Elegi Dokter Ayu

3949 Kata
Jam menunjukkan pukul 01.28 saat operasi selesai dilakukan. Dokter Ayu mengemasi peralatan "tempurnya" dan memilah sampah. Dia melirik ke arah dokter Jamie yang juga tengah melepaskan handschoon sterilnya. Walaupun usianya terpaut 3 tahun dibawah Ayu, namun tampak aura kedewasaan pada diri dokter muda itu. Wanita itu diam-diam mencintai Jamie. Semua itu bermula ketika 5 tahun lalu, saat pemuda itu baru saja masuk ke tim bedah RS. Ayu ingat, pertemuan pertamanya dengan Jamie adalah di dalam pesawat. Ketika ia akan menghadiri Simposium dokter anastesi di Inggris. Ia satu pesawat dengan pemuda itu dalam perjalanannya dari USA menuju Inggris. Ia tahu bahwa di acara itu akan ada dokter bedah sebagai pembicaranya. Prof Jamie William Alexander. Nama itu tampak tak asing bagi Ayu, tapi Ayu tak begitu peduli pada nama itu. Dia bahkan heran mengapa dokter bedah bisa menjadi pembicara utama di simposium dokter anastesi? Dia tak tahu info detail tentang Jamie, kala itu. Dokter Ayu tertarik mengikuti acara itu hanya karena profesor tempat ia kuliah di Oxford juga menjadi pembicara disitu. Kala itu Ayu baru saja lulus spesialis nya dan tengah mencari pekerjaan. Profesornya itu berjanji akan memcarikannya lowongan di salah satu RS besar di London karena Ayu termasuk lulusan 5 terbaik di Oxford University. Demi ambisinya itu, Ayu pun rela mengikuti kemanapun profesornya itu saat menjadi pembicara. Pekan sebelumnya, ia pergi ke Tokyo dan kini harus ke Inggris. Ayu beruntung dia termasuk anak dari keluarga berada. Jadi walaupun belum bekerja, ia selalu punya uang untuk bepergian. Baginya, bekerja hanyalah sebuah bentuk pengakuan publik untuk gelar yang diraihnya. Uangnya lebih banyak dibandingkan gaji seorang spesialis anastesi. Namun keinginannya dan gengsinya untuk bisa masuk ke RS terkenal di Inggris membuatnya bersemangat. Di pesawat, ia duduk di kelas bisnis. Jamie kebetulan berada di sebelahnya. Sepanjang perjalanan pemuda itu hanya tidur bagai mayat. Ayu pun gengsi untuk memulai pembicaraan dengan pemuda itu. Hingga diwaktu pramugari menawarkan makanan, barulah pemuda itu terbangun. Ketika itu Ayu melihat wajah yang tak asing saat menatap pemuda disebelahnya. Ia ingat, pria itu adalah juniornya di SMA. Ayu lupa namanya. Tapi Ayu ingat, pemuda itu baru 6 bulan berada di SMA, namun di semester kedua ia diterima sebagai mahasiswa undangan di fakultas kedokteran di Inggris. Ayu yang waktu itu bahkan belum menyelesaikan tahun ketiganya, tercengang, mengetahui juniornya malah sudah diterima sebagai mahasiswa. Seluruh sekolah gempar ingin tahu siapa anak jenius itu. Pemuda itu tidak terlalu dikenal karena sangat tertutup. Teman-teman Ayu yang sempat berkomunikasi dengan pemuda itu hanya berkata bahwa ia sangat dingin. Ayu hanya melihat foto pemuda itu saja dalam buletin sekolahnya. Pemuda itu menyelesaikan SMP nya dalam waktu 2 tahun. Ia juga 2x mendapat penghargaan peneliti muda berbakat dari Oxford semasa SMP dan di awal tahun pertamanya di SMA, begitu tulisan di buletin itu. Dia menempuh tes intelegensia (IQ) dan mampu menjawab 100 soal-soal untuk anak kelas 12 dengan nilai sempurna dalam berbagai mata pelajaran. Oleh karena itulah ia dapat lulus dari SMA dengan cepat (hanya 6 bulan) dan mendapat beasiswa untuk sekolah di Fakultas Kedokteran salah satu universitas terbaik di Inggris. Sekarang Ayu bertemu lagi dengannya. Mimpi apa dia kemarin?! Ayu memikirkan bagaimana cara membuka obrolan dengan pemuda yang duduk di seberangnya itu. Pemuda itu memilih menu makanan asia, nasi goreng dan chocomilk. Tak berapa lama pesanannya datang. Dia makan dalam diamnya. Ayu mulai berani menyapanya. Menu itu akan dijadikannya alasan untuk berkomunikasi dengan juniornya itu. "Sorry... apa kau keturunan Indonesia? Kulihat kau memesan menu nasi goreng." tanya Ayu dengan suara lembutnya. Pemuda itu menatapnya kemudian menggeleng. "Hanya suka menu ini, " ujarnya singkat. Ia lalu meneruskan kegiatan makannya. "Oohh.. maaf.. kupikir tadinya aku salah orang gegara melihat mu makan menu ini. Kupikir tadinya kamu Indon. Karena orang yang kumaksud adalah Western. Ternyata memoriku benar. Aku yakin kau adalah Junior ku di SMA *** Inggris, bukan? Pemuda yang baru 6 bulan di SMA kemudian langsung tamat dan melanjutkan studi sebagai mahasiswa kedokteran di ****** university di Inggris?! Itu kamu kan??" desak Ayu Pemuda itu menghentikan suapannya. Ia menatap lekat wajah Ayu. Kemudian tersenyum. "Yeah... aku juga ingat wajahmu. " ujar pemuda itu. Ayu merasa ada kebanggan ternyata ia diingat oleh pria tampan ini. Mungkinkah ia secret admirer Ayu? Mungkin saja, pikir gadis itu. Banyak orang yang diam-diam naksir pada wajah cantiknya. Perpaduan wajah bule dan Asia Gadis itu memang membuat sebuah kesempurnaan. Mata besar hitam dengan bulu mata lentik, rambut lurus pirang, kulit putih bersih, bibir merekah dan tubuh tinggi semampai. Apalagi untuk bule yang rerata memang menyukai gadis berwajah asia. "Kau gadis yang selalu melotot dan mengumpat jika ada hal yang tak kau sukai terjadi. " ujar pria itu lalu meneruskan makannya. Ayu terkejut. Ternyata hal yang diingat pria ini, bukan kecantikannya. Wajah Ayu memerah. Tapi dia menepis rasa malu itu. Ia ingin tahu nama pemuda ini. "Saya Ayu Putri. Saya grade 12 ketika kamu baru masuk SMA. Saya dokter anastesi. " Gadis itu mengulurkan tangannya mengajak bersalaman. Pemuda itu dengan ogah-ogahan membalas jabatan tangan Ayu. "Alexander. Dokter juga. " kata pemuda itu singkat. Ia meneruskan lagi makannya. Ayu merasa pria itu tak suka diganggu saat makan. Oleh karena itu Ayu memaksakan dirinya untuk diam, walau banyak hal yang membuat penasaran. Ketika Alexander telah siap makan, Ayu memberanikan diri bertanya lagi. "Kau suka sekali sepertinya nasi goreng. Apa pernah tinggal di Asia? Aku keturunan Asia juga, Indonesia tepatnya." ujar Ayu. "Yeah... beberapa kali ke situ saat simposium. " jawabnya lagi. "I'm sorry. Aku ingin tidur lagi. Aku bergadang semalam jadi sangat mengantuk". ujar Alexander kembali mengatur posisinya untuk tidur. Ayu membelalakkan matanya tak percaya. Orang ini katanya dokter, tapi etikanya jelek sekali. Habis makan langsung tidur dan mengacuhkan orang sekenanya. Biasanya,cowok lain bakal ngantri menunggu Ayu membuka percakapan dengannya. Tapi orang ini malah memilih tidur. Sampai pesawat mendarat mereka tak lagi berbicara sepatah kata pun. Pemuda itu juga sepertinya turun paling akhir dari pesawat. Di bandara, Ayu melihat pemuda itu keluar tanpa mengambil bagasi. Ia hanya membawa sebuah ransel kecil dan tas laptop saja. Kekaguman Ayu bertambah setelahnya. Ternyata dokter bedah yang hadir sebagai pembicara pada simposium dokter anestesi itu adalah Alexander, juniornya itu. Ternyata Alex sangat pintar dalam presentasi, tidak membosankan walaupun materi yang dibawakan nya termasuk berat. Walaupun tidak banyak, namun ia suka menyelipkan humor pada presentasi nya. Banyak yang kagum ketika riwayat pendidikannya dibacakan. Kagum karena tahu dialah anak jenius yang menjadi pembicaraan disekolah-sekolah di Inggris dan di Fakultas Kedokteran seantero dunia. Kagum ternyata beberapa teknik dan obat yang digunakan dalam kedokteran, adalah hasil penelitian pemuda ini. Ayu benar-benar terpesona. Bukan hanya kepada prestasinya, tapi lebih daripada itu. Sikapnya yang cuek dan dingin sangat menantang Ayu untuk bisa mengenal pemuda ini lebih jauh. Pemuda ini tak merespon kehadiran seorang Ayu!! Itu sangat melukai harga diri gadis itu. Siapa Alexander ini sebenarnya? Ayu dengan pede merasa bisa menaklukkan gunung es satu ini. Pada sesi akhir tanya jawab dengan Alex, ada seorang peserta yang bertanya tentang penelitiannya. Disitu, Alex menerangkan bahwa penelitian itu masih dalam pengembangan. Dia masih butuh banyak sampel dan itu sebabnya dia memutuskan pindah ke Jakarta dimana sebuah RS swasta ** bersedia membantu penyediaan sampel penelitiannya di sana. Mengetahui itu, Ayu langsung menelpon Ayahnya yang merupakan anggota MPR RI. Ia menyatakan keinginannya untuk bekerja di RS yang sama dengan Alexander. Ia memaksa ayahnya untuk melobi pihak RS. Ayu yakin, dengan status ayahnya saat ini, ia sangat disegani oleh banyak orang. Pasti mudah baginya untuk merekomendasikan ayu masuk ke situ. Lagipula, nilai akademis putrinya pun sangat bagus dan merupakan lulusan terbaik top five di Harvard University. RS mana sih di Indonesia yang akan menolaknya?! Benar saja. Beberapa jam kemudian Ayu sudah mendapatkan kepastiannya. Kepala RS tersebut yang langsung menelpon Ayu untuk menawarkannya bekerja disana. Kata Ayahnya, kepala RS itu adalah temannya main golf. Ayahnya banyak bercerita tentang prestasi Ayu, jadi ketika ayahnya menyampaikan bahwa Ayu akan kembali ke Indonesia, direktur itu langsung bersemangat mengajukan tawaran bekerja. Jadi ayahnya tak perlu repot-repot memohon agar anaknya diterima. Dua hari kemudian Ayu kembali ke Indonesia. Ia bertemu Alex di ruang tunggu bandara Inggris. Ayu berada di belakangnya saat mau masuk ke pesawat. Alex ternyata tidak memilih kelas bisnis seperti sebelumnya. Ia hanya di kelas ekonomi. Dan itu semakin menambah kekaguman Ayu. Setibanya di bandara Indonesia, Alex juga tidak menuju ruang pengambilan bagasi. Bawaannya masih sama dengan saat ia ke Inggris. Tas ransel kecil dan laptop. Tak ada box oleh-oleh dan sebagainya. Sangat simpel. Ia berbelok ke ruang transit. Entah kemana tujuan pemuda itu. "Tunggu saja Alex. Aku akan membuat mu mengemis cinta dariku. Kau akan menyesal telah mengabaikan perhatian seorang Ayu Putri " bisik hati gadis cantik itu. _____ Seminggu setelah kedatangan nya di Indonesia, barulah Ayu melapor ke pihak RS. Ia langsung menemui kepala RS dan menyerahkan CV nya. Direktur yang sudah berusia hampir 60 tahun merasa bangga dengan prestasi Ayu. Dari direktur itu pula Ayu tahu bahwa mereka juga merekrut Lim Seoun, teman sekelas Ayu di SMA dan sesama dokter Anestesi. Lim sebenarnya termasuk dalam antrian cowok yang mengejarnya. Namun sifat pemuda itu yang tengil, membuat Ayu malas berbicara dengannya. Bagi Lim, tak ada hari tanpa bercanda. Lim bahkan tak mau tahu apakah mood gadis itu sedang kesal ataupun sedih, dia selalu melemparkan guyonan. Tapi Ayu suka berteman dengan Lim karena dia sangat pintar. Dulu di SMA, Lim dan Ayu adalah pasangan yang selalu dikirim untuk mengikuti pertandingan science. Namun satu hal yang membuat Ayu keki, karena Lim mendapatkan undangan untuk masuk ke Oxford University, sementara dirinya tidak. Mungkin karena status Ayu yang merupakan WNI, walaupun ia tinggal di Inggris sedari kecil bersama ibunya. Entahlah, gadis itu tak tahu alasan kenapa ia tak mendapatkan tawaran serupa dengan Lim. Namun Lim malah tidak tertarik ke sana. Katanya, Ia ingin "berpisah" dari orangtuanya dan membuktikan bahwa ia mampu bersaing mengikuti tes di kampus bergengsi selevel Oxford, tanpa menjadi mahasiswa undangan. Keluarga Lim memang semuanya lulusan Oxford. Ayah-ibu dan kakaknya yang sulung lulusan Oxford fakultas bisnis. Abangnya yang nomor dua lulusan ilmu bumi. Yang nomor tiga di kedokteran ( ternyata abang Lim seangkatan dengan Alex, namun mengambil spesialisasi jantung ). Lim akhirnya mengambil ujian masuk di Harvard bersama Ayu. Dan memang, setelah melalui beberapa tes dan wawancara, akhirnya mereka berdua diterima di Harvard. Lim sangat senang akhirnya bisa lepas dari belenggu kampus Oxford. Apalagi ia tetap bersama Ayu, wanita yang menjadi incarannya. Waktu berlalu, namun Ayu tak juga mau membuka hatinya untuk Lim. Akhirnya pemuda itupun menyerah dan mulai gonta-ganti cewek. Ayu fikir Lim benar-benar sudah menyerah ingin mengejar cinta Ayu, namun ketika ia memilih jurusan yang sama dengan Ayu untuk spesialisasinya, gadis itu makin yakin bahwa Lim masih ada perasaan padanya. Apalagi sekarang... Lim juga mengikutinya ke Indonesia, di RS yang sama dengan Ayu. Keesokan harinya, Ayu dan Lim bersamaan datang ke RS itu untuk memulai hari pertama mereka bekerja. Direktur RS sendiri yang memperkenalkan mereka dihadapan para dokter. Kebetulan waktu itu bertepatan dengan jadwal simposium IDI yang diselenggarakan di RS itu. Ayu dan Lim kemudian diperkenalkan pada dokter Harry, sebagai ketua departemen anastesi. Lalu dokter Harry membawanya ke ruangan instalasi bedah dan menjelaskan bahwa departemen anastesi bergabung dibawah departemen bedah yang diketuai oleh dr. Jamie. Mereka pun dibawa menemui dr. Jamie diruangannya. Ayu yang sudah mengenal Alex alias Jamie, mencoba bersikap b**o, berpura-pura kaget bahwa ternyata mereka di RS yang sama. Sedangkan Lim dengan sikap kekanakan, menunjukkan keterkejutannya akan sosok Alex yang merupakan junior di SMA nya. "Wahhh... ga nyangka Albert Einstein Junior ada di RS ini. Ku pikir udah direkrut oleh Oxford." kata Lim pada Jamie. Dokter Jamie hanya tersenyum simpul. Dokter Harry lalu menjelaskan bahwa RS ini mengontrak Jamie sambil menyelesaikan penelitiannya. Sebelumnya ia memang adalah Profesor tetap di Oxford. Hal itu membuat Lim semakin kagum. Begitulah awal perkenalan mereka. Ayu sudah berusaha menarik perhatian Jamie. Namun pemuda itu tak merespon. Ia malah dikabarkan telah berpacaran dengan artis muda Hollywood semenjak di Inggris. Ketika akhirnya rumor mengatakan bahwa artis itu menikah dengan pria lain, Ayu mulai menyiapkan strategi baru untuk mendapatkan perhatian Jamie. Ia bahkan rela mengambil shift malam karena tahu Jamie akan selalu standby di RS ini apabila ada operasi mendadak di malam hari. Tapi pria itu seakan tak perduli pada sosok Ayu. Seakan ia sama saja statusnya dengan semua kru bedah lainnya. Status Ayu yang lulusan Harvard bahkan tidak mempengaruhinya dalam bersikap. Jika Ayu lengah dalam operasi, Jamie tak segan membentak Ayu. Jamie jarang keluar dari RS. Jika tak ada operasi, ia akan mengurung diri diruangan nya sambil menyelesaikan penelitiannya. Atau kembali ke kamarnya di ruang atas. Ayu bahkan tak tahu lantai berapa kamar Jamie. Jangankan ruangan kamar, nomor telepon HP pribadinyanya saja seisi RS ini tak ada yang tahu. Jamie memang selalu menggunakan HP milik RS. Itu bukan HP, lebih mirip seperti walkie talkie karena tidak memakai nomor. Hanya kode 5 digit. Yang ia tahu, jika ada operasi mendadak yang memerlukan Jamie, kru bedah akan memencet tombol khusus bersimbol huruf J, yang berada di meja perawat. Kata mereka, alarm itu terhubung dengan HP walkie talkie itu dan sirine di kamar William untuk memanggilnya, sehingga mereka tak perlu repot-repot menelpon pria itu. Ada sistem seperti Handy talkie milik polisi juga disana untuk menghubungkan dengan perangkat HP punya William. Jadi walaupun ia berada di daerah yang jauh dari sinyal HP, mereka masih bisa menghubungi dokter itu lewat gelombang udara. Begitu jelas teknisi. Hanya beberapa dokter yang diberikan HP tipe itu. Kesemuanya adalah ketua departemen yang melayani panggilan mendadak, seperti departemen obgyn(persalinan), bangsal anak, anastesi, bedah, jantung, ortopedi, urologi, THT, radiologi, laboratorium, bank darah serta forensik. Ayu mendengar kabar bahwa kamar Jamie berada di lantai 10. Namun lantai itu tak bisa di akses tanpa kartu. Dia bahkan beberapa kali mengikuti Jamie untuk naik ke atas, berharap dapat melihat bentuk ruangan di lantai 10 itu. Namun Jamie sepertinya tahu akal bulus gadis itu, hingga setiap kali mereka naik lift bersama, Jamie takkan mengakses lantai itu sebelum Ayu meninggalkan lift. Dia pun tak pernah berpas-pasan di lift saat William keluar dari lantai 10 itu menuju ke bawah. Jamie tak pernah mengundang siapapun ke langit 10. Bahkan direktur sekalipun. Ayu pernah mencoba membujuk direktur agar bisa bertamu ke kamarnya, namun Jamie malah turun menuju ruangan direktur. Pria tua itu tak bisa memaksa karena segala hal yang bersifat pribadi dokter Jamie, siapapun tak boleh ikut campur, termasuk masalah siapa yang boleh masuk kamarnya. Itu tertera jelas di dalam kontrak RS. Ayu sudah hampir putus asa. Namun setelah ia bertemu seseorang, mendadak Ayu mendapatkan sedikit celah untuk mendekati Jamie. Ia bertemu Maria Stewart, direktur RS *** di sebuah butik designer kondang. Wanita itu tengah fitting gaun pengantinnya, sedangkan Ayu ingin mencari dress yang akan dikenakannya untuk sebuah acara malam amal yang diselenggarakan IDI (Ikatan Dokter Indonesia). Kebetulan ayah Maria adalah sahabat papa Ayu sehingga gadis itu menyapanya terlebih dahulu. Kemudian dia memperkenalkan Ayu kepada anaknya, Maria Stewart. Mereka cepat akrab dan Maria mengundang Ayu untuk makan malam bersama. Saat itulah Ayu baru tahu bahwa Maria ternyata pernah "dekat" dengan Jamie. Maria secara blak-blakan menceritakan pengalaman nya tidur bersama pemuda itu. Dari cerita yang Ayu tangkap, sepertinya Jamie tipe cowok pasif yang harus dilemparkan umpan terlebih dahulu. Dan umpan itu adalah tubuh gadis itu. Dia tak menolak undangan Maria untuk b******a dengannya Ayu sebenarnya malu hati. Dia yang masih keturunan Jawa, sangat tabu untuk memulai suatu hal duluan dengan seorang pria. Apalagi bila menyangkut hal intim seperti itu. Sebenarnya Ayu memang sudah tak perawan lagi. Hal itu lumrah bagi orang yang tinggal luar negeri. Asal dilakukan atas dasar sukarela, s*x bebas adalah hal yang biasa. Orang tua nya pun dulu menikah setelah Ayu lahir karena keduanya masih belum tamat kuliah. Waktu duduk di bangku SMA, Ayu sudah menyerahkan keperawanannya kepada lelaki pujaannya. Mereka berpacaran di tingkat akhir. Mereka bahkan melakukannya beberapa kali memakai pengaman. Jadi tidak membuat Ayu hamil. Namun hubungan itu berlalu begitu saja setelah mereka tamat SMA. Setelah mendengarkan cerita Maria, Ayu pun bertekad untuk melakukan hal yang sama. Ia hanya perlu keberanian dan tebal muka untuk mengundang Jamie tidur bersamanya. Walaupun Jamie lebih muda usianya, kini Ayu tak lagi perduli dengan itu semua. Yang Ayu inginkan adalah menaklukkan Jamie dalam pelukannya walau cuma hubungan semalam. Ayu memesan baju terbaik pada designer ternama agar ia tampak tampil elegan namun sexy yang dapat mengundang hasrat lelaki manapun yang melihat dirinya. Ayu terus mencari momen untuk hal itu, hingga acara pernikahan Maria dirasanya adalah saat yang tepat untuk menjalankan aksinya. Ia bahkan membujuk Lim untuk membantunya membujuk Jamie agar mau datang bersama mereka ke pesta Maria. Resepsi pernikahan Maria diadakan di salah satu hotel mewah di Bandung. Ayu sengaja memesan 2 kamar untuknya dan Lim. Ayu berfikir Jamie pasti mau sekamar dengannya daripada berdua dengan Lim. Seluruh kamar lainnya di hotel itu sudah dibooking oleh Maria untuk keluarga besarnya. Jadi Jamie takkan mendapatkan kamar lain. Nanti Ayu akan sedikit memberikan obat perangsang kepada Jamie. Jika memang Jamie seperti yang diceritakan Maria, Ayu pasti akan gampang merayu pemuda itu untuk menghabiskan malam bersamanya. Namun keinginan Ayu kandas ketika mengetahui bahwa Jamie bilang ia punya keluarga di Bandung. Jadi ada kemungkinan Jamie akan tidur dirumah keluarga nya itu. Namun Ayu tak patah semangat. Ia yakin bisa memasukkan obat perangsang itu kedalam minuman Jamie nantinya. Ia yakin rencana itu akan berhasil. Namun sekali lagi Ayu harus kecewa, karena baru saja mereka tiba beberapa menit di tempat resepsi, HP Jamie berbunyi. Ia dikabari ada operasi mendadak seorang Menteri yang terkena stroke hingga perlu dioperasi segera. RS bahkan mengirimkan helikopter untuk menjemput Jamie. Keluarga mentri itu ingin dokter terbaik yang mengoperasinya. Jamie langsung menyetujuinya. Ayu yang tidak mau rencananya kelar begitu saja, meminta izin untuk menjadi dokter anestesi pendamping Jamie. Dia berharap dengan tindakannya itu, Jamie akan menganggap itu sebagai bantuannya. Helikopter itu akan menjemput mereka di landasan rumah keluarga Jamie. Ia menjelaskan itu diperjalanan menuju rumah. Ternyata Jamie adalah keluarga konsulat Australia walau ia sebenarnya dari Inggris. Ayu melihat bendera Indonesia dan Australia di sepanjang pintu pagar rumah itu. Setelah memarkirkan mobilnya, Jamie berlari kedalam rumah. Beberapa orang petugas Satpol PP memberi hormat kepadanya. Ayu pun mengikuti Jamie kedalam rumah. Namun langkah Ayu terhenti saat melihat Jamie berbicara dengan seorang gadis. Suasana rumah yang agak redup menghalangi pandangan Ayu untuk mengidentifikasi wajah gadis itu. Ia memberanikan diri mendekat masuk ke ruang keluarga. Dalam jarak sekitar lima meter, Ayu dapat melihat jelas wajah gadis itu. Ayu merasa pernah melihat gadis itu. Tapi dimana? Ayu melihat sekeliling ruangan rumah itu. Ada foto besar disana. Dan Ayu terkejut melihat foto dokter Ririn, spesialis bedah ortopedi terpampang disitu bersama foto Jamie dan keluarga besar mereka. Ayu pernah punya sedikit masalah dengan dokter muda itu. Siapa Jamie kah itu? Istrinya kah? Tapi tidak mungkin. Melihat adanya kemiripan di wajah dokter Ririn dengan beberapa pria yang ada di foto itu, Ayu yakin,Ririn hanyalah keluarga Jamie. Seketika hatinya ciut, dokter itu pasti takkan menyetujui hubungannya dengan Jamie. Ingatannya kembali, Ayu mengenali gadis itu sekarang.Dia adalah perawat di ruangan dokter Ririn. Ayu tak tahu namanya, tapi ia pernah melihat gadis itu bersama Ririn. Ayu melihat Jamie menyerahkan kunci mobilnya pada gadis itu. Lalu gadis itu mengalihkan pandangan nya pada Ayu. Mereka saling bertatapan. Ayu merasakan sorot mata gadis itu tajam, namun penuh dengan kesedihan. Dia pasti cemburu padaku. Siapakah dia? Hubungan apa yang ada di antara mereka? Dan pertanyaan itu langsung terjawab ketika tiba-tiba Jamie menggendong gadis itu masuk ke sebuah kamar. Kaki Ayu mendadak lemas. Belum pernah Ayu melihat Jamie menyentuh wanita manapun apalagi menggendongnya. Gadis itu tidak ada didalam foto besar tadi, berarti dia bukan salah satu keluarga Jamie. Apakah itu berarti dia.... Hati Ayu panas seketika. Kenyataan bahwa Jamie sudah memiliki pasangan, menyakiti hatinya. Ingin sekali rasanya Ayu membatalkan kepergian nya bersama Jamie kembali ke Jakarta, menuju operasi itu. Rasanya ia hanya ingin sendirian sambil menikmati pesta resepsi itu. Tiba-tiba Ayu merindukan kehadiran Lim. Pemuda itu pasti akan mencoba menghibur kesedihan Ayu dengan leluconnya. Bahkan sekarang rasanya Ayu mau menerima kehadiran Lim untuk menggantikan Jamie dihatinya. Ia terluka dengan kenyataan ini. Jamie berhubungan dengan seorang perawat dan mengacuhkan dokter lulusan Harvard seperti dirinya!!! Jamie berada dikamar itu sekitar 7 menit, lalu ia keluar dan mengajak Ayu menuju halaman belakang. Tak lama kemudian helikopter datang menjemput mereka. Selama diperjalanan, pemuda itu hanya diam seperti tengah memikirkan sesuatu. Ayu dapat melihat, ada beberapa bekas lipstik di baju Jamie. Bibir Jamie pun agak memerah seperti habis berciuman. Pasti itu bekas bibir gadis itu. Dan Ayu sekali lagi merasa sakit didadanya. Setibanya di RS, Jamie melesat turun sendirian tanpa membantu Ayu. Pakaiannya yang minim dan penuh renda serta sepatu high heels yang sangat runcing, membuatnya sedikit sulit menuruni tangga helikopter yang tinggi. Jamie sudah lebih dahulu masuk ke lift. Saat Ayu sampai di departemen bedah, Jamie belum ada disana. Ayu pun mengganti kostumnya dengan seragam operasi didalam ruangan khusus departemen anastesi. Kemudian ia membaca status pasien dari komputer lalu bersiap-siap untuk ke ruangan bedah. Ketika Ayu mensterilkan tangannya, baru Jamie datang masuk ke ruang yang sama. Walau perasaannya sakit, namun Ayu tetap berusaha profesional, fokus dengan tugasnya. Ia tak mau mencampur adukkan masalah pribadinya dengan Jamie tadi, terhadap pekerjaannya. Walau ia tahu kesempatan untuk mendapatkan Jamie telah hancur, tapi entah mengapa hatinya tetap berharap akan ada peluang untuknya. Operasi berjalan lancar. Direktur dan beberapa direksi, turut serta mengawasi jalannya operasi itu dikamar bedah. Bisa terlihat dari ekspresinya, Jamie tidak suka bila terlalu banyak orang disana. Tapi begini lah Indonesia. Apabila ada orang penting yang di operasi, semuanya berasa ingin terlibat langsung. Padahal cuma nongkrong aja di kamar bedah membuat sempit. Bukannya mereka nyuruh live streaming aja dan duduk manis di ruangan masing-masing. Zaman udah canggih tapi IPTEK kok ga dipergunakan?! Jamie membiarkan semua orang keluar. Dia keluar paling akhir dari ruangan itu bersama tim perawat. Ayu tahu dia malas keluar cepat karena pasti akan banyak basa-basi dan wawancara dengan keluarga pasien serta wartawan. Seorang residen menghampiri Jamie. "Dokter Jamie, bapak disuruh direktur mendampingi untuk menjelaskan kepada keluarga pasien hasil operasinya". ujar pemuda itu dengan sopan. " Ga mau. Bilang saya mau tidur. Kepala saya pusing setelah perjalanan dengan helikopter tadi. Toh pak direktur tadi kan ikut serta di ruangan. Beliau pasti bisa menjelaskan apa yang terjadi. Kalau enggak suruh dokter Ayu yang menjelaskan." ujar Jamie sambil melirik ke dirinya. Jamie langsung ngacir ke ruangannya. Terdengar suara pintu dikunci dari dalam. Dokter Residen itu bingung harus bagaimana. Dia menatap ke Ayu mencoba mencari solusi. "Udah sana... bilang aja dokter Jamie di ruangannya udah ngorok. " canda Ayu sambil ngacir ke ruang anastesi. Ayu merasa badannya pegal-pegal. Memang kata-kata Jamie ada benarnya. Perjalanan di Heli tadi memang tidak nyaman sama sekali. Getaran dan kursi penumpangnya benar-benar bikin kaku otot. Apalagi bagi orang yang takut ketinggian, pemandangan langsung dari pintu kaca melihat view diatas kota membuat gamang. Berbeda dengan pemandangan yang dilihat dari pesawat. Klik Ayu membuka pintu ruangannya yang memang tak dikunci. Langkahnya terhenti saat melihat sosok orang yang tengah berbaring di sofa. Lim !!! Airmata Ayu mengalir tiba-tiba. Orang yang tadi diharapkannya ada disaat ia merasakan luka hatinya, kini benar-benar ada didepan gadis itu. Padahal ia tak pernah meminta pria ini datang,tapi pemuda sontoloyo ini malah mengikutinya pulang ke Jakarta. "Hei... kenapa kau menangis tuan Putri? Apa tanganmu kecucuk jarum suntik ketika membius pasien? " kelakar Lim sambil bangkit dari sofa. Namun gadis itu tak menunggu hingga Lim mendekatinya. Ayu langsung berlari dan memeluk serta meletakkan bibirnya di bibir pria itu. Mereka berciuman lama. Ayu menumpahkan kesedihan hatinya melalui ciuman itu. Juga rasa terimakasihnya atas kehadiran Lim malam ini disisinya. Ia membutuhkan pemuda itu disaat perasaannya hancur. Ciuman itu semakin lama semakin menggairahkan. Ayu membiarkan semuanya mengalir apa adanya. Pelukan Lim terasa hangat membekap tubuh Ayu. Masih sambil berciuman, Lim mendesak tubuh Ayu menuju pintu. Tangannya meraih handle kemudian menguncinya dari dalam. Lim tak ingin ada yang mengganggu momen langka ini. Ayu menyerahkan dirinya larut dalam momen langkanya bersama Lim malam ini. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN