Masak sih perawat malu melihat tubuh b***l begini?! Apa pasienmu selalu orang-orang dengan pakaian lengkap? Apa dulu di UGD ga pernah mempreteli baju pasien sampe b***l?!" serang William lagi. "Ya itukan beda, Bambang?!!! Itu pasien.. yang ini mah.. " ucapan Renata terhenti mendadak. Wajahnya kembali bersemu merah. "Siapa?! " tanya William berlagak b**o. " Ini mah body dokter kontrak RS *** yang gajinya 10x lipat dari perawat klinik biasa macam gue. Ga ada yang berani liat-liat. Kalo lecet dikit... gaji gue yang bakal dipotong. Sampe nyicil tiga tahun belum tentu lunas. " ucapan gadis itu membuat William terkekeh lagi. "Tapi khusus untukmu.. tubuhku ini free bukan hanya untuk dilihat. Tubuh ini udah nungguin 10 tahun untuk dijamah tangan mungilmu," William mulai menggombal. "Bukan 10 tahun lho, tepatnya 10 tahun lewat 4 bulan 21 hari. Aku menghitungnya tadi waktu bangun. " Renata tertawa lepas. William kembali menghujani Renata dengan ciuman. Ia lalu menarik tangan Renata sambil berjalan menuju lemari pakaian. "Ini lemari bukainnya pake fingerprint, nona Renata. Hanya sidik jari gue yang bisa ngebukainnya. Sekarang gue bikinin sandi untuk sidik jarimu. Sini jari telunjukmu!!" Renata menurut saat ia mengambil jari telunjuk kanan Renata. Tapi kemudian melepaskannya dN menggantikan dengan tangan kiri. "Napa? " tanya Renata bingung. "Ntar kalo loe suka gigit-gigit jari atau masih suka ngupil pake telunjuk kanan ini, ga bakalan bisa kebaca sidik jarinya di alat ini. " canda William sambil terkekeh lagi. "Sial!!" Renata memukul lengan William dengan gemas. "Aku ga gigit jari tau. Gua gigitin orang... mau nyobain?! " Renata memperlihatkan deretan giginya dan mencoba menggigit lengan William yang tadi dia pukul. Pemuda itu tak menghindari gigitan Renata. Dia ingin mencoba kekuatan gigitan Renata. Dahulu, gadis-gadis yang tidur dengan William selalu menggigit pundaknya saat k*****s. Terkadang sangat menyakitkan. Tapi Renata tidak!!! Ia hanya membenamkan kukunya pada kulit punggung William, sehingga tidak menyakiti William. Tapi Renata hanya menggertak saja. Ia malah mencium lengan itu. "Ga jadi ah... ini lengan mungkin asuransi nya bernilai 3 juta" ledek Re sambil manyun. William memeluk Renata dari belakang. Dia melanjutkan memasang fingerprint untuk jari Renata di alat. Setelah berhasil, ia menyuruh Renata untuk mencoba membuka lemari itu dengan menempelkan jari yang menjadi passcode lemari itu. Dalam sekejap seluruh pintu lemari bergeser membuka sendiri. Renata tampak kagum dengan fasilitas yang diterima William itu. Semuanya serba lengkap dan berteknologi canggih. Lemari itu mempunyai tiga ruangan besar. Terlihat dilemari tengah, tempat Renata berdiri, jejeran baju William tertata rapi disitu. Kemeja dan jas resmi semuanya tergantung. T-shirt dan baju kaos berkerah berbeda tempatnya. Ada bagian khusus deretan gantungan seragam bedah dan perlengkapannya. Dasi-dasi berbagai motif juga terpisah rak nya. "Dilaci sini tempat celana dalam. Di sebelahnya singlet ku. Di bawahnya kaos kaki. Dan di box itu, pin dasi sama jam tangan." jelas William. "Di sisi lemari sebelah kanan tempat handuk, seprei, selimut dan lain-lain. Gorden juga ada, cuma ga banyak. Hanya diganti kalo lagi pengen suasana baru aja. Trus box kecil itu...saving cash money aku. Ada beberapa lembar uang rupiah dan mata uang negara lain yang biasa aku kunjungi. Pegangan jika harus buru-buru pergi dan ga sempat ke money changer. " ujarnya lagi. "Tim Laundry akan datang mengambil linen kotor setiap jam 10 pagi. Dan linen yang di cuci akan siap dihari berikutnya. Karena kesibukanku, biasanya aku baru menata semuanya di lemari di malam hari. Jika kau mau, kau bisa membantuku merapikannya sebelum masuk jadwal ke klinik." tawar William. Renata langsung manyun. Baru juga beberapa jam menjadi kekasih pria ini, dia sudah punya tugas untuk membereskan linen cuciannya. Tega amat ini orang ya?! Tapi kemudian Renata merasa senang. Itu artinya William mengizinkannya untuk masuk ke dalam rutinitas hidupnya. "Dan di sisi kiri...masih kosong. Kau bisa mengisinya dengan meletakkan perlengkapan mu jika mau mulai besok. " kata William santai. Renata membelalakkan matanya. Itu artinya William menyuruhnya tinggal di situ bersamanya!! Seolah tahu apa yang difikirkan Renata, William terkekeh lagi. "Maksudku, jika kebetulan kau tidur disini, biar ada baju gantinya standby. Gitu lho." ralat William. Ia melepaskan pelukannya dari Renata. "Tolong siapkan pakaian dinas ku ya sayang. Aku mau ngecek ke ruangan setelah mandi. Habis itu kita dinner keluar sekalian ku antarkan dirimu pulang ke rumah." kata William sembari berjalan menuju kamar mandi. "Aku akan senang hati jika kau mau tinggal bersamaku untuk seterusnya" teriak William sebelum menutup pintu kamar mandinya. Renata termenung. Tinggal disini bersama William?! Seumur hidup Renata tidak pernah membayangkan akan tinggal sekamar dengan pria yang bukan suaminya. Walaupun kini ia punya hubungan khusus dengan William, namun bukan berarti dia akan seterusnya tinggal disini. Ini Indonesia. Bukan budayanya kumpul kebo begitu. Apa kata orang jika melihat Renata berada di apartemen ini? Suatu kali nanti, pasti dia akan berpas-pasan saat keluar masuk ruangan ini dengan orang-orang dari RS. Bahkan dengan Ririn pun ada kemungkinan nya. Renata tidak mau menjadi bahan gunjingan seantero RS. Bukannya dia malu dengan hubungan ini, namun budaya timur itulah yang membuat nya malu untuk melakukan itu. Dengan tidur bersama William beberapa kali ini saja, sudah sedikit merusak kultur budaya itu. Apalagi dengan tinggal bersama seatap tanpa ikatan pernikahan yang sah. Renata tak mau itu terjadi. Memang mungkin RS memberikan kebebasan pada William untuk mengundang masuk siapa saja ke sini, namun budaya dan persepsi orang timur dan western itu berbeda 180 derajat !! Bagi western kumpul kebo adalah biasa. Namun di sini, jangankan kumpul kebo, mau ciuman pipi antara pria dan wanita saja di muka umum, bisa jadi bahan gunjingan orang. Selain itu,dengan hubungan tanpa status pernikahan ini, dirinya bakal di cap orang sebagai w************n. p***k atau WTS, bahasa kasarnya. Jika orang lain mengetahui bahwa Renata sering menginap disini, mereka pasti akan men-cap dia seperti itu. Memikirkannya saja sudah membuat Renata malu, apalagi kalau sampai memang itu yang terjadi. Dia belum siap menghadapi kondisi seperti itu. William harus mengerti, bahwa hal yang diinginkan nya itu tak bisa diterapkan di sini. Dia harus menghormati kultur Indonesia. Dia harus mengerti dengan budaya dan pandangan masyarakat di sini. Renata akan menjelaskan padanya nanti saat makan malam. Semoga saja William bisa memakluminya. **** "Re...tolong ambilkan handuk kering di lemari. Yang disini udah pada basah." teriak William dari arah pintu kamar mandi. Renata kemudian tersadar, ia belum mempersiapkan baju untuk William. Ia segera mengambil, handuk dan celana dalam serta singlet untuk pemuda itu. Agak aneh rasanya menyusun perlengkapan untuk pria. Ada sekerlip rasa jengah dan malu di hatinya saat menyentuh pakaian dalam William. Namun ia mencoba menepis rasa malu itu. Secepatnya Renata bergerak ke arah kamar mandi dan menyerahkan pakaian dalam itu kepada William. "Aku bisa memakai ini di kamar. Tidak perlu disini kan?! Toh dirimu juga sudah melihat bentuk barangku. Tidak ada bagian tubuhku yang perlu di sembunyikan dari matamu itu." kata William tenang sambil menutup pintu kamar mandi. Renata membelalakkan matanya lagi. Pria ini, mulutnya pantas di cabe. Ucapannya selalu nyerempet ke hal-hal yang m***m. Renata mengipas wajahnya. Walau ruangan ini ber-AC, namun ucapan pria itu membuat wajahnya memerah dan terasa panas. Tak tahukah pria itu kalau Renata benar-benar belum terbiasa atas segalanya?! Tubuhnya, ucapannya, gurauannya, tindakannya, itu semua masih sangat baru bagi dirinya. Renata perlu waktu untuk membiasakan diri dengan semua perbuatan dan ucapan pria itu. Dia sama sekali belum pernah berpacaran dan sekamar dengan pria manapun. Bahkan di panti asuhan, ia tidur terpisah dari anak-anak panti yang berjenis kelamin pria. Kecuali yang masih balita. Renata hanya bisa mengurut d**a. Ia beranjak menuju lemari yang otomatis tertutup saat ia tinggalkan tadi. Sepertinya pintu ini mempunyai sensor seperti kaca pintu masuk di mal-mal. Renata lalu meletakkan jari telunjuk kanannya di alat fingerprint. Ketika pintu bergeser membuka, Renata mengambil kostum bedah milik William lengkap dengan sepatu karetnya. Ia teringat bahwa mereka akan makan malam keluar, maka Renata juga menyiapkan baju kaos berkerah dan celana jeans untuk William. Ia ingat penampilan William waktu pergi bersama Ririn ke WO. Tak berapa lama William keluar, tanpa handuk. Hanya memakai singlet dan celana dalam. Barang miliknya tercetak ketat di celananya. Renata menutup wajahnya menahan malu. "William!!! Mana handukmu?! Cepat pakai!!! Aku ga mau melihatmu seperti ini !!" seru Renata geram. Renata mendengar suara tawa lelaki itu. Ia mendengar tapak kaki mendekati nya. "Kan aku udah ga b***l, Re. Ini juga mau pakai baju. Jangan parno gitu ah. " ucap William santai. "Ya udah... buruan pake baju!! Kalo udah beres kasih tau. Pakai semuanya lengkap-lengkap. " teriak Renata. Gadis itu membalikkan tubuhnya membelakangi William, masih dengan menutup wajahnya. Pemuda itu tak berhenti tertawa. Mungkin baginya itu lucu, tapi bagi Renata hal itu memalukan!! "Iya... iya... maap... ini juga tinggal masang sepatu." kata William. Renata masih menunggu hingga William memberikan tanda bahwa dia sudah memakai pakaiannya lengkap. "Udah belum? " tanya Renata. "Belum" "Kok lama amat? " "Kan tadi disuruh pakai yang lengkap. Ini aku masih mencari kaus kaki dulu." ujar William Renata akhirnya menurunkan telapak tangan yang menutupi wajahnya. "Aaaa... " ia kembali berteriak "William!!! Kenapa masih belum pakai celana panjang?! Kenapa cuma baju doank?! " "Kalo aku biasanya pakai kaus kaki dulu, baru pakai celana, jadi ga kusut, Re" Jelas William. Aduh ini cowok, ribet amat hidupnya ya. Mana ada orang pake kaos kaki sebelum pake celana panjang?! Di mana-mana orang pake kaos setelah pake celana panjang. Lagian mana ada orang bakal merhatiin ujung celana bakalan kusut atau ga gegara make kaos kaki?! Pemikiran dari mana pula itu?! Yang mikir begitu pasti kurang kerjaan. Atau otaknya mungkin di dengkul dekat mata kaki sehingga kepikiran kayak gitu. Ini dokter mungkin saking pinternya jadi rada b**o untuk urusan diluar iptek kali ya?! pikir Renata. "Udah sana pake celananya. Biar aku aja nyariin kaos kakimu. " ujar Renata sambil menunduk mencari kaos kaki untuk pemuda itu lalu menyerahkannya. "Baju kaos itu masukin di plastik aja, nanti aku ganti pakaian di ruanganku. Plastiknya ada di bawah lemari dapur. " tunjuk William. Renata mengambil pakaian itu lalu menuju ke dapur mencari plastiknya. Ia memasukkan setelan baju itu dengan rapi. Ketika melewati ranjang, ia melihat HP William ternyata model terbaru dari brand terkenal, namun jam tangannya cenderung biasa saja. Padahal kebanyakan dokter di RS ini memakai jam tangan bermerek,dan ada juga yang berlapis emas permata. Tapi jam ini biasa saja. Renata memperhatikan jam itu dengan seksama. William menghampiri Renata. "Itu jam milik Sandra. Ia sangat menyukai jam itu. Jam itu milik ayahku. Ia memberikannya kepada Sandra sebagai kenang-kenangan saat orangtua ku berpisah." "Ketika Sandra meninggal, Layla memberikanjam itu padaku. Sandra berpesan jauh hari sebelum ia meninggal. Ia juga memberikan kalungnya kepada Michael, bros emasnya pada Layla dan cincinnya pada Abraham. Dia seperti sudah mempersiapkan diri menunggu hari kematian nya. Abraham memberikan cincin itu kepada Ririn. Kau pernah melihatnya? Aku melihat Ririn selalu memakainya di jari tengah." kata William. Renata mengangguk. Ririn memang pernah bercerita padanya tentang cincin yang ia pakai dijari tengahnya itu. Ya... sekarang dia ingat pernah ada nama Sandra disebut Ririn. Tapi Renata tak pernah mengira bahwa itu adalah Sandra yang sama dengan yang diceritakan William. William mengambil sebuah alat seperti Walkitalky disitu. "Kalau yang ini, HP khusus dari RS. Hanya dipegang oleh kepala Ruangan. Nomornya khusus dan hanya bisa di akses oleh kru di ruanganku. HP ini akan berbunyi bersamaan dengan sirine itu, jika ada panggilan untukku dari bangsal bedah. Artinya aku harus turun ke bawah. Suara alarm nya akan mati jika salah satu dari kedua alat ini telah dinonaktifkan oleh ku. Kalau HP yang ini, kugunakan hanya untuk menghubungi keluarga ataupun orang-orang di kampusku di Inggris. Masih nomor asli dari Inggris. Jadi pasti kena Roaming jika digunakan di Indonesia. Jarang ku gunakan. Aku tak pernah menelpon siapapun di Indonesia memakai ini, kecuali kamu dan Ririn. Itupun aku yang menginputkan nomorku di HP mu. Jadi jangan pernah memberikan nomorku pada orang lain. Untuk menelpon kolega atau siapapun yang lain diluar bangsal bedah, aku memakai telpon dari ruangan ku di bawah." Wah... beneran hidup orang ini ribet banget, pikir Renata. Hanya untuk masalah telpon aja ada peruntukan khususnya. Jadi dia musti bawa HP double jika ingin keluar ruangan. "Apalagi yang ingin kau ketahui tentang hidupku? " tanya William "Ga ada untuk saat ini. Soalnya perutku udah keroncongan. Cepetan gih sana sidak ke ruangan. Makin cepat kelar makin baik." kata Renata sambil menarik tangan William. "Tunggu... parfumku belum. " ujar William. Ia beranjak ke meja di sudut ruangan. Ada dua jenis parfum disana dengan brand terkenal. Dari bentuk botolnya saja, Renata sudah tau merek parfum itu. Memang kedua brand itu punya bentuk botol yang khas. Harganya juga mahal. Renata ga sanggup menghabiskan 1/2 dari gaji bulanannya hanya untuk membeli kedua parfum itu. Tak lama kemudian William menggandeng tangan Renata dengan lembut, mengajaknya keluar dari ruangan itu. Didepan lift, Renata merasa ragu kembali. Bagaimana jika lift itu akan penuh dengan staf RS yang melihat Re berada di lantai kamar William?! Seolah tahu dengan apa yang dipikirkan gadis itu, William berkata " Jangan lepaskan tanganmu dari genggamanku. Maka tidak akan ada orang yang berani membicarakan kita. Mereka pasti mengira kau adalah istriku. Ini bukan zaman kuda gigit besi lagi. " Renata terkejut. Tapi tak bisa protes karena lift telah sampai di lantai 10. Bagaimana mungkin orang-orang akan mengira seperti itu?? Sementara mereka sama sekali tak memakai cincin pernikahan di jari. *** Dua minggu ini William sibuk dengan simposiumnya di luar negeri. Renata hanya bisa menatap wajahnya melalui video call. Tidak tiap malam mereka berbicara, tapi William selalu menyempatkan diri menuliskan ucapan "selamat tidur gadis pandaku" di chat nya setiap jam 11 malam. Renata sendiri sibuk bersama Ririn menyiapkan pernikahan sahabatnya itu. Tentang hubungannya dengan William memang tak masalah. Beberapa orang yang pernah melihat mereka berada di lantai 10 tak pernah membicarakan kedekatan dokter muda itu dengan sang perawat. Mungkin benar kata William. Ini di kota besar, bukan lagi zaman kuda gigit besi yang tabu akan keintiman hubungan seorang pria dan wanita. Mereka akan mencoba mengerti dan walaupun bertentangan dengan pandangan hidupnya, mereka tak bisa berbuat apapun. Hari ini hari sabtu, Renata tak bertugas di RS. Ia dan Ririn keluar pergi refresing. Renata merasa badannya pegal-pegal setelah seharian menemani Ririn mencari souvenir. Kepalanya agak pusing dan kakinya lecet. Tapi hatinya senang sekali menemani sohibnya itu berbelanja, seolah-olah dia sendiri yang akan menikah. Sore ini William berjanji akan menelpon Re. Gadis itu tak sabar menantikan telpon pria itu. Ada kerinduan dihatinya karena tak bisa memeluk langsung dokter tampan tersebut. Renata agak khawatir, William disana akan terlalu sibuk sehingga melupakan dirinya sendiri, lupa makan dan lain-lain. Gadis itu tak bisa membantu menyiapkan kebutuhan nya seperti saat ia disini. Sekelebat ada kecemburuan dihatinya. Jangan-jangan disana ada wanita lain yang bersama William. Tapi hal itu ditepis nya. Renata sudah berjanji akan mempercayai pemuda itu. Pukul 16.38 HP nya berdering. Di layar tertera nama "Babang Kasep" yang menjadi sandi nama William bagi Renata. "Halo sayangku, sedang ngapain sore ini? " suara berat disana terdengar lembut ditelinga Renata. "Tadi habis JJS sama Ririn nyari souvenir. Honey lagi ngapain sekarang? Jangan bilang sedang nelpon ya!! Maksudku sebelum nelpon tadi. " ancam Renata. Pria itu terkekeh. Suara tawa itu sangat Re rindukan. "Aku tadi pagi habis jadi pembicara. Selepas lunch tadi ketemu sama pihak properti. Aku berniat menjual asetku semuanya disini. Aku punya rumah dan perkebunan anggur. Aku jual semuanya biar ga repot harus bolak-balik ke Inggris. Tadinya sempat ku tawarkan ke Michael, tapi dia ternyata udah punya rumah dan perkebunan sendiri juga. Hanya istri yang dia belum punya. Kata pihak properti, biasanya akan ada kabar paling lama seminggu dan kemungkinan lebih cepat soalnya lokasinya juga strategis. Pasti banyak yang berminat. " jelas William. "Jadi... kamu ingin stay seterusnya di Indonesia? " "Iya.Kan udah ada kamu. " "Trus, ga jadi dosen lagi di situ? " "Ga, soalnya penelitian ku dah kelar. Akun resign dari kampus. Aku udah temui rektornya. Hanya saja aku mungkin bakal lebih lama disini karena mau bantu temenku menyelesaikan penelitiannya. Mungkin aku baru bisa pulang tiga hari sebelum pernikahan Ririn. " Ada kekecewaan dihati Renata. Ia sudah sangat rindu pada William. Tiga hari menjelang pernikahan Ririn, itu berarti masih seminggu lagi. Harusnya William sudah pulang lusa besok. " Jangan ngambek gitu donk. Aku cuma ga enak hati, soalnya penelitian ku juga dia bantu mencarikan sampel-sampel nya dulu, sebelum aku di kontrak RS. Jadi aku mau balas jasanya. Aku ga mau ntar pas udah pindah ke Indonesia, masih ada yang mengganjal hatiku. Boleh ya sayang?! " bujuk William. Renata menghela nafas. Ia tak mungkin melarang. Ia harus bisa menahan rindu agar pria itu bebas dari rasa hutang budinya. "Its Okey honey. Ga apa. Im waiting for you. Masak aku ga bisa menunggu dirimu seminggu, sementara kau sendiri sudah berjuang menunggu ku selama 10 tahun. Apalah arti seminggu itu. " gombal Renata. William terkekeh. "Jika kau berkata seperti itu, aku bahkan merasa ingin pulang langsung besok. Sayang aku ga bisa. Tapi kupastikan jika aku pulang, akan ku buat kau terus mendekam di kamar ku walau harus membuat surat sakit kepada Ririn agar kau tidak bekerja seminggu." William tertawa lagi. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN