Renata tak menyangka akan bertemu William di rumah Ririn. Tadinya dia tak berniat kemana-mana. Tapi mendadak Ririn menghubungi Renata dan meminta gadis itu menemani nya ke Bandung. Arya tak bisa mengantarkan Ririn karena harus menyiapkan laporan Research yang hampir kelar. Mereka ada janji untuk fitting baju foto prewedding nanti malam. Ririn tak mau sendirian mengemudikan mobilnya ke Bandung. Renata pun akhirnya setuju karena moodnya juga lagi tak baik setelah ditelpon William tadi.
Renata sangat terkejut ketika ada seseorang berani memeluknya disaat ia sedang berkonsentrasi menghias kue. Sebenarnya Renata sudah mencium aroma parfum jeruk itu sesaat sebelum tragedi itu terjadi. Namun dikiranya bau itu berasal dari hiasan cake yang dipersiapkan mama Ririn. Renata sama sekali tak mengira William akan datang ke rumah Ririn juga, apalagi langsung menuju Dapur.
Renata ketakutan sekali karena sudah melakukan kesalahan untuk kesekian kalinya. Di fikiran gadis itu, William pasti akan menghukum nya. Dia tak mau dihukum didepan keluarga Ririn. Apapun itu jenis hukumannya. Dia tak mau keluarga Ririn tahu kedekatan Renata dengan dokter muda itu. Untunglah kali ini William tak menghukum dirinya. Untung pemuda itu masih bisa berfikiran normal, tidak gila seperti biasanya.
Jam menunjukkan pukul 20.30 saat Renata akan masuk ke dalam kamarnya. Rumah Ririn ini sangat besar dan luas. Suasana rumah besar itu sangat mencekam. Seperti yang di tontonnya dalam film horor. Itulah mengapa Renata tak suka tinggal disini. Dia lebih suka tinggal dipanti. Tempat dimana suasananya lebih terasa ceria dan selalu ribut dengan suara anak-anak.
Dirumah itu yang masih terjaga hanya ada Renata dan para petugas keamanan. Ririn sedang ke butik untuk fitting baju pengantinnya bersama Arya. Tadi sore Arya tiba di Bandung. Orang tua Ririn sudah masuk ke kamar mereka. Para pembantu Rumah tangga juga. William pun sudah langsung berangkat menuju resepsi setelah ia selesai mandi tadi. Dokter muda itu kini pasti sedang bersama dokter Ayu.
Renata mengenal dokter itu. Seperti namanya, dokter itu memang Ayu bak tuan putri. Tubuhnya gemulai bak penari Jawa. Dia dokter anastesi perempuan satu-satunya di RS tempat mereka bekerja. Tiga dokter anastesi lainnya adalah pria.
"Perawan tua" begitu para perawat melabel dokter cantik itu karena belum juga menikah di usianya yang sudah lewat 40 tahun.
"Cantik tapi ga laku" ujar kolega lainnya.
"Standarnya terlalu tinggi....maklum lulusan Harvard", kata para kolega pria.
Renata tak pernah berinteraksi dengan dokter Ayu. Soalnya ia selalu berada di klinik. Hanya Ririn yang pernah berurusan dengannya saat hendak mengoperasi pasiennya.
"Dia itu macam Cinderella bermulut mak Lampir," begitu ungkapan Ririn. Renata tertawa mendengar perkataan Ririn.
"Mulutnya ga bisa dikontrol. Selalu saja mempermasalahkan hal-hal sepele. Masak dia sibuk mengomentari kuku kaki gue yang diwarnai. Katanya ga bagus masuk ruang operasi dengan kuku seperti itu. Dia pikir gue ga dapat ilmu tentang sterilisasi apa?! Yang di cat kan kuku kaki gue, bukan kuku tangan. Kaki gue ga bakal berinteraksi dengan pasien waktu dibedah. Kaki gue bersih, pake kaos kaki oka steril sekali pakai dan pake sepatu khusus ruangan bedah juga. Dengan entengnya dia bilang, "di buku tertera bahwa kuku tidak boleh panjang dan di cat (kuteks) . Mau kuku kaki kek, kuku tangan kek, kuku kebo kek, pokoknya yang namanya kuku ga boleh memakai cat warna (kuteks)."
Intinya, dia ga izinin gue masuk kamar operasi sebelum pewarna itu hilang. Gue yang udah ON (steril) terpaksa turun lagi ke apotek untuk beli cairan penghilang kuteks. Macam dia aja yang tuan rumah di bangsal bedah itu, berani banget ngelarang gue!!Padahal cuma dokter anastesi." umpat Ririn bercerita sambil emosi.
Itulah pendapat orang tentang dokter Ayu Putri. Sekarang Cinderella itu tengah bersama William.
" Sedang apa mereka? Berdansa? Bergandengan? Berciuman? Atau malah.... " pikiran buruk Renata menebak-nebak.
Bibir gadis itu langsung manyun seketika.
Tiba-tiba seorang petugas satpol PP masuk ke dalam rumah. Dia menuju ruangan keluarga. Ia mengambil telepon yang menghubungkan dengan jalur kamar di rumah itu lalu menekan nomornya lalu berbicara dengan tegas dan sopan.
"Maaf Pak, izin melaporkan. Ada heli meminta izin mendarat untuk menjemput dokter Jamie. Katanya dari RS ** Tiba dalam 25 menit." ujar petugas itu.
"Dokter Jamie belum pulang pak. " petugas itu menambahkan.
" Siap pak... baik... dilaksanakan." Petugas itu menutup telepon perlahan.
Renata penasaran.
Dari depan pintu kamarnya ia menegur petugas keamanan itu.
"Ada apa ya pak?" tanyanya pada petugas satpol PP itu.
Langkah kaki petugas itu tertahan dan ia memberikan anggukan kecil pada Renata. Ia telah mengenal gadis itu sejak lama. Pak Dubes mengatakan bahwa gadis itu adalah anak angkatnya. Jadi seluruh petugas disini memperlakukan Renata sama dengan putri Dubes, nona Ririn.
"Ada helikopter RS yang akan datang menjemput dokter Jamie, Bu. Mereka izin mendarat di landasan" katanya menjelaskan. Renata menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
Rumah Ririn ini memang memiliki landasan khusus helikopter. Renata sering melihat ayah Ririn dijemput menggunakan itu apabila kondisi jalanan macet menuju Jakarta. Fasilitas rumah ini sangat lengkap,sudah seperti istana presiden saja.
Renata mendengar suara klakson mobil. Petugas itu pamit keluar untuk membuka pintu pagar.
"Itu pasti William", pikir Renata.
Dari balik kaca depan rumah, Renata dapat melihat pemuda itu masuk menuju pintu utama. Di belakangnya, seorang wanita mengekor tergesa-gesa. Itu dokter Ayu!!
Renata mendadak membeku ditempat. Padahal ia ingin sekali bersembunyi dari William, namun kakinya seolah tertahan.
William terlanjur melihatnya dan langsung menuju tempat Renata berdiri. Dokter Ayu menahan langkahnya saat melihat William menghampiri Renata. Ia hanya menatap mereka dari arah ruang tamu depan.
"Aku mau balik ke Jakarta, ada operasi mendadak. Kau bisa menyetir? " tanya William. Renata tak menjawab.
William mengambil tangan kanan Renata dan meletakkan kunci mobilnya di genggaman gadis itu.
" Ini kunci mobil, bawa balik mobilku besok pagi !! Aku memerlukannya sebelum jam 12 siang. Letakkan kuncinya di meja kamarku! " Instruksi William bak seorang jenderal menyuruh bawahannya.
"Kenapa?? Ada yang mau ditanyakan? " selidik William ketika dilihatnya Renata tak merespon juga.
Pandangan Renata tanpa sadar beralih menatap ke arah dokter Ayu yang tengah mengawasi pembicaraan mereka.
Dia cantik sekali dalam busana minimnya yang elegan. Bau parfum gadis itu sampai tercium oleh Renata, walaupun jarak mereka terpisah hampir 5 meter.
Dari tadi hatinya gelisah saat ia melihat William memakai pakaian jas resmi seperti itu. Seolah-olah dialah yang akan menikah. Dia tampan sekali.
Renata tak henti membayangkan William menggandeng dokter ayu di resepsi itu.
Kini pasangan itu ada di hadapannya. Mereka tampak serasi sekali!!
Namun hati Renata terasa panas. Moodnya langsung hilang.
Dan kini, saat William bertanya apa yang ingin Renata tanyakan, gadis itu tak tahu. Renata merasa minder dengan kehadiran Ayu disitu.
William yang menyadari kemana arah tatapan Renata, menarik nafas panjang. Ia lalu mendekati Renata. Merengkuh tubuhnya dan menggendong tubuh itu masuk ke dalam kamar Renata.
Gadis itu kaget tak menyangka William akan berbuat itu di hadapan dokter Ayu.
"Pria ini sekali lagi kesurupan sepertinya," fikir Renata.
Ia menurunkan Renata dibalik pintu. Ia menarik Renata lebih dekat dalam pelukannya. Bibir pemuda itu langsung menyusup ke dalam leher jenjang Renata. Ia bergidik geli merasakan hawa panas nafas William disitu.
"Aku tak akan melakukan apapun bersama Ayu, selain untuk kegiatan operasi malam ini, jika itu yang ingin kau tahu. Aku memilih membawanya ikut pulang ke Jakarta, menjadi pendamping anastesi ku daripada dokter Lim, karena dokter Lim tengah bersama pacarnya. Jadi...berhentilah mengkhawatirkan aku. Kau membuatku merasa tengah dicemburui. Apa memang seperti itu, Re ?" ujar William sambil berbisik.
Renata spontan menggeleng kuat.
Ada emosi yang tertahan dalam penjelasan William. Renata tak tahu kenapa William harus menjelaskan sedetail itu padanya?!
Dirasakannya area lehernya di sesap William, menimbulkan rasa nikmat pada sekujur tubuh Renata. Gadis itu mendesah tanpa sadar.
"Jangan berbohong padaku, gadis panda. Katakan semuanya!! Aku sudah membopong tubuhmu di depan dokter Ayu. Itu sudah menjadi jawaban untuknya bahwa aku milikmu. Dia takkan berani menggoda ku setelah ini. " kata William sambil menatap matanya.
" Apa dia menggodamu tadi? " tanya Renata polos. Wajahnya memerah.
"Tidak...maksudku, kenapa aku harus cemburu?!" Renata mengubah pertanyaan nya.
"Kau seharusnya tidak melakukan itu jika tahu dokter Ayu menyukaimu. Lagian...katamu aku hanyalah pengganti Sandra. " jelas Renata.
William terdiam sesaat. Matanya menatap Renata tajam.
"Aku tak pernah mengatakan kau adalah pengganti Sandra. Aku hanya mengatakan kepribadian mu mengingatkanku pada adikku." ada kilatan kemarahan didalam mata William. Renata menunduk menghindari tatapan itu.
William meraih wajah Renata dengan kasar. Memaksa gadis itu menatapnya.
"Aku ingin kau ada di kamarku esok sebelum jam 12 siang. Persetan dengan mobil ku, apakah kau bisa bawa atau tidak. Kalau kau tak bisa mengemudikannya, tinggalkan saja kuncinya pada Ririn, dia bisa menyuruh sopir mengantarkannya ke RS.
Tapi...jika besok kau tak muncul pada jam yang kuminta, aku akan menggendong tubuh mungilmu ke kamarku, setiap malam, langsung setelah selesai Ririn praktek. Akanku tongkrongin dirimu di klinik. Aku tak perduli orang lain, bahkan Ririn sekalipun, mau berkomentar apa. Kau mengerti?!" ancam William.
Renata terpana.Dia tampak shock dengan ancaman William. Gadis itu menganggukkan kepalanya berkali-kali. Renata tahu, pemuda itu tak bergurau.
"Aku akan datang... sebelum jam 12 teng. Aku pastikan itu. Aku akan pulang subuh besok ke Jakarta agar tidak telat." ujar Renata dengan gugup.
Pemuda itu memukul dinding di samping Renata. Ia menghembuskan nafas dengan kuat meluapkan kekesalannya. Lalu ia kembali menyusupkan kepalanya di leher jenjang gadis itu dan menyesap kulit lembutnya. Bibirnya bergerilya keseluruhan tubuh gadis itu. Kejantanannya mengeras, menuntut lebih.
Fikiran Renata lansung blank.
Pasti akan banyak sekali tanda kemerahan disana.
Bagaimana jika keluarga Ririn melihatnya?! Itulah kenapa Renata bilang dia akan pulang subuh.
Ia tak peduli akan pertanyaan Ririn nanti mengetahui Renata mendadak kembali ke Jakarta tanpa dirinya. Dia lebih takut pada ancaman gila pemuda ini daripada interogasi sobatnya itu.
Beberapa menit berlalu, akhirnya William menghentikan tindakannya saat dirasakannya sesuatu yang mengeras dibawah tadi sudah menghilang.
William meninggalkan Renata dengan sebuah ciuman panjang yang b*******h. Sampai Renata merasa jika seandainya terlalu lama pemuda itu bermain di bibirnya, akan membuat gadis itu meleleh dalam klimaksnya sendiri.
Nafas Renata masih terengah-engah karena tindakan yang William lakukan tadi. Dia menutup mukanya yang panas.Gerakannya terhalang karena tangannya kini sedang menggenggam kunci mobil milik William.
Dia merasa malu, masih saja tak bisa mengontrol tubuhnya.
Renata hanya diam tetap berada di kamarnya. Ia tak berani keluar karena ada dokter Ayu disana.
Sementara itu dari kejauhan terdengar bunyi helikopter datang mendekat. Suara itu sangat berisik. Namun beberapa saat kemudian bunyi itu menjauh dan menghilang. Itu berarti William sudah pergi bersama heli tersebut.
***
Jam menunjukkan pukul 10.30 pagi saat mobil William yang dikemudikan oleh pak Amat, salah satu sopir keluarga Ririn, memasuki pelataran parkir RS. Dibelakangnya mengekor sebuah mobil sedan putih, yang dikemudikan sopir keluarga Ririn lainnya yang akan menjemput pak Amat kembali ke Bandung.
Subuh tadi, Nona Renata meminta pada nyonya Shinta untuk mengizinkannya membawa 2 sopir, pak Amat dan pak Ali. Pak Amat akan mengendarai mobil dr. Jamie dan pak Ali akan mengendarai mobil keluarga Ririn.
Nona Renata duduk di kursi belakang mobil Jamie sambil tertidur pulas. Pak Amat tak berani mengganggu nona muda itu tidur walau mereka telah sampai di Jakarta.
Ketika mobil telah diparkirkan, pak Amat dengan cepat turun dari mobil. Di ketuknya kaca jendela pintu mobil di sisi Renata perlahan. Renata tersentak kaget mendengar ketukan itu.
"Nona Renata, kita sudah sampai di rumah sakit." pak Amat membangunkannya perlahan.
"Oh iya pak, terimakasih. Saya sudah bangun kok. " Renata merapikan rambutnya yang berantakan. Di liriknya jam tangan sekilas, masih ada banyak waktu untuknya santai sebelum jam yang ditentukan oleh William.
Renata keluar dari mobil William. Pak Amat segera mematikan mesin mobil dan menyerahkan kunci dan tiket parkirnya pada nona Renata.
"Terima kasih sudah mengantarkan ku pak. Ini ambillah. Pergilah cari sarapan bersama pak Ali sebelum pulang ke Bandung." ujar Renata sambil menyerahkan uang lima ratus ribu rupiah ke tangan pak Amat.
"Ini banyak sekali Non untuk sekedar sarapan." kata pak Amat sungkan.
"Ga apa-apa. Berbagi aja dengan pak Ali setelah makan. Anggap bonus dihari minggu. " gurau Renata.
Pak Amat membungkuk sedikit, lalu menuju mobil yang dikendarai pak Ali kemudian berlalu dari halaman parkir RS.
Renata berjalan menuju lobby. Dia kemudian menuju kamar mandi di lantai itu untuk mencuci mukanya.
Selesai dari kamar mandi, Renata menuju restoran. Namun langkahnya terhenti ketika melihat resto itu penuh sesak. Sepertinya sudah tidak ada meja kosong.
Renata akhirnya pergi ke cafe tempat terakhir ia makan burger yang di "curi" oleh William. Cafe itu sepi. Tak ada pengunjung disana. Renata bebas memilih meja. Ia duduk di sudut ruangan, menghadap ke pelataran parkir.
Seorang waiters menghampiri nya, menyerahkan buku menu lalu pergi meninggalkan gadis itu. Memberikan kesempatan Renata untuk memilih makanan yang ada di dalam menu. Tiba-tiba HP nya berbunyi. William menelponnya!!
Renata mengatur nafasnya terlebih dahulu. Entah kenapa setiap kali akan berbicara dengan William, jantungnya berdetak keras membuat ia merasa kesulitan bernafas.
Renata menekan tombol untuk menjawab telpon itu.
"Biasakan langsung ke tempat tujuan kalau emang udah nyampe." suara William terdengar nyaring dari HP Renata.
Padahal gadis itu belum mengatakan apapun. Baru aja menarik nafas untuk mengucapkan salam, pemuda itu sudah membentaknya duluan.
"Darimana pemuda itu tahu kalau Re sudah ada disini?" keluh Renata. Ia melebarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Tak ada siapapun di dalam cafe itu.
"Kan janjinya sebelum jam 12. Aku belum sarapan. Perutku keroncongan tau. " jelas Renata sewot.
Tiba-tiba telpon dimatikan William. Renata langsung panik. Apakah William marah lagi? Oh Tuhan... dia tak mau kena hukuman lagi dari William. Buru-buru gadis itu pergi beranjak dari tempat duduknya. Setelah berbasa basi meminta maaf karena tidak jadi membeli makanan di cafe itu kepada waiters nya, Renata berlari kecil menuju lift. Pintu lift terbuka. Ada beberapa orang dokter dan perawat disana. Renata masuk dan mengatur jarak dengan mereka. Renata segan mengeluarkan kartu akses lantai 10. Ia tak mau orang-orang melihat ia punya kartu itu.
"Bisa jadi scandal nanti, " fikir Renata. Gadis itu memutuskan mengikuti saja kemana lift itu akan membawanya sambil menunggu kesempatan saat tak ada orang disana.
Pintu lift kemudian menutup. Lift menuju ke bawah basement. Semua orang keluar kecuali Renata. Bergantian beberapa orang berpakaian seragam berwarna maroon masuk ke dalam lift. Mereka adalah tim dari ruang persalinan.
Lift akhirnya naik kembali singgah ke lobby. Kali ini beberapa staf CS, dokter dan perawat masuk ke dalam lift. Renata terkejut!!!
Diantara dokter itu terdapat William.
Setelah menempel kan kartu aksesnya, William bergeser ke arah Renata. Dokter dan perawat itu saling menyapa kepada William melalui anggukan sopan tanpa berbicara.
Lift singgah ke setiap lantai di gedung itu. Orang-orang keluar masuk silih berganti. Renata menanti dengan cemas. Takut kalau masih ada orang yang akan tinggal didalam lift itu ketika tiba di lantai 10. Bagaimana dia akan ikut William keluar nantinya?!
Dilantai 8 pintu belakang lift terbuka. Orang-orang mulai keluar. William mundur mepet ke arah Renata yang sudah terdesak ke arah pintu belakang lift.
Beberapa orang dokter residen masuk dari pintu belakang. William menggeser tubuhnya melindungi Renata. Tubuh mungil gadis itu terjepit antara dinding sudut lift dan tubuh William. Dokter Residen itu mengangguk pada William untuk menyapanya. Mereka menekan tombol 11 dan 14.
Di lantai 9 pintu lift terbuka di bagian depan. Tidak ada yang keluar. Namun beberapa dokter senior dari Departemen Obgyn masuk. Lift itu sekarang penuh. Tulisan "full" tertera dilayar monitor lift. Beberapa dari dokter itu menekan tombol 12 dan 13.
Tiba di lantai 10 pintu lift bagian belakang terbuka. William melangkah maju membiarkan Renata untuk lewat dahulu dari belakang tubuhnya. Tapi gadis itu ragu. Apa kata orang-orang itu nanti melihatnya masuk ke lantai 10 bersama William?
Karena ia tak kunjung bergerak, William akhirnya menggenggam tangan Renata dan menariknya keluar. Wajahnya tetap datar tanpa ekspresi.William bahkan melingkarkan tangannya di pinggang Renata membawanya masuk menuju pintu apartemen nya.
Wajah Renata memerah. Ia tak berani menoleh ke belakang. Berani sekali William melakukan itu didepan banyak orang. Apa dia tak takut akan menjadi bahan pembicaraan dokter-dokter itu?!
Ketika suara pintu lift menutup, Renata baru bisa menghembuskan nafasnya dengan normal. Ia membulatkan matanya pada William. Namun pemuda itu santai saja sambil membukakan pintu.
Aroma masakan yang menggoda langsung menyelinap di hidung Renata. Perutnya yang kelaparan langsung merespon, berbunyi meriah. Kembali wajah Renata memerah. Bunyi suara perutnya terdengar lantang. Apakah William mendengar nya???
"Duduklah!! Aku sudah menyiapkan sarapan. " perintah William.
Aroma sedap itu berasal dari meja sofa William. Renata duduk di lantai. Dia tak terbiasa makan sambil duduk di sofa. Apalagi posisi meja ini sangat rendah dari sofa. Akan lebih nikmat bila makan sambil duduk dilantai. Posisi meja akan sama rata dengan posisi tangannya. Itu akan lebih memudahkan untuk menyuapkan makanan ke mulut.
William tersenyum. Sikap alami Renata itu menggelitik hatinya. Sebagai bule, ia terbiasa makan sambil duduk dikursi. Ia hanya pernah makan sambil duduk bersila seperti itu sewaktu kemping saja. Itupun karena tidak ada kursi di perkemahan. Dilihat nya Renata segera mengambil piring dan menata sendok dan garpu untuk mereka berdua.
William menuju lemari pakaian. Ia mengeluarkan celana pendek dan baju T-shirt. Tanpa malu, ia mulai berganti baju seragam tosca nya didepan Renata. Gadis itu terlalu asik meresapi aroma makanan. Ia tak memperhatikan William yang tengah berganti baju. Gadis itu menunggu William datang ke meja makan.
Pria itu duduk bersila di samping Renata. Gadis itu otomatis mengangkat sebuah piring dan memberikannya kepada William. Lalu mengisikan air di gelas yang ada disisinya.
William kembali tersenyum. Entah kenapa hatinya senang sekali melihat Renata bersemangat untuk makan bersamanya. Padahal tadi William sempat kesal karena tahu Renata singgah di cafe untuk sarapan.
Ia sengaja memasak untuk gadis itu. Menunggunya di lobby sampai 1 jam lebih. Menanti kedatangan gadis itu dengan sabar.
_____
Flashback On.
William bangun pada pukul 4 subuh ketika sirine kamarnya berbunyi kembali. Ada operasi onCall lagi!! Padahal ia baru saja tidur 1,5 jam setelah menyelesaikan operasi tadi malam hingga jam 2 dini hari. Perlu 4,5 jam untuk menyelesaikan operasi itu. Tapi begitulah resiko pekerjaannya. Walau sebentar, namun tidurnya cukup nyenyak sehingga tubuhnya sudah bugar kembali rasanya.
Operasi subuh itu tidak berlangsung lama, hanya 2,5 jam. Jam 7 William kembali ke kamarnya. Mengingat Renata akan datang menemuinya, William ingin mengajak makan bersama gadis itu.
Dia mulai menyusun rencana. Mulai dari rencana makan di resto lobby hingga makan di luar RS. Namun semuanya ada resiko masing-masing.
Jika William mengajak Renata makan di resto lobby, maka itu akan jadi perbincangan publik. Renata tidak suka menjadi skandal, katanya waktu itu. William menghapus opsi makan di lobby dari list nya.
Jika William mengajak Renata makan di luar area RS, ia takut akan ada panggilan emergency pula nantinya. William tak mau meninggalkan Renata disaat tengah makan, apalagi butuh waktu untuk menempuh perjalanan pulang pergi ke luar RS.
Akhirnya William memilih untuk memasak makanan khusus kepada gadis ini di apartemennya. Dia bahkan turun ke supermarket di bawah untuk mengisi kulkasnya dengan bahan makanan. Membeli seafood segar dan beberapa bumbu.
Dia ingin membuat nasi goreng seafood seperti yang selalu ia buat untuk Sandra. Ia juga membeli chocomilk sachet. Hari ini William ingin mengenang Sandra melalui Renata.
Flashback Off
Renata makan dengan lahap. Jempol tangannya teracung ketika suapan demi suapan masuk ke mulut. William bangga mengetahui bahwa Renata menyukai masakannya. Sepertinya gadis itu sudah melupakan aksi protesnya pada perlakuan William di lift tadi.
Selama makan, William sibuk merenung. Ia kini melihat Renata sambil mengingat Sandra. Namun ia tak bisa memungkiri, hatinya mulai tertarik pada gadis itu. Semalaman ia berfikir mau dibawa seperti apa hubungannya dengan Renata. Kata-kata Renata tadi malam menohok hatinya. Sikap cemburu yang ditunjukkan Renata tadi malam sudah mewakili seperti apa perasaan yang dimiliki Re untuk pemuda itu. Ada bahagia di d**a William menyaksikan kecemburuan Renata pada Ayu. Tapi hatinya langsung terluka saat Renata mengatakan bahwa William hanya menginginkan dia menjadi pengganti Sandra.
William pulang ke Jakarta dengan membawa luka itu. Tak tahukah Renata bahwa dirinya telah membuat pemuda itu menjadi gila?! Bagaimana bisa Renata mengartikan kata-kata nya seperti itu, sementara dia tahu William merasakan gairah padanya? Tak cukupkah ciuman-ciuman itu mewakili perasaan William pada gadis itu? Harus dengan cara apa William menjelaskannya lagi bahwa ia menginginkan Renata bukan sebagai adik??!
Pemuda itu sudah tak perduli lagi apa kata orang di RS tentang kedekatan mereka. Bahkan tadinya ia berniat menggendong Renata keluar dari lift jika saja situasi lift tidak dalam kondisi full.
William tidak menghiraukan kolega maupun residen yang ada di lift itu mulai berbisik membicarakan mereka. Sekarang bukan zaman oldiest yang mana hubungan dalam satu instansi menjadi tabu. Dan RS ini tidak ada melarang hubungan seperti itu. Bukan zaman kuda gigit besi juga, dimana gadis yang belum menikah tidak boleh berkunjung ataupun bermalam dirumah seorang pria.
Ketika mereka selesai makan, Renata langsung mengemasi piring kotor dan mencucinya. William menunggu di sofa. Memasang k****m pengamannya. Ia sangat ingin berc**ta dengan gadis itu sekarang. Dan ia perlu pengaman ini.
Ketika dilihatnya Renata telah selesai mencuci piring, William berjalan menuju gadis itu.
Ia memeluk tubuh Renata dari belakang. Menghujaminya dengan ciuman-ciuman lembut. Renata membeku menerima perlakuan seperti itu.
"Kita harus meluruskan satu hal. " bisik William ditengah ciumannya pada Re.
"Hubungan seperti apa yang ku inginkan denganmu? Itukan yang selalu kau fikirkan? " tanya William lagi.
"Yang pasti bukan menjadikan mu sebagai pengganti Sandra, seperti yang kau fikirkan kemarin, gadis panda bodoh!! " William menyesap tengkuk Renata dan meninggalkan beberapa tanda merah disana.
Nafas Renata mulai tak beraturan. Gairah mulai menguasai tubuhnya. William menyerang titik sensitif tubuhnya dibagian belakang telinganya.
"Aku menginginkanmu disisiku, tanpa ikatan, tanpa paksaan. Aku ingin hubungan yang mengalir berdasarkan apa yang kita rasakan. Semakin kuat rasa ingin memiliki diantara kita, maka akan semakin lama hubungan ini akan bertahan."
Tangan William bergerak menarik mundur tubuh Renata menuju ranjang. Lalu pemuda itu membalikan tubuh Renata menghadap ke arahnya. Memaksa kedua mata bulat itu menatapnya.
"Ini bukan hubungan kasih sayang adik dan kakak. Aku bisa merasakan gairahku naik hanya dengan mencium rambutmu.
Seorang kakak takkan melakukan itu.
Aku bisa merasakan k*****s hanya dengan mengeksplor leher jenjang mu, aku sudah pernah melakukan itu.
Seorang kakak juga takkan pernah melakukan itu.
Jadi berhentilah mengira aku akan mau menjadi kakak bagimu."
Wajah William mendekati bibir Renata, membuat gadis itu refleks memejamkan matanya.
Tapi William malah meletakkan telinganya diatas d**a Renata sambil memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan gadis itu.
"Denyut jantungmu berdetak tak beraturan, lebih kencang hampir mendekati 100 denyut per detik. Itu tandanya kau gugup berada di dekatku.
Itu juga sama dengan apa yang ku rasakan."
Tangan William beralih ke balik baju Renata dan menyentuh bagian dalam bra nya.
"p****g mungilmu mengeras saat ini, sama halnya dengan kejantananku yang sudah menegang sejak aku melihat mu mencuci piring tadi. Itu artinya kau juga merasakan apa yang ku rasakan.
Seorang kakak dan adik takkan merasakan hal seperti itu, bukan??" ujar William.
Ia lalu membaringkan tubuh Renata perlahan di ranjang dan kemudian menindihnya perlahan.
"Kecemburuanmu tadi malam sudah menunjukkanku perasaanmu sesungguhnya. Jadi berhentilah berpura-pura dan mengabaikan keinginan hatimu."
William mulai mempreteli pakaian gadis itu dan miliknya. Renata hanya diam sambil mendengarkan setiap perkataan pria itu.
"Mari kita jalani saja hubungan ini apa adanya. Sebelum semua orang di keluargaku sibuk menjodohkan kita. Mari kita mencoba saling mengenal satu sama lain. Mencoba hubungan ini tanpa campur tangan orang lain.
Tunggulah aku sampai siap untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Seperti aku yang akan menunggumu menghapus trauma kelam arti sebuah keluarga.
Jika kita menikah, berarti kita akan membina keluarga baru. Aku tahu kau takut mempunyai keluarga baru.
Kau sangat trauma karena terus menerus kehilangan keluarga mu.
Layla sudah menceritakan alasan kenapa kau tak mau diadopsi keluarga Ririn sejak dulu, walau kau yatim-piatu. "
Tangan William menyusuri tiap sisi tubuh Renata yang kini telah tak tertutup selembar benang pun.
Renata merasakan hangat tubuh William. Tubuh atletis itu tidak terasa berat saat menindihnya. William benar-benar mengatur posisinya dengan tepat agar tidak menyakiti tubuh mungil gadis itu.
"Maukah kau menunggu ku nona Renata Suciyanti? Seperti aku yang bisa bertahan menunggumu selama 10 tahun ini. Maukah Re??? " tanya William penuh harap sambil menatap matanya.
Renata ingin menjawabnya, namun lidahnya kelu. Gairah ini begitu kuat, membuatnya tak mampu berbicara selain mendesah tertahan. Ia hanya mengangguk kecil. William mengerang dalam tiap desahan gadis itu.
"Katakan padaku. Aku ingin kau mengucapkannya. Aku ingin kau berjanji untuk menungguku. Jangan ingkar lagi seperti janjimu dulu. Katakan sekarang, Re !!" William mulai menyatukan dirinya dan Renata. Ia sudah tak tahan mendengar gadis itu mendesah.
William menuntutnya untuk mengatakan janji itu disetiap gerakannya. Terus dan terus disetiap desahan yang ada hingga mereka melepaskan puncak gairah itu bersamaan. Tubuh keduanya menegang merasakan sensasi kepuasan itu.
"Katakan Re, kau akan menungguku. " desak William sebelum denyutan di dalam tubuhnya mereda.
"Aku percaya padamu William. Aku percaya padamu. Jangan pernah berbohong padaku. Aku pun takkan ingkar padamu. " ujar Renata untuk menjawab keinginan William.
Pria itu bernafas lega.
Itu sudah cukup baginya. Kepastian itu sudah diberikan Renata padanya. Kepastian bahwa Renata takkan pernah menjauh darinya. Awal dari sebuah hubungan baru bagi mereka, sebelum keduanya yakin untuk memulai ke tingkat yang lebih serius lagi nantinya. Biarlah waktu yang akan mengantarkan mereka menuju ketingkatan itu.
Saling percaya memang itulah yang mereka butuhkan pada saat ini. Percaya bahwa William adalah milik Renata seorang dan juga sebaliknya.
Mereka tidur berpelukan dengan senyum bahagia yang penuh kepuasan di wajahnya.
***