Di ruangan departemen bedah.
Entah sudah berapa kali William bolak-balik mengecek ke staff UGD via HP, apakah ada pasien yang memerlukan tindakan bedah? Namun RS hari itu serasa sepi. Hanya kasus biasa yang ada masuk ke bangsal nya dan telah ditangani oleh dokter bedah yang memang bertugas pagi itu. Pikirannya kacau membuat emosi. Ingin rasanya dia pergi keluar, namun William tak tahu akan kemana.
Tok.. tok...
(Seseorang mengetuk pintu ruangannya).
William memperbaiki baju dan cara duduknya sebelum menjawab.
"Masuk!! " seru William
Seorang gadis cantik dan seorang pria berwajah cina masuk kedalam ruangan William. Mereka adalah dokter anatesi yang tadi malam standby di bangsal bedahnya. Gadis itu bernama Ayu Putri dan pria itu bernama Lim Seouk. Keduanya adalah senior William saat bersekolah di SMA di Inggris. Terpaut 2 tahun diatasnya. Namun karena kejeniusan William, dirinya lebih cepat tamat dan lebih cepat diterima bekerja setelah menjadi spesialis dibandingkan kedua orang itu. Mereka berteman baik di RS ini. William beberapa kali berpasangan dengan mereka di kamar bedah. Walau berbeda departemen, namun mereka sangat akrab. Ayu dan Lim juga masih single di umurnya yang sudah berkepala 4 itu.
"Bro... loe lagi ga dinas kan? Ikut kita yok ke Bandung." ajak Lim padanya.
"Ngapain ke Bandung?! " tanya William tak bersemangat.
"Loe ingat Maria Steward ga? Yang nge- resmiin RS sebelah. Dokter bedah lulusan Oxford. Kita pernah diundang waktu peresmian RS itu dua tahun yang lalu," jelas Ayu.
William membuka memori nya. Tiga detik ia terdiam lalu mengangguk-angguk seperti burung pelatuk.
William ingat wanita itu. Dia pernah tidur juga dengannya karena wanita itu menggodanya dimalam resepsi setelah peresmian RS itu. Wanita ambisius yang b*******h, langsung terang-terangan mengundangnya datang ke kamarnya di lantai VIP gedung baru itu. Kucing dikasih ikan sih ga nolak
Tapi hubungan itu tak berlanjut karena William sibuk mengurus penelitiannya. William juga tak pernah mencatat nomor wanita itu.
"Ya.. aku ingat Maria. Kenapa dia? " tanya William lagi.
"Nanti malam resepsi pernikahannya. Aku baru baca undangannya tadi malam. Ku pikir kau juga bakal dapat undangannya, makanya aku ga ngasih tahu. Dapat ga?! " tanya Ayu lagi.
William mengangkat bahunya. Dia tak pernah mengecek undangan yang dikirimkan kepadanya. Jika tidak langsung di kasih tahu, maka William tak pernah datang ke pesta siapapun. William menunjuk ke tempat dimana perawatnya biasa menumpuk undangan untuknya. Lim mencari kartu undangan dari Maria dan menemukannya.
"Ada nih. Ga mungkinlah sesama sejawat dokter bedah ga diundang. So... ikutan ga? " tanya Lim setengah memaksa.
"Kalian ajalah. Aku lagi badmood. " keluh William.
"Ayolah... kasihanilah Ayu ga punya pasangan ke situ. Aku mah udah dapat gebetan baru. Residen ku disini. Rumahnya di Bandung, jadi ku ajak aja sekalian bertemu dengan keluarganya. Nah.. si Ayu yang bakalan baper kalo sampe nongol sendirian. Ayolah. " paksa Lim lagi.
William melirik Ayu. William tahu, sebenarnya Ayu dari dulu naksir padanya. Cuma karena William juniornya, dia merasa gengsi untuk memulai menekati William. Ajang seperti ini pasti bakal dijadikan Ayu sebagai awal untuk memulai hubungannya dengan William.
Ayu sebenarnya sangat menarik. Wanita berdarah Jawa Inggris ini bak pragawati. Tubuhnya tinggi semampai, bodynya aduhai dengan b*******a yang besar. Apalagi dia suka memakai baju yang modis dan ketat. Pria yang normal pasti akan mengantri untuk mendapatkan nya.
Tapi tidak dengan William. Pria itu tak tertarik karena wanita itu sangat angkuh. Dia terlalu membanggakan statusnya sebagai lulusan Harvard membuat dokter-dokter lokal disini merasa tidak nyaman. William akui Ayu memang pintar. Namun apabila hanya karena almamater itu dibanggakan nya, itu malah membuat William muak. Namun sebagai kolega, Ayu merupakan dokter terbaik yang bisa memberikan solusi tepat dan cepat saat operasi.
Berbeda dengan Lim. Pemuda cina itu bersikap pecicilan, namun dibalik itu terdapat otak yang jenius juga. Kadang orang meragukan kemampuannya karena sifat tengilnya itu. Ia selalu bercanda dimanapun, kapanpun. Di ruang operasi kadang ia bergurau melihat tubuh pasien yang tengah dibedah William. Ada saja yang dikomen nya. Membuat semua orang tertawa. William sering memarahinya apabila lelucon Lim sudah membuat kru bedahnya tidak konsentrasi lagi.
_-_
"Baiklah.. kita ketemu di Bandung ntar malam. Aku jemput loe di hotel. Aku mau ketemu abang dan adikku dulu di Bandung. Udah lama ga nyamperin mereka. " kata William kemudian.
Ada kekecewaan di raut wajah Ayu. William menebak, pasti gadis itu sudah berkhayal akan seharian bersamanya. Mungkin dikiranya William bakal senang bisa berduaan dengan dirinya, seperti pria-pria lain yang mendekati gadis itu. Ayu mungkin tak menyangka William akan punya keluarga di Bandung karena pemuda itu memang tak pernah terbuka tentang hubungan pribadinya kepada koleganya, walaupun mereka akrab.
Akhirnya Ayu dan Lim keluar dari ruangan William. Sebagai ketua departemen bedah, mengajak William keluar di hari libur adalah perkara sulit. Dia selalu saja sibuk dengan penelitiannya. Mungkin lebih gampang memanggil kucing selusin mendekat daripada memanggil William keluar dari ruangan RS ini. Tapi ini sudah bagus William menyetujui ajakan mereka walau tidak seperti yang dibayangkan dan direncanakan oleh Ayu.
Diam-diam ada sebuah konspirasi jahat yang tengah dipersiapkan oleh Lim dan Ayu kepada William.
***
William tiba di Bandung jam 1 siang. Ia langsung menuju rumah adiknya. Layla sedang berada di beranda diatas sebuah ayunan sambil membaca koran. Dia sengaja tidak langsung masuk ke dalam pagar yang sedikit terbuka. William menatap adik yang dirindukan nya itu. Dia sedikit berubah.
Layla mengenakan jilbab, seperti kebanyakan wanita muslim yang dikenalnya. Tak tampak lagi rambut pirang berombak miliknya dulu. Wajah bule adiknya juga tak terlalu kentara lagi didalam balutan jilbab itu. Ia kini tampak seperti wanita Arab dengan mata biru terang.
Kulit khas bulenya yang kemerahan, tak lagi tampak karena tertutup dress dengan lengan panjangnya. Layla bertambah cantik. Ada ketenangan di raut wajah adiknya itu. William dapat merasakan aura positif terpancar dari keanggunan Layla. Berbeda dengan dulu, saat ia masih lajang.
Keponakan kecilnya yang pertama melihat kehadiran William. Ia bertepuk tangan heboh karena senang melihat sosok William. Ia menyambut William di pintu pagar. Dengan langkah terseok, bocah gembul itu mendekatinya.
Layla yang melihat anaknya berlari ke pagar, menghentikan kegiatannya membaca. Dia berteriak tertahan melihat William ada di depan pagar rumahnya.
"Brother!! How could you not calling me before !! " serunya.
Layla berlari kecil ke arahnya. William membuka pintu pagar dan memeluk ponakan kecilnya itu. Menggendongnya kembali masuk ke dalam rumah. Dia mencium pipi Layla kiri dan kanan, namun gadis itu pengen dipeluk sehingga William kewalahan membalas pelukannya sambil tengah menggendong Idris.
"Hei... hei... berapa umur mu sih? Masih aja kayak anak kecil kelakuanmu, dek. Masak rebutan pelukan sama Idris. Dasar ga malu. " ejek William.
"I miss you soo much, bro. Kenapa susah sekali sih membalas chat gue?! Masak ngirimnya sekarang, dibales baru besok paginya?! Ga seru ah. " rajuk Layla.
William terkekeh. Dia menurunkan Idris. Bocah itu berlari masuk ke dalam rumah menuju kulkas. Meminta babysitter nya untuk mengambilkan air minum.
"Aku kan ga pegang HP kalo lagi operasi. Jadwal ku padat, operasi pun tidak sebentar. Kadang bisa sampe 6 jam. Ga mungkin aku terus-terusan pegang HP di bangsal. Paling banter kalo udah jam istirahat tidur baru ingat ngoprek-ngoprek HP. " jelas William.
"Trus kenapa baru sekarang sempat mampir. Udah setahun lebih loe ga ke sini lho. Natal kemarin juga ga gabung dengan kita. " Layla masih manyun merajuk.
"Lha kamu kan udah jadi muslim. Abraham juga. Ngapain aku gabung Natal disini?! Dapat kado juga kagak, yang ada aku mah di tinggal tidur doank pas malam Natal. " sahut William.
Layla tersenyum. Perkataan William ada benarnya. Suami Layla tak mengizinkan ada kegiatan apapun dimalam Natal dan tahun baru. Beberapa keluarga muslim terkadang ada yang membuat party keluarga, ada acara bakaran sate sampe merencanakan berlibur di hotel-hotel. Hidayat berkata, jika kita berniat Refresing disaat merayakan hari tersebut, berarti kita adalah bagian dari agama itu.
Layla sebenarnya tidak setuju, baginya selama dia tidak merasa sebagai umat Kristen,seperti dulu, maka ia tak perlu khawatir apakah ikut dalam perayaan natal dan tahun baru atau tidak. Itu hanya sebatas perayaan, tak lebih. Toh Dia tidak berdoa dan melakukan ritual apapun.
Namun dia menghormati cara berfikir Hidayat. Dia adalah newbie dalam agama ini. Pengetahuannya belum banyak tentang Islam.
Tapi dikeluarga Abraham lebih longgar. Pemikiran mereka sama. Mungkin karena pekerjaannya sebagai diplomat yang harus menaungi berbagai macam agama penduduk. Dia harus bisa berlaku adil. Abraham pernah bilang, selama dia tak makan minum yang haram dan melakukan ritual diluar yang diajarkan agamanya sekarang, maka itu sah-sah saja.
Abraham pernah mengundang Layla, William dan Michael untuk merayakan malam tahun baru bersama di Bandung. Tapi hanya William yang datang. Layla datang di siang hari. Pada sore hari, Hidayat mengajaknya pulang. Bagi Hidayat, itu hanya acara kunjungan keluarga biasa. Bukan untuk merayakan tahun baru, jadi tak perlu sampai pulang larut malam, apalagi sampai menunggu detik pergantian tahun.
Makanya Layla paham maksud perkataan William tadi. Walaupun ingin, dia tak bisa lagi memberikan William kado Natal tanpa seizin suaminya. Jikapun ia ingin memberikan hadiah, itu bukan dalam rangka Natal. Dan tentu tidak akan seru memberikan kado pada abangnya itu, sebelum atau sesudah hari Natal.
Mungkin itu juga yang jadi penyebab William akhirnya tak pernah merayakan Natalnya lagi di Bandung. Dia lebih memilih sendirian merayakan moment itu.
Layla mengamit lengan William, mengajaknya duduk di sofa.
"Jadi... apakah tahun ini aku sudah bisa mendapatkan kakak ipar? " tanya Layla mendadak.
William sudah menduga, pasti akan mendapatkan pertanyaan seperti itu. Tapi dia terkejut juga.
"Aku sudah keburu ditinggal kawin sama mantanku setahun yang lalu, jadi sepertinya kau harus menunggu seabad lagi untuk mendapatkan calon kakak ipar baru" canda William sambil tersenyum.
"Hushh.. ga boleh ngomong gitu. Kata Mas Dayat, ucapan itu adalah doa. Nanti di amin kan malaikat, baru nyahok loe. Nungguin sampe tuir. Ucapan itu musti yang baik-baik." jelas Layla.
William terkekeh. Adiknya ini mulai menjadi anak baik, mau mendengarkan nasehat orang lain. William merasa senang dengan perubahan Layla.
"Oh iya... Ririn ternyata satu RS denganku. Aku baru tahu beberapa waktu yang lalu saat mengurus perpanjangan paspor dikantor Mas Bram (Abraham). Dia yang bilang kalo anaknya itu diterima bekerja setahun yang lalu disitu. Barulah aku mencarinya." kata William. Ia berusaha mengalihkan topik pembicaraan dari Layla. Ia tak mau adiknya itu mengorek tentang hubungan pribadinya terlalu jauh.
"Iya... aku juga baru tahu. Ku pikir dia masih menyelesaikan studinya di Belanda. Tapi kata Bram sudah setahun di jakarta bersama Renata." ujar Layla.
Mendengar nama Renata disebut Layla, membuat William berdegup kencang. Apa cuma dirinya yang tak mengenal Renata? Bahkan Layla pun kenal dengan gadis itu.
"Renata??? Maksudmu perawat pendamping Ririn? Kok kau mengenalnya? " tanya William pura-pura tidak tahu.
"Oh iya...kau belum pernah bertemu dia disini. Padahal sering lho Nata berkunjung ke rumah Abraham. Dia sahabat dekat Ririn semenjak di Aussie." ujar Layla.
Layla akhirnya menceritakan semua hal tentang persahabatan Renata dan Ririn yang dia ketahui. Hampir sama versinya dengan apa yang diceritakan Renata malam itu di atap gedung. Berarti Renata tidak berbohong pada William tentang kehidupannya di Bandung.
"Ririn akan menikah sebulan lagi. Apa kau bisa datang? " tanya Layla.
"Akan ku usahakan, tapi aku ga janji. Nyawa pasien lebih penting. " ujar William.
"Aku juga mengundang Michael. Mungkin Mas Bram udah menghubungi nya juga. Tapi dia pun ga janji bisa atau tidak datang ke acara itu." kata Layla.
"Oh iya.... jam berapa Hidayat pulang? Aku takut ga bisa ketemu dengannya. Aku belum ke rumah Bram. " sela William.
"Mas Dayat hari ini ada sidang. Kemungkinan bakal sorean. Coba ku telpon dia dulu ya. " kata Layla.
"Eh... ga usah. Biarkan saja kalau dia lagi sibuk. Lain kali aja aku datang lagi. Aku harus ke rumah Abraham sekarang. Nanti malam soalnya aku ada acara resepsi teman." William bangkit dari duduknya.
"Lho... makan siang dulu sama adikmu ini, napa?! Main ngacir aja. Gue masih kangen tau!! " Layla memajukan bibirnya dengan manja.
William tertawa.
"Siapa bilang aku mau pulang. Ini ya mau pergi ke meja makan. Perutku emang lapar minta diisi. Rugilah aku kalau harus makan junkfood diluar. Kapan lagi aku bisa merasakan masakan adik kecilku ini?! Walau aku ga yakin sih dia udah bisa masak. " Ledek William.
Layla menjewer kupingnya dengan gemes. Wajahnya memerah mendengar perkataan William. Layla memang belum bisa masak makanan Indonesia. Apalagi masakan Sunda. Tapi dia pintar membuat kue. Perbedaan budaya makanan western dengan Indonesia terlalu jauh. Dia terbiasa memasak grill, pasta dan junkfood. Sedangkan suaminya tak bisa kenyang dengan memakan makanan seperti itu. Semuanya harus serba pakai nasi. Untung suaminya menyewa pembantu untuk memasak. Jadi Layla hanya perlu menyediakan kue dan pastry untuk cemilan nya.
Sambil makan, Layla bertanya hal yang mengejutkan pada William.
"Kau mau ga ku jodohkan dengan Renata?! Dia juga Kristen lho." William yang tengah menyuap makanan, sampai tersedak dibuatnya.
Layla buru-buru menyerahkan air minum pada William. William tak tahu mau bicara apa. Ia hanya menegak berkali-kali air itu sampai 3 gelas. Otak nya dipaksa keras berfikir mencari jawaban atas pertanyaan adiknya itu.
"Sejak kapan dirimu jadi biro jodoh ku?! " ledek William.
"Renata itu baik lho, cantik lagi. Walau dia yatim piatu, tapi nasibnya baik. Bisa sekolah sampe S2 dengan beasiswa. Dia pintar juga. Aku suka karakter nya. Anaknya pun sopan. Kupikir... dia pasti cocok denganmu. Kau sudah pernah bertemu dengan nya kan?! " tanya Layla lagi.
William mengangguk.
"Aku ga yakin ada cewek yang betah bersama ku. Kau tahu sifatku, paling ga suka hubungan serius. Kasihan anak orang ntar kecewa." elakkan William.
"Sampai kapan kau akan hidup seperti itu? Menikah tak selalu menakutkan kok. Buktinya diriku. Walau pernikahan pertama ku kacau, namun sekarang aku bahagia. Lagian budaya Indonesia itu berbeda dengan western. Mereka mengutamakan pernikahan terlebih dahulu, baru cinta. Kata Mas Dayat, cinta bisa datang setelah menikah. Itu juga yang ku alami. Dulu aku menikah tanpa mencintai Mas Dayat. Tapi aku baru jatuh cinta padanya setelah menikah. " jelas Layla panjang lebar.
"Ririn akan membunuhku jika tahu aku mengincar sohibnya. Apa mau dia mengubah panggilannya kepada Renata nanti menjadi tante? " William berusaha tertawa dengan gurauannya.
Layla termenung.
"Iya juga ya. Apa Ririn bisa ikhlas kalo Renata jadi tantenya? Pasti akan canggung sekali. " ujar Layla lagi.
"Nah... itu makanya. Jangan asal mau nge jodohin orang. Dipikirkan dulu kemungkinan hasil akhirnya. Kalau soal dijodohin mah dengan siapapun aku bersedia. Tapi ga segampang itulah prosesnya." Dilihat nya Layla mengangguk membenarkan pendapatnya. William bersyukur masih bisa mengelak dari Layla.
"Ya sudah... aku mau pergi ke rumah Abraham sekarang ya. Sampaikan salamku pada suamimu. Maaf tak bisa menunggu nya pulang. Nanti jika masih ada kesempatan, aku kemari lagi. " kata William.
Layla memeluk erat abangnya itu. Dalam hati ia teringat akan Sandra. Gadis itu biasanya akan berebut dengan Layla ketika akan memeluk William. Kini tak ada lagi yang akan berebutan denganya untuk memeluk William (kecuali anaknya). Namun Layla tak berani mengungkit tentang kenangan Sandra didepan William. Ia tahu betapa William terluka dengan kepergian Sandra.
***
Dirumah Abraham
William memencet klakson mobilnya. Seorang satpol PP keluar menghampiri mobilnya.
"Selamat sore, Pak. Mau bertemu siapa?" tanya pemuda itu ramah.
"Saya dokter Jamie, adik kandung pak Bram. Saya mau bertemu kakak." jelas William sambil memperlihatkan kartu VIP KBRI milik keluarga Abraham. Semenjak menjadi duta besar RI di Australia, Abraham sudah memberikan kartu itu pada adik-adiknya agar memudahkan mereka keluar masuk rumahnya.
Petugas Satpol itu melaporkan kepada atasannya melalui walkie talkie dan dalam sekejap pria itu kemudian berlari membukakan pintu gerbang lebih lebar agar William dapat masuk.
William memarkirkan mobilnya didepan kolam ikan. disebelah nya ada mobil berwarna metalik yang dikenalinya.
" Hmmm... ada Ririn ternyata." ujar William. Sebuah kebetulan yang tak terduga. Apa kira-kira Ririn masih sebel dengan perkataannya kemarin? William menebak-nebak dalam hati. Bibirnya tersenyum memikirkan kemungkinannya.
William menuju taman belakang. Dia selalu malas masuk dari pintu utama karena banyak sekali palang pintu yang harus dilewati nya. Dia lebih suka langsung masuk ke arah taman, dimana tak ada seorang pun yang akan melarang nya. Taman itu bersebelahan dengan dapur umum. Di liriknya dapur itu untuk mencari seseorang. Kakak ipar nya paling rajin memasak. Sebagian besar waktunya dihabiskan di dapur. Karena ini jam 3 sore, pasti kakaknya itu akan mempersiapkan makanan pendamping minum teh untuk Abraham. Keluarga Abraham biasa bersantai di taman sekitar jam 4 sore jika tidak hujan. William sudah hafal sekali rutinitas itu.
William melihat sesosok wanita memakai celemek tengah membelakangi nya. Sepertinya itu kak Shinta, mama Ririn. William mendekati nya perlahan. Wanita itu tengah menghias cake memakai whip cream.
William melingkarkan tangannya memeluk kakak iparnya itu. Hal yang sudah biasa dilakukannya sejak dulu. Mereka memang sangat akrab.
"I miss you soo much my lovelly sist" ucap William di telinga wanita itu.
Wanita itu kaget dan sontak menjerit."Aaaaakkkkhhh!!!"
Whip cream yang ada di tangannya otomatis tersembur ke arah wajah William.
William menutup matanya takut terkena semburan whip cream itu. Suara teriakan itu terdengar tak asing ditelinga nya, namun itu bukan suara kak Shinta.
"Siapa kau?!" teriak wanita itu.
Tunggu... itu...
Suara itu....
tidak mungkin!!!
William membuka matanya untuk melihat ke arah sumber suara yang membuatnya kaget. Tapi pandangannya terhalang oleh whip cream yang menggantung di kelopak matanya.
Terdengar suara langkah beberapa orang berlari mendekat.
"Ada apa ini?! " teriak seseorang di arah belakang William.
"Nah..yang itu suara kak Shinta. Lha... yang barusan ku peluk siapa?!" pikir William
"Ya ampun Jamie... itu kamukah?! " suara kak Shinta kembali terdengar.
William merasakan tangan seseorang menyingkirkan sisa whip cream dari matanya. Perlahan pandangannya menjadi jelas. Dilihat nya kak Shinta menatapnya dengan cemas.
"Are you okay dear?! " tanya kakak iparnya dengan panik.
Seseorang bersembunyi dibalik tubuh kakak iparnya. William memanjangkan lehernya untuk melihat ke arah belakang tubuh kakaknya, siapakah yang bersembunyi disana? Namun tubuh gadis itu menunduk menghindari jangkauan pandangannya.
William merasa tak yakin dengan pendengarannya tadi. Dia ingin memastikan bahwa telinganya tidak salah. Walau hanya sebuah teriakan, William yakin itu adalah suara Renata.
"Maaf membuat mu kaget. Matamu tak apa-apa kan? " tanya kak Shinta lagi.
William yang masih penasaran mengitari tubuh kak Shinta. Gadis yang bersembunyi itu juga bergerak menjauhinya lalu berlari kabur meninggalkan dapur itu. William kini yakin, gadis itu memang Renata. Tubuh mungil yang dikenalnya itu lari pontang panting, ngacir meninggalkannya.
"I'm sorry Jamie. Itu... "
"Renata" ujar William memotong perkataan kakak iparnya.
"Yeah... Renata. Kau mengenalnya?! " tanya kak Shinta kemudian.
"Ya... di RS. Perawat ruangan Ririn. Kami beberapa kali bertemu. " jelas William.
"Kau apakan dia sampai nata kaget seperti itu?! " tanya kak Shinta lagi.
"Just a hug like ussual." ujar William enteng.
"Pantas aja... Rasain deh. kamu itu main peluk sembarangan. Lihat dulu donk. Masak ga bisa bedain body gue ama anak gadis sih?! " kak Shinta sewot.
" No i cant. You are soo perfect like a young Girl, as always" gombal William pada kakak iparnya itu.
"Maapin Renata. Tadi dia membantuku menghias karena aku harus menyiapkan baju abangmu yang lagi mandi. Sudah sana mandi dikamar tamu paling ujung, bersihkan sisa whip creamnya. Akan ku antarkan baju untukmu. Mau kemeja apa T shirt dear? " tanya kak Shinta.
"Setelan kemeja dan jas plus dasi. Aku mau ke resepsi pernikahan elit. Aku butuh suit milik pak dubes biar dapat akses masuk. " ledek William menggoda kakak iparnya itu.
Kak Shinta langsung memukul lengan William. Tuh kan..bener kata William kemarin. Kelakuan Ririn sama dengan emaknya. Suka mukulin orang. Sebelum pukulan itu berubah jadi cubitan maut... William beranjak pergi menuju rumah utama. Dia masuk ke kamar tamu yang di tunjukkan pelayan atas perintah nyonya rumahnya itu, lalu mandi.
Ketika ia selesai mandi, dilihat nya di atas sofa sudah tergeletak setelan jas hitam dan kemeja biru. Ada sempak dan singlet juga. Memang ukuran badan William hampir sama dengan Abraham. Cuma beda di wajah saja. Abraham sekarang wajahnya penuh dengan lemak yang membuat mukanya membulat, sedangkan William masih babyface dengan wajahnya yang tirus.
Ada beberapa pilihan dasi juga di sebelahnya. William memakai yang bercorak garis. Tampilannya elegan ala pejabat namun tetap modis. Diliriknya jam di pergelangan tangannya. Sudah hampir jam 4. Biasanya resepsi pernikahan berlangsung sekitar jam 8. Jadi dia masih punya waktu 2 jam untuk bermain di rumah Ririn. Mungkin selepas maghrib baru dia akan menjemput Ayu.
Tapi ketika fikiran nya mengingat bahwa Renata ada di rumah ini, mendadak ia malas untuk pergi. Namun dia sudah berjanji pada Lim akan hadir. Ia tak terbiasa ingkar.
Jas dan dasi itu dibukanya kembali. Dengan hanya memakai setelan kemeja, ia menuju taman. Kak Shinta pasti sudah menunggu untuk minum teh disana.
Dari balik kaca William memperhatikan keadaan di taman. Disitu sudah ada Abraham, kak Shinta dan Ririn. Matanya mencari seseorang. Ya... William tak menemukan gadis itu di Taman. Apakah dia bersembunyi? Kemana dia?
William mengeluarkan HP nya dan menelpon nomor Renata. Suara deringan terdengar, namun bukan dari dalam HP William. Suara itu berasal dari....
William berjalan mengikuti arah suara deringan itu. Pandangannya terhalang kulkas besar di dalam ruangan. Dengan berjingkat, William menuju ke balik kulkas. Dia tersenyum. "Aku menemukan mu, gadis Panda!!!" teriak William kegirangan dalam hati.
Di depannya meringkuk seorang gadis sambil ngedumel pada HP nya. Tampaknya ia ragu akan mematikan nada dering itu atau tidak. Namun kemudian gadis itu menekan tombol "jawab" dan mulai mengatur nafasnya.
"Oh... Hai.. kau dimana? Sudah siap bersih-bersih?! " tanya gadis itu melalui telepon.
William geleng-geleng kepala. Gadis itu keliatan ketakutan. Badannya menggigil namun tampak ia berusaha keras berbicara normal mengatur suaranya agar setenang mungkin menjawab telepon darinya itu. William kagum atas perjuangan nya.
"Kenapa kau selalu saja melarikan diri dariku, gadis Panda?! " tanya William.
Renata terjengkang kaget. Dia tak menyangka pemuda yang menelponnya itu sudah berada di belakangnya. Renata hanya bisa cengengesan sambil mematikan HP nya. Dia menggaruk kepala nya dan menunduk tak berani menatap William.
"Maaf karena insiden whip cream itu" ujar Renata lemah.
"Aku begitu kaget dan itu refleks. Lagian salah mu juga tiba-tiba meluk orang sembarangan. Apa emang begitu budayamu menyapa orang?! " Renata memajukan bibirnya beberapa senti, tanda ia lagi kesal.
William gemas sekali melihat ekspresi Renata itu. Tanpa sadar tangannya meraih tubuh Renata dan mencium bibirnya. Renata membelalakkan mata indahnya, terkejut dengan apa yang dilakukan William. Mata itu melirik ke kiri dan ke kanan, takut ada orang yang melihat. Bibir William menuntut lebih. Lidahnya memaksa Renata untuk membuka celah bibirnya. Namun Renata bertahan. Ia memukul d**a bidang William.
"Jangan berbuat gila disini, dokter Jamie." serunya diantara ciuman panas William.
Gadis itu memaksakan dirinya untuk lepas dari pelukan William. Walau enggan, pria itu melepaskannya dengan kasar. Dia memang gila di hadapan gadis itu. Akal sehatnya selalu hilang bila sudah mencium gadis itu.
Renata mengepalkan tinjunya ke udara, lalu berlari meninggalkan William, keluar menuju taman. Dilihatnya gadis itu bergabung dengan keluarga Abraham.
Akhirnya William juga menuju taman. Bagai tak terjadi apapun, William menyapa semua orang disana. Ia mencium satu persatu pipi abangnya, kakak iparnya, Ririn dan.... gerakannya terhenti didepan Renata. Dia hampir saja akan mencium pipi Renata juga.
Ririn yang melihat itu langsung menutupi wajah Renata dengan tangannya.
"Jangan berani-berani nyentuh sohib gue. Udah tadi meluk orang sembarangan, sekarang mau nyium pulak... awas aja kalo berani" ancam Ririn.
"Hey... itu accident you know. Saya pikir itu ibu peri. Mana saya tau ada upik abu disini. " ledek William. Dilihatnya wajah Renata memerah. Ririn meleletkan lidahnya ke arah William. Abraham dan Shinta hanya tertawa kecil.
Ibu peri adalah panggilan sayang William pada Shinta. Baginya, Shinta sudah seperti ibunya sendiri karena sifat nya yang lembut. Persis cerita ibu peri yang dulu pernah dibacanya sewaktu kecil.
Shinta menyajikan cake dan gorengan pada William. Ia menuangkan teh ke dalam gelas. Shinta tahu William tak suka minum kopi. Kesukaannya hanya teh, freshwater dan chocomilk.
"Kau pasti sudah kenal dengan Renata kan? " tanya ayahnya Ririn.
William menjawabnya dengan anggukan karena ia tengah menyeruput teh. "Aku sudah sangat mengenalnya luar dalam" ujar William dalam hati.
"Nata, ini adik om. Namanya Jamie William Alexander. Dia biasa dipanggil Jamie. Sedangkan William Alexander itu adalah nama keluarga om. Kami semua punya nama itu. Om dulu beragama Kristen. Nama baptis om adalah Abraham William Alexander. Setelah masuk Islam, om memakai nama Muhammad Bram William Alexander." jelas Abraham pada Renata.
"Dia terlalu sibuk belajar di luar negeri sehingga jarang berkumpul bersama kami." tambah Shinta.
"Tapi itu sepadan dengan prestasinya sebagai dokter bedah termuda yang menjadi profesor di usia 28 tahun" tambah Abraham lagi.
Renata tersedak mendengar penjelasan papa Ririn. Dia tak menyangka William bukan hanya dokter bedah, tapi juga mendapatkan gelar Profesor. Wahhh... mendadak dia merasa bangga bisa tidur dengan seorang profesor. Untung dirinya tidak sedang kuliah. Renata segera meneguk air teh nya.
"Saya pikir profesor itu pasti semuanya tua dan botak. Ternyata ada yang masih anak-anak juga." kata Renata.
Abraham dan Shinta tertawa mendengar pengakuan Renata. Gadis ini berani mengatakan pendapatnya langsung di depan William. Biasanya orang-orang akan langsung merasa sungkan mendengar prestasi William itu.
Dalam hati William merasa kesal, namun ia mencoba tak menampilkan nya. Ia bersikap wajar. "Aku tak botak karena lulus di usia muda. Jika aku menghabiskan waktu ku selama masa belajar yang kalian lakoni, tentu saja akan membuat rambutku rontok. Tuh.. contohnya Ririn. Rambutnya sudah menipis di usia 35 tahun. Tunggu dua tahun lagi, maka kepalanya akan lebih mirip rambutan." William terkekeh dengan leluconnya.
Abraham dan Shinta tertawa lebih keras lagi. Ririn langsung berdiri untuk mencubit William. Pemuda itu langsung lari menghindari ponakannya itu. Ririn mengejarnya. Mereka berlarian mengitari taman. Kejadian di apartemen William itu terulang kembali. Mereka benar-benar seperti anak-anak!!! Renata hanya bisa geleng-geleng kepala.
" Biarkan saja mereka. Sebenarnya itu ungkapan kerinduan mereka satu sama lain. Ririn sangat sayang pada Jamie, begitu juga dia. Walaupun ucapan Jamie kadang keterlaluan, namun hatinya baik. Dia menjadi dingin pada semua orang. Cenderung menjadi playboy juga. Andai saja ada wanita yang bisa mengerti perasaannya, tentu akan mudah untuknya membuka hati pada sebuah ikatan pernikahan. " curhat Shinta.
"Mungkin dia harus dijodohkan dahulu baru bisa membuka hatinya. Kau lihat Layla, dirinya berubah banyak setelah menikah. Mungkin dengan Jamie bisa juga begitu. " tambah papa Ririn.
Tiba-tiba semuanya hening. Renata merasa tatapan mata orangtua Ririn lekat padanya. Walaupun sadar tengah ditatap seperti itu, Renata mencoba untuk tidak memandang ke arah mereka. Dia tahu kemana arah pembicaraan kedua orang itu. Mereka ingin menjodohkan William dengannya!!!
Tuhan
Semoga pemikiran itu tidak benar!!!
Semoga mereka tidak berfikir seperti itu!!!
Renata terus berusaha tertawa memandang ke arah Ririn dan William yang masih berkejaran. Sampai akhirnya William mengalah dan menuju ke arah mamanya Ririn.
"Ampun... ampun tuan putri. Hamba lelah. Baju hamba basah oleh keringat. Nanti malam da resepsi. Gara-gara mu aku terpaksa harus mandi dan tukar baju lagi." bujuk William sambil mengatupkan tangannya menyembah ke arah Ririn.
Mereka akhirnya berdamai dan duduk di kursi masing-masing.
"William... siapa yang akan menikah? Dengan siapa kamu pergi ke resepsi itu nanti? " tanya ibu peri.
"Aku bersama rekanku,dokter anastesi. Namanya Ayu putri. Yang resepsi adalah Direktur RS yang letaknya tak jauh dari RS kami. Dokter bedah juga sekalian Mantan ku juga. " kata William tertawa. Ia melirik ke arah Renata untuk melihat reaksi gadis itu. Dilihat nya Renata hanya menggigit bibirnya sebentar lalu memonyongkan bibirnya seperti sedang cemberut.
"Aha... cemburukah dia?" tanya William dalam hati. Entah mengapa ia senang melihat reaksi Renata itu.
"Yeee... untuk kesekian kalinya... dokter Jamie yang jenius... ditinggal kawin sama mantannya. Bisa masuk MURI om kalo begini terus. " ejek Ririn.
"Hush Rin, ga boleh ngomong gitu sama om Jamie. Kamu itu ya... bukannya bantuin nyariin jodoh... malah ngeledekin terus om mu itu." ujar mama Ririn.
Ririn terdiam mendengar teguran mamanya.
"Udah ma. Ririn malah nyuruh om Jamie datang ke pesta nikahan Ririn biar bisa dikenalin ke teman-teman ku. Tapi dia malah bilang ga janji bakal datang. Bikin sakit hati aja. Baru sekarang ada om yang nolak datang ke resepsi nikahan ponakannya. Tega banget tuh si om, pa. " keluh Ririn mengadu pada papanya.
"Lah.. ucapanku bener bang. Masak mau ngutamain pesta dia dibandingkan nyawa pasien ku. Yang ku operasi itu bukan pasien untuk sunatan jeng.. tapi pasien yang kondisinya kritis. Jelas ajalah aku lebih milih pasien ku. Pengertian dikit napa ?! " Jamie tak kalah sengit membela dirinya.
"Untuk menjodohkannya kan ga perlu menunggu sampe hari pernikahan mu toh, nduk. Ada yang dekat kenapa harus nunggu yang jauh sih?! Anak ibuk yang satu ini, juga ada yang masih jomblo kan? " kata mama Ririn lagi sambil memajukan mulutnya ke arah Renata.
Kali ini, Ririn-Renata dan William, yang sama-sama sedang mengunyah snack, bersamaan tersedak mendengar perkataan ibu peri.
Mereka bertiga buru-buru minum. Mama Ririn sampai heran kenapa ketiganya kompak tersedak begitu.
William kemudian berdiri dan pamit pada abang dan kakak iparnya itu.
"Aku mau mandi dan bersiap-siap ke resepsi. Aku pinjam kemeja satu lagi bang. Yang ini sudah basah kuyup kena keringat." katanya pada Abraham.
Papa Ririn hanya mengangguk.
"Aku akan mengantarkan baju ganti ke kamarmu nanti" ujar mama Ririn.
Sepeninggalnya William, Shinta dan Abraham hanya bertatapan penuh arti. Mereka berdua lantas tersenyum. Mereka pernah muda. Mereka mengerti apa yang tengah terjadi pada adiknya itu.
Tatapan Shinta beralih pada Renata. Sudah lama ia ingin sekali mengangkat Renata sebagai anaknya, namun gadis itu tak pernah mau. Ia tahu Renata trauma memiliki keluarga. Namun ia menyayangi gadis itu. Mungkin kah dengan menjodohkannya dengan William, akan membuka kesempatan bagi dirinya untuk merengkuh Renata kedalam keluarga besarnya? Semoga saja niat baiknya ini di ridhoi Allah SWT.
****