“Aluna.” Dewi datang mendekat. Aluna tampak masih diam melamun di tempatnya. Beberapa jam lalu pemakaman Pak Agus baru saja selesai, orang-orang yang datang bertakziah pun sudah pergi. Saat ini rumah terasa sepi, membuat hati Aluna semakin merasakan kehilangan. “Mamaku enggak salah, bukan mamaku yang bunuh ayahmu,” ujar Dewi. Aluna tetap diam. Bahkan dia tidak menggubris Dewi yang terlihat frustrasi. “Kamu enggak seharusnya penjarain mamaku, Aluna. Dia enggak bersalah!” Dewi terlihat mulai kesal karena tidak mendapatkan respons dari wanita di depannya itu. “Dewi!” Tristan membentak. Pria itu menarik Dewi menjauh dari hadapan Aluna. Tapi Dewi memberontak, dia masih belum selesai berbicara dengan saudara tirinya itu. “Lepas, Tristan! Jangan ikut campur kalau kamu tidak berniat membantu

