Mengingatmu

3042 Kata
William terjaga saat suara sirine terdengar dari alarm kamarnya. Di liriknya lampu sirine yang berada di dekat TV nya, berkelap kelip seperti yang ada di ambulan. Dengan cepat William menepuk tangannya 3x untuk mematikan alarm itu. Jam dinding menunjukkan angka 01.23 dini hari. Pasti ada operasi mendadak untuknya. Malam ini ada dua orang dokter bedah yang standby di bawah. Jika alarmnya juga berbunyi, maka pasti ada kejadian tambahan yang membutuhkan dokter bedah ketiga. Ya... dia bertugas hanya untuk operasi kasus tertentu yang rumit serta operasi tambahan mendadak (onCall). Selain itu, kamar operasi milik dokter bedah yang standby lainnya. Kamarnya di desain memang seperti itu apabila ada panggilan emergency untuknya. Alarm yang di desain modern terhubung juga dengan alarm HP nya, apabila ia berada di luar apartemen. William adalah ketua departemen di bangsal bedah. Ia dikontrak karena prestasi sebagai lulusan termuda di angkatannya. William menyelesaikan pendidikan spesialis bedahnya diusia 25 tahun dan mendapatkan gelar Profesor 3 tahun setelahnya. Ia sempat menjadi dosen di salah satu universitas kedokteran di Inggris. Hingga ia berumur 33 tahun, ia dikontrak oleh RS ini atas referensi Rektornya di Inggris. William yang saat itu tengah menyelesaikan penelitiannya, sebenarnya menolak untuk pindah dari Universitas tempat ia mengabdi. Namun, temannya Charlie, sesama Profesor, mengatakan bahwa kasus yang tengah ditelitinya itu banyak terdapat di Indonesia. Dia pasti bisa menyelesaikan penelitian itu lebih cepat di situ. Itulah yang membuatnya mau menerima tawaran kontrak dari RS swasta terbesar di Jakarta. Mereka juga memberikannya fasilitas pendukung untuk pengembangan penelitiannya. Akhir tahun 2015, William akhirnya pindah ke Indonesia. Itulah enaknya seorang dokter kontrak lulusan luar negeri. Walaupun begitu, pria itu tidak semena-mena. Dia selalu bertanggungjawab penuh terhadap departemennya. Oleh sebab itu, walaupun umurnya masih muda, namun dia sangat disegani oleh koleganya di RS ini. William menatap gadis di sebelahnya yang masih lelap tertidur. Tampaknya Renata tidak mendengar suara alarm itu. Gadis itu meringkuk dalam pelukan William. Dia melepaskan tangannya perlahan dari Renata. Lalu turun dari ranjang, juga dengan gerakan slow motion. Segera pemuda itu bergerak. Mencari seragam hijau tosca didalam lemarinya dan memasang sepatu karet. Perlengkapan lainnya ada didalam kamar bedah. Dia lalu keluar dari kamar meninggalkan Renata yang sama sekali tidak terbangun karena aktivitas William saat itu. Didalam lift, William menelpon ruangannya. Kru bedah menjelaskan dengan detail jenis operasi yang akan dilakukan William. "Hubungi dokter Harry untuk anastesi pendampingku serta kirimkan hasil scan toraksnya. " perintah William. Dokter Harry adalah ketua departemen anastesi. William hanya punya waktu 30 menit untuk mempelajari riwayat dan status pasiennya dan memilih prosedur yang tepat untuk tindakan bedah. Dia akan mengoperasi pasien korban kecelakaan yang mengalami perdarahan otak. **** William selesai operasi pada jam 03.00 dini hari. Setelah mensterilkan dirinya, ia langsung naik menuju apartemen nya. William memindai kartu akses kamarnya. Pintu terbuka otomatis. Perlahan William berjalan ketika melihat Renata masih lelap di atas ranjang. William tersenyum. Biasanya seorang perawat akan sensitif sekali jika ada kegiatan di sekitarnya. Ia teringat kru perawat di ruangan bedahnya. Di awal ia datang ke situ, jangankan suara alarm, ditepuk pundaknya aja mereka tak bisa dibangunkan dari tidurnya. William heran jadinya!! Dalam 3 bulan, akhirnya dia mendisiplinkan mereka. Bukan hanya perawat, termasuk residen dan dokter anastesi yang ikut standby jaga malam. William membuat aturan yang membuat mereka selalu siaga dengan bunyi apapun. Membuat simulasi situasi kritis. Membuat uji kasus di tengah malam saat semuanya tidur lelap. Wlau hanya simulasi, namun mereka harus bangun dan mengerjakan semua instruksi William. Jika tidak, gaji mereka akan dipotong 10% untuk setiap kesalahan respon. Dua bulan setelahnya, mereka sudah jauh lebih sensitif. Bahkan mendengar suara pena jatuh pun mereka akan langsung bisa terbangun. Tindakan itu perlu, karena pasien yang kritis tidak bisa menunggu mereka untuk berleha-leha dengan rasa kantuknya. William mengganti bajunya dengan piyama bercorak kotak. Lalu ia menuju ranjang. William merebahkan diri disebelah Renata. Tangannya terulur mengusap rambut gadis itu. Ia mencium kepala Renata. Wangi apel segar tercium dari situ. Wajahnya memiliki aroma khas bedak bayi. Tubuhnya juga beraroma minyak Kayu putih. Memeluk Renata seakan ia tengah menggendong bayi. Seketika memorinya melayang pada Sandra. Sandra lahir ketika ia berumur 11 tahun. William suka sekali menggendong adiknya itu. Ketika masuk SMP, ia dikirimkan ke Inggris karena kedua orangtuanya bercerai. Papa Ririn (Abraham), Michael dan William ikut bersama Ayah nya. Mereka karena sudah besar, dikirim ke sekolah terbaik. Abraham masuk kuliah di Oxford, Michael ke Austria dan William ke Inggris bersama ayahnya. Sedangkan Layla dan Sandra ikut dengan ibunya, menetap di Australia. Namun mereka tetap berhubungan baik dengan ibu dan adik-adiknya itu. Mereka berkumpul bersama saat Natal dan Thanksgiving karena selalu bertepatan dengan liburan di sekolahnya. Ketika ayah Ririn menikahi wanita muslimah dari Indonesia, ia masuk Islam. Keluarga ayahnya sempat marah dengan keputusan Abraham. Hanya William yang mendukung. Ia hanya memastikan agar Abraham tidak membuat keluarga nya berantakan seperti keluarga mereka. "Jangan ada perceraian, maka aku akan mendukung agama apapun yang kau pilih bersama wanita itu. "ujar William saat itu. Abraham akhirnya mengganti namanya dengan nama islam- Indonesia nya, Muhammad Bram sebagai pengganti nama depannya. Muhammad Bram William Alexander. Itulah nama yang dipakai ayah Ririn sekarang. Sandra sangat suka memakai shampo apel, Parfum strawberry serta handbody beraroma lemon. Ketika memeluk Sandra, William bagaikan tengah berada di kebun buah. Sandra lah yang mengenalkan pada parfum beraroma jeruk. Dia selalu protes dengan parfum aroma musk yang dikenakan William. "Parfum mu bau ruangan hotel" kata Sandra. "Coba tambahkan aroma jeruk ini, pasti lebih segar. " tambahnya lagi. Demi menyenangkan hati adiknya, William menambahkan parfum jeruk yang diberikan Sandra. Walau aroma itu membuat hidungnya sakit, namun ia mengindahkan nya. William ingat, Sandra tersenyum riang ketika mengendus campuran aroma jeruk dan musk di tubuh William. "Thats better. Kau tampak lebih tua dengan parfum musk mu itu. Takkan ada gadis yang mau mendekati mu nantinya," ucapnya. Kenyataannya, banyak gadis yang protes dan kemudian membelikannya berbagai jenis parfum karena tak suka dengan bau jeruk itu. Namun William tetap memakainya. Hanya itu kenangan dengan Sandra yang ia miliki. Ia ingin mengingat kehadiran Sandra melalui bau parfum jeruk itu. Dan selalu hal itu yang ia jadikan alasan saat ingin mengakhiri sebuah hubungan dengan pacarnya. Karena mereka tak bisa menerima bau parfum itu. Tapi gadis ini... Dia mengenali William dari aroma parfum nya. Dia berlari darinya saat mencium bau parfum ini. Namun saat tidur, dia tetap memeluk tubuh William erat seakan menikmati aroma parfum ini. Dia tak protes, bahkan mengendus aroma ini dengan ekspresi yang sama dengan Sandra. Ekspresi senang dan riang. William mengecup kening Renata. Lalu matanya yang terpejam. Lalu pipi nya yang bulat. Gadis itu mendesah pelan. William terhenti saat ingin melanjutkan untuk mencium bibir Renata saat mendengar desahan itu. Seolah Renata memperingatkan nya untuk tidak melanjutkan tindakannya. Namun bibir itu sangat memikat hati William. Bibir tipis dalam sapuan warna lipgloss merah muda, membuat William merasa haus untuk segera melumatnya. William tak mampu menahan lagi, sebuah ciuman mendarat di bibir gadis itu. Manis sekali rasanya. William melepaskan ciumannya, mendadak kejantanan nya dibawah sana mengeras. Ada paksaan untuk lebih dalam menciun gadis itu. Sekali lagi William menempel kan bibirnya, berusaha membuat celah agar lidahnya dapat bergerilya di dalam mulut gadis itu. Renata mendesah lagi, membuat celah itu terbuka. William bagai kesetanan menyusupkan lidahnya mengeksplor rongga mulut Renata. William tak mengerti ada apa dengan dirinya. Di satu sisi, kenangan dengan Sandra menyatu dalam diri Renata. Namun disisi lain, kedewasaan nya menginginkan tubuh gadis ini. Dia tak menampik ada kekhawatiran saat memikirkan gadis itu akan mempunyai masa depan dengan pria lain selain dirinya. Namun untuk mengklaim bahwa mereka adalah pasangan, hatinya belum berani. Dia takut, rasa yang ada dihati ini cuma kasih sayang seorang kakak. Renata sudah menyerahkan mahkota berharganya untuk William. Dan William menghormati itu. William akan menjaga wanita itu, seperti janjinya pada Sandra. Seakan ia ingin menebus kesalahannya tidak pernah mendampingi Sandra hingga ia meninggal. Ia ingin bersama Renata selamanya. Tanpa ikatan pernikahan, karena orang yang menikah hanyalah pasangan yang merasakan saling mencintai. Kehidupan seperti itulah yang ia jalani dengan wanita-wanita nya dulu. Sampai ia ditinggal menikah dengan Natalie, seorang aktris Hollywood yang rela pindah ke Inggris agar bisa hidup bersama William. Namun, pria itu tak kunjung melamarnya dalam sebuah singgasana pernikahan. Ketika William pindah ke Indonesia, Natalie balik ke Hollywood dan bertemu pria asal Belanda, sesama artis disana, yang langsung melamarnya walau tahu gadis itu dalam suatu hubungan. Natalie mencampakkannya setahun yang lalu dan memilih menikah dengan aktor itu. William yang saat itu sedang sibuk-sibuknya melakukan research, merelakan Natalie pergi. Baginya tidak berguna mempertahankan wanita yang tidak mau menunggunya membuka hati untuk sebuah pernikahan. William merasakan trauma akan sebuah pernikahan. Kedua orang tuanya bercerai. Rumah yang dahulu terisi dengan kebahagiaan berubah menjadi dingin. Walaupun ayahnya menikah lagi, namun William tak merasakan cinta dan perhatian yang sama dari ayah maupun ibu tirinya. Ibu kandung nya pun sudah menikah, tak pernah lagi menanyakan kabar anak lelaki nya itu. Hanya Layla dan Sandra yang tetap selalu berhubungan dengan abang-abangnya. Telfon, chat, email semuanya ada. Kalau dulu sudah ada aplikasi WA, mungkin kedua adiknya itu akan membuat grup chat khusus untuk mereka berlima. Pertemuan keluarga di Aussie juga hanya karena mereka yang meminta. Kondisi Sandra yang selalu sakit, tak memungkinkan untuk melakukan perjalanan jauh. Jadi abang-abangnya mengalah untuk selalu bisa meluangkan waktu menjenguk Sandra dan Layla pada Natal dan Thanksgiving. Ayahnya terkadang bisa ikut serta, tapi kebanyakan tidak bisa karena istri barunya itu lebih memilih untuk bepergian keluar negeri lain di hari Natal daripada diajak ke Australia. Setelah Sandra meninggal, William nyaris tak pernah lagi ke Australia. Kehidupan Layla juga berantakan. Ia dipaksa menikah dengan pilihan ayah tirinya karena terbelit hutang. Seorang pria tajir berumur 60an. William dan Abraham padahal sudah menawarkan agar mereka saja yang melunasi hutang itu, dengan syarat Layla ikut bersama mereka. Namun ibunya melarang dengan alasan sekarang ia hanya punya Layla didekatnya. Layla tetap di nikahkan dan menjadi istri ketiga pria itu. Hati William dan Abraham hancur. Terlebih lagi Abraham. Dia merasa kedudukannya yang tinggi sebagai diplomat, tak mampu menghalangi keinginan ibunya itu. Uangnya yang banyak, tak mampu melunakkan hati ibunya untuk tidak menikahkan putri satu-satunya demi melunasi hutang. Jalan terakhir yang bisa Abraham lakukan adalah mendaftarkan Layla sebagai WNI di kartu keluarganya. Abraham juga menerima tawaran menjadi duta besar Indonesia di Australia. Dengan seperti itu, walaupun menikah dengan pria Australia, Layla tetap dalam lindungan papa Ririn sebagai kedubes RI. Ketika Layla akhirnya mengalami kekerasan Rumah tangga, Abraham langsung bertindak menyelamatkan Layla dan mengajukan gugatan cerai tanpa permintaan harta apapun kepada mantan suami Layla itu. Abraham mengancam akan memasukkan dia ke penjara seumur hidup karena tindakan kekerasan itu. Pria tua itupun keder dan tak mau menghabiskan umurnya mendekam dipenjara. Karena pengaruh Abraham yang kuat di pemerintahan, suami Layla itu tak berkutik dan langsung menandatangani surat cerai. Kini Layla dibawa Abraham ke Indonesia, tepatnya di Bandung. Disana ia hidup dengan damai. Bekerja sebagai sekretaris dikantor Pengacara swasta. Mereka akhirnya sama sekali tidak pernah menghubungi ibu kandungnya itu. Ada luka tersendiri bila mengingat keluarga mereka yang berantakan. Setahun bersama keluarga Abraham membuat Layla kembali ceria. Mungkin karena melihat keseharian abangnya yang menjadi muslim, hatinya pun tergerak untuk mencoba agama itu, dia mulai mencari tahu tentang Islam. Akhirnya tiga tahun yang lalu, Layla menjadi muslimah. William datang ketika ia mengadakan semacam perayaan untuk pengucapan ikrar sebagai orang Islam. Kalau William tidak salah ingat, kata Abraham waktu itu, mengucapkan syahadat. Di situ juga Layla dilamar resmi oleh teman sekantornya yang bernama Hidayat, pemuda asal Cimahi yang merupakan keturunan Turki. Hidayat adalah seorang pengacara. Saat itu William kaget, karena itu tak ada dalam agenda acara Layla. William bahkan bertanya pada Layla apakah itu pacarnya? Kata adiknya tidak. Hidayat bahkan tidak pernah mau diajak bersalaman dengan wanita, bagaimana mungkin dirinya pacaran dengan pria yang membatasi diri seperti itu. Namun Hidayat menjelaskan bahwa didalam Islam memang tidak pernah ada kata pacaran. Hanya keinginan untuk mengenal yang bertujuan kesebuah pernikahan. Hidayat sudah lama menyukai Layla dan telah mengetahui latar belakang Layla seorang janda. Namun mengetahui Layla adalah Kristian, dia tak melanjutkan perasaannya. Dia masih single dan tidak pernah mau berpacaran. Ketika akhirnya terdengar kabar bahwa Layla ingin menjadi muslimah, Hidayat memantapkan dirinya untuk melamar dan menjadikan Layla istrinya disaat yang menurutnya sangat tepat, dimana seluruh keluarga Layla berkumpul. Hidayat berhasil meyakinkan Layla untuk menerima lamarannya. Seminggu kemudian dilaksanakan acara pernikahan. Layla sangat bahagia. Waktu itu ia bercerita, pernikahan nya seperti sedang berpacaran. Hidayat juga mengajarinya tentang Islam dengan baik. Suara Hidayat pun merdu ketika mengaji dan melantunkan azan.William pernah mendengarnya sekali ketika bertamu ke rumah Layla. Kaya adiknya itu, Hidayat selalu azan melalui pengeras suara di mushola kecil rumah mereka, setiap kali masuk waktu sholat, ketika ia berada dirumah. Katanya agar pembantunya juga mengetahui bahwa sudah masuk waktu sholat dan harus menghentikan semua kegiatan Mereka dan bersiap sholat. Dari situ William bisa menilai,bahwa Hidayat orang yang bertanggung jawab. Mereka punya anak satu, seorang lelaki bernama Muhammad Idris Asshiddiqie. Ponakannya itu lucu sekali. Wajahnya bulat, mata hitam besar, hidung bulat tinggi seperti kebanyakan turunan Arab, bibir merah dan rambut ikal. William bahkan menyimpan foto Idris di dompetnya. Bagaikan sedang berfoto dengan boneka. Kini hanya Michael dan dirinya yang belum menikah. Michael masih sibuk di Inggris. Ia adalah kepala keamanan untuk keluarga kerajaan Inggris. Dia mengutamakan kehidupan negara diatas kepentingan pribadinya. Baginya menikah belum perlu karena ia sibuk berkeliling negara menemani keluarga kerajaan. Memiliki keluarga akan menghambat tugasnya karena pasti harus ditinggalkannya selalu. Sedangkan William... terlalu takut untuk gagal dalam pernikahan. Kini William bagaikan dilema. Bersama Renata ia ingin terus berdampingan, namun Renata menolak nya karena William terlanjur mengatakan bahwa ia menganggap Renata seperti sosok Sandra. Ia takkan mau hidup bersama William selamanya jika alasan sosok Sandra itu tetap ada. Karena seorang kakak harus rela melepaskan adiknya untuk menikah dengan pilihan hatinya suatu hari nanti. William sudah menunggu Renata selama sepuluh tahun. Sanggupkah ia melepaskan Re apabila gadis itu telah menetapkan pilihan hatinya berlabuh suatu hari nanti??! William mempererat pelukannya pada Renata. Membenamkan bibir nya pada leher jenjang gadis itu. Memberikan sesapan di kulit putih Renata dan meninggalkan bekas kemerahan disana. Seketika tubuhnya bergetar dan William merasakan dirinya mencapai puncak kenikmatan hanya dengan cara seperti itu. Dirinya mengeja nama Renata terengah-engah. Selimut tebal yang membungkus tubuhnya terasa hangat oleh cairannya sendiri. Hingga getaran itu reda dan kejantanannya melunak, William tetap dalam posisinya sambil memeluk tubuh Renata. William tak menyangka bisa merasakan k*****s hanya dengan mencium beberapa bagian tubuh gadis itu. Bahkan Renata tidak dalam kondisi b***l. Begitu kuatkah hasratnya pada Renata? Nafsukah ini??! William tak mengerti. Adakah kondisi seperti dirinya ini dalam bab-bab pelajaran psikologi yang dulu ia pelajari? William tak mengingat hal itu pernah tercetak di dalam memori otak jenius nya ini. Karena kelelahan setelah operasi dan k*****s barusan, William akhirnya tertidur pulas tanpa mengganti celana piyama nya yang telah basah. **** Tubuh William mengeliat saat dirasakannya otot perutnya mendadak kram. Ia membuka kelopak matanya dan kembali menutup saat dilihat nya sinar mentari langsung menghujam ke matanya. "Sudah terang begini... jam berapa sekarang?! " pikirnya. Ia melirik ke weker disamping ranjangnya dan melihat jarum disana menunjukkan pukul 07.15 wib. Seketika ia teringat gadis itu. Tangan William meraba-raba ranjang disebelahnya, ingin memeluk Renata, namun tak ada siapapun disitu. William bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Dibukanya perlahan, tidak dikunci. Berarti Renata tidak disana. Bisa-bisanya ia tidak terasa saat Renata meninggalkan ranjangnya. Seletih itukah dia tertidur pulas?! William lalu meraih HP nya, menghubungi Renata. Dia menunggu lama sebelum akhirnya terdengar suara gadis itu menjawab. "Hai.. sudah bangun? Kau tidur nyenyak sekali tadi, jadi aku tak berani membangunkan mu." ujar suara itu. "Kau dimana?! " tegas William. "Aku kembali ke rumah subuh tadi, sekitar jam 5.30. Aku ga mau kepergok turun dari lantai atas oleh karyawan RS. Nanti jadi skandal pula. Jadi..." "Lain kali kau tak boleh pergi sebelum mataku terbuka. Paham?! " bentak William memotong perkataan gadis itu. Dia menutup langsung telpon tanpa menunggu Renata membantahnya lagi. William membanting HP nya ke kasur. Padahal ia masih ingin memeluk tubuh gadis itu seperti pagi sebelumnya. Merasakan kehangatan dekapan Renata, melihat pipinya yang bersemu merah, mendengar suara dan celoteh riangnya dipagi hari, seperti saat pertama mereka bersama di kamar ini. Namun gadis itu malah memilih untuk pulang sebelum mentari terbit hanya demi tak ingin kepergok siapapun. Lagian apa salahnya kepergok turun dari kamarnya? Skandal???! Di zaman sekarang ini mah sudah lazim melihat wanita single keluar dari kamar pria. Apalagi dikota metropolitan seperti ini, takkan ada yang mau membahas itu, kecuali artis. William merasa dirinya maupun Renata bukan artis, jadi tak seharusnya gadis itu risih. Padahal weekend begini, William ingin mengajak Renata untuk keluar. Tapi kalau sudah begini, rasa gengsi pun mengambil peran. Ogah bila dirinya harus menelpon kembali wanita itu dan meminta nya untuk menemani ia JJS. William akhirnya pergi mandi. Dia memutuskan untuk kembali ke ruangan bedah saja. Ia memilih standby saja dihari libur ini. Mana tau ada panggilan darurat nantinya. **** Sebaliknya, Renata merasa sangat kesal akan perlakuan William yang menutup telponnya tiba-tiba. "Sudahlah dia yang nelpon, marah-marah, trus nutup telpon sepihak. Dasar dokter gendeng ga punya etika, " umpat Renata. Padahal tadinya dia mau berterimakasih karena William tak melakukan sesuatu padanya seperti yang ia takutkan. Walupun dirinya mengetahui ada beberapa bekas kemerahan di lehernya terlihat jelas dari kaca, saat tadi Renata akan mandi. Pasti itu perbuatan William. Namun pakaiannya masih utuh dan kewanitaan nya berasa aman. Pipi Renata kembali bersemu merah. Entah sudah berapa kali pipinya memerah ketika ia mengingat bekas cupang itu. Badannya langsung panas dingin merasakan dirinya bisa b*******h hanya dengan mengingat ciuman William. "Sadar Re... dia hanya menganggap mu adik. Dia cuma nafsu aja melihat mu. Kalau kau terus begini, nanti kau akan berakhir dengan dicampakkan seperti wanita-wanita selingkuhannya itu. Tapi jika kau menjalani peran menjadi adiknya, maka kesempatanmu bersamanya masih panjang. Kau mau yang mana hah?!, " tanya hati Renata. Ya... mungkin Renata lebih baik memilih untuk menjadi adik bagi William. Baik juga untuk hubungannya dengan Ririn sekeluarga. Renata tak bisa membayangkan bagaimana respon keluarga Ririn jika ia memilih untuk menjadi b***k nafsu William. Ririn pasti akan sangat marah padanya. Hubungan seperti ini lebih aman daripada menjadi simpanan William. Tapi bagaimana pun, hubungan ini terasa aneh. William menyuruhnya untuk tidur seranjang, memeluknya, memberinya tanda kepemilikan atas tubuhnya, namun hubungan ini hanya sebatas persaudaraan. Hatinya berdetak cepat, wajahnya memerah, dirinya merasakan gairah, apakah diperbolehkan dirasakannya dalam status sebagai adik seperti itu? Adakah hubungan macam ini? Renata soalnya tidak mempunyai saudara laki-laki, jadi ia tak tahu. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN