Please, don't !!!!

2767 Kata
Mobil Ririn tiba tepat jam 12.50 di parkiran RS. Renata bergegas turun agar bisa berganti pakaian. Dia langsung ngacir begitu saja. Ia sampai lupa pamit pada dr. Jamie. Renata cuma punya waktu 10 menit. Jika terlambat absen, gaji hariannya otomatis akan terpotong 20%. Itu peraturan dari RS. Setelah berganti pakaian dan absen, Renata menuju ruang klinik Ririn. Seperti biasa, dia akan mengecek website RS untuk mendownload list pasien yang telah mendaftar ke klinik Ririn. Ternyata cuma 10 orang yang terdaftar online. Setelah itu Renata menunggu konfirmasi dari Front office jika ada pasien yang mendaftar offline. Biasanya mereka akan menghubungi sekitar jam 14.00. Renata kemudian beranjak ke dalam ruangan dan sedikit membersihkannya. Dia mengecek kelengkapan formulir yang diperlukan Ririn nantinya di dekat meja. Tak tahu apa lagi yang akan dikerjakan nya menunggu Ririn datang, Renata akhirnya membuka chanel TV kabel di dekat ruang tunggu agar pasien nya dapat hiburan saat antri nanti. Sebuah film drakor romatis sedang tayang. Renata tak pernah tertarik untuk menonton film roman seperti itu. Takut jealous karena ia tak punya gebetan. Renata duduk sambil memainkan game dalam HP nya. Tiba-tiba HPnya berdering mengalunkan reff lagu dari westlife. Ririn ternyata!!! Ririn sangat menyukai boyband era 2000an itu. Makanya Renata membuat nada dering dari lagu kesukaan Ririn di HP nya. "Loe dimana Nat?" tanya Ririn tanpa menunggu dia mengucapkan kata halo. "Udah di klinik. Aku baru siap beberes ruangan dan mengecek list online. Tinggal menunggu daftar pasien offline." jelas Renata. "Loe tau ga gue dimana? " tanya Ririn kemudian. "Ya enggak lah... emang gue dukun, bisa tau keberadaan loe dimana aja?! " ucap Renata sewot. "Gue lagi di apartemen om Jamie, Nat. Loe ke sini deh buruan. Gue liatin kamarnya. Gue udah minta izin kok sama si om. Di lantai 10 ya. Ayo... buru ke sini!! Gue tunggu sekarang ya. " Ririn langsung menutup telpon nya tanpa menunggu Renata menjawab. Sobatnya itu emang selalu ngerepotin. Kalo nyuruh ga pernah liat sikon. Inikan udah jam kerja, ngapain juga dia nyuruh Renata meninggalkan ruangan di jam kerjanya. Dia kan bukan dokter yang bebas mau nyangkut dimana aja di jam kerja. Hhh...gimana ini ya?! Renata kebingungan sendiri. Sebenarnya bukan karena masalah pergi di jam kerja, namun mengingat harus ke kamar William itu yang membuat Renata malas. Dia udah bilang ga akan mau ke kamar itu lagi, tapi sekarang sohibnya malah maksa agar dia datang ke situ. Renata akhirnya pergi ke klinik dokter Irwan,spesialis Jantung, yang letaknya bersebelahan dengan klinik Ririn. Disana ada Susi, perawat pendamping dokter Irwan. Dia menitipkan apabila front office menelpon untuk memberi tahu daftar pasien offline, agar membuat printoutnya saja untuk diruangan dokter Ririn. Renata beralasan karena dia belum makan siang, jadi mau izin sebentar ke bawah. Renata akhirnya menuju lift. Ketika pintu lift terbuka, tak ada siapapun disitu. Renata masuk lalu menekan tombol lantai 10. Namun tak bisa. Renata akhirnya ingat, William malam itu menempelkan kartunya untuk dipindai, berarti lantai itu hanya bisa di akses dengan kartu khusus. Dibukanya dompet tempat ia menyimpan kartu yang diberikan oleh William tadi. Ditempelkan nya ke pemindai dan otomatis tombol lantai 10 pun menyala. Lift langsung bergerak naik. Di lantai 10 lift berhenti dan pintu lift terbuka. Renata melangkahkan kakinya tak bersemangat. Jantungnya berdetak kencang. Di fikirannya terngiang kembali memori saat malam itu bersama William. Pipi Renata memerah. Rasanya dia tak sanggup masuk ke kamar itu. Dia terlalu malu. Apalagi ada Ririn disana. Dia ga mau kepergok Ririn saat gugup apabila bersama William di situ. "Lebih baik ga jadi ah. Gue balik aja ke klinik. Ntar kasih alasan deh ke Ririn" ujar hati Renata. Renata membalikkan tubuhnya menuju lift yang sudah tertutup. Dia menekan tombol ke bawah. Dilihatnya dari angka yang ada di dinding m, lift ternyata sudah bergerak turun. Tiba-tiba pintu kamar William terbuka. "Loe mau kemana? Ayo masuk! " Suara Ririn terdengar dibelakang Renata. Gagal sudah aksi melarikan dirinya. Dia akhirnya berbalik lagi dan berjalan menuju pintu. "Ku pikir ga ada orang karena pintunya tertutup. " ujar Renata mencari alasan. "Ya iyalah harus ditutup.. inikan rumah privat.Di lantai ini cuma ada apartemen om Jamie. Loe kira kayak klinik yang pintunya harus terbuka terus." celoteh Ririn. Dia mengamit tangan Renata memaksanya masuk ke dalam apartemen William. ( untuk tidak membingungkan pembaca, penulis akan memanggil William dengan sebutan Jamie ketika ada Ririn. Namun ketika hanya melibatkan Renata dalam scenenya, penulis akan mengganti nama Jamie menjadi William. ) Di dalam apartemen, dokter Jamie terlihat duduk di sofa sambil mengupas apel. Dia hanya melirik Renata sekilas. Ririn memaksa Re untuk duduk bersama di sofa itu. Renata agak canggung, karena pakaian kerjanya memakai dress selutut, membuat dirinya harus duduk dipinggir sofa agar rok nya tidak tersingkap saat duduk. Ririn duduk didekat Jamie. "Jadi... om harus datang ya di acara wedding Ririn bulan depan. Kosongin semua jadwal om dari sekarang. " ancam Ririn. Jamie tertawa. "Loe kira gue bisnis man yang bisa ngatur-ngatur jadwal seenaknya. Gue ini dokter bedah, bocah. Kalo nyawa orang yang kritis perlu kehadiran gue, masak harus dibatalkan demi acara loe. Gue usahain majuin semua jadwal operasi di hari wedding loe yang udah tersusun. Tapi kalo sekiranya ada OnCall (permintaan mendadak), gue terpaksa ngorbanin loe. Ingat itu ya. " jelas Jamie. Ririn manyun mendengarnya. "Kan bisa minta dokter bedah pengganti. RS ini kan punya banyak dokter bedah. Masak sih ga ada yang bisa ngegantiin loe sehari aja?! Toh gue nikahannya kan ga jauh banget. Di Bandung doank. Masih bisa om bolak-balik ke Jakarta dihari yang sama. Ayolah... siapin aja dokter pengganti di hari itu. Lobby junior loe napa?! Gue nikah itu cuma sekali seumur hidup loh, ga ada rencana berkali-kali. Masak loe ga bisa berkorban dikit. " rajuk Ririn manja. Renata tersenyum. Sobatnya ini emang paling gigih dalam urusan merayu orang. Renata penasaran, apa William termasuk orang yang bisa tahan rayuan dari seorang Ririn atau ga?! Dilirik nya pria itu. Tatapan mereka bertemu. Senyum Renata langsung hilang. Dia menundukkan kepalanya menghindari tatapan Jamie. "Aku ga mau janji. Aku ga suka berjanji hal yang ga bisa aku tepati. Aku benci mengatakan kebohongan hanya untuk menyenangkan hati orang lain. Kita lihat saja nanti, kalau aku ga ada permintaan onCall, gue bakal datang. Jika ga, ya ntar di wakilkan oleh karangan bunga segede gaban untuk pesta loe, " jelas William. "Enak aja... loe pikir pemakaman pake ngirim karangan bunga segala!! Sebel ih...yok kita turun Nat. Emosi gue ngeliat om jelek ini. " Ririn merajuk karena tidak dapat membujuk Jamie berjanji hadir di pestanya. Jamie tertawa lalu mengacak rambut Ririn dengan gemes. "Loe itu niat nikah apa cuma pengen kawin sih? Masih aja manja gitu, gimana coba si Arya bakal tahan ngadepin loe..seminggu paling udah minta cerai" ledek Jamie. Ririn mencubit dan memukul lengan Jamie tak henti sampai pria itu berteriak-teriak minta ampun. "Re... tolongin gue donk dari nenek sihir ini. Dia belum potong kuku tuh. Tangan gue ampe berdarah." teriak Jamie. Renata kaget mendengarnya. Bukan hanya karena kaget Jamie meminta pertolongan nya, namun juga sampai membuat pria itu berdarah. Renata mendadak serem. Dia langsung memeluk Ririn dan membawanya menjauh dari Jamie. "Biarin Nat, gue pengen nyakar dia sekarang. Berani amat doain ponakannya cerai cepat. Ishhh... kesel gue. Dasar om ga punya hati... pantes aja sampe sekarang ngenes nge jomblo. Mana ada cewek mau sama cowok mulutnya jahat gitu" seru Ririn. Tenaga Ririn yang kuat membuat Renata tak kuasa menahan tubuhnya lebih lama. Ririn kembali terlepas dan mengejar Jamie yang berlari menjauh. Mereka berkejaran seperti anak kecil didalam apartemen itu. Mengitari sofa sampai naik ke ranjang, Ririn terus mengejar om nya itu. Renata pusing melihat kelakuan keduanya. Dua orang dokter itu mungkin ga bahagia masa kecilnya kali ya, sampai harus berkejaran seperti itu didepannya. Apa ga malu?! Tiba-tiba Jamie berlari ke arah Renata, berusaha bersembunyi dari Ririn. Mereka berputar-putar mengelilingi Renata. Jamie berusaha menghindari pukulan dan cubitan tangan Ririn untuknya. Tubuh Renata dijadikannya tameng kepada Ririn. Jamie bahkan mengangkat tubuh Renata seolah-olah dirinya bak perisai. Wajah Renata memerah. Dia tak menyangka Jamie nekat menyentuhnya dihadapan Ririn. Apa nanti kata Ririn melihat Jamie memeluk tubuhnya seperti itu?! Pria ini pasti gila. "Udah Stop !!!! stop Rin. Stop William!! " Jerit Renata. Suaranya melengking nyaring. Ririn dan Jamie mendadak berhenti mendengar suara keras Renata. Seolah tersadar akan kelakuan mereka, keduanya lalu tertawa. Renata sekarang yang terdiam, karena posisi Jamie yang masih memeluk tubuhnya dari belakang, bak memegang tameng. Wajahnya kembali memerah. Ia berusaha melepaskan pelukan Jamie dari tubuhnya. Ririn membantunya dengan memukul lengan Jamie. "Jangan peluk-peluk sohib gue. Jangan ambil kesempatan loe ya om. Lepasin sohib gue. " ujar Renata masih sambil mencubit lengan Jamie. Jamie akhirnya melepaskan tangannya dari pinggang Renata. Ririn langsung memeluk sohibnya itu, menyelamatkan Renata dari Jamie. "Lha... elu yang nyari keributan. Gue cuma nyari perlindungan aja dibalik dia. Gue ga salah apa-apa. " ujar Jamie kalem. "Alasan!!! Sengaja banget pengen meluk cewek perawan. Dasar jomblo ngenes!! " teriak Ririn sambil menarik tangan Renata menuju pintu. "Gue bakal datang ke pesta lo kalo perawat cantik mu ini mau jadi pasangan gue dipesta itu." teriak Jamie. Renata kaget. Ririn meleletkan lidahnya tanda ga setuju. "Ogah gue ngorbanin sohib gue ke elo, om. Emang ga ada cewek yang lain bisa lo bawa ke situ?! " ujar Ririn. "Bukannya ga ada, tapi gue males nyari-nyari pacar dalam waktu dekat. Seminggu lagi gue harus Konfrensi Bedah di Belanda dan habis itu ke Saudi. Bakalan sibuk menjelang pesta loe. Itupun kalo Renata mau nemanin gue, kalo ga ya udah, berarti lu siap-siap aja manyun ga ngeliat gue disitu." Ririn tampak berfikir, lalu dia menatap Renata seolah meminta persetujuan. Renata kontan menggelengkan kepalanya. "Oke.. deal !! Renata bakal jadi pasangan mu dipesta gue. Pastikan aja om datang tepat waktu sebelum akad nikah gue. Ingat ya!!" Ancam Ririn. Lalu Ririn menarik lagi lengan Renata menuju lift. Pintu apartemen Jamie menutup otomatis. Renata membulatkan matanya. Kesal sekali rasanya Ririn "menjual" dirinya pada Jamie tanpa persetujuan gadis itu. "Gila lu ya Rin. Gue kan udah geleng-geleng dari tadi. Ngapain loe oke kan permintaan dia?! Apa kata keluarga loe ntar kalo liat dia jadi pasangan gue dipesta. Berabe semuanya baru tahu." ujar Renata kesal. Pintu lift terbuka, kedua gadis itu masuk ke dalam. Ririn memencet tombol 3. Lift bergerak turun perlahan. "Sori friend. Maksud gue tuh baik. Udahlah... yang penting dia mau datang. Lagian keluarga gue kan udah kenal ama elo. Ga bakal nanya macam-macam dah. Pasti semua sibuk dihari itu, ga bakal merhatiin kalian. Gue cuma mau om itu datang ke pesta, biar nanti gue bisa perkenalkan dia ke teman-teman yang lain. Kalo dia aja ogah datang, gimana caranya mau nyomblangin dia dengan cewek-cewek?! Bantuin kali ini aja ya. Please??!!! " harap Ririn. Renata tidak menjawab permintaan Ririn. Namun dia tak punya pilihan lain. Pintu lift terbuka. Jam menunjukkan pukul 14.25. Mereka berdua tak lagi membahas masalah Jamie, keduanya sibuk mempersiapkan diri membuka klinik.   Renata melirik jam dinding. Sudah hampir jam 11.00. Tinggal 1 orang pasien lagi di ruangan Ririn. Ternyata pasien offline yang mendaftar hari ini sangat banyak. Mereka mendapatkan pasien total 36 orang. Renata menguap lebar. Matanya mengantuk sekali. Pasien terakhir itu keluar dari ruangan Ririn. Renata dengan sigap mengambil form yang dibawanya. Menyerahkan form resep kepada keluarga pasien itu sambil menjelaskan prosedur pengambilan obat. Dan mereka pun berlalu sambil tersenyum penuh rasa terima kasih pada pelayanan ramah gadis itu. Renata kemudian masuk ke ruangan Ririn. Dokter cantik itu sedang mengganti pakaian seragamnya. Dia meletakkan jas dokternya di sebuah lemari. Menggantung kan nya dengan rapi. Renata masih ingin membahas masalah Jamie. Teringat itu moodnya mendadak berubah kesal. "Rin... mengenai yang tadi. Please jangan gue deh. Ntar keluarga lo salah paham. Lagian kan aku bakal pake baju kebaya yang udah loe pesenin. Masak baju gituan harus bersanding sama model kayak om loe sih?! Om loe itukan suka asal pakaiannya. Muka bule gitu ga cocok bersanding sama baju kebaya. Please jangan gue loe korbanin. Cari aja temen dokter loe yang lain gih buat jadi umpan si Jamie. " gerutu Renata. Ririn tertawa mendengar keluhan Renata. "Loe denger sendiri kan tadi, dia maunya elo yang nemanin dia di acara gue. Om Jamie itu kalo udah maunya itu, ya ga bisa di rubah lagi Nat. Dulu aja papa gue berkeras biar dia ngambil sekolah di Bandung aja, tapi dia bersikeras balik lagi ke Inggris. Ga ada yang bisa ngelarang dia. Ayolah... cuma sehari doank kok Nat. Lagian kan ga ngapa-ngapain. Cuma datang bareng dia, dikenalin ke seluruh keluarga trus duduk deket dia, trus pamit pulang bareng dia sampe hilang dari pandangan keluarga besar gue. Itu aja kok. " jelas Ririn. "Kalau perlu, ntar gue bilang ke bonyok (bokap-nyokap) kalo elu tu cuma dipinjam Jamie untuk jadi pasangan nya sehari itu aja. Jadi kan ortu gue ga salah paham, seperti yang elo takutkan. Kalo masalah baju, jangan takut deh. Gue udah pilihin model kebaya yang modis, ga bakalan kalah sanding dengan muka bule om gue. " tambah Ririn. "Bukan gitu Rin, tapi kan di pesta loe itu bakal banyak tamu dari RS ini. Ntar gue jadi seleb pulak di bicarain punya hubungan khusus sama dokter bedah senior itu. Loe mau wajah gue terpampang di dinding buletin RS dengan judul " Ada hubungan apa perawat R dengan dokter J? " Ga kepikiran sampe ke situ elo nya?! jelas Renata gondok. Ririn tambah ketawa mendengar pendapat sohibnya itu. Jujur aja dia ga sampe ke situ memikirkan dampaknya. Namun niatnya untuk mencarikan om Jamie pasangan dari teman-teman yang bakalan hadir di acaranya itu, membuat Ririn nekat. "Please... sehari aja Nat. Ntar kalo ada yang ngegosipin elo, kita buat konfrensi pers dah. " Ririn dan Renata tertawa geli dengan opsi itu. "Berasa artis dah gue Rin. Elo tu bisa aja ngerayu orang. Ya udah... demi persahabatan kita dan demi kelancaran wedding loe, gue ngalah deh. Tapi kalo setelah nya ada gosip ga jelas, loe yang tanggung jawab membersihkan nama baik gue ya. Janji kelingking!! " ucap Renata sambil mengaitkan kelingking nya ke jemari Ririn. Suara sering HP milik Ririn mengagetkan mereka. Ternyata Arya. Pasti dia sudah menunggu Ririn di parkiran. "Udah ah.. gue cabut dulu ya. Honey gue udah mulai bete tuh sampe miscall gue. Ketemu hari senin ya. Happy weekend my bestie. " Ririn memeluk Renata lalu setengah berlari keluar dari ruangan nya. Tinggal Renata yang kemudian membereskan ruangan Ririn sebelum dirinya beranjak juga untuk pulang. Renata menekan tombol lift. Pintu terbuka dan matanya tertuju pada wajah yang sangat dikenalinya yang ada disitu. William !!! Pemuda itu bersandar di dinding lift dengan santai. Renata mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam. Dia mundur selangkah, membiarkan pintu lift menutup kembali. Berharap lift itu akan berlalu ke bawah. Angka di lift itu mulai turun hingga ke basement. Lalu Renata menekan tombol lagi agar lift dapat naik. Tapi karena tergesa-gesa, tangannya menyentuh tombol panah keatas. Padahal seharusnya dia menekan tombol panah ke bawah saja. Dilihatnya angka di lift perlahan naik menuju lantai gedungnya ini. Di angka 3, pintu lift terbuka. Renata terkejut setengah mati. William masih berdiri disana di tempat yang sama. Ekspresi wajahnya datar dan dingin. Mata birunya menatap Renata dengan tajam, seperti mau menerkam nya. Renata tak tahu, kali ini harus bagaimana. Akankah dia masuk atau tidak? Tapi lagi-lagi dia mundur membiarkan pintu lift tertutup. Sebelum pintu lift tertutup, sebuah tangan menahannya. Pintu lift otomatis terbuka kembali. Dengan cepat William merengkuh tubuh Renata memaksanya masuk ke dalam Lift. Gadis itu berteriak tertahan. Dia kaget, tapi takut kalau teriakannya akan didengar orang-orang. Dia tak mau kepergok berduaan di lift dengan William. Pemuda itu menurunkan tubuh Renata saat pintu lift tertutup. Tangannya meraih kartu dan memindai nya ke alat di lift. William mengambil jarak beberapa langkah dari gadis itu. Renata melihat tombol lantai 10 menyala sesudahnya. Dengan cepat lift bergerak ke atas. "Aku mau ke basement. Aku mau pulang." seru Renata. "Tidak boleh. Kau lihat sekarang sudah jam berapa? Sudah hampir tengah malam. Tak baik seorang gadis pulang di jam segini. Lebih baik kau menginap di kamarku. Aku tak mau harta karun ku lecet oleh orang lain. " kata William memaksa. "Aku sudah biasa pulang tengah malam. Kau tak perlu khawatir. Jalur rumahku aman karena berada di tengah kota. Hanya 15 menit dari RS. Jalanan juga pasti masih ramai jam segini. " bantah Renata lagi. "Kalau ku bilang tidak...ya TIDAK!! Jangan membantah lagi!! Kan sudah ku peringatkan kemarin, kau harus ikut kata-kata ku. Kau milikku. " ujar William dengan suara meninggi. Tampaknya sikap Renata yang membantah kata-kata pemuda itu membuat emosinya naik. "Tapi aku.. " Renata masih mencoba berdebat mempertahankan kemauannya. Kata-kata gadis itu terhenti ketika bibir William melekat pada bibirnya. Renata terbelalak. Tak menyangka William akan berbuat itu. Untunglah beberapa detik kemudian pintu lift terbuka di lantai 10. William lalu merengkuh tubuh Renata seperti malam itu ke dalam apartemennya. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN